MasukMenjadi bagian dari keluarga mafia adalah awal dari mimpi buruk Lyra Hart. Kael Voss, kakak tirinya, bertekad menghancurkan hidupnya demi membalas kematian sang ibu yang ia yakini disebabkan oleh ayah Lyra. Namun, semakin dekat mereka, semakin banyak kebohongan yang terungkap. Dan terkadang, musuh terbesar bukanlah orang yang dibenci, melainkan kebenaran itu sendiri. Ketika kebenaran terungkap, masih adakah tempat bagi mereka untuk bersama?
Lihat lebih banyakBAB 1: Sambutan Kejam Kakak Tiri
"Aku nggak tahu kalau megang gelas berkaki panjang ini harus sehati-hati ini. Rasanya ... kayak megang sesuatu yang rapuh," bisik Lyra Hart pelan. Matanya sibuk memperhatikan benda berbahan kaca yang di tangannya dengan saksama.
Sebagai mahasiswi kedokteran semester akhir, jemari Lyra biasanya presisi dan tenang saat memegang skapel di ruang anatomi. Namun malam ini, memegang gelas sampanye di bawah pendar lampu yang mewah justru membuatnya merasa canggung. Gaun satin miliknya, meski dipilihkan oleh sang ibu, mendadak terasa asing dan menyesakkan.
"Kemewahan memang selalu membuat orang asing merasa tidak nyaman, bukan?"ucap Kael. Pria itu berjalan pelan mengikis jarak dengan Lyra yang menghadap persis ke mimbar pengantin.
Gadis itu tersentak kecil, lalu perlahan memutar tubuhnya. Suara bariton yang dingin dan sinis milik Kael menginterupsi lamunan sesaatnya. Kael Voss ternyata sudah berdiri di sana.
Pria itu mengenakan tuksedo hitam potongan klasik yang melekat sempurna pada posturnya yang jangkung. Wajahnya luar biasa tampan dengan garis rahang tegas, tanpa ada keramahan di sana. Sepasang manik mata sewarna malam milik Kael menatap Lyra dari atas ke bawah, terang-terangan menunjukkan ketidaksukaan pada wanita yang akan menjadi adik tirinya.
Melihat sosok di hadapannya, ingatan Lyra langsung melayang pada bisik-bisik di koridor kampus beberapa hari lalu.
"Kamu serius ibumu menikah dengan Adrian Voss? Berhati-hatilah dengan Kael, Lyra. Dia itu monster berwajah malaikat di Voss Group. Tidak punya belas kasihan, manipulatif, dan kabarnya ... siapa pun yang berani mengusik otoritasnya tidak akan pernah berakhir baik."
Kata-kata temannya terngiang kembali. Oh, jadi ini Kael Voss yang legendaris itu. Sosok genius berdarah dingin yang rumor kejamnya sampai ke telinga mahasiswa kedokteran sepertinya.
Kael melangkah maju. Ia memperpendek jarak hingga aroma maskulinnya menguasai ruang personal Lyra. Ia melirik pergelangan tangan gadis itu yang kaku memegang gelas.
"Cara memegang gelasmu salah, Lyra Hart,"ucap Kael. Matanya terpancang pada sosok gadis cantik dengan rambut bergelombang. Sementara senyum Kael terbit dengan sedikit seringai.
"Kamu memegang batangnya terlalu tinggi, seperti orang yang ketakutan kehilangan minumannya. Tapi kurasa aku tidak bisa menyalahkanmu. Pesta seperti ini ... lingkaran seperti ini ... jelas bukan tempat di mana kamu tumbuh besar, kan?"imbuhnya santai.
Hinaan itu disampaikan dengan nada tenang. Namun, kalimat itu telak menusuk harga diri Lyra, menguliti fakta bahwa dia hanyalah gadis dari kalangan biasa yang terlempar ke puncak hierarki sosial karena pernikahan ibunya.
Lyra merasakan dadanya bergemuruh. Namun, ia menarik napas dalam-dalam, memaksa jemarinya tetap tenang. Ia menolak memberikan kepuasan pada monster berwajah malaikat di hadapannya.
"Manusia selalu bisa belajar, Tuan Voss," balas Lyra.
Suaranya diatur sedatar mungkin, menatap lurus ke dalam manik mata Kael. "Termasuk belajar beradaptasi dengan tempat baru. Dan belajar menghadapi ... sambutan yang kurang hangat,imbuhnya sembari menegakkan tubuhnya.
Kael hanya menaikkan satu alisnya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sarat cemoohan. Langkah kaki Kael membawanya menaiki anak tangga panggung utama. Kehadiran sang putra tunggal keluarga Voss di atas panggung seketika membuat riuh obrolan para tamu berangsur-angsur senyap. Kael meraih mikrofon, mengetuknya sekali dengan ujung telunjuk hingga terdengar bunyi gema halus.
"Selamat malam, para tamu yang terhormat. Malam ini adalah malam yang panjang bagi ayah saya, Adrian Voss. Setelah bertahun-tahun mendedikasikan hidupnya hanya untuk memperluas imperium keluarga, malam ini dia akhirnya memutuskan untuk beristirahat di pelukan seorang wanita,katanya menggema. Tatapannya kini bertumpu pada sepasang suami istri, papanya dan ibu Lyra.
Kael menjeda kalimatnya. Saat itu, Adrian menatap putranya dengan tatapan tajam seolah-olah sedang memperingatkan. Sementara Diana tersenyum tipis meski gurat kecemasan tidak bisa disembunyikan.
Kael kembali mengalihkan pandangannya, menelusuri barisan tamu hingga matanya mengunci tepat pada sosok Lyra yang berdiri sendirian di dekat pilar. Senyum sinis Kael melebar, tapi matanya tetap sedingin es.
"Dan tentu saja, pernikahan ini membawa berkah tersendiri. Mari kita berikan sambutan yang meriah untuk ... barang bawaan baru di rumah kami, Lyra Hart. Seseorang yang malam ini akhirnya bisa merasakan bagaimana rasanya menginjakkan kaki di tempat yang layak, setelah sekian lama berada di tempat yang salah. Mari bersulang untuk kepindahan yang ... sangat mengubah nasib,lanjut Kael. Senyumnya terbit, tapi tatapan tidak sukanya lebih mendominasi, yang tentu saja ditujukan pada Lyra.
Bisik-bisik kecil mulai merayap di antara para tamu. Beberapa pasang mata menoleh ke arah Lyra, melemparkan tatapan kasihan, cemoohan, dan keingintahuan yang menghina.
Lyra meremas gelasnya erat-erat. Rasa kesal luar biasa bergolak di dadanya. Ia ingin pergi, tapi ia melihat bagaimana ibunya menatapnya dengan pandangan memohon dari atas pelaminan. Lyra memejamkan mata sejenak, mengembuskan napas perlahan, lalu kembali menegakkan wajahnya yang dipasang sekeras batu, menolak menunjukkan kelemahan di depan publik.
Kael menurunkan mikrofon, menyerahkannya pada pelayan, lalu berjalan turun. Alih-alih menjauh, langkah kakinya kembali mengarah lurus ke tempat Lyra berdiri. Kali ini, ia membawa sebuah gelas kristal pendek berisi cairan berwarna amber pekat.
"Kamu melewatkan bagian terbaik dari pesta ini, Saudara Tiri,"ucap Kael. Pria itu menyodorkan gelas pendek tersebut ke depan dada Lyra dengan wajah tak berdosa.
"Cobalah. Ini Scotch berusia tiga puluh tahun. Minuman yang tidak akan pernah bisa kamu beli, bahkan jika kamu menabung seluruh uang jajanmu selama sepuluh tahun ke depan,imbuh Kael.
Lyra memutus tatapan tajamnya, menatap cairan di dalam gelas lalu berpindah ke Kael. Demi menjaga kedamaian malam ini, Lyra memutuskan untuk menerima gelas itu.
"Terima kasih,"ucap Lyra ketat.
Bertekad untuk menunjukkan bahwa dia tidak bisa diintimidasi seenaknya, Lyra membawa gelas itu ke bibirnya dan meneguk cairan amber tersebut dengan sekali gerakan.
Seketika itu juga, rasa terbakar yang luar biasa dahsyat langsung menghantam tenggorokannya. Sebagai calon dokter, secara teori dia tahu bagaimana alkohol berkadar tinggi bekerja, tapi secara praktik, sensasi menyengat yang belum pernah ia rasakan seumur hidup ini langsung mengacaukan pernapasannya.
"Uhuk! Uhuk!"Lyra memegangi dadanya seketika.
Gadis itu tersedak hebat. Tubuhnya refleks membungkuk kecil saat otot-otot dadanya mengalami spasme. Matanya seketika berair menahan rasa perih serta panas yang menyiksa di laringnya. Gelas di tangannya hampir terlepas jika ia tidak mencengkeramnya dengan erat.
Di tengah usahanya bernapas, Lyra mendengar suara tawa rendah yang menghina dari Kael.
"Bagaimana? Enak, kan?" tanya Kael. Tubuhnya condong ke arah Lyra yang kini masih mencoba menenangkan tubuhnya.
Pria itu jelas tidak berniat membantu. Kael bahkan tidak mengulurkan tangan untuk menolong Lyra yang kuwalahan. Pria itu justru mundur satu langkah, memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana tuksedo dengan gestur santai. Ia memandang Lyra yang masih terbatuk-batuk dengan tatapan merendahkan yang mutlak.
Kael membungkuk sedikit, kembali mendekatkan wajahnya yang dingin ke arah Lyra.
"Bahkan tenggorokanmu pun menolak kemewahan ini, Lyra,"bisik Kael. Tatapan matanya yang tajam memancarkan kebencian murni yang begitu pekat hingga membuat bulu kuduk gadis itu meremang sempurna.
"Tempatmu bukan di sini. Dan aku akan memastikan, setiap detik yang kamu habiskan di rumahku mulai besok ... akan terasa jauh lebih membakar daripada minuman itu,imbuhnya.
Setelah membisikkan kalimat itu, Kael berbalik dan melangkah pergi. Lyra hanya bisa menggeleng lemah, mencoba meredakan rasa sesak di dadanya. Sembari menguatkan diri.
"Apa dia benar-benar tidak ingin punya saudara tiri?" batin Lyra kemudian.
Bab 5 Obsesi Tak Terkendali“Kael, Sakit!”Kael menyentak kedua bahu Lyra dengan kasar, membuat gadis itu terhuyung ke belakang hingga menabrak dinding koridor yang dingin, lalu pergi. Semalaman, Lyra tidak bisa memejamkan mata. Sisa rasa sakit di bahunya tak sebanding dengan hantaman mental akibat ancaman Kael dan kenyataan kelam tentang masa lalu sang ayah yang mendadak menguliti seluruh energinya.Namun, siksaan itu baru saja dimulai. Keesokan malamnya, kediaman mewah keluarga Voss tampak lebih hidup dari biasanya, meski bagi Lyra, atmosfer di dalamnya justru terasa semakin mencekam. Adrian Voss sengaja mengadakan jamuan makan malam formal untuk memperkenalkan Diana dan Lyra secara resmi kepada keluarga besarnya.Ruang makan utama yang megah dipenuhi oleh kepulan asap cerutu mahal dan denting perak dari alat makan yang beradu. Di ujung meja panjang, Adrian duduk bersanding dengan Diana yang tampak anggun. Sementara itu, beberapa kerabat dekat Adrian, termasuk adik perempuan dan ke
Bab 4 Fakta yang MenyakitkanImbas dari konfrontasi panas di koridor VIP kemarin langsung terasa keesokan paginya. Atmosfer di sekitar Lyra berubah total. Teman-teman koas yang biasanya ramah mendadak menjaga jarak. Sementara para perawat sibuk berbisik setiap kali ia melintas di selasar."Lyra, maaf sekali." dr. Steve menghampirinya di depan ruang perawat dengan raut wajah serba salah. "Pihak manajemen rumah sakit memintaku untuk menonaktifkanmu dari jadwal visit pasien hari ini. Kamu disarankan mengambil cuti beberapa hari sampai situasi dengan Tuan Voss mereda,” kata dr. Steve sedikit ragu. Lyra mengepalkan tangan di balik saku snelli-nya, lalu melempar protes. "Karena saya menolak menjadi pelayannya, Dok?"dr. Steve menghela napas panjang. Pria itu menepuk bahu Lyra prihatin karena konsekuensinya dari tindakan gadis itu tempo hari. "Kamu tahu bagaimana kekuasaan Voss Group di kota ini, Lyra. Melawan Kael Voss sama saja dengan mencari masalah dengan seluruh sistem. Ambil saja cuti
BAB 3: Batas Harga Diri"Ingat satu hal, Lyra. Di rumah ini, kamu dan ibumu hanyalah tawanan dari dendamku. Jangan pernah berharap bisa tidur nyenyak setelah apa yang ayahmu lakukan,” ucap Kael. Pria itu mendorong sebab kasar rahang Lyra hingga ia terjerembab ke belakang dan hampir terjatuh ke lantai. Kalimat terakhir Kael yang diucapkan dengan penuh penekanan malam itu di perpustakaan, tepat sebelum pria itu berbalik dan membanting pintu ganda hingga berdentum keras, masih menyisakan rasa sakit yang samar di rahang Lyra. Tuduhan kejam bahwa almarhum ayahnya adalah seorang pembunuh berdarah dingin terus terngiang di kepalanya, merenggut seluruh waktu tidurnya semalam.Namun pagi ini, setelah kakinya menginjak selasar marmer Rumah Sakit Universitas–rumah sakit pendidikan megah berlantai belasan yang berafiliasi dengan kampusnya–Lyra memaksa dirinya mengunci rapat semua drama itu dalam kepala. Di sini, mengenakan jas putih koasnya, dia adalah Lyra Hart yang rasional. Seorang calon dokt
BAB 2 Tuduhan yang Menguliti Luka"Ughh … berat sekali kepalaku," eluh Lyra. Tubuhnya mengulat sebentar, lalu membuka mata perlahan. Setelah semalaman tenggorokannya disiksa Scotch pemberian Kael, Lyra terbangun dengan kepala pening. Sebagai mahasiswi kedokteran semester akhir, jam biologis memaksa tubuhnya tetap bergerak. Mengenakan pakaian rajut sederhana, ia melangkah turun ke lantai bawah demi segelas air hangat.Langkah kaki Lyra terhenti di pembatas ruang makan utama. Di ujung meja makan panjang, Kael Voss sudah duduk dengan tenang. Kemeja putihnya tersetrika sempurna, dipadukan rompi abu-abu gelap yang mempertegas bahu tegapnya. Gelas kopi di meja masih mengepulkan asap tipis dan terlihat belum tersentuh sama sekali. Lyra menegakkan bahu, lalu berjalan mendekati konter dapur bersih. "Selamat pagi,"sapa Lyra, mencoba sopan.Kael tidak menjawab. Ia bahkan tidak mengalihkan pandangan dari layar tablet, seolah suara Lyra hanyalah angin lalu.Lyra mengabaikan pengabaian itu. Ia me












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.