LOGINMenjadi bagian dari keluarga mafia adalah awal dari mimpi buruk Lyra Hart. Kael Voss, kakak tirinya, bertekad menghancurkan hidupnya demi membalas kematian sang ibu yang ia yakini disebabkan oleh ayah Lyra. Namun, semakin dekat mereka, semakin banyak kebohongan yang terungkap. Dan terkadang, musuh terbesar bukanlah orang yang dibenci, melainkan kebenaran itu sendiri. Ketika kebenaran terungkap, masih adakah tempat bagi mereka untuk bersama?
View MoreBAB 1: Sambutan Kejam Kakak Tiri
Prolog “Aah … Kael. Rasanya penuh.” Lyra mengerang kecil ketika seluruh milik Kael memenuhi dirinya. Pria yang mengungkungnya terus bergerak perlahan demi membuat gadis itu memujanya. “Katakan lagi, Lyra. Apa ini sangat enak?” bisik Kael. Kali ini, ia meremas pelan pinggul Lyra. Lalu menyusuri punggung adik tirinya itu perlahan. “Aku tidak bisa lagi menahannya, Kael. Berikan aku kepuasan.” Kael tersenyum kecil. Ia menunduk, memberikan. Kecupan-kecupan basah di ceruk leher Leah demi membuat adik tirinya itu mendapatkan kepuasan. Tanpa mempedulikan status terlarang mereka. *** "Aku nggak tahu kalau megang gelas berkaki panjang ini harus sehati-hati ini. Rasanya ... kayak megang sesuatu yang rapuh," bisik Lyra Hart pelan. Matanya sibuk memperhatikan benda berbahan kaca yang di tangannya dengan saksama. Sebagai mahasiswi kedokteran semester akhir, jemari Lyra biasanya presisi dan tenang saat memegang skapel di ruang anatomi. Namun malam ini, memegang gelas sampanye di bawah pendar lampu yang mewah justru membuatnya merasa canggung. Gaun satin miliknya, meski dipilihkan oleh sang ibu, mendadak terasa asing dan menyesakkan. "Kemewahan memang selalu membuat orang asing merasa tidak nyaman, bukan?"ucap Kael. Pria itu berjalan pelan mengikis jarak dengan Lyra yang menghadap persis ke mimbar pengantin. Gadis itu tersentak kecil, lalu perlahan memutar tubuhnya. Suara bariton yang dingin dan sinis milik Kael menginterupsi lamunan sesaatnya. Kael Voss ternyata sudah berdiri di sana. Pria itu mengenakan tuksedo hitam potongan klasik yang melekat sempurna pada posturnya yang jangkung. Wajahnya luar biasa tampan dengan garis rahang tegas, tanpa ada keramahan di sana. Sepasang manik mata sewarna malam milik Kael menatap Lyra dari atas ke bawah, terang-terangan menunjukkan ketidaksukaan pada wanita yang akan menjadi adik tirinya. Melihat sosok di hadapannya, ingatan Lyra langsung melayang pada bisik-bisik di koridor kampus beberapa hari lalu. "Kamu serius ibumu menikah dengan Adrian Voss? Berhati-hatilah dengan Kael, Lyra. Dia itu monster berwajah malaikat di Voss Group. Tidak punya belas kasihan, manipulatif, dan kabarnya ... siapa pun yang berani mengusik otoritasnya tidak akan pernah berakhir baik." Kata-kata temannya terngiang kembali. Oh, jadi ini Kael Voss yang legendaris itu. Sosok genius berdarah dingin yang rumor kejamnya sampai ke telinga mahasiswa kedokteran sepertinya. Kael melangkah maju. Ia memperpendek jarak hingga aroma maskulinnya menguasai ruang personal Lyra. Ia melirik pergelangan tangan gadis itu yang kaku memegang gelas. "Cara memegang gelasmu salah, Lyra Hart,"ucap Kael. Matanya terpancang pada sosok gadis cantik dengan rambut bergelombang. Sementara senyum Kael terbit dengan sedikit seringai. "Kamu memegang batangnya terlalu tinggi, seperti orang yang ketakutan kehilangan minumannya. Tapi kurasa aku tidak bisa menyalahkanmu. Pesta seperti ini ... lingkaran seperti ini ... jelas bukan tempat di mana kamu tumbuh besar, kan?"imbuhnya santai. Hinaan itu disampaikan dengan nada tenang. Namun, kalimat itu telak menusuk harga diri Lyra, menguliti fakta bahwa dia hanyalah gadis dari kalangan biasa yang terlempar ke puncak hierarki sosial karena pernikahan ibunya. Lyra merasakan dadanya bergemuruh. Namun, ia menarik napas dalam-dalam, memaksa jemarinya tetap tenang. Ia menolak memberikan kepuasan pada monster berwajah malaikat di hadapannya. "Manusia selalu bisa belajar, Tuan Voss," balas Lyra. Suaranya diatur sedatar mungkin, menatap lurus ke dalam manik mata Kael. "Termasuk belajar beradaptasi dengan tempat baru. Dan belajar menghadapi ... sambutan yang kurang hangat,imbuhnya sembari menegakkan tubuhnya. Kael hanya menaikkan satu alisnya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sarat cemoohan. Langkah kaki Kael membawanya menaiki anak tangga panggung utama. Kehadiran sang putra tunggal keluarga Voss di atas panggung seketika membuat riuh obrolan para tamu berangsur-angsur senyap. Kael meraih mikrofon, mengetuknya sekali dengan ujung telunjuk hingga terdengar bunyi gema halus. "Selamat malam, para tamu yang terhormat. Malam ini adalah malam yang panjang bagi ayah saya, Adrian Voss. Setelah bertahun-tahun mendedikasikan hidupnya hanya untuk memperluas imperium keluarga, malam ini dia akhirnya memutuskan untuk beristirahat di pelukan seorang wanita,katanya menggema. Tatapannya kini bertumpu pada sepasang suami istri, papanya dan ibu Lyra. Kael menjeda kalimatnya. Saat itu, Adrian menatap putranya dengan tatapan tajam seolah-olah sedang memperingatkan. Sementara Diana tersenyum tipis meski gurat kecemasan tidak bisa disembunyikan. Kael kembali mengalihkan pandangannya, menelusuri barisan tamu hingga matanya mengunci tepat pada sosok Lyra yang berdiri sendirian di dekat pilar. Senyum sinis Kael melebar, tapi matanya tetap sedingin es. "Dan tentu saja, pernikahan ini membawa berkah tersendiri. Mari kita berikan sambutan yang meriah untuk ... barang bawaan baru di rumah kami, Lyra Hart. Seseorang yang malam ini akhirnya bisa merasakan bagaimana rasanya menginjakkan kaki di tempat yang layak, setelah sekian lama berada di tempat yang salah. Mari bersulang untuk kepindahan yang ... sangat mengubah nasib,lanjut Kael. Senyumnya terbit, tapi tatapan tidak sukanya lebih mendominasi, yang tentu saja ditujukan pada Lyra. Bisik-bisik kecil mulai merayap di antara para tamu. Beberapa pasang mata menoleh ke arah Lyra, melemparkan tatapan kasihan, cemoohan, dan keingintahuan yang menghina. Lyra meremas gelasnya erat-erat. Rasa kesal luar biasa bergolak di dadanya. Ia ingin pergi, tapi ia melihat bagaimana ibunya menatapnya dengan pandangan memohon dari atas pelaminan. Lyra memejamkan mata sejenak, mengembuskan napas perlahan, lalu kembali menegakkan wajahnya yang dipasang sekeras batu, menolak menunjukkan kelemahan di depan publik. Kael menurunkan mikrofon, menyerahkannya pada pelayan, lalu berjalan turun. Alih-alih menjauh, langkah kakinya kembali mengarah lurus ke tempat Lyra berdiri. Kali ini, ia membawa sebuah gelas kristal pendek berisi cairan berwarna amber pekat. "Kamu melewatkan bagian terbaik dari pesta ini, Saudara Tiri,"ucap Kael. Pria itu menyodorkan gelas pendek tersebut ke depan dada Lyra dengan wajah tak berdosa. "Cobalah. Ini Scotch berusia tiga puluh tahun. Minuman yang tidak akan pernah bisa kamu beli, bahkan jika kamu menabung seluruh uang jajanmu selama sepuluh tahun ke depan,imbuh Kael. Lyra memutus tatapan tajamnya, menatap cairan di dalam gelas lalu berpindah ke Kael. Demi menjaga kedamaian malam ini, Lyra memutuskan untuk menerima gelas itu. "Terima kasih,"ucap Lyra ketat. Bertekad untuk menunjukkan bahwa dia tidak bisa diintimidasi seenaknya, Lyra membawa gelas itu ke bibirnya dan meneguk cairan amber tersebut dengan sekali gerakan. Seketika itu juga, rasa terbakar yang luar biasa dahsyat langsung menghantam tenggorokannya. Sebagai calon dokter, secara teori dia tahu bagaimana alkohol berkadar tinggi bekerja, tapi secara praktik, sensasi menyengat yang belum pernah ia rasakan seumur hidup ini langsung mengacaukan pernapasannya. "Uhuk! Uhuk!"Lyra memegangi dadanya seketika. Gadis itu tersedak hebat. Tubuhnya refleks membungkuk kecil saat otot-otot dadanya mengalami spasme. Matanya seketika berair menahan rasa perih serta panas yang menyiksa di laringnya. Gelas di tangannya hampir terlepas jika ia tidak mencengkeramnya dengan erat. Di tengah usahanya bernapas, Lyra mendengar suara tawa rendah yang menghina dari Kael. "Bagaimana? Enak, kan?" tanya Kael. Tubuhnya condong ke arah Lyra yang kini masih mencoba menenangkan tubuhnya. Pria itu jelas tidak berniat membantu. Kael bahkan tidak mengulurkan tangan untuk menolong Lyra yang kuwalahan. Pria itu justru mundur satu langkah, memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana tuksedo dengan gestur santai. Ia memandang Lyra yang masih terbatuk-batuk dengan tatapan merendahkan yang mutlak. Kael membungkuk sedikit, kembali mendekatkan wajahnya yang dingin ke arah Lyra. "Bahkan tenggorokanmu pun menolak kemewahan ini, Lyra,"bisik Kael. Tatapan matanya yang tajam memancarkan kebencian murni yang begitu pekat hingga membuat bulu kuduk gadis itu meremang sempurna. "Tempatmu bukan di sini. Dan aku akan memastikan, setiap detik yang kamu habiskan di rumahku mulai besok ... akan terasa jauh lebih membakar daripada minuman itu,imbuhnya. Setelah membisikkan kalimat itu, Kael berbalik dan melangkah pergi. Lyra hanya bisa menggeleng lemah, mencoba meredakan rasa sesak di dadanya. Sembari menguatkan diri. "Apa dia benar-benar tidak ingin punya saudara tiri?" batin Lyra kemudian."Aku hanya ingin memastikan kua baik-baik saja, Lyra."Suara pria paruh baya yang tenang itu seketika meremukkan seluruh dugaan Lyra. Bukannya sosok Kael berseragam rasa bersalah yang berdiri di ambang pintu, melainkan Hans—adik tiri Adrian sekaligus paman Kael. Pria paruh baya itu berdiri tegap di koridor yang remang-remang, mengenakan gaun kamar sutra gelap dengan senyuman tipis yang sangat tidak cocok dipasang pada pukul dua pagi.Lyra mencengkeram gagang pintu lebih erat, refleks menahan daun pintu agar tidak terbuka lebih lebar. "Paman Hans ... Ada apa malam-malam begini?""Ah, maaf kalau Paman mengagetkanmu," jawab Hans dengan nada suara yang sengaja dipelankan, seolah-olah penuh empati. Tanpa diundang, pria itu mengambil setengah langkah maju, memangkas jarak hingga Lyra secara insting melangkah mundur satu pijakan ke dalam kamarnya. "Paman melihat lampu kamarmu masih menyala dari bawah. Setelah kejadian mengerikan di pinggiran kota tadi, Paman takut kamu mengalami syok berat."
Gumpalan uap tipis mengepul dari cangkir porselen yang diletakkan Diana di atas meja nakas. Di tepi ranjang, Lyra duduk terdiam dengan rambut yang masih setengah basah setelah mandi. Gaun tidurnya yang longgar tidak mampu menghalau rasa dingin yang entah mengapa menjalar dari dalam dadanya."Minum dulu, Sayang. Biar tubuhmu lebih hangat," ucap Diana lembut, mendudukkan diri di samping putrinya dengan raut wajah yang masih menyisakan sisa kecemasan dari sisa malam tadi.Lyra hanya mengangguk kecil, meraih cangkir itu dan menyesapnya perlahan. Namun, kehangatan teh herbal itu sama sekali tidak mampu mengusir kekacauan yang sedang berhuru-hara di dalam kepalanya."Sebenarnya ... apa yang terjadi di luar sana, Lyra?" tanya Diana lirih, tatapan matanya menuntut penjelasan yang jujur. "Ibu tahu Kael bukan tipe pria yang suka membawa orang lain jalan-jalan tanpa alasan jelas. Kenapa baju kalian bisa bersimbah darah?"Lyra termenung, membiarkan cangkirnya kembali mendarat di atas meja. Alih-a
"Sayang, bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk pada mereka? Ini sudah hampir fajar dan ponsel Kael sama sekali tidak bisa dihubungi," ucap Diana. Suaranya bergetar hebat, jemarinya meremas cemas ujung pakaian rajutnya di sudut ruang tengah mansion Voss yang megah.Adrian Voss mengembuskan napas berat, melangkah mendekat lalu meletakkan kedua belah tangan kekarnya di bahu sang istri demi memberikan ketenangan. "Tenang, Diana. Anak buahku sudah bergerak ke lokasi sinyal terakhir. Kael bukan pria amatir yang mudah ditumbangkan. Dia pasti membawa Lyra pulang dengan selamat."Belum sempat Diana menyahut, suara deru mesin mobil yang berat terdengar membelah kesunyian halaman depan mansion. Sepasang lampu sorot dari SUV hitam legam menyapu kaca jendela besar ruang tengah. Pintu depan mansion terbuka lebar, menampilkan sosok Lyra dan Kael yang melangkah masuk dalam kondisi basah kuyup akibat guyuran hujan subuh."Lyra!" Diana memekik lega, langsung berlari menerjang dan memeluk erat tubuh
"Lepaskan aku, Kael. Mereka sudah pergi." Lyra berbisik parau.Suaranya bergetar hebat di sela napasnya yang masih memburu. Kael tidak langsung menjawab. Sepasang mata abu-abunya yang menggelap mengunci tatapan Lyra selama beberapa detik yang menyiksa, sebelum akhirnya ia menjauhkan tubuhnya dengan sentakan kasar. Pria itu bangkit dari ranjang seolah-olah baru saja menyentuh racun yang paling mematikan."Jangan geer," desis Kael dingin.Ia memunggungi Lyra sambil memegangi lengan kanannya yang kembali mengeluarkan darah segar. "Sentuhan tadi hanya bagian dari sandiwara agar kita tidak mati konyol di tempat kotor ini."Lyra tertegun di atas ranjang yang berantakan, menatap punggung tegap Kael dengan rasa terhina yang perlahan membakar dadanya. Kehangatan protektif yang sempat ia rasakan beberapa menit lalu menguap tanpa bekas, digantikan oleh realitas kejam bahwa pria di depannya tetaplah seorang monster yang membencinya."Aku tahu tugas dan batasan profesiku, Tuan Voss," balas Lyra ta






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.