LOGINMenjadi bagian dari keluarga mafia adalah awal dari mimpi buruk Lyra Hart. Kael Voss, kakak tirinya, bertekad menghancurkan hidupnya demi membalas kematian sang ibu yang ia yakini disebabkan oleh ayah Lyra. Namun, semakin dekat mereka, semakin banyak kebohongan yang terungkap. Dan terkadang, musuh terbesar bukanlah orang yang dibenci, melainkan kebenaran itu sendiri. Ketika kebenaran terungkap, masih adakah tempat bagi mereka untuk bersama?
View More"Aku hanya ingin memastikan kua baik-baik saja, Lyra."Suara pria paruh baya yang tenang itu seketika meremukkan seluruh dugaan Lyra. Bukannya sosok Kael berseragam rasa bersalah yang berdiri di ambang pintu, melainkan Hans—adik tiri Adrian sekaligus paman Kael. Pria paruh baya itu berdiri tegap di koridor yang remang-remang, mengenakan gaun kamar sutra gelap dengan senyuman tipis yang sangat tidak cocok dipasang pada pukul dua pagi.Lyra mencengkeram gagang pintu lebih erat, refleks menahan daun pintu agar tidak terbuka lebih lebar. "Paman Hans ... Ada apa malam-malam begini?""Ah, maaf kalau Paman mengagetkanmu," jawab Hans dengan nada suara yang sengaja dipelankan, seolah-olah penuh empati. Tanpa diundang, pria itu mengambil setengah langkah maju, memangkas jarak hingga Lyra secara insting melangkah mundur satu pijakan ke dalam kamarnya. "Paman melihat lampu kamarmu masih menyala dari bawah. Setelah kejadian mengerikan di pinggiran kota tadi, Paman takut kamu mengalami syok berat."
Gumpalan uap tipis mengepul dari cangkir porselen yang diletakkan Diana di atas meja nakas. Di tepi ranjang, Lyra duduk terdiam dengan rambut yang masih setengah basah setelah mandi. Gaun tidurnya yang longgar tidak mampu menghalau rasa dingin yang entah mengapa menjalar dari dalam dadanya."Minum dulu, Sayang. Biar tubuhmu lebih hangat," ucap Diana lembut, mendudukkan diri di samping putrinya dengan raut wajah yang masih menyisakan sisa kecemasan dari sisa malam tadi.Lyra hanya mengangguk kecil, meraih cangkir itu dan menyesapnya perlahan. Namun, kehangatan teh herbal itu sama sekali tidak mampu mengusir kekacauan yang sedang berhuru-hara di dalam kepalanya."Sebenarnya ... apa yang terjadi di luar sana, Lyra?" tanya Diana lirih, tatapan matanya menuntut penjelasan yang jujur. "Ibu tahu Kael bukan tipe pria yang suka membawa orang lain jalan-jalan tanpa alasan jelas. Kenapa baju kalian bisa bersimbah darah?"Lyra termenung, membiarkan cangkirnya kembali mendarat di atas meja. Alih-a
"Sayang, bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk pada mereka? Ini sudah hampir fajar dan ponsel Kael sama sekali tidak bisa dihubungi," ucap Diana. Suaranya bergetar hebat, jemarinya meremas cemas ujung pakaian rajutnya di sudut ruang tengah mansion Voss yang megah.Adrian Voss mengembuskan napas berat, melangkah mendekat lalu meletakkan kedua belah tangan kekarnya di bahu sang istri demi memberikan ketenangan. "Tenang, Diana. Anak buahku sudah bergerak ke lokasi sinyal terakhir. Kael bukan pria amatir yang mudah ditumbangkan. Dia pasti membawa Lyra pulang dengan selamat."Belum sempat Diana menyahut, suara deru mesin mobil yang berat terdengar membelah kesunyian halaman depan mansion. Sepasang lampu sorot dari SUV hitam legam menyapu kaca jendela besar ruang tengah. Pintu depan mansion terbuka lebar, menampilkan sosok Lyra dan Kael yang melangkah masuk dalam kondisi basah kuyup akibat guyuran hujan subuh."Lyra!" Diana memekik lega, langsung berlari menerjang dan memeluk erat tubuh
"Lepaskan aku, Kael. Mereka sudah pergi." Lyra berbisik parau.Suaranya bergetar hebat di sela napasnya yang masih memburu. Kael tidak langsung menjawab. Sepasang mata abu-abunya yang menggelap mengunci tatapan Lyra selama beberapa detik yang menyiksa, sebelum akhirnya ia menjauhkan tubuhnya dengan sentakan kasar. Pria itu bangkit dari ranjang seolah-olah baru saja menyentuh racun yang paling mematikan."Jangan geer," desis Kael dingin.Ia memunggungi Lyra sambil memegangi lengan kanannya yang kembali mengeluarkan darah segar. "Sentuhan tadi hanya bagian dari sandiwara agar kita tidak mati konyol di tempat kotor ini."Lyra tertegun di atas ranjang yang berantakan, menatap punggung tegap Kael dengan rasa terhina yang perlahan membakar dadanya. Kehangatan protektif yang sempat ia rasakan beberapa menit lalu menguap tanpa bekas, digantikan oleh realitas kejam bahwa pria di depannya tetaplah seorang monster yang membencinya."Aku tahu tugas dan batasan profesiku, Tuan Voss," balas Lyra ta






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.