FAZER LOGINSaat awal mulai bekerja, mereka sudah dihajar kenyataan bertubi-tubi, lalu berakhir meringkuk berdua di ranjang sempit, menangis sambil memaki orang-orang di luar sana yang berhati dingin.Saryna menangis sesenggukan. Shelly pun merasa terpukul, tetapi dia tak pernah meneteskan air mata setetes pun.Malam begitu panjang, lampu kamar terus menyala terang benderang hingga larut.…Di Royal Haven Residence.Sebelum Shelly pergi, Bibi Sari sudah menerima pesan singkat dari Melly.[Kalau Jeffry dan Shelly sama-sama nggak ada di rumah, segera beri tahu aku.]Belum sempat Bibi Sari membalas pesan itu, Shelly sudah bergegas pergi menjemput Jeffry.Satu jam kemudian, Shelly mengirim pesan pada Bibi Sari, mengabarkan bahwa Jeffry minum terlalu banyak dan mungkin malam ini mereka tidak bisa pulang.Pada saat yang sama, Melly yang tak kunjung mendapat balasan langsung menelepon Bibi Sari."Walau kamu yang rawat Jeffry dari kecil, hubunganku dan kamu jauh lebih dekat dibanding kamu dan dia. Sekaran
"Bukannya ada Kak Ratih sama Bibi Sari?"Saryna berusaha keras membujuk. "Nana udah lama tinggal bareng orang tuaku, tapi malam-malam tetap nggak mau tidur sama mereka. Pas aku berangkat tadi dia masih nangis, padahal susah payah aku bisa keluar dari rumah Keluarga Gunawan."Dia memohon kepada Shelly, "Lagipula kalau kamu bawa dia pulang, malam-malam harus ngurus dia sekaligus ngurus Jery, kamu bakal kewalahan!"Bibi Sari sebenarnya bisa merawat Jeffry.Namun saat Shelly menatap sorot mata memohon dari Saryna, hatinya melunak."Bener juga. Ya udah, kita cari orang dulu buat bantu bawa mereka naik ke atas. Nanti kalau mereka udah tidur dan dipastiin nggak apa-apa, baru kita pergi."Sewaktu Shelly pergi tadi, Jery sudah tertidur lelap. Anak kecil itu hampir tidak pernah terbangun di tengah malam.Dia hanya perlu kembali sebelum fajar menyingsing.Saryna pergi memanggil petugas keamanan untuk meminta bantuan. Sekitar 15 menit kemudian, mereka semua kembali ke apartemen Herman.Herman terg
Shelly bergegas melangkah maju, nyaris menyergap demi menahan bobot tubuh Jeffry yang merosot turun. Berat tubuh pria itu hampir saja membuatnya ikut terhempas ke tanah."Kok bisa minum banyak banget begini?"Mencium aroma alkohol yang begitu pekat dari tubuh pria itu, kening Shelly berkerut rapat. Saat melirik Herman yang terkapar di tanah, kepalanya langsung terasa pening bukan main.Tengah malam buta begini, siapa yang bisa dimintai tolong untuk mengurus dua pemabuk ini pulang?"Bawa aku pulang."Pria yang menyurukkan kepala di pelukannya itu menggumamkan beberapa patah kata.Shelly melingkarkan tangan di pinggang Jeffry untuk mendekapnya. "Terus Dokter Herman gimana?""Biarin saja, nggak bakal hilang."Kaki jenjang Jeffry perlahan meluncur turun dari kap mobil dan menjejak tanah. Kakinya terbuka lebar, sementara tubuhnya membungkuk condong menindih Shelly."Kalau tahu gini, aku nggak usah datang jemput kamu sekalian."Shelly terkepung aroma alkohol yang begitu pekat. Tangannya mele
Jeffry mengambil segelas minuman keras lagi, lalu menengadah dan menenggaknya sampai tandas."Sudah, jangan minum lagi. Kita nggak usah bahas Shelly, kita bicarakan hal lain saja," tegur Herman. Melihat reaksi itu, Herman langsung sadar kalau pertanyaannya baru saja mengorek luka lama Jeffry. Herman mematikan kompor, menuang sup pereda mabuk ke dalam mangkuk, lalu membawanya ke luar."Omong-omong, Grup Dominion sekarang lagi nggak sibuk?" tanya Herman.Jeffry menjawab datar, "Sibuk. Setelah dia pergi, pekerjaanku menumpuk sampai nggak ada habisnya."Herman terdiam kaku."Lalu, aku dengar Joycelin datang ke Kota Sentara? Kapan-kapan kita ....""Joycelin mengajak Shelly ketemuan, tapi Shelly nggak mau bawa Jery untuk menemuinya," potong Jeffry dingin.Herman membasahi bibirnya yang kering. Benar-benar kehabisan bahan obrolan, dia akhirnya mengalihkan topik ke arah Saryna."Omong-omong, belakangan ini hubunganku sama Saryna terasa agak aneh. Menurutmu, perasaan itu sebenarnya apa, sih? Ka
Jeffry memberi isyarat agar dia menyalakan pengeras suara."Silakan bicara, Tante," kata Herman sembari mengaktifkan pengeras suara di ponselnya, lalu duduk merapat ke samping Jeffry. Matanya menatap lurus ke arah pria itu, bersiap membaca situasi dari ekspresi wajahnya.Melly langsung bertanya tanpa basa-basi, "Jeffry pernah minta tolong kamu buat tes DNA anaknya Shelly nggak?""Emm ...."Herman sama sekali nggak menyangka pertanyaan Melly bakal sefrontal ini. Ucapannya langsung tersendat di tenggorokan, dan matanya berkedip-kedip panik memberi kode ke arah Jeffry.Jeffry hanya menggerakkan bibir tanpa suara, menyuruhnya bicara jujur apa adanya."Dulu Elora pernah menyuruhku mengambil sampel cairan ketuban untuk tes DNA dengan Jeffry. Hasilnya menunjukkan kalau anak itu memang darah daging Jeffry."Hal ini memang mustahil ditutupi dengan kebohongan, karena Melly bisa memeriksa arsip rekam medisnya kapan saja.Maka dari itu, setelah berkata jujur, Herman bergegas menambahkan, "Itu bebe
Shelly bahkan tidak punya celah untuk kabur.Dia melangkah mendekatinya. "Jery di mana?""Di bawah." Jeffry memutar tubuh, menyandarkan kedua sikunya di pagar pembatas sembari sedikit membungkuk agar tatapannya sejajar dengan Shelly. "Perjanjian itu ... mau dibatalkan atau nggak?"Shelly menurunkan pandangannya. Bulu matanya yang lentik menjatuhkan bayangan tipis di kelopak bawah matanya."Maksudmu, kamu mau mengakhiri perjanjiannya lebih awal?"Jeffry mengernyit. "Menurutmu?"Shelly merasa memang begitu.Selain itu, dia tidak bisa memikirkan arti lain dari pembatalan perjanjian tersebut.Tidak mungkin Jeffry benar-benar mau rujuk dengannya dan menjadikannya nyonya muda Keluarga Anderson lagi?Dia membawa seorang anak yang "bukan" darah daging Jeffry.Melihat Shelly hanya bungkam, tatapan Jeffry semakin dalam dan menggelap. "Shelly, apa di kepalamu selain perjanjian dan pekerjaan, nggak ada hal lain lagi?""Tentu saja ada," bantah Shelly."Kalau begitu katakan, apa lagi?" Suara Jeffry
Setiap kali bertemu di acara seperti ini, Harrison selalu mencari masalah dengan Jeffry.Namun karena dia bukan saingan Jeffry, dia pun memilih cara lain, yaitu mempersulit orang-orang di sekitar Jeffry.Salah satunya … Shelly.Shelly berbalik dan mengganti arah, berniat keluar lewat pintu belakang.
Di dalam aula.Ke mana pun Jeffry pergi, selalu ada orang-orang yang mengerumuninya.Dia sedang berbincang dengan beberapa senior di dunia bisnis, sementara orang lain terus datang silih berganti untuk menyapanya.“Kak Jeffry.”Elora berjalan mendekat, lalu dengan manis menggandeng lengannya.Lengan
Langkah Shelly tiba-tiba terhenti. Napasnya tertahan, wajahnya perlahan menjadi serius.“Ada apa?” Maxwell bingung. “Bukannya kamu yang minta Pak Jeffry memindahkanmu kembali?”Shelly menggeleng.“Bukan. Aku datang untuk mengundurkan diri.”Maxwell langsung menarik napas tajam.“Mengundurkan diri? K
Tengah malam, Shelly Malvis mengunggah sebuah foto bayi yang baru lahir, lengkap dengan keterangan: [Naik pangkat jadi Ibu! Putra sulungku!]Belum satu jam, pintu rumahnya sudah diketuk oleh mantan suami yang telah bercerai dengannya selama setengah tahun.Begitu pintu dibuka, wajah muram Jeffry lan







