Share

Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!
Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!
Author: Ratih Larasati

Bab 1

Author: Ratih Larasati
Tengah malam, Shelly Malvis mengunggah sebuah foto bayi yang baru lahir, lengkap dengan keterangan: [Naik pangkat jadi Ibu! Putra sulungku!]

Belum satu jam, pintu rumahnya sudah diketuk oleh mantan suami yang telah bercerai dengannya selama setengah tahun.

Begitu pintu dibuka, wajah muram Jeffry langsung membuat suhu di apartemen kecil dua kamar itu seolah turun hingga titik beku.

Tangan Shelly yang menggenggam gagang pintu tanpa sadar mengencang.

“Kamu ke sini buat apa?”

Pria itu tetap dingin tanpa menjawab. Dia melangkah masuk, sepatu kulitnya yang mengilap menginjak lantai bermotif bunga di gedung tua itu, terlihat begitu tidak selaras.

Ini bukan pertama kalinya dia datang ke sini. Tanpa ragu, dia langsung menuju kamar Shelly.

Asisten Jeffry, Maxwell Salim, membawa sebuah dokumen dan menyerahkannya kepada Shelly.

“Bu Shelly, lama tidak bertemu. Ini adalah perjanjian hak asuh yang telah dibuat oleh pengacara pribadi Pak Jeffry semalaman.”

Shelly menerimanya dan membuka.

[Cucu tertua Keluarga Anderson harus dibesarkan oleh Keluarga Anderson sendiri.]

Dari halaman yang penuh dengan tulisan kecil, matanya langsung terfokus pada kalimat tersebut.

Benar saja … Jeffry ingin merebut hak asuh.

Dia juga punya hati nurani, Shelly tetap diperbolehkan untuk membesarkan anak itu sampai usia tiga tahun.

Dengan syarat, Shelly bersedia memberikan hak asuh kepada Keluarga Anderson. Jika tidak bersedia, Jeffry akan langsung membawa anak itu pergi sekarang juga.

Hati Shelly terasa nyeri, perlahan menyebar hingga ke seluruh tubuhnya.

Saat dia masih terpaku, Jeffry sudah keluar dari kamar.

“Di mana anaknya?”

Dua tahun lalu saat mereka menikah, Shelly sudah tahu pria ini pendiam dan dingin.

Namun Jeffry tetap seorang pria sejati. Karena tanpa sengaja mereka berhubungan badan, dia bertanggung jawab dengan mengajukan pernikahan.

Shelly pun menerima pernikahannya karena dia telah diam-diam mencintai Jeffry selama enam tahun.

Tapi di momen seperti ini … dia tetap saja tidak banyak bicara.

Tidak ada lagi yang ingin dia katakan?

Tatapan Maxwell pada Shelly penuh dengan rasa simpati. Melihat suasana yang membeku, dia pun dengan bijak keluar dari apartemen dan menutup pintu.

Ruang sempit itu kembali sunyi.

Tiba-tiba, Shelly tertawa pelan, memecah keheningan.

“Anak apa?”

Jeffry berdiri tegak di tengah ruang tamu.

Cahaya lampu kuning redup di atas kepalanya membuat garis wajahnya tampak samar.

Shelly berbalik. Wajahnya yang pucat dan bersih tertangkap jelas oleh cahaya lampu, matanya yang hitam-putih tampak begitu jernih.

Tampak seakan tidak mengerti apa yang Jeffry katakan.

“Kalau dihitung-hitung, saat kita bercerai kamu sudah hamil? Kalau begitu, kenapa kamu tetap ingin cerai?”

Nada Jeffry datar tanpa emosi.

Seolah hanya penasaran.

Setelah menikah, Shelly baru sadar bahwa bagi Jeffry, pernikahan hanyalah sebuah bentuk tanggung jawab.

Kalau harus mencari alasan lain … mungkin Jeffry hanya butuh “alat” legal untuk memenuhi kebutuhan biologisnya.

Dua tahun berlalu dan Shelly akhirnya tahu posisinya di hati Jeffry.

Sejak kecil dia tumbuh besar di panti asuhan, dia kekurangan kasih sayang dan rasa aman.

Pernikahan ini tidak memberinya kehangatan apa pun.

Kecuali … malam hari di atas ranjang, ketika Jeffry larut dalam gairah dan hanya menatapnya seorang.

Karena itu, Shelly yang mengajukan cerai.

Saat itu, Jeffry hanya berkata satu kalimat, “Asal kamu tidak menyesal.”

Di hari yang sama setelah resmi bercerai, sore harinya, Shelly langsung mengajukan mutasi kerja dan dipindahkan ke cabang lain di wilayah Tavira sebagai manajer umum.

Setengah tahun tidak bertemu … kini Shelly bahkan sudah punya anak?

Jeffry sendiri tidak mampu menjelaskan perasaan di hatinya.

“Aku kan cuma memberi tempat untuk Nona Elora.” Shelly tersenyum tipis. “Kalau kamu mau membawa anak itu pulang, memangnya Nona Elora setuju? Aku dengar kalian sudah mau menikah. Kalau dia marah dan putus denganmu, bagaimana?”

Konon, Elora Laurent adalah satu-satunya wanita yang pernah dicintai Jeffry seumur hidupnya.

Mereka tumbuh bersama sejak kecil, tapi entah kenapa berpisah, lalu Elora pergi ke luar negeri.

Selama bertahun-tahun, Jeffry tetap sendiri tanpa skandal, media berkali-kali menyebut dia menunggu wanita itu kembali.

Enam bulan lalu, Elora pulang.

Itulah pendongkrak terakhir yang mematahkan hati Shelly, yang membuatnya ingin pergi, tapi tidak tega.

Begitu tahu Elora kembali, malam itu juga dia mengajukan cerai.

“Semua itu tidak ada hubungannya denganmu dan kamu tidak perlu memikirkannya.”

Sikap Jeffry tetap dingin.

“Kamu orang cerdas, pikirkan, anak itu tidak seharusnya tumbuh di lingkungan seperti ini. Dibawa ke Keluarga Anderson adalah pilihan terbaik.”

Shelly memang cerdas.

Tapi secerdas apa pun seseorang, saat sudah jatuh cinta, logika akan runtuh.

“Anjing saja tidak pilih-pilih rumah miskin, apalagi anakku. Dia tidak mempermasalahkan hal itu, kenapa kamu yang merendahkanku?”

Mulutnya memang selalu pedas.

Jeffry tahu betul sifat Shelly. Begitu dia memutuskan sesuatu, dia akan bertahan sampai akhir.

Dulu pada saat di kantor, Shelly pernah berani melawannya habis-habisan demi satu evaluasi proyek, bahkan rela menerima risiko dipecat.

Hanya di ranjang saja … wanita itu pernah luluh.

Tapi kali ini berbeda.

Seberapa keras pun Shelly bertahan, Jeffry tidak akan membiarkannya.

“Shelly, menurutmu kamu mampu melawanku?”

Ucapan itu seperti tangan tidak kasat mata yang mencekik lehernya. Pria itu sungguh tidak beretika.

Shelly tidak mampu membantah.

Tidak punya kekuatan untuk melawan.

Shelly tersenyum tipis.

“Pak Jeffry, kamu salah paham.”

“Itu anak Saryna Rowan. Aku pergi menjenguknya di rumah sakit setelah pulang kerja, baru pulang ke rumah.”

Alis Jeffry sedikit berkerut, menatapnya tajam.

Curiga. Mengamati.

Namun melihat tubuh Shelly yang sedang megenakan gaun ketat yang membentuk pinggul dan pinggang ramping, tidak tampak seperti wanita yang pernah hamil, apalagi baru melahirkan ....

“Oh, Saryna … kamu masih ingat kan? Aku sering cerita .…”

Shelly mencoba menjelaskan.

Tapi Jeffry tidak mau mendengarnya.

Jeffry mengeluarkan sebatang rokok, menyelipkannya di bibir, lalu menyalakan api dan berdiri di dekat jendela, mengisapnya satu demi satu.

Dalam satu jam, dia mendadak jadi ayah… lalu seketika kehilangan status lagi.

Dia butuh menenangkan diri.

Setengah tahun tidak bertemu, Shelly terasa berbeda.

Jeffry tidak tahu berbeda di mana, namun bayangannya di kaca jendela tampak asing, berbeda dari ingatannya.

Dulu, selama 2 tahun nikah, di balik sikap Shelly yang sedikit keras, dia seperti kucing jinak di hadapan Jeffry, patuh dan lembut.

Sekarang … seperti kucing liar.

Bahkan berani membuat lelucon konyol seperti ini?

Shelly berjalan mendekat dan membuka jendela.

Angin musim dingin yang menusuk masuk, mengusir sebagian bau rokok.

“Walau kamu salah paham … aku jadi penasaran, kalau benar ada anak, dan kamu harus memilih antara anak itu atau Nona Elora, kamu akan pilih siapa?”

Shelly cukup tahu diri. Dirinya bahkan tidak pernah masuk dalam pilihan Jeffry.

“Tidak ada ‘kalau’.”

Jeffry mematikan rokoknya. Setelah mencari asbak dan tidak menemukannya, dia menggenggam puntung rokok itu dan langsung pergi.

Dia bukan tipe pria yang punya waktu untuk bernostalgia dengan mantan istri di tengah malam.

Shelly tahu kalau bukan karena unggahan itu, mungkin seumur hidup mereka tidak akan bertemu lagi.

Kecuali … sebulan lalu, saat mereka tidak sengaja bertemu di hotel.

Pria itu mabuk dan mereka … tidur bersama lagi.

Shelly takut akan canggung, jadi dia kabur diam-diam sebelum Jeffry bangun.

Awalnya Shelly ingin menyimpan rahasia itu selamanya. Siapa sangka … rahasia itu justru tumbuh dalam rahimnya.

Dia benar-benar hamil.

Sudah enam minggu dan janinnya sangat sehat.

Di luar, salju turun lebat. Sosok pria berpakaian hitam tampak mencolok di tengah putihnya dunia.

Shelly menutup jendela, menyandarkan dahinya pada kaca dingin, memandang Jeffry yang membuang puntung rokok ke tempat sampah, lalu masuk ke Bugatti di pinggir jalan dan melaju pergi.

Mobil itu … terlihat begitu asing di kawasan kumuh ini.

Sama seperti Jeffry yang seharusnya … tidak pernah muncul dalam hidupnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 144

    “Jaga di luar. Jangan biarkan siapa pun masuk!”Amarah Melly begitu besar. Namun kali ini, amarah itu tidak diarahkan pada Shelly.Setelah melempar dua kalimat itu, dia langsung masuk ke kantor Jeffry.Brak!Pintu kantor ditutup keras sampai seluruh lantai gedung terasa ikut bergetar.Shelly menatap pintu yang tertutup rapat itu dengan heran.Bukan hanya karena Melly ternyata tidak melampiaskan amarah padanya, tetapi juga karena dia ternyata bisa semarah itu kepada Jeffry.Apa yang telah dilakukan Jeffry?Meski hanya terpisah satu pintu, suasana di luar begitu sunyi sampai suara jarum jatuh pun mungkin bisa terdengar.Sedangkan di dalam, keributan memecah ruangan.Lebih tepatnya, Melly yang mengoceh sendirian tanpa henti.“Kamu berani mengancam Elora? Bagaimana aku harus memberi penjelasan pada Keluarga Laurent!”Jeffry duduk tenang di balik meja kerja, membiarkan Melly meluapkan emosinya.“Jeffry, manusia itu harus punya hati nurani! Elora gadis sebaik itu. Nggak apa-apa kamu nggak me

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 143

    Nenek Mina terus membujuk tanpa henti.Pada akhirnya, topik ini ditutup dengan jawaban singkat dari Jeffry. “Aku akan mempertimbangkannya lagi.”Setelah Nenek Mina keluar dari kantor Jeffry, rapat Shelly sudah selesai dan dia sudah kembali ke mejanya.“Nenek?”Begitu melihat Nenek Mina keluar dari kantor Jeffry, Shelly segera meletakkan dokumen dan berdiri menghampiri.“Lyly ….” Nenek Mina tersenyum hangat penuh kasih. “Capek?”“Nggak.” Shelly menggeleng. “Nenek datang ke perusahaan karena ada urusan?”Sejak melihat Shelly, wajah Nenek Mina langsung penuh senyum sampai sulit menutup mulut.“Nenek cuma jalan-jalan ke sini. Bosan di rumah, jadi datang lihat kamu. Ngomong-ngomong, soal yang nenek bilang kemarin … apakah kamu sudah memikirkannya?”Baru setelah diungkit, Shelly teringat soal pengangkatan keluarga angkat itu.Soal itu terlalu berlebihan dan datang terlalu tiba-tiba. Jadi, dia pun sempat berpikir Nenek Mina hanya sedang iseng sesaat.Kalau semangatnya sudah lewat, masalah itu

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 142

    “A … aku tentu yakin!”Di hati Joycelin, fakta bahwa Shelly mengandung anak Harrison sudah mengakar kuat.Melihat nada penuh keraguan dari Nenek Mina, Joycelin langsung membalas dengan nada sewajarnya,“Kalau bukan milik Harrison, memangnya milik Kak Jeffry?”Semakin dipikirkan, Nenek Mina semakin merasa ada yang tidak beres.“Selama dua tahun pernikahan dengan Kak Jeffry, Shelly nggak hamil. Mana mungkin Kak Jeffry bisa tiba-tiba menghamilinya, apalagi setelah bercerai?”Joycelin jelas tidak percaya.Dia tahu selama dua tahun pernikahan itu, mereka selalu menggunakan alat kontrasepsi.Nenek Mina pun pernah mendesak soal anak beberapa kali, tetapi Jeffry selalu berkata tidak terburu-buru.Artinya jelas. Dia memang tidak pernah berniat punya anak dengan Shelly.Setelah bercerai baru mau punya anak? Apa otaknya kemasukan air?Setelah dipikir lagi, Nenek Mina pun menghela napas. “Kalau begitu, aku akan cari tahu sikap Keluarga Wijaya dulu.”Hubungan Keluarga Anderson dan Keluarga Wijaya s

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 141

    Orang-orang di divisi sekretaris mulai berdatangan satu per satu. Hampir semuanya melirik ke arah Shelly.Begitu melihatnya, Wulan langsung meletakkan tas dan berlari menghampirinya.“Lyly, untuk apa kamu di sini?”“Menunggu Pak Jeffry masuk kerja.” Setelah menjawab, Shelly sempat ragu sejenak sebelum bertanya, “Soal voting nanti, divisi sekretaris ….”Namun sebelum dia selesai bicara, pintu lift terbuka.Jeffry yang mengenakan setelan abu-abu muda melangkah keluar dari lift.Sosoknya yang tinggi dan ramping berjalan mendekat dengan langkah tenang.Tatapan matanya dalam dan tajam menekan.Dalam sekejap, Shelly langsung mengurungkan niat untuk mencari tahu kabar.Wulan yang membelakanginya belum sadar Jeffry datang.Melihat Shelly berhenti bicara di tengah jalan, dia refleks bertanya, “Voting apa ….”Belum selesai bicara, dia mendengar langkah kaki.Barulah dia sadar siapa yang datang.Dia langsung menutup mulut dan mundur ke samping.“Pak Jeffry.”“Pak Jeffry.”Keduanya menyapa bersama

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 140

    “Kalau saja masih ada sedikit harapan dari pihak Harrison, aku nggak mungkin mempertimbangkan persoalan kembali ke Grup Dominion.”Kalimat itu terus berputar di kepala Jeffry seperti gema yang mengganggu.Setiap kali terulang, wajah Jeffry menjadi semakin dingin.Mata tajamnya menatap Shelly yang sama sekali tidak menyadari keberadaannya.Di sisi lain, Saryna juga setuju dengan ucapan Shelly.Setelah mengeluh panjang lebar, dia kembali mengingatkan Shelly agar berhati-hati kalau kembali bekerja di Grup Dominion.Shelly hanya mendengarkan dengan hati yang rumit.Tak lama kemudian, terdengar suara tangisan anak dari ujung lain telepon.Barulah Shelly membuka suara lagi. “Sudahlah, kamu urus anakmu dulu.”Telepon ditutup.Shelly memasukkan ponselnya kembali ke saku, lalu berbalik hendak pergi.Namun tiba-tiba, punggungnya terasa dingin.Tatapannya tanpa sadar mengarah ke satu sisi.Detik berikutnya, dia langsung bertemu dengan pandangan mata Jeffry yang tajam dan membakar.Tenggorokan She

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 139

    Setelah berbincang singkat, Shelly meninggalkan kamar rawat.Karena lift penuh sesak, dia memilih turun lewat tangga sampai ke lantai satu.Namun baru berjalan sampai tengah lobi, dia langsung melihat Jeffry mendorong kursi roda Elora keluar dari lift.Kaki Elora masih dibalut gips. Dia mengenakan gaun putih dengan selimut merah muda menutupi kakinya.Pria di belakang memakai setelan hitam pekat. Seluruh tubuhnya memancarkan aura dingin yang membuat orang enggan mendekat.Para pengawal membuka jalan di tengah lobi yang penuh sesak.Sialnya, Shelly berdiri tepat di ujung jalur itu.Begitu sadar, dia buru-buru ingin pergi.Sayangnya, waktu sudah terlambat.“Shelly.”Elora lebih dulu memanggilnya dengan suara lembut.Langkah Shelly berhenti.Dia menoleh, lalu menyapa dengan sopan, “Pak Jeffry. Nona Elora.”“Kak Jeffry, ayo kita ke sana.” Elora menarik pelan tangan Jeffry.Jeffry hanya menjawab singkat, “Hm.” Lalu mendorong kursi roda mendekati Shelly.Elora mendongak dan menatap Shelly. “

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status