Share

Bab 4

Author: Ratih Larasati
Sebelum orang-orang di ruang tamu sempat bereaksi, terdengar langkah kaki dari lantai atas.

Ibu Jeffry, Melly Luwiana buru-buru turun.

Meski hampir berusia lima puluh tahun, tubuhnya masih terawat seperti wanita usia tiga puluhan.

Dia hanya mengenakan selendang merah, sama sekali tidak takut pada suhu di luar yang mencapai belasan derajat di bawah nol, langsung keluar menyambut tamu.

Lampu mobil yang menyilau seketika padam.

Barulah Shelly bisa melihat jelas ….

Orang yang turun dari mobil bersama Jeffry … adalah Elora.

Di depan Shelly, Melly yang biasanya selalu menjaga sikap, kini membiarkan Elora menggandeng lengannya dengan akrab.

Jeffry tersenyum ringan, berjalan ke bagasi mengambil beberapa kantong belanja, lalu berdiri menunggu mereka mengobrol.

Pemandangan itu menusuk mata Shelly.

Dia segera mengalihkan pandangan.

Tiba-tiba dia merasa tidak nyaman, seperti duduk di atas duri.

Mereka membawa pasangan baru pulang … lalu dirinya di sini dianggap apa?

Namun pergi sekarang pun sudah terlambat.

Dia pasti harus berhadapan langsung.

“Apa Jeffry tidak menjagamu dengan baik? Kok kamu jadi kurusan?”

Suara Melly terdengar semakin dekat.

“Kalau kamu disiksa olehnya, bagaimana aku menjelaskan ke Keluarga Laurent?”

Diiringi suara langkah sepatu hak tinggi, Elora tertawa manja.

“Ibu saya malah khawatir saya mengganggu pekerjaan Kak Jeffry, bukan peduli saya kurus atau tidak. Jangan-jangan waktu kecil kita ketukar ibu ya? Di mata kalian, tidak pernah ada anak sendiri, yang ada cuma anak orang lain!”

Melly tertawa, menepuk ringan punggung tangan Elora.

Namun begitu mereka masuk ke ruang tamu ….

Suasana hangat itu langsung membeku.

Jeffry berjalan masuk di belakang mereka, membawa kantong belanja.

Saat melihat Shelly, langkahnya terhenti sejenak, alisnya berkerut.

Kehadiran mereka memutus suasana hangat di ruang tamu.

Dan orang yang memutus keakraban itu … hanya Shelly seorang.

“Oh, Tante, ternyata lagi ada tamu ya di rumah.”

Elora langsung mengenali Shelly.

Lebih cantik dari yang dia bayangkan.

Duduk diam saja sudah cukup membuat wanita lain merasa terancam dan iri.

Pantas saja … Jeffry pernah menikahinya.

Entah Melly benar-benar tidak melihat Shelly saat turun tadi, atau sengaja berpura-pura tidak melihat … kini senyum di wajahnya hilang.

“Untuk apa kamu datang?”

“Aku yang mengundang kak, eh, Shelly pulang,” kata Joycelin sambil berdiri dan meletakkan piring buah di meja.

“Kenapa? Aku tidak boleh bawa teman ke rumah?”

Melly melotot ke arah Joycelin, lalu berkata dingin, “Ini teman Joycelin. Anak ini memang suka sembarangan membawa orang pulang.”

Dia pun menarik Elora untuk duduk.

Jeffry menatap Shelly dalam-dalam beberapa saat, lalu meletakkan kantong belanja di meja.

“Kalian lanjut saja. Aku naik ke atas dulu, ada pekerjaan.”

Dia berbalik dan naik ke lantai atas.

“Kakek, nenek, aku baru pulang dari negara M bersama Kak Jeffry. Aku sengaja bawakan hadiah untuk kalian!”

Elora berdiri dan mengambil semua kantong belanja.

Dia pun membagikan hadiah untuk setiap anggota Keluarga Anderson satu per satu.

Joycelin tidak terlalu suka Elora.

Dia menerima hadiah itu, mengucapkan terima kasih, lalu meletakkannya sembarangan.

Kakek dan Nenek tetap bersikap sopan.

Gimanapun, Elora dianggap calon menantu.

Mereka pun berbasa-basi beberapa kalimat.

“Aku sudah tahu kakek dan nenek pasti suka. Berarti aku tidak salah beli. Nanti kalau sering ke luar negeri bersama Kak Jeffry, aku akan belikan lagi yang lain.”

Elora memberikan satu kantong tambahan kepada Melly.

“Ini untuk paman. Tante tolong simpan ya!”

Melly tersenyum lebar.

“Kamu memang perhatian. Jeffry tiap pergi tidak pernah ingat bawa oleh-oleh .…”

Joycelin mendengus pelan, lalu mendekat ke Shelly.

“Dulu kamu juga sering bawa hadiah, tapi aku tidak pernah lihat dia tersenyum seperti itu.”

Tangan Shelly yang berada di sampingnya mencengkeram ujung bajunya erat.

Elora berasal dari keluarga baik, cantik, pandai berbicara dan yang paling penting ….

Dia adalah wanita yang dicintai Jeffry.

Wajar jika Melly menyukainya.

Sedangkan dirinya … tidak pandai mengambil hati orang dan latar belakangnya pun biasa saja.

Dia menekan emosinya, lalu tersenyum pada Joycelin.

Terlihat tenang … padahal hatinya sudah gelisah.

Begitu menemukan kesempatan, dia langsung berbicara, “Kakek, nenek, Bu Melly, Nona Elora … silakan lanjut. Saya pamit dulu, tidak ingin mengganggu.”

Dia berdiri sambil membawa tasnya.

Nenek Mina tampak enggan melepasnya.

“Bukannya tadi mau makan malam bersama?”

“Tidak, saya masih ada urusan.”

Shelly sedikit membungkuk.

“Saya sekalian mengucapkan selamat tahun baru lebih awal. Semoga kakek dan nenek sehat selalu dan segala urusan berjalan lancar.”

Dalam hatinya, dia menambahkan satu kata ….

'Selamat tinggal.'

Nenek Mina tampak berat melepasnya, namun karena Jeffry sudah kembali dan Shelly terlihat tidak nyaman, dia tidak menahan.

“Joycelin, antar dia keluar.”

Joycelin mengiyakan dan langsung mengikuti Shelly.

“Tidak perlu,” kata Shelly, melihat wajah Melly yang sudah tidak senang.

Dia pun mempercepat langkah.

Namun baru saja mengganti sepatu … terdengar suara Jeffry dari lantai dua.

“Shelly Malvis.”

Seketika … seluruh lantai satu menjadi sunyi senyap.

Tubuh Shelly menegang.

Dia menoleh ke arah suara.

Pria itu berdiri di ujung tangga.

Kemeja hitamnya terbuka di bagian kerah, memberikan kesan santai namun tetap elegan.

Elora berdiri dari sofa, menggigit bibir pelan, menatap bergantian antara Shelly dan Jeffry.

“Lembur sebentar. Buatkan notulen rapat.”

Alis Shelly mengernyit.

“Pak Jeffry, saya sudah lama tidak menangani urusan kantor pusat. Saya khawatir tidak bisa mengikuti alur jalan rapat.”

Lampu di lantai dua tidak menyala.

Wajah pria itu tersembunyi dalam bayangan, sulit dibaca.

Sepertinya dia sedikit tidak sabar.

“Tidak usah banyak alasan. Cepat naik.”

Dia langsung berbalik masuk ke ruang kerja.

Bibir Shelly pun mengatup pelan.

Dia bisa merasakan dua tatapan tidak senang dari ruang tamu tertuju padanya.

Dia ragu … harus naik atau tidak.

“Shelly, cepat naik!” Joycelin menariknya ke atas.

“Kalau tidak, nanti aku yang disuruh dan pasti dimarahi lagi!”

Memang, setiap kali Jeffry bekerja di rumah, Joycelin sering dipaksa membantu.

Dia tidak bisa menolak, kalau membantu pun dirinya tetap dimarahi apabila ada kesalahan.

Joycelin langsung mendorong Shelly masuk ke ruang kerja Jeffry, lalu menutup pintu dengan keras.

Suara pintu yang keras membuat Jeffry mengangkat sedikit kelopak matanya.

Shelly berdiri di sana ….

Memakai jaket bulu hitam longgar, topi putih berbulu, dan sepatu datar.

Biasanya, dia selalu memakai sepatu hak tinggi dan pakaian formal.

Bahkan di musim dingin pun hanya menambah mantel panjang, tetap terlihat profesional.

Jeffry teringat kembali … selama dua tahun pernikahan mereka, di luar jam kerja pun dia tidak pernah melihat Shelly berpakaian seperti ini.

“Tidak masuk kerja hari ini?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 540

    Sambil berkata begitu, Kak Ratih pergi ke ruang makan mengambil ponsel Shelly, lalu menyelipkannya ke tangan Shelly.“Telepon sendiri.”Setelah itu Kak Ratih berbalik masuk ke dapur dan kembali sibuk.Layar ponsel yang gelap memantulkan raut wajah Shelly yang rumit.Setelah lama terdiam, dia menarik napas dalam-dalam lalu berjalan ke balkon.Shelly menelepon Saryna. Belum sampai dua kali berdering, panggilannya sudah diangkat.“Siapa ini?” Suara yang terdengar dari seberang bukan suara Saryna, melainkan seorang anak laki-laki.“Aku mau bicara dengan Saryna.”Di seberang sana hening beberapa detik, lalu terdengar suara anak itu yang tidak senang. “Aku tahu kamu. Kamu satu-satunya teman kakakku, tapi ayah dan ibuku nggak mengizinkan kakakku main sama kamu.”Untuk sesaat Shelly tidak tahu harus mengatakan apa.“Kakakku nggak bakal main sama kamu. Mulai sekarang jangan telepon dia lagi.”Setelah melontarkan kalimat itu, anak laki-laki itu langsung menutup telepon.“Eh ….” Shelly belum semp

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 539

    Dibanding kabar Rendy menemukan putrinya, media jauh lebih tertarik pada satu hal. Siapa sebenarnya dalang di balik semua ini, orang yang memanipulasi dari balik layar hingga membuat Rendy terpisah dari darah dagingnya sendiri selama lebih dari dua puluh tahun.Berita datang bertubi-tubi dari segala arah. Di antara begitu banyak spekulasi, terang-terangan maupun tersirat, semuanya mengarah pada Johan.“Coba tebak, langkah Johan berikutnya apa?”Ujung jari Jeffry mengetuk pelan tepi meja, sekali demi sekali.Shelly meletakkan koran pagi di tangannya. Setelah terdiam sejenak, dia berkata, “Menjadikan dirinya juga sebagai korban. Bilang kalau dia juga pernah kehilangan seorang putri.”“Begitu berita seperti itu menyebar, langkah berikutnya Johan pasti membawa banyak orang ikut mencari putrinya, lalu menemukanmu di depan semua mata.”Alis Jeffry sedikit terangkat. “Nanti, apa rencanamu?”Saryna lebih dulu mengakui hubungan keluarga dengan Rendy. Sebanyak apa pun, tetap akan ada banyak oran

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 538

    Alis Herman terangkat sedikit. “Benarkah?”Melihat ada tanda-tanda pria itu mulai melunak, Elora akhirnya mengembuskan napas lega. Dia mengangkat tiga jari dan berkata, “Aku janji. Kalau kamu bantu aku melewati kesulitan kali ini, kamu suruh aku melakukan apa pun juga aku mau. Kalau nggak, biarkan aku mati mengenaskan!”Sumpah itu cukup kejam. Terlalu kejam, sampai terdengar sangat meyakinkan.“Kalau begitu …” ujar Herman santai. “Bagaimana kalau aku minta kamu menjauh dari Jeffry?”Mata Elora membelalak. Dia mencengkeram tepi ranjang dan langsung duduk tegak. “Jadi benar kamu masih mengincar Jeffry? Herman, kamu benar-benar nggak tahu malu! Jeffry bukan orang yang bisa kamu khayalkan seenaknya. Jangan mimpi!”Sudut bibir Herman terangkat membentuk lengkung penuh ejekan.Pintu ruang pemeriksaan didorong terbuka. Terdengar suara Melly. “Nanti setelah aku pulang baru kita bicarakan.”Dia menutup telepon lalu menutup pintu. “Sudah selesai?”Elora sudah duduk tegak. Cairan bening di perutn

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 537

    “Bukan.”Shelly membantah.Raut di antara alis Jeffry pun melonggar, sudut bibirnya terangkat tipis.“Ini cuma saling mengambil yang dibutuhkan,” jelas Shelly.Lengkungan di bibir Jeffry langsung lenyap. Tatapannya seketika menjadi jauh lebih gelap. “Saling mengambil yang dibutuhkan? Memangnya apa yang aku butuhkan darimu?”Shelly menatapnya. “Mana aku tahu?”“Banyak hal yang memang kamu nggak tahu.” Jeffry meliriknya dengan kesal, lalu berbalik pergi.Pintu kamar tidak ditutup. Shelly juga malas turun dari ranjang, jadi dia rebah lagi dan mencoba tidur.Setelah keributan barusan, rasa kantuknya malah hilang. Dia berguling ke sana kemari, dan baru menjelang paruh malam bisa tertidur pelan-pelan.…Keesokan paginya, di rumah sakit Kota Sentara.Pintu ruang kerja Herman didorong terbuka.Dia menoleh ke arah orang yang datang, lalu berdiri dan keluar dari balik meja. “Tante Melly.”“Iya.” Melly mengangguk tipis, sekadar memberi salam.Di belakangnya, Elora masuk dengan gaun abu-abu muda.

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 536

    Si kecil ini ternyata cukup berani. Meski sempat kaget, dia cepat tenang lagi. Dibawa ke tempat asing pun dia tidak takut, mata hitam bulatnya berputar ke sana-sini, sibuk mengamati semuanya.Sejak tadi hati Shelly terus tegang. Sebenarnya dia tidak berselera makan, bahkan sama sekali tidak ingin menyentuh makanan. Dia hanya ingin mengalihkan topik.Demi Jery agar tidak kelaparan, dia memaksa diri makan lumayan banyak.Setelah makan malam, tanpa menunggu Jeffry pulang, dia langsung membawa Jery kembali ke kamar untuk beristirahat.Kurang lebih lewat pukul sepuluh, Jery akhirnya tertidur.Terlalu banyak hal terjadi siang tadi. Pikiran Shelly masih kacau. Begitu berbaring, kesadarannya langsung mengambang, samar seperti sedang bermimpi.Sampai sebuah suara rendah yang begitu familiar menembus telinganya dan seketika membuatnya sadar penuh.“Kalau mau pergi, kamu sendiri yang bawa dia pergi. Aku nggak ada waktu ....”Nada kesal Jeffry bercampur dengan suara langkah kaki. Dia berhenti di u

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 535

    Telepon tersambung dan suara Saryna terdengar dari seberang sana.“Sebenarnya ada apa sih! Kenapa Shelly ikut Jeffry pergi?”Harrison begitu gelisah sampai hampir meledak. “Menurutmu, apa Shelly bakal diapa-apain sama Jeffry?”“Dia ikut Jeffry pergi?” Nada suara Saryna terdengar rumit. “Harrison, kamu sudah dikasih kesempatan malah nggak dipakai. Tinggal di lantai bawah pun masih bisa kalah cepat dari orang lain.”Harrison mengacak rambutnya yang berantakan. “Aku ... ketiduran.”“Kamu jelas-jelas tahu Keluarga Gunawan lagi mengincarnya, Shelly juga sedang dalam bahaya, tapi kamu masih bisa tidur?”Saryna merasa menyesal, tapi sama sekali tidak iba. “Benar saja, kamu memang nggak seteliti Jeffry. Shelly pergi sama dia juga bagus. Semoga ... nanti Shelly nggak membenciku.”Harrison mengumpat, “Sial! Masa aku harus kalah terus sama Jeffry? Cuma Keluarga Gunawan doang, aku nggak percaya ....”Sambil terus mengomel, dia menutup telepon.…Royal Haven Residence.Menghadap laut, bersandar pad

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 47

    Awalnya, Shelly masih mempertimbangkan apakah dia perlu meminta bantuan Harrison. Namun sekarang, dia tidak perlu berharap lagi, jalan itu telah tertutup.Pagi itu, Shelly tampak diliputi banyak pikiran. Wajahnya terlihat pucat dan tidak bersemangat.“Kak Shelly.”Tania memanfaatkan kesempatan saat

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 20

    “Pak, apakah Anda keluarga pasien?”Setelah suara bising mereda, suara perawat kecil terdengar jelas dari seberang telepon.“Pasien pingsan saat sedang infus di rumah sakit. Bisa datang sebentar?”Keluarga pasien?Jeffry langsung memposisikan Shelly sebagai “pasien”, tapi dia sendiri tidak bisa meng

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 9

    Setiap kali bertemu di acara seperti ini, Harrison selalu mencari masalah dengan Jeffry.Namun karena dia bukan saingan Jeffry, dia pun memilih cara lain, yaitu mempersulit orang-orang di sekitar Jeffry.Salah satunya … Shelly.Shelly berbalik dan mengganti arah, berniat keluar lewat pintu belakang.

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 8

    Di dalam aula.Ke mana pun Jeffry pergi, selalu ada orang-orang yang mengerumuninya.Dia sedang berbincang dengan beberapa senior di dunia bisnis, sementara orang lain terus datang silih berganti untuk menyapanya.“Kak Jeffry.”Elora berjalan mendekat, lalu dengan manis menggandeng lengannya.Lengan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status