LOGINDari sudut pandang lain, Jordan tampak sedang memeluk Luna dari belakang. Nyatanya, pria itu hanya mengunci badan Luna agar tidak melarikan diri.
Jantung Luna bergemuruh hebat. Tangan Jordan terasa panas dan sentuhannya begitu memuakkan, tetapi dia tidak bisa melepaskan diri dari cengkeraman itu dengan mudah.“Lepaskan aku, Jordan Reed! Apa kamu bersekongkol dengan istrimu untuk merusak nama baikku?” tuduh Luna tiba-tiba.Ada banyak kemungkinan orang-orang dapat mengenali mereka. Terlebih lagi, Jordan memegang Luna di tempat umum layaknya kekasih yang sedang bertengkar.Jika sampai ada berita Luna menghabiskan waktu berduaan dengan pria beristri, pihak wanitalah yang biasanya selalu disalahkan lebih dulu. Dan pria itu tidak lain adalah adik iparnya sendiri.Walaupun Luna telah menunjukkan penampilan dan sikap yang berbeda di depan banyak orang, namun sedikit saja berita buruk yang mengaitkan dirinya dengan Jordan dan Olivia bisa merusak reputasinya lebih dalam.<Olivia menarik tangan Jordan, mengamati bibir suaminya. “Apa mulutmu terasa sakit atau kering? Mau aku ambilkan air minum?”Jordan akhirnya sadar dari kenangan malam kemarin. Saat ini, dia sedang bersama dengan wanita yang berbahaya dan tidak seharusnya menunjukkan emosi mencurigakan sekecil apa pun.“Tidak.” Dia enggan menatap Olivia terlalu lama, kembali melihat ke arah luar jendela.“Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Jordan? Kenapa kamu tiba-tiba sakit parah seperti ini?” Olivia kembali memerankan istri yang sangat mengkhawatirkan suaminya.“Entahlah ….”Tatapan Jordan menerawang. Wajahnya sengaja didandani agar terlihat lebih pucat dan cara bicaranya yang enggan pun tampak lemas. Dengan kondisi Jordan seperti itu, Olivia bersorak dalam hati.Selama tiga hari ini, Olivia terus memantau kondisi Jordan melalui dokter kenalannya. Dia tidak tahu jika Jordan bekerja sama dengan dokter itu untuk mengelabui Olivia. Dokter itu terus memberi tahu Olivia, bahwa ko
Carl tahu ke mana ibunya melakukan perjalanan bisnis tiga hari kemarin bersama Reed Group. Biarpun dia belum mengerti tentang perusahaan, namun hanya dari nama Reed, dia tahu jika perusahaan itu milik Jordan.Selama tiga hari, ibunya menghabiskan waktu dengan Jordan, pikir Carl. Pantas saja Luna tidak mau mengajaknya. Luna juga jarang memberi kabar. Carl jadi semakin curiga. ‘Jangan-jangan, Paman Jordan sengaja mengelabui mama sampai mama melupakanku kemarin.’“Kenapa wajahmu tiba-tiba begitu, Carl? Apa kamu tidak menyukainya?” “Aku suka,” jawab Carl singkat dan datar.Luna sedikit curiga dengan sikap Carl yang waspada. Dia lalu menambahkan, “Teman kerja Mama tidak punya maksud tertentu kepada Mama. Kamu tidak perlu khawatir, Carl. Beliau juga sudah berkeluarga dan tidak mungkin menggunakan hadiah sebagai alasan mengganggu Mama.”Dari penjelasan Luna, sudah jelas jika pemberi hadiah itu adalah seorang pria. Dan pria yang diken
Tangan Luna terasa lebih sakit dibanding orang yang menerima tamparan. Dia masih ingin memukul Jordan, namun tidak kuasa menahan gemetar oleh kemarahannya.“Buka pintunya. Sekarang.”Dari nada bicaranya yang penuh kebencian itu, jelas sekali jika Luna sudah tidak bisa berkompromi. Jangankan hanya membicarakan masalah pekerjaan, dia tidak sudi lagi bertemu Jordan.Jordan tidak memberi penjelasan apa pun, lalu membukakan pintu untuknya. Dengan perasaan campur aduk yang didominasi oleh amarah itu, Luna berlari kecil mencari-cari ruangan yang digunakan untuk pesta. Akhirnya, dia bertemu seseorang yang membawanya kembali ke tempat yang semestinya.Luna sudah tidak bisa menikmati acara, bahkan tidak memedulikan keramahan orang-orang di sekelilingnya. Dia hanya ingin segera pergi dari tempat itu, di mana ada Jordan Reed yang seperti membawa kutukan baginya.Setelah pesta di yacht milik Reed Group berakhir, Luna dan karyawan Aura Tech langsung berkendara ke Veridian City. Dua wanita lain tidu
Suara mekanik pintu digital terbuka. Luna sontak menoleh ke belakang. Jordan tidak berniat melakukan apa pun padanya, hanya membuka pintu di belakangnya.“Apa kamu sengaja mengikutiku sampai ke ruangan pribadiku?” Jordan sengaja terus melangkah masuk ke kamar biarpun tahu Luna berada di depannya. “Aku tidak keberatan meluangkan satu hari lagi untukmu di tempat ini.”Di tempat yang lebih terang, Luna bisa dengan jelas melihat ekspresi Jordan. Sambil mundur mengikuti gerakan kaki Jordan yang terus maju, Luna terpaku pada wajah pria yang dulu sempat menjadi tunangannya itu.Jordan bukan pria yang suka bermain kata-kata seperti sekarang. Luna seakan tidak mengenali pria di depannya itu.Ketika terdengar suara pintu ditutup, Luna akhirnya benar-benar tersadar di mana dirinya berada. Dia ternyata salah paham, mengira Jordan mengikutinya. Rupanya, Jordan hanya kembali ke ruangan pribadinya.“Aku tidak tahu jalan kembali ke ruangan pesta,” lirih Luna sambil membuang muka. “Maaf, Tuan Reed, ak
Untung saja mereka sekarang sedang berada di tempat gelap. Luna tidak perlu menyembunyikan raut wajah panik ketika mencerna kata-kata Jordan.‘Mustahil … dia baru sekali bertemu Carl. Dia mungkin hanya menebak-nebak setelah mencari tahu usia Carl.’ Luna masih belum memercayai ucapan Jordan.Setelah menemukan ketenangannya kembali, Luna berkata, “Imajinasimu terlalu liar, Tuan Reed.” Kemudian dia terkekeh kecil, mencoba bersikap lebih santai agar tidak mencurigakan, seakan-akan menunjukkan bahwa ucapan Jordan sangat menggelikan.“Sebenarnya apa yang merasukimu sampai kamu berusaha keras meyakinkan dirimu sendiri kalau Carl itu darah dagingmu?”Seperti sebelumnya, Jordan hanya diam ketika Luna merangkai kebohongan dengan kata-kata sinis yang tidak begitu memengaruhinya. Mereka masih punya banyak waktu malam ini untuk membicarakan masalah Carl sampai selesai.“Apa kamu tidak kasihan pada darah dagingmu sendiri yang masih ada dalam kandungan istrimu? Dia bisa menangis kalau mendengar ayah
“Tidak aku duga. Wanita yang terus mengelak telah melahirkan darah dagingku, menggunakan situasi ini untuk menggodaku,” lirih Jordan.Luna menggeleng dengan cepat. Dia bersumpah tidak pernah sedikit pun berpikir akan menggoda Jordan.Rasa panik melanda, sampai tangannya hampir membuka pintu untuk melarikan diri. Tetapi, sepasang kekasih itu masih di luar. Suara mereka masih terdengar meski agak jauh.Luna mencoba berpikir jernih. Setelah memejamkan mata selama beberapa detik, dia menemukan ketenangannya lagi.Di saat yang sama, bibir Jordan semakin dekat di telinga Luna, sampai embusan hangat napasnya terasa menggelitik indranya, kemudian membisikkan sesuatu yang membuat bulu kuduk di sekujur tubuhnya berdiri.“Apa kamu sungguh melupakan malam itu? Atau ingin mengulanginya lagi?” Suara rendah Jordan seperti udara yang menyayat di gendang telinganya. Luna menelan ludah bulat-bulat dan meyakinkan diri bahwa dia bisa menghadapi pria itu.Dia akan melayangka







