Inicio / Romansa / Partner Pemanasan Sang Atlet / 158. Ketegangan di Kolam.

Compartir

158. Ketegangan di Kolam.

Autor: Amaleo
last update Fecha de publicación: 2026-09-01 23:31:04

"Berhenti!”

Suara Anton meledak begitu Marco menyentuh dinding finis kolam. Beberapa atlet yang masih berada di dalam kolam langsung menoleh.

Marco mengangkat wajah dengan napas yang masih memburu.

Anton berjalan mendekat dengan rahang mengeras. “Kamu sebut itu time trial?”

Marco tidak menjawab.

“Catatan waktu kamu anjlok, Marco!” bentaknya. “Anjlok! Saya kasih kamu kesempatan berkali-kali, tapi dari tadi yang saya lihat c

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   159. Kemenangan Selena ... atau Papanya?

    Siang itu, sinar matahari jatuh melalui jendela kaca besar ruang kerja Yozefa’s Cooperation, menerangi ruangan yang luas dan elegan. Steve Yansen duduk santai di balik meja kerjanya, menempati kursi CEO, sambil menyesap kopi hitam dan menatap layar tablet di mejanya. Senyum puas tak pernah lepas dari wajahnya sejak pagi. Sementara putrinya, Selena Yurika Yansen duduk di sofa seberang dengan penampilan elegan. Gaun berpotongan rapi membalut tubuhnya, dipadukan dengan aksesori sederhana yang tetap terlihat berkelas. Kakinya bersilang, sementara ibu jarinya santai menggulir layar ponsel. Sesekali ia berhenti untuk membaca komentar-komentar yang bermunculan di bawah unggahan tentang dirinya. [Kasian banget Selena, udah gitu tunangannya masih aja deket sama cewek lain.] [Selena strong banget bisa tetep senyum di depan publik.] [Team Selena! Justru dia yang paling pantas dikasihani dalam skandal ini.] Ia tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya sejak skandal itu meledak, ia merasa be

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   158. Ketegangan di Kolam.

    "Berhenti!”Suara Anton meledak begitu Marco menyentuh dinding finis kolam. Beberapa atlet yang masih berada di dalam kolam langsung menoleh.Marco mengangkat wajah dengan napas yang masih memburu.Anton berjalan mendekat dengan rahang mengeras. “Kamu sebut itu time trial?”Marco tidak menjawab.“Catatan waktu kamu anjlok, Marco!” bentaknya. “Anjlok! Saya kasih kamu kesempatan berkali-kali, tapi dari tadi yang saya lihat cuma satu orang yang tubuhnya ada di sini, tapi pikirannya nggak fokus!”Marco mengusap air dari wajahnya, masih berusaha mengatur napas.“Kalau kamu datang ke sini cuma buat menyelesaikan kewajiban, lebih baik keluar dari kolam sekarang!” Anton menunjuk papan catatan waktu dengan geram. “Saya nggak butuh atlet yang cuma punya nama besar tapi nggak bisa memberikan performa terbaiknya!”Suasana di sekitar kolam mendadak senyap.Anton menata

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   157. Marco & Kegelisahannya.

    Marco terbangun pagi harinya setelah hanya tidur beberapa jam. Kantung hitam samar terlihat di bawah kedua matanya, tanda ia sudah beberapa hari terakhir tidak benar-benar bisa tidur nyenyak sejak skandal itu meledak di media. Beberapa lebam masih tampak di wajahnya, meninggalkan jejak jelas dari kekerasan yang sudah ia terima beberapa kali. Pikirannya terus kembali pada Zea, teman pertamanya sejak kecil, anak tetangga yang sudah dikenalnya hampir sepanjang hidupnya. Bagaimana keadaannya sekarang? Apa demamnya kembali? Apa dadanya masih terasa penuh dan nyeri sampai membuat kepalanya ikut sakit? Bahkan suara Zea dalam percakapan terakhir mereka masih terngiang di kepalanya, sebelum gadis itu akhirnya memblokir semua kontaknya. Amarah dan kekecewaan dalam suara Zea masih jelas ia ingat ketika gadis itu mengatakan bahwa ia sudah diusir dari rumahnya sendiri. Marco menghembuskan napas berat. Dadanya terasa sesak. Ia frustasi karena tidak tahu harus berbuat apa, selama ia dikurung

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   156. Setelah Skandal yang Terjadi.

    Feby langsung menegang. “Kenapa? Kamu juga merasa ada yang aneh?”“Iya.” Suara Dimas terdengar lebih tegas. “Aku kenal Marco cukup lama, Feb. Dan dari apa yang aku lihat waktu dia membawa Zea yang pingsan keluar dari venue itu ... dia nggak kelihatan seperti orang yang sedang memikirkan dirinya sendiri.”Feby menghembuskan napas pelan, lalu kembali duduk di kursi. “Aku juga merasa begitu.”Pandangannya jatuh kosong ke halaman rumah. Entah kenapa, bayangan saat dirinya berbicara dengan Zea dan Marco di hotel kembali muncul di kepalanya. Terutama cara Marco memandang Zea.Tatapan itu terlalu dalam untuk sekadar dianggap main-main. Tidak ada kesan seorang pria yang hanya sedang mengejar kesenangan sesaat. Yang Feby lihat justru seseorang yang seolah benar-benar takut kehilangan orang yang ada di hadapannya.“Terus kenapa keluarganya malah menyangkal semuanya di depan publik?” tanya Dimas. Nada suaranya terdengar semakin serius. “Kalau Marco

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   155. Kekhawatiran Feby, Kecurigaan Dimas.

    Setelah panggilan terputus, Zea masih menggenggam ponselnya erat-erat. Rahangnya mengeras. Amarah, kecewa, dan rasa takut bercampur menjadi satu. Marco sudah mengkhianatinya. Moara sudah menyudutkannya dengan tuduhan keji. Dan sekarang Michael datang membawa ancaman yang bisa menyeret bukan hanya nama baik keluarganya, tetapi juga karier Zavian. Tidak. Kali ini ia tidak bisa hanya diam. Ia harus pulang dan memastikan keluarganya tidak ikut menjadi korban! Belum sempat Zea menata pikirannya, suara mobil terdengar berhenti di depan rumah. Feby turun dengan wajah lelah dan berjalan santai menuju teras. "Ya ampun, manis banget! Kamu nungguin aku pulang, ya?" godanya ringan. Namun begitu ia cukup dekat dan melihat wajah Zea lebih jelas di bawah lampu teras, senyumnya memudar. "Kamu ... kamu kenapa, Zea? Kamu kayak lagi marah banget. Ada masalah?" Zea langsung berdiri. Suaranya tegas, hampir goyah. “Aku harus pulang dulu!” Feby menegang. "Zea, kamu yakin mau pulang? Kakakmu bukannya

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   154. Ancaman Michael Yozefa.

    Donna tersentak keras. "Zavian—!" "Tapi coba pikir, Ma," lanjutnya, nyaris tidak memberi ruang untuk disela. "Gimana caranya Zea bisa bertahan hidup? Gimana caranya Mama bisa dijaga, kalau bukan aku yang gantiin posisi Papa?” Donna membulatkan mata lebar, tak percaya apa yang Zavian bicarakan. “Siapa yang penuhi kebutuhan rumah ini?” lanjut Zavian lagi. “Zea masih pengangguran, Ma. Kalau nggak ada aku pun, dia bukan siapa-siapa." "Zavian, dengerin Mama dulu—" "Aku nggak mau bahas ini lagi." Zavian sudah berdiri sepenuhnya, meraih tas kerjanya yang tergeletak di sofa. Ia berjalan menaiki tangga tanpa menoleh lagi, meninggalkan Donna yang masih duduk terpaku di ruang tengah dengan tangan menutup wajahnya sendiri. Begitu sampai di kamarnya, Zavian menutup pintu agak keras, meski tidak sampai membanting. Ia berdiri sejenak sambil tangannya menarik rambutnya sendiri dengan kasar. Ucapan Donna tadi masih terngiang di benaknya. “Kamu ngerasa gagal, ya?” Ia tidak mau mengakuinya. Kala

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status