Chapter: CHAPTER 53.Jay menelan ludah, napasnya memburu berat. Tapi wajahnya masih menimbang–nimbang untuk langkah selanjutnya. “Kamu udah nggak bisa tahan?” tanyanya, berbisik rendah. Vanya mengangguk cepat. Napasnya masih tidak stabil, wajahnya memerah padam. “Aku udah nggak nahan, Jay,” ucap Vanya parau. “Aku mohon. Aku … berasa kayak terbakar. Panas ….” Jay meneliti setiap ekspresi wajah Vanya yang terus mendesah kecil di mulutnya. Napas mereka masih bertabrakan oleh hasrat. Jay menghela napas panjang sebelum akhirnya ia memalingkan wajahnya sebentar. Tubuhnya bergerak condong ke meja di sisi ranjang dan mengambil kondom medis yang sudah disediakan khusus oleh Dokter Hayes. Jay membuka celananya beserta dalamannya, lalu memasangkan kondom dengan tangan terlatih ke asetnya hingga terpasang rapi. Jay mengangkat wajahnya dan menangkap pemandangan istrinya yang masih menunggu suaminya dengan setia. Napas Vanya masih memburu, tapi ada kilat mata berbinar dengan senyuman manis di wajahnya
آخر تحديث: 2026-02-12
Chapter: CHAPTER 52.Vanya menegang di tempat. Napasnya terhenti sepersekian detik ketika mendengar kata ‘bersedia’ keluar dari mulut Jay.“Jay … kamu yakin?” tanyanya berbisik. Ia menatap suaminya dengan mata membulat, penuh keterkejutan yang tidak bisa disembunyikan. Jay tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada Dokter Hayes, dingin dan tajam.“Pastikan ini murni untuk observasi,” kata Jay pelan, suaranya rendah tapi mengandung ancaman. “Tidak ada agenda lain.”Dokter Hayes mengangguk tanpa ragu. “Murni observasi, Tuan Russell. Tujuan kami adalah menemukan formula injeksi penekan feromon yang lebih maksimal. Bukan hanya untuk kondisi normal, tapi juga di tengah krisis emosi negatif dan stres berat seperti yang sudah dialami Nyonya Russell.”Ia berhenti sejenak, menatap keduanya bergantian melalui kaca helm.“Jika kami bisa memetakan bagaimana feromon Nyonya berinteraksi dengan respons biologis Tuan Russell, kami bisa menyusun senyawa yang menahan lonjakan hormon bahkan saat tubuh berada d
آخر تحديث: 2026-02-12
Chapter: CHAPTER 51.Dokter Hayes melanjutkan, suaranya tetap profesional. “Kalian … bercintalah.” Sunyi terasa berat menyapu ruangan observasi itu. Alis Jay menukik ke atas sedikit terkejut. Napasnya mulai berat. “Apa Anda tak salah dengan observasi terakhir ini?” Dokter Hayes mengangguk singkat, lalu melanjutkan. “Saya perlu meneliti apa yang membuat Anda, Tuan Russell, mampu mencapai klimaks dengan istri Anda. Respons biologis Anda berdua mungkin saling terhubung. Jika kita tidak mengujinya secara langsung, kita hanya akan berspekulasi tanpa bukti ilmiah dan data.” Napas Jay terasa semakin berat. Vanya menatapnya, wajahnya masih memerah, tubuhnya belum sepenuhnya stabil. Hayes melanjutkan dengan tenang, “Tidak ada yang akan mengawasi. Data hanya akan diambil dari sensor hormon dan partikel udara di luar ruangan. Privasi tetap milik kalian.” Napas Vanya masih memburu. Keringat tipis membasahi pelipisnya. Dibenaknya, ucapan Dokter Hayes barusan terus terulang. Observasi terakhir. Melibatkan Ja
آخر تحديث: 2026-02-12
Chapter: CHAPTER 50.Di ujung lorong, sebuah pintu otomatis terbuka perlahan setelah Dokter Hayes menempelkan kartu akses khusus. Di balik kaca tebal itu terlihat ruangan luas dengan dinding transparan berlapis ganda. Di dalamnya terdapat satu kursi observasi, panel monitor besar, serta alat-alat yang tampak lebih seperti laboratorium penelitian daripada ruang periksa biasa. Udara di dalam ruangan itu terlihat terlalu bersih. Dokter Hayes berhenti tepat di depan pintu kedap suara tersebut dan menoleh pada Vanya. "Mulai dari sini, kita akan melihat seberapa kuat tubuh Anda sebenarnya, Nyonya Russell.” Pintu itu terbuka dengan bunyi desis pelan. “Silakan masuk.” Jay berdiri satu langkah di belakang Vanya. Dan untuk pertama kalinya sejak tiba di Boston, ia merasakan sesuatu yang tidak ia sukai. Bukan karena feromon, melainkan karena instingnya sendiri. Ruangan itu terasa seperti tempat di mana rahasia tidak lagi bisa disembunyikan. Pintu ruang observasi tertutup rapat dengan bunyi des
آخر تحديث: 2026-02-11
Chapter: CHAPTER 49.Jay berhenti di ambang pintu kamar tidur utama suite. Tubuhnya membeku seketika. Vanya berdiri di depan cermin besar, punggungnya menghadap pintu. Ia sedang mengenakan lingerie linen tipis berwarna krem yang hampir transparan, potongannya sederhana tapi sangat minim. Bagian atas hanya menutupi dada dengan tali tipis yang melintang di punggung, sementara bagian bawah berupa G-string yang nyaris tak menutupi apa-apa. Kain linen itu menempel lembut di kulitnya, memperlihatkan lekuk pinggang dan garis punggung yang halus. Vanya baru menyadari kehadiran Jay. Ia menoleh cepat, matanya membelalak. “Ah!” jerit kecilnya langsung pecah. Ia buru-buru berlari kecil ke balik ranjang, menarik selimut putih tebal dan membungkus tubuhnya rapat-rapat sampai hanya kepala yang kelihatan. Wajahnya memerah hebat, mata membulat panik. “Jay! Jangan masuk dulu!” Jay tetap berdiri di tempatnya. Matanya masih tertuju ke arah Vanya, tapi ekspresinya datar seperti biasa. Hanya alisnya yang sedikit terangka
آخر تحديث: 2026-02-11
Chapter: CHAPTER 48.Jay berdiri di depan jendela suite, tangan masih memegang ponsel. Matanya menatap kota Boston yang mulai menyala lampu-lampu malam, tapi pikirannya tidak di sana. Pesan Helena tadi masih terpampang di layar mengenai Bianca Moretti muncul dan menghadang Helena, tepat setelah kepergiannya dan Vanya. Di benaknya, ini bukan kebetulan. Ia menekan tombol panggil. Ponsel berdering dua kali sebelum Helena mengangkat. “Jay,” suara Helena langsung terdengar lelah tapi tegas. “Kamu baca pesan saya?” Jay tidak buang waktu. “Sudah aktifkan pengalihan jaringan?” Helena menghela napas pendek. “Aktif. Semua komunikasi kita sekarang lewat jalur tertutup.” “Berapa lama aman?” “Beberapa menit. Lebih lama dari itu, resikonya naik.” Jay mengangguk sendiri meski Helena tidak bisa melihat. “Bagus. Ceritakan dari awal.” Helena menghela napas di seberang. “Semalam jam 23:45 saya keluar dari shift di basement. Empat pria menghadang di depan mobil. Dua langsung menyerang saya, dua lagi menjaga dari
آخر تحديث: 2026-02-11
Chapter: S2-159. Takut Terulang Lagi.Zelda menelan ludah berat, napasnya tercekat beberapa detik. Noah hanya menatap lurus pada Zara. Napasnya tersendat sepersekian detik. Zara melanjutkan dengan nada yang di tekankan perlahan. “Tidak ada lagi sentuhan kecil yang bisa disalahartikan. Kalau kalian harus bicara, lakukan lewat pesan atau telepon. Kalau harus ketemu, ketemu di luar kampus. Di tempat yang tidak ada mahasiswa.” Noah mengangguk tanpa protes. “Aku mengerti.” Zelda menatap ibunya. “Mom, aku sedang banyak ujian dan proyek riset essay. Kalau aku tiba-tiba menjauh dari Noah sepenuhnya … orang mungkin curiga juga.” Zara mengangguk. “Itu benar. Makanya kau tidak perlu menjauh sepenuhnya. Kau hanya perlu menjaga jarak fisik di lingkungan kampus. Tetap profesional. Tetap seperti mahasiswi biasa yang berinteraksi dengan Ketua Yayasan kalau memang ada urusan resmi.” Noah menambahkan pelan. “Aku akan batasi kehadiranku di area fakultas. Rapat dengan dosen atau mahasiswa bisa via online kalau memungkinkan.”
آخر تحديث: 2026-02-10
Chapter: S2-158. Jangan Mendekat di Kampus!Sore itu cahaya matahari sudah condong ke barat, menyelinap melalui jendela besar ruang Ketua Pembina Yayasan. Ruangan terasa lebih sepi dari biasanya. Noah duduk di balik meja kayu gelap saat ia membaca laporan terakhir hari itu. Pintu terbuka tanpa ketukan. Zara masuk dengan langkah mantap, blazer hitamnya masih rapi meski hari sudah panjang. Ia menutup pintu di belakangnya dengan pelan. Noah mengangkat kepala. Matanya langsung bertemu dengan mata Zara. “Zara,” sapanya singkat, sudah berdiri setengah jalan dari kursi. “Ada apa?” Zara tidak langsung duduk. Ia berjalan mendekat ke meja, tangannya menyentuh tepi kayu sejenak sebelum akhirnya menarik kursi tamu dan duduk tegak. “Aku baru saja bertemu Ariana,” katanya tanpa basa-basi. Suaranya datar, tapi ada nada dingin yang Noah langsung kenali—nada yang muncul saat Zara sedang menahan amarah atau kekhawatiran besar. Noah menegang pelan. Ia kembali duduk, tangannya terlipat di atas meja. “Dia datang ke ruanganku siang
آخر تحديث: 2026-02-10
Chapter: S2-157. Polisi Moral.Siang hari di kampus terasa cukup melelahkan setelah jam mengajar selesai. Zara duduk di balik meja kerjanya, menatap layar laptop tanpa benar-benar membaca baris demi baris yang terpampang.Sejak semalam, Zara merasakan firasat aneh dan tak asing yang kembali mengetuk pelan, perasaan yang dulu sering muncul sebelum sesuatu akan terjadi.Ketukan di pintu membuatnya mengangkat kepala.“Masuk,” ucapnya tenang.Pintu terbuka perlahan. Seorang mahasiswi berdiri di ambang, rapi, berkacamata, tegak, dengan map tipis di tangan. Zara mengenalnya. Bukan karena prestasi semata, melainkan karena cara gadis itu membawa dirinya.“Ariana,” kata Zara, bukan bertanya.Ariana tersenyum sopan. “Selamat pagi, Professor Zara. Maaf mengganggu waktu Anda.”Zara menunjuk kursi di seberangnya. “Silakan duduk.”Ariana melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan hati-hati. Ia duduk tanpa gelisah, meletakkan map di pangkuannya. Tidak terburu-buru. Tidak gugup.Zara mengamati semuanya dalam diam.“Jadi
آخر تحديث: 2026-02-09
Chapter: S2-156. Hanya Sekadar Usapan Kepala.Zelda menarik napas pelan. Ada denyut kecil di dadanya, refleks lama yang ingin mundur satu langkah, menghindar. Tapi suara Zara tadi pagi terlintas begitu jelas di kepalanya. Jangan takut. Ia mengangkat wajahnya kembali. Bahunya yang sempat menegang kini diturunkan perlahan, seolah ia sedang mengingat cara berdiri yang benar. “Iya,” jawab Zelda akhirnya, suaranya tenang, nyaris datar. “Dari pacar.” Untuk pertama kalinya sejak duduk di hadapannya, Ariana tampak sedikit terkejut. “Oh ….” Nada itu keluar terlalu singkat, nyaris lolos begitu saja. Senyum tipis yang tadi bertahan di sudut bibirnya meredup sepersekian detik. Matanya bergerak cepat, seperti seseorang yang sedang menimbang ulang langkah berikutnya. Zelda menangkap keraguan itu. Jantungnya berdetak lebih cepat, telapak tangannya terasa dingin, tapi ia tidak mundur. Justru kali ini, ia yang bergerak lebih dulu. “Ada apa?” Ariana mendongak. Zelda menyambung, suaranya tetap terkontrol, meski ada nada ujung yang
آخر تحديث: 2026-02-07
Chapter: S2-155. Pedang Bermata Dua.Esok harinya. Diperjalanan menuju kampus, Zelda duduk di kursi penumpang belakang bersama Zara. Mereka seperti biasa diantar oleh pengawal Noah yang selalu siap siaga. Namun, Zelda tak banyak bicara sejak pembicaraannya semalam dengan Noah. Belum lagi dengan isi pesan singkat dari Sarah yang masih mengganggu pikirannya, hingga ia tidak bisa tidur nyenyak semalaman. Ia merasakan firasat yang tak enak, tapi ia terus menahannya hingga Zara menyadari raut wajah anaknya yang tidak ada rona cahaya sama sekali. Wajah Zelda terus muram, tegang, dan kedua alis sedikit mengerut. Zara akhirnya bertanya di sampingnya. Nadanya datar, tapi ada kekhawatiran disana. “Kau kenapa, Zelda?” Zelda tersentak kecil dan menoleh ke Zara. Bibirnya dipaksakan untuk tersenyum. “Tak apa, Mom. Hanya sedikit masalah yang mungkin … sejak awal aku sadari resikonya.” Zara seketika menunduk sambil tersenyum kecil. “Resiko karena menjalin hubungan dengan Noah?” Zelda terdiam sebelum akhirnya mengangguk, denga
آخر تحديث: 2026-02-07
Chapter: S2-154. Ariana Kepo.Sarah tidak langsung menjawab. Ponsel masih menempel di telinganya, tapi pikirannya sudah berlari terlalu jauh. Suara Ariana di seberang sana terdengar terlalu tenang untuk sekadar pertanyaan iseng. “Kenapa tiba-tiba nanya begitu?” Sarah akhirnya balik bertanya, berusaha terdengar santai. Di seberang, Ariana terkekeh kecil. “Aku cuma penasaran.” “Kampus penuh gosip,” lanjutnya ringan, seolah membicarakan cuaca. “Dan Zelda … sejak awal sering jadi pusat perhatian. Aku khawatir.” Sarah menghela napas pendek. “Dia memang dikenal karena prestasinya. Dia juga penerima beasiswa. Kalau soal keterlibatannya dengan Prof Noah—” “Kau sudah keceplosan dua kali dengan wajah sumringah itu, Sarah,” potong Ariana cepat. “Aku hanya ingin tahu hubungan mereka. Itu saja.” Sarah menelan ludah berat, jantungnya berdegup cepat dari biasanya. Dalam benaknya, ia merasa ceroboh dan bodoh pada dirinya sendiri. Di waktu bersamaan pula, ia merasa semakin tak enak hati pada Zelda. Sarah akhirnya bertanya
آخر تحديث: 2026-02-06