Chapter: 255. Luka di Balik Ketegasan Zavian.Zea terdiam terpaku di tempatnya, menatap ibunya dengan binar mata yang sarat akan rasa kebingungan yang amat dalam.Bagi Zea, ingatan soal sosok papanya tidak pernah benar-benar ada di kepalanya. Sejak kecil, yang ia ketahui dari cerita keluarganya cuma satu hal: papanya telah meninggal dunia karena sakit saat ia masih balita. Selama puluhan tahun hingga tumbuh dewasa, sosok Zavian-lah yang hadir menggantikan peran figur ayah dalam hidupnya. Seorang kakak yang tegas, disiplin, dan menjadi pelindung utama mereka.Namun, melihat raut wajah Donna yang berubah begitu redup dan getir, dada Zea mendadak dihinggapi perasaan cemas yang asing.Donna menghembuskan napas panjang sambil meremas jemari Zea yang hangat. Air mata yang sempat ia tahan kini menggenang tipis di pelupuk matanya."Dulu ... sebelum kamu lahir, rumah tangga Mama dan Papa hampir tak pernah merasakan ketenangan, Zea," cerita Donna pelan, suaranya mengalun serak membuka memori yang rapat-rapat ia kunci."Hampir setiap hari
Terakhir Diperbarui: 2026-10-02
Chapter: Curhatan Authorhai kakak² pembaca, plislah yg baca novel ini, gausah pake banyak akun, boleh banget kok gaes buka pake iklan kalau kalian nggak mau topup. tapi jgn sampai buat banyak akun dan buka pake koin bonusan semuaa. Maafin Author ya gaes, soalnya author ga bakal dapat gaji kalau kalian nuyul akun😭😭😭 kalau author ga dapat gaji, babnya juga jadi sendat² gaes, soalnya yg nulis kaga semangat wkwk 🗿 yuk lahh, dukung author dengan vote gems, dan di tunggu sawerannya kalo kalian ada rejeki lebih shay👀 thank youu atas perhatiannya ya🙏🏼
Terakhir Diperbarui: 2026-10-02
Chapter: 254. Kebenaran Terungkap.Setelah melontarkan ancaman tajam itu, Zavian membuka pintu mobilnya, membantingnya keras, lalu melangkah lebar meninggalkannya seorang diri di dalam mobil. Pria itu masuk ke dalam rumah melewati pintu depan, bahkan tanpa menoleh sedikitpun ke arah Donna yang sedang berdiri menyambut di ruang tamu.Zea yang masih duduk terpaku di kursi penumpang akhirnya tak mampu lagi menahan bendungan air matanya. Isak tangis yang sejak tadi ia tahan pecah begitu saja, mencuat keluar memenuhi kabin mobil yang sunyi.Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, bahunya bergetar hebat menahan rasa sakit dan sesak yang teramat dalam.Beberapa menit berlalu dalam isak tangisnya, pintu kursi penumpang sebelah tiba-tiba terbuka dari luar.Donna, yang sedari tadi menunggu di teras rumah dan menyadari ketegangan luar biasa saat Zavian melewatinya tanpa sepatah kata pun, segera berlari kecil menghampiri begitu melihat mobil putranya terdiam lama.Melihat putri bungsunya menangis histeris di dalam m
Terakhir Diperbarui: 2026-10-02
Chapter: 253. Pertengkaran Kakak-Adik.Mendengar titah mutlak yang meluncur begitu saja dari bibir kakaknya, Zea tidak lagi mampu menahan diri. Kesabarannya yang selama ini dipertahankan seketika terkoyak habis. Perasaan muak dan sesak bergemuruh di dalam dadanya menghadapi sikap kakaknya yang bukan lagi sekadar kelewat batas, tetapi sudah terang-terangan mencampuri ranah pribadi dalam hubungan asmaranya. Zea menoleh dengan mata membelalak tajam, menatap lurus wajah samping kakaknya di balik kemudi. "Jaga jarak? Nggak lagi ketemu atau kencan sama Marco?" suara Zea bergetar hebat, sarat akan kemarahan yang tertahan. "Kakak sadar nggak sih sama apa yang baru saja Kakak ucapkan?!" Zavian tidak bergeming. Ia tetap fokus menatap jalanan di hadapannya dengan rahang mengeras. "Aku sadar sepenuhnya, Zea. Keputusan ini mutlak demi kebaikan kamu." "Kebaikan siapa?!" potong Zea meninggikan suara, emosinya benar-benar meluap ke permukaan. "Marco sudah meluruskan semuanya di konferensi pers besar kemarin! Dia bahkan mempert
Terakhir Diperbarui: 2026-10-02
Chapter: 252. Jaga Jarak dari Marco!Vincent terdiam menatap Zavian dengan raut yang amat tenang dan penuh empati. "Kalau boleh jujur dari sudut pandang saya sebagai orang luar ..." buka Vincent halus, suaranya mengalun hangat tanpa cela. "Secara profesional, Marco itu pilar utama tim kita. Saya terkesan dengan kedisiplinan latihannya dan mental bertandingnya yang sangat kuat. Tentu, tidak ada yang bisa membantah hal itu." Zavian diam, mendengarkan dengan rahang kaku. "Tapi ..." Vincent memberi jeda terukur, memiringkan kepalanya sedikit. "Saya juga paham kenapa Coach bersikap sangat keras dan sensitif tiap kali ini menyangkut Zea.” Dahi Zavian berkerut tipis. "Maksudmu?" "Sejak almarhum Ayah saya masih ada dan mendidik Coach dulu, saya tahu betul betapa besarnya perjuangan Coach," lanjut Vincent, menyuntikkan narasi emosional dengan sangat presisi. “Coach adalah satu-satunya pelindung Tante Donna dan Zea sejak keluarga kalian harus melewati perpisahan pahit di masa lalu.” “Dan saya tahu, Coach sampa
Terakhir Diperbarui: 2026-10-01
Chapter: 251. Bagaimana Menurutmu tentang Marco?Zea menatap mata hitam Marco yang menatapnya penuh selidik. Ia membalas genggaman jemari tegap kekasihnya, berusaha menyalurkan ketenangan agar pria di hadapannya itu tidak terlalu tegang."Nggak kok, Marco," jawab Zea halus, menyunggingkan senyum menenangkan. "Vincent cuma tanya soal kejadian tadi pagi di koridor."Alis Marco bertaut tipis. Suaranya mengalun rendah dan dalam saat ia bertanya kembali. "Soal Coach yang hampir pukul aku?""Iya," Zea mengangguk pelan.Ia mulai menceritakan secara detail bagaimana pembicaraan mereka di meja makan tadi berlangsung. Zea menjelaskan bahwa Vincent merasa sangat terkejut melihat reaksi emosional Zavian yang meledak-ledak. Dari sudut pandang Vincent, perubahan sikap kepala pelatih yang mendadak hilang kendali terasa sangat tidak wajar, hingga membuatnya berasumsi bahwa Marco telah melakukan sesuatu yang membuat Zavian merasa terusik atau memendam ketidaksukaan yang mendalam."Aku langsung tegaskan ke dia kalau kamu nggak pernah buat masalah sa
Terakhir Diperbarui: 2026-10-01
Chapter: Chapter 226.Hari pernikahan telah tiba.Langit sore di The Orchid Garden berwarna keemasan. Ribuan bunga putih dan baby’s breath menghiasi altar sederhana namun elegan sesuai permintaan Yuna. Undangan dibatasi hanya keluarga dan orang-orang terdekat, menciptakan suasana intim yang hangat.Yuna berjalan menyusuri aisle dengan gaun A-line ber-detail lace yang dipilihnya bersama ibunya. Tangannya gemetar ringan di lengan Yuvita yang mengantarnya.Di ujung altar, Kai berdiri tegap dengan tuksedo hitam. Tatapannya tidak pernah lepas dari Yuna sedetik pun. Wajahnya yang biasanya dingin kini tampak lembut, bahkan sedikit tegang menahan emosi.Saat Yuna sampai di hadapannya, Kai mengulurkan tangan. Yuna meletakkan tangannya di atas telapak Kai yang hangat.“Kamu cantik sekali,” bisik Kai pelan, hanya untuk mereka berdua.Yuna tersenyum malu. “Kamu juga tampan.”Upacara berlangsung singkat, namun sarat khidmat. Saat mengucapkan janji pernikahan, suara Yuna sempat bergetar, menahan haru yang memenuhi dadan
Terakhir Diperbarui: 2026-07-01
Chapter: Chapter 225.“Jadi, sudah sejauh mana persiapan pernikahan kalian?” Pertanyaan Kendrik yang lugas itu membuat Yuna hampir tersedak air putihnya. Matanya membulat dan jantungnya berdegup kencang. “Eh? Sekarang?” tanyanya tanpa sadar. Kai yang duduk di sebelahnya hanya tersenyum tipis. Ia menjawab dengan tenang, seolah sudah mempersiapkan jawaban ini sejak lama. “Tanggal 18 Oktober. Venue utama di The Orchid Garden, kapasitas 300 orang. Resepsi malam hari. Saya sudah pesan tanggalnya dua minggu lalu.” Yuna menoleh cepat ke arah Kai. Yang benar saja, pria ini malah bergerak cepat dari yang ia kira?! “Kamu … sudah pesan?!” Kai mengangguk santai, seolah itu hal biasa. “Saya tidak suka menunda hal penting.” Ah, benar. Memang begitulah Kai. Begitu sudah mengambil keputusan, ia tak pernah suka menunda atau mengulur waktu. Yuvita langsung berseri-seri, matanya berbinar penuh semangat. “Wah, tanggalnya bagus! Ibu setuju. Kita harus pilih gaun secepatnya, Yuna! Ibu bayangkan yang model A-line denga
Terakhir Diperbarui: 2026-07-01
Chapter: Chapter 224.Beberapa hari setelah malam itu, Yuna akhirnya mengambil keputusan. Dengan langkah mantap, ia masuk ke ruangan Kai di lantai Firma Hukum Verazo & Associates dan meletakkan surat pengunduran dirinya di atas meja kerja pria itu. Sejak terbangun di dunia novel ini, Yuna selalu berusaha menghindari alur yang telah ditentukan sambil berharap bisa lolos dari akhir tragis yang menanti sang antagonis. Namun kini, saat memutuskan meninggalkan firma itu, Yuna menyadari sesuatu. Tanpa pernah ia rencanakan, ia telah melangkah begitu jauh hingga tak lagi sibuk melarikan diri dari takdir. Kai membaca surat itu sekilas. Sudut bibirnya perlahan terangkat, lalu berubah menjadi senyum lebar yang begitu puas—ekspresi yang nyaris tak pernah ia perlihatkan di kantor. Yuna mendengus pelan dan menyilangkan tangan di depan dada. “Udah puas, kan? Saya sudah menurut apa kata kamu.” Kai tidak langsung menjawab. Ia berdiri dari kursi kebesarannya, mengitari meja kerja dengan langkah santai namun penuh kuas
Terakhir Diperbarui: 2026-06-30
Chapter: Chapter 223.Kai membeku di tempat. Tatapannya yang biasanya tajam dan penuh kendali, kali ini dipenuhi kejutan yang tak bisa disembunyikan. Detik berikutnya, tangannya bergerak cepat. Ia menarik kepala Yuna ke dadanya dan memeluknya erat di koridor luar penthouse. “Terima kasih …” bisik Kai dengan suara berat, hampir parau. “Terima kasih karena sudah memberi saya kesempatan.” Pelukannya begitu kuat, seolah ia takut Yuna akan menghilang jika dilepaskan. Yuna terkubur dalam pelukan itu, menghirup aroma Kai yang sudah sangat familiar. Yuna tersenyum kecil di dada pria itu. “Terima kasih juga … karena sudah membuat hidup saya seperti roller coaster sejak kenal Anda.” Kai terkekeh pelan. Getaran tawanya terasa di dada Yuna. Ia melepas pelukan sedikit, cukup untuk menatap wajah Yuna, lalu mengambil cincin dari kotak itu. Kai mengangkat tangan Yuna dengan hati-hati. Tanpa terburu-buru, ia menyematkan cincin itu ke jari manis gadis itu. Saat cincin itu melingkar sempurna, keduanya hanya saling menat
Terakhir Diperbarui: 2026-06-30
Chapter: Chapter 222.Yuna membeku dengan jantung berdegup cepat, sampai rasanya terasa sakit. Wajahnya mendadak panas dan malu setengah mati. Karena pertama kali dalam hidupnya, ia dilamar oleh dua pria yang berbeda dalam satu malam.Yuna tergagap sambil tangannya bergerak ke mana-mana tanpa arah."Tu-tunggu, Kai! Ini ... ini terlalu tiba-tiba! Sa-saya ....”“Saya tahu, Yuna. Saya benar-benar tahu,” potong Kai rendah. “Awalnya saya pikir ... saya hanya ingin memperbaiki kesalahan saya. Tapi ternyata tidak.”Kai tersenyum tipis, tatapannya lembut namun penuh keyakinan."Semakin saya mencoba melepaskanmu, semakin saya sadar, saya memang tidak ingin kehilanganmu.” Kai menunduk sekilas ke cincin di tangannya, lalu kembali menatap Yuna. "Saya belum tahu apakah ini yang orang-orang sebut cinta. Yang saya tahu … saya sudah memutuskan."Yuna menahan napas sejenak, dadanya semakin sakit karena debaran jantung yang semakin kacau."Kalau kamu bersedia ...." Kai mengangkat kotak cincin itu sedikit lebih tinggi. "Hab
Terakhir Diperbarui: 2026-06-30
Chapter: Chapter 221.Yuna terdiam. Angin malam kembali berhembus membawa dingin yang menyelip di antara keduanya. Dada Yuna terasa sesak oleh rasa bersalah yang mulai menghantuinya. “Apa karena kamu sudah menduga kalau ini bakal terjadi, Firas?” Yuna mengangkat wajahnya menatap pria itu. “Kamu bakal pergi karena … saya menolakmu?” Firas diam sejenak sebelum tersenyum kecil. "Tidak." Suaranya tenang. "Tawaran itu sudah ada beberapa hari yang lalu. Saya hanya … belum memutuskan." "Berarti kamu sudah memutuskannya?" "Sekarang sudah," jawabnya pelan. Yuna menunduk. Jemarinya meremas ujung blazer tanpa sadar. "Firas, saya—" "Yuna." Suara Firas memotong lembut. "Kamu tidak perlu merasa bersalah." "Tapi saya memang merasa bersalah, Firas. Selama ini kamu sudah sangat baik sama saya." Firas menghela napas pelan. Ia menatap hamparan lampu kota di bawah sana yang berkelip tenang. "Saya pergi bukan karena kamu menolak saya," ucapnya akhirnya. "Tapi karena … mungkin memang sudah waktunya saya m
Terakhir Diperbarui: 2026-06-29
Chapter: CHAPTER 93.Vanya beserta Ibu dan adiknya berjalan mengitari setiap lantai di mal besar. Ia tanpa ragu membayar setiap belanjaan pakaian yang menurutnya menarik perhatiannya demi menghibur dirinya sendiri tanpa melihat harga. Semua itu berkat kartu kredit milik Jay yang masih ada di tangannya. Meski begitu, setiap gesekan kartu itu mengingatkannya—bahwa bahkan kebebasan kecil ini pun masih berasal dari pria yang mengikatnya. Perasaan yang sejak tadi berkecamuk akhirnya mereda perlahan, karena perhatiannya teralihkan pada aktivitas yang selama ini sangat jarang untuk dilakukan selama masih di bangku kuliah. Bahkan, selama ia masih bersama Jordan, ia hanya pergi kencan beberapa kali dalam sebulan. Di salah satu toko pakaian, ada sebuah gaun menarik perhatiannya hingga Vanya melirik sekilas. Gaun itu berwarna pastel lembut dengan desain sederhana, dihiasi detail brokat berlipat yang memberi kesan anggun tanpa berlebihan. Kontras dengan gaun-gaun yang selama ini memenuhi lemarinya di mansion Jay—
Terakhir Diperbarui: 2026-04-10
Chapter: CHAPTER 92.Vanya membeku saat ia membaca isi pesan singkat suaminya. Tanpa sadar, tangannya yang menggenggam ponselnya mengerat hingga buku-buku jari memutih. Campuran kesal sekaligus muak mengendap di dadanya. Betapa tidak, pria itu masih saja mengontrolnya dari jarak jauh meski keberadaannya sudah tidak ada. Tapi bayang-bayang pria dingin yang tak tahu cara bagaimana berekspresi masih hadir di kepalanya. “Sialan,” gumam Vanya mengumpat pelan. Varsha yang duduk di tengah di antara dirinya dan ibunya langsung menoleh cepat, sebelum menutup kedua telinganya dengan tangan kecilnya. Suaranya terdengar pelan, namun sarat protes dan kekesalan yang begitu jelas. “Kak, ngomongnya jangan kasar.” Vanya tersentak dan menoleh cepat pada adiknya sebelum akhirnya ia merengkuh tubuh kecilnya dan mencium puncak kepalanya. Tangan satunya memasukkan ponselnya ke dalam tas kecilnya. “Maafin Kakak ya. Kakak nggak sengaja ngomong kasar.” Varsha hanya mengerucut bibirnya dan menjawab. “Nanti beliin aku es kri
Terakhir Diperbarui: 2026-04-09
Chapter: CHAPTER 91.Violet menatap putrinya lama sekali sebelum ia tersenyum kecil sambil mengangguk pelan. “Baik. Ibu ikut.” Varsha bertepuk tangan kecil. “Jalan-jalan! Aku mau beli es krim!” Vanya tertawa kecil dan memeluk adiknya lagi. “Kalau begitu, aku pakai baju dulu.” Violet mengangguk. “Ibu akan siap-siap bareng Varsha.” Vanya berbalik menuju kamar utama dengan langkah cepat. Di dalam kamar, ia membuka lemari besar dan memilih dress sederhana berwarna krem panjang selutut, cardigan tipis, dan flat shoes yang nyaman. Rambutnya ia keringkan cepat dan diikat ponytail tinggi. Sebelum keluar, ia menatap cermin sekali lagi. Ia memandang wajahnya dengan tajam dan penuh keyakinan. Dibenaknya ia terus meyakinkan diri sendiri, bahwa ia bisa hidup tanpa suaminya yang selalu mengatur hidupnya. Lantas Vanya mengambil tas kecil dan memasukkan Black Card ke dalamnya, lalu keluar kamar. Di koridor, ia bertemu Violet dan Varsha yang sudah siap. Varsha memegang tangan ibunya dengan wajah yang cerah. “Kak
Terakhir Diperbarui: 2026-04-09
Chapter: CHAPTER 90.Jay menatap telapak tangan itu lama sekali. Rahangnya mengeras tipis, matanya menyipit.“Kamu mau kemana memang?” tanyanya rendah, nada suaranya datar tapi ada tekanan halus di dalamnya.Vanya mengangkat dagu sedikit. Matanya tidak berkedip.“Kamu nggak perlu tahu.”Kata-kata itu keluar pelan, tapi menusuk. Sebuah cerminan yang nyaris sempurna dari apa yang selama ini selalu Jay ucapkan setiap kali Vanya mencoba menyinggung soal ‘urusan kerjaan’-nya.Jay terdiam. Matanya semakin gelap.“Vanya.”Vanya melipat tangan di dada, bibirnya mengerucut tipis. “Kenapa? Mau marah?”Jay tidak menjawab langsung. Ia hanya menatap Vanya dengan tatapan yang sulit dibaca—campuran antara dingin, lelah, dan sesuatu yang lebih dalam yang jarang ia tunjukkan.Vanya melanjutkan, suaranya lebih tajam tapi tetap terkendali.“Itu yang selalu kamu bilang tiap aku tanya. ‘Nggak usah tahu detailnya sekarang’. ‘Ini urusan
Terakhir Diperbarui: 2026-02-26
Chapter: CHAPTER 89.Mata Violet sedikit melebar dan mengangguk cepat. “Ibu ikut.” Varsha memeluk ibunya erat. “Aku juga mau ikut cari Kak Vanya.” Jay tidak melarang. Ia berjalan lebih cepat, langkahnya tetap tenang tapi ada urgensi yang tidak bisa disembunyikan lagi. Mereka bertiga sampai di pintu ruang membaca. Lampu di dalam redup, hanya menyala dari lampu baca kecil di sudut. Jay mendorong pintu pelan. Dan benar, Vanya ada di sana. Ia meringkuk di sofa panjang berwarna krem, selimut tipis menutupi tubuhnya hingga bahu. Rambutnya tergerai di bantal, tangannya memeluk buku tebal yang terbuka di pangkuannya. Matanya tertutup rapat, napasnya teratur—tertidur lelap. Di depannya ada nampan kosong: sisa muffin cokelat dan stroberi yang sudah dimakan separuh, segelas susu hangat yang tinggal setengah. Violet menutup mulutnya dengan tangan. “Ternyata Vanya disini.” Varsha langsung berlari kecil dan memeluk kaki Vanya sambil berbisik, “Kak Vanya .…” Jay berdiri di ambang pintu, tidak berge
Terakhir Diperbarui: 2026-02-25
Chapter: CHAPTER 88.Malam sudah larut di kediaman utama Silvia Russell. Ruang kerja pribadinya terasa lebih dingin dari biasanya, hanya diterangi lampu meja kuning redup. Silvia duduk tegak di kursi kulit hitam besar, jari-jarinya bertaut di atas meja. Di depannya, layar monitor besar menampilkan panggilan video dari tim yang baru kembali dari misi pulau pribadi Jay. Wajah mereka pucat, keringat masih menempel di dahi meski sudah berada di daratan. Bianca Moretti berdiri di samping meja, tangan disilangkan di dada. Matanya dingin, tapi ada kilatan amarah yang tersembunyi. Pria di layar, komandan tim menelan ludah sebelum bicara. “Nyonya Silvia, kami gagal total menyusup ke pulau. Perimeter dijaga sistem otomatis tingkat tinggi: pelat baja anti-peluru di semua jendela, drone patroli 24 jam, sensor gerak di seluruh garis pantai, jammer sinyal yang memblokir hampir semua komunikasi.” Napas pria itu sedikit tercekat. “Dari satelit sipil, pulau itu bahkan tidak terdeteksi sebagai wilayah berpengh
Terakhir Diperbarui: 2026-02-25
Chapter: S2-173. Happy Ending. (+21)Suite honeymoon di lantai tertinggi hotel mewah Paris menyambut mereka dengan cahaya kota yang berkelip lembut melalui jendela kaca besar. Menara Eiffel terlihat jelas di kejauhan, menyala keemasan di malam musim semi. Zelda berdiri di depan jendela, gaun malam sutra putih tipis yang ia pakai setelah mandi menempel lembut di kulitnya. Rambutnya masih agak basah, jatuh di bahu. Noah mendekat dari belakang, tangannya melingkar di pinggang istrinya, dagunya bertumpu di bahu Zelda. “Kau cantik sekali malam ini, istriku,” bisiknya di telinga Zelda, suaranya sudah rendah dan berat. Zelda tersenyum malu, pipinya memerah. “Kau juga tampan, suamiku.” Noah membalik tubuh Zelda perlahan hingga mereka berhadapan. Matanya gelap penuh hasrat yang sudah lama ditahan. Ia menunduk, mencium bibir istrinya dengan lembut di awal, lalu semakin dalam, lidahnya menyusup pelan, mengeksplorasi dengan penuh penyembahan. “Hmm …,” desah Zelda kecil di bibirnya, tangannya naik ke dada Noah, merasakan otot y
Terakhir Diperbarui: 2026-02-23
Chapter: S2-172. Pernikahan dan Janji Selamanya.Zelda berdiri membeku di balkon penthouse, angin malam menyapu rambutnya dengan lembut. Noah masih berlutut di hadapannya, kotak cincin terbuka di tangannya, cincin sederhana dengan berlian kecil itu berkilau pelan di bawah lampu temaram. Mata Zelda berkaca-kaca. Air matanya jatuh tanpa suara, satu per satu, membasahi pipinya. Tangan kanannya menutup mulut, seolah takut suara yang keluar nanti akan pecah. “Noah …” suaranya bergetar, nyaris tak terdengar. Noah menatapnya tanpa berkedip. Matanya penuh kepastian, penuh cinta, dan sedikit gugup yang jarang sekali terlihat pada pria seperti dirinya. “Aku tidak butuh jawaban sekarang kalau kau belum siap,” katanya pelan, suaranya rendah dan hangat. “Aku akan menunggu. Selama yang kau butuhkan. Tapi aku ingin kau tahu … aku sudah memilihmu sejak lama. Dan aku tidak akan berubah pikiran.” Zelda menggeleng pelan. Air matanya semakin deras, tapi senyum kecil mulai terbentuk di bibirnya—senyum yang gemetar, tapi tulus. “Dasar … bodo
Terakhir Diperbarui: 2026-02-23
Chapter: S2-171. Lamaran.Zelda tercekat. Kedua matanya berair hingga air matanya terjatuh pelan setelah mendengar semua ungkapan yang Noelle lontarkan kepadanya. Sebuah pengakuan yang kini tak didasari oleh kebencian lagi. “Kau … benar-benar merestui hubungan Noah denganku?” tanyanya, masih tak menyangka. Noelle mendengus pelan. “Tentu saja! Kenapa kau terkejut begitu? Bukannya ini yang kalian tunggu-tunggu?” Noah menegang di sofa sebelum ia bangkit berdiri perlahan. Wajah pria itu masih terkejut sekaligus bangga pada adiknya. Noelle masih menatap Zelda lama, kali ini matanya berkaca-kaca tapi tidak lagi penuh rasa bersalah yang berat. Ada kelegaan di sana, seperti seseorang yang akhirnya melepaskan beban yang sudah bertahun-tahun ia pikul. Tanpa kata lagi, Noelle berjalan maju dan memeluk Zelda. Pelukan itu lembut, ragu di awal, tapi kemudian semakin erat. Noelle menempelkan pipinya di bahu Zelda, bahunya bergetar pelan. Zelda membeku sepersekian detik, lalu tangannya naik pelan, membalas peluka
Terakhir Diperbarui: 2026-02-21
Chapter: S2-170. Pengakuan dan Restu Noelle Grimm.Zelda menatap Noah. Matanya berkaca-kaca, tapi ia mengangguk kecil. Noah tersenyum tipis ke ponsel. “Kami tunggu kau besok, Noelle. Pulanglah.” Telepon ditutup. Di meja makan itu, empat orang saling pandang. Ada air mata yang hampir jatuh, ada senyum yang mulai terbentuk, ada harapan yang pelan-pelan tumbuh kembali. Zelda akhirnya membuka suara, dengan nada penuh haru. "Akhirnya, keluargamu kembali utuh, Noah.” Noah tak menjawab. Tangannya meraih tangan Zelda disampingnya, dan menggenggamnya lebih erat. Gestur kecil itu lebih penuh arti daripada hanya sekadar kata-kata malam itu. *** Pagi di akhir pekan yang cerah, namun udara di depan gerbang rumah tahanan masih terasa dingin. Michael Grimm berdiri paling depan, tangan di saku jas hitamnya. Di sampingnya, Noah berdiri tegak, wajahnya tenang seperti biasa, tapi jemarinya sesekali mengepal pelan—tanda kecil bahwa ia juga gugup. Zelda berdiri di sebelah Noah, tangannya menggenggam lengan pria itu erat. Zara berdiri p
Terakhir Diperbarui: 2026-02-21
Chapter: S2-169. Penyerahan Kuasa kepada Zara.Ruangan menjadi sunyi sejenak.Zara tidak langsung bereaksi. Matanya hanya sedikit melebar, lalu menyipit, seolah sedang mencerna setiap kata.“Kau yakin?” tanyanya akhirnya, kini nada pribadi mulai menyelinap. “Ini bukan keputusan kecil, Noah.”“Aku yakin,” jawab Noah tegas. “Aku sudah bicara dengan Ayah. Beliau setuju. Yayasan ini butuh pemimpin yang stabil, yang paham dunia akademik dari dalam, dan yang tidak terikat pada konflik keluarga seperti aku.”Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara lebih rendah.“Dan aku ingin punya waktu lebih banyak untuk Zelda. Untuk kami. Tanpa bayangan jabatan ini yang selalu membuat kami harus berhati-hati. Bahkan, Ayahku ingin aku pegang kendali Grimm’s Corporation segera.”Zara menatap Noah lama. Ada banyak hal yang melintas di matanya. Kejutan, pertimbangan, dan akhirnya … pengertian.“Kau sudah bicara dengan Zelda tentang ini?” tanyanya.“Belum,” akui Noah. “Aku ingin bicara denganmu dulu. Karena ini juga menyangkut posisimu sebagai d
Terakhir Diperbarui: 2026-02-20
Chapter: S2-168. Malam yang Melepaskan (+21)Zelda menatap layar ponselnya lama sekali setelah membaca pesan Ariana. Layarnya sudah redup, tapi kalimat pendek itu masih terbayang jelas di benaknya. “Maaf. Aku salah. Semoga kau bahagia.” Jemarinya berhenti di atas keyboard. Ada banyak hal yang ingin ia ketik. Marah, kecewa, bahkan pertanyaan “kenapa kau lakukan itu?” Tapi semuanya terasa terlalu berat malam ini. Akhirnya ia mengetik pelan, huruf demi huruf. “Aku sudah memaafkanmu lebih dulu.” Ia berhenti. Jarinya ragu di atas layar. Lalu melanjutkan. “Setidaknya kau sudah berbuat baik padaku. Terima kasih. Aku harap kau baik-baik saja di sana.” Zelda menarik napas dalam, lalu menekan kirim. Pesan terkirim. Ia meletakkan ponsel di meja, lalu bersandar kembali ke dada Noah. Dadanya terasa sedikit lebih ringan sekarang. Noah yang sejak tadi diam memperhatikannya tanpa mengganggu, akhirnya mengangkat dagu Zelda dengan lembut menggunakan dua jari. Matanya menatap dalam, penuh cinta dan kesabaran. “Aku menging
Terakhir Diperbarui: 2026-02-20