Chapter: Chapter 53.Yuna membeku, dan tanpa sadar kakinya mengerem pelan hingga mobilnya hampir berhenti di pinggir jalan.Dada Yuna mendadak sesak. Dan untuk pertama kalinya, hatinya seperti tertusuk perlahan sambil masih menatap Kai bersama sosok wanita itu dari kejauhan.“Kai dan … siapa lagi wanita itu?” gumam Yuna berbisik.Hubungan mereka … terlihat sangat akrab. Wanita itu tersenyum manis sambil tangannya sempat menyentuh lengan Kai sebentar sebelum mundur.Wanita itu terlihat sangat cantik. Berpakaian elegan, rambut tergerai sempurna, aura percaya diri yang kuat. Bukan tipe Alya yang polos-ceria, tapi tipe wanita dewasa yang sepadan dengan Kai Verazo.Napas Yuna tetahan sepersekian detik. Bukan karena cemburu yang membara, tapi sakit yang dingin dan menusuk. Yuna teringat perkataan Kai saat bilang Alya kurang menarik karena terlalu sempurna.Lalu wanita ini …?Tangan Yuna yang memegang burger gemetar. Sausnya menetes ke pangkuannya,
Last Updated: 2026-03-30
Chapter: Chapter 52.Yuna membeku di tempat. Jantungnya berdebar kencang hingga terasa menyakitkan di dada.Firas… mau antar dirinya pulang?Firas melanjutkan dengan nada lebih lembut, penuh perhatian yang kali ini terasa lebih dalam.“Kamu kelihatan kecapekan. Saya nggak enak kalau kamu pulang sendiri dalam keadaan seperti ini.”Yuna menahan napas sepersekian detik. Tawaran Firas begitu sederhana, tapi terasa sangat berat dan tulus. Namun, Yuna harus menelan ludah lagi saat pikirannya mulai panik oleh kenyataan yang menampar dirinya.Kalau Firas tahu ia tinggal di kediaman Kai, bagaimana reaksinya?Yuna tidak berani membayangkan kemungkinan itu. Apalagi kalau Firas mulai menekannya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyentuh hidup pribadinya dan … hubungannya dengan Kai.Yuna menelan ludah berat karena tenggorokannya mendadak terasa kering.“Terima kasih, Dok … tapi nggak usah. Saya bawa mobil sendiri kok. Lagian, masih ada yang ha
Last Updated: 2026-03-30
Chapter: Chapter 51.Yuna menarik napas pelan, berusaha menjaga suaranya tetap tenang meski dadanya kembali sesak.“Iya … baru saja dari ICU. Kondisinya sudah lebih stabil. Makasih udah nanyain.”Firas diam di sampingnya, menyesap kopi hitam dari botol di tangannya. Tatapannya sempat turun, tapi Yuna bisa merasakan bahwa pria itu tetap mendengarkan dengan saksama.Darren di telepon melanjutkan dengan nada yang semakin lembut.“Saya lega dengarnya. Kamu sendiri gimana? Kemarin kamu kelihatan … capek banget. Sudah makan? Tidurmu juga cukup nggak?”Yuna menggigit bibir bawahnya. Pertanyaan sederhana itu terasa berat. Karena di balik perkataan Darren, ia bisa mendengar kepedulian yang tulus yang membuatnya tidak nyaman.Bukankah seharusnya Darren lebih mengkhawatirkan Alya yang semalam terlihat tidak enak badan?Tapi … kenapa justru dia yang ditanyakan?“Saya… sudah makan tadi. Sekarang lagi di taman rumah sakit,” jawabnya pelan.
Last Updated: 2026-03-30
Chapter: Chapter 50.Yuna membeku sesaat di kursi taman. Ia menelan ludah berat sambil jari-jarinya mencengkeram botol air mineral hingga plastiknya berkerisik pelan. Jantungnya berdebar kencang. Banyak kata yang ingin Yuna ucapkan, tapi semuanya tertahan di tenggorokan. “Pak Kai …” suaranya keluar pelan, hampir ragu. “Dia … atasan saya di kantor. Dan … dia yang membantu biaya operasi Ibu.” Firas diam dengan tatapan yang tetap lembut tapi penuh perhatian. Ia tidak langsung bereaksi, seolah sedang menunggu kelanjutan. Yuna buru-buru menambahkan dengan suara sedikit lebih cepat. “Tapi … hubungan kami nggak seperti yang Dokter pikirkan. Bukan apa-apa. Benar-benar cuma … urusan kerja.” Dibenaknya, Yuna sendiri merasa aneh mendengar perkataannya. Padahal semalam ia tidur telanjang dalam pelukan Kai. Apalagi, pria itu hampir .… Yuna tersenyum kaku pada Firas sambil berusaha mengenyahkan pi
Last Updated: 2026-03-30
Chapter: Chapter 49.Yuna tersentak sebelum menoleh cepat ke asal suara. Firas berdiri tak jauh darinya. Senyumnya lembut seperti biasa, meski ada garis kelelahan samar di sudut matanya. “Iya, Dok,” jawab Yuna sambil tersenyum kecil. “Saya mau jenguk Ibu. Gimana keadaannya hari ini?” Firas mendekat, tatapannya hangat. “Stabil. Responsnya sudah lebih baik. Kamu boleh masuk sebentar, tapi jangan terlalu lama ya.” Yuna mengangguk. Tapi sebelum melangkah, ia tak bisa menahan diri untuk melirik ke arah lorong tempat bisik-bisik perawat tadi berasal. Semuanya terasa semakin rumit. Dan ia tahu, ini baru permulaan dari risiko perubahan di plot cerita. Mereka berjalan menuju ruang ICU. Di balik dinding kaca tebal, Yuna berdiri diam menatap sosok Yuvita yang terbaring di ranjang rumah sakit. Banyak alat medis menempel di tubuh ibunya. Wajah Yuvita pucat, tapi dadanya naik-turun dengan ritme yang lebih tenang dibanding malam kemarin. Yuna menekankan telapak tangan ke kaca dingin. Dada yang tadinya ri
Last Updated: 2026-03-28
Chapter: Chapter 48.Yuna mengerjap dengan kesadaran perlahan yang merayap masuk. Tubuhnya terasa ringan dan tak tersentuh. Ia menoleh pelan ke samping ranjang dan mendapati ranjang yang kosong. Kai tidak ada bersamanya. Dan ia masih berada di kamar utama Kai. Yuna duduk perlahan hingga selimut meluncur turun dari bahunya yang telanjang. Ingatan semalam kembali muncul—pelukan hangat Kai, bisikan tentang hukuman, sentuhan yang hampir melewati batas sebelum penolakan Yuna yang begitu lemah. Ia tertidur lelap dengan cara yang mengejutkan, meski ada ketegangan kecil di antara mereka. “Dia benar-benar pergi …” gumamnya pelan. Entah kenapa, dada Yuna terasa campur aduk. Ada lega karena untuk sesaat ia bebas dari tatapan tajam dan kendali Kai. Tapi di balik itu, ada kekosongan kecil yang membuatnya gelisah. Kenapa … ia malah mencari kehadirannya? Ia bangkit dan melangkah canggung menuju kamar mandi Kai. Aroma sabun pria itu masih samar menempel di udara, mengingatkannya pada sentuhan semalam. Setelah m
Last Updated: 2026-03-28
Chapter: CHAPTER 90.Jay menatap telapak tangan itu lama sekali. Rahangnya mengeras tipis, matanya menyipit.“Kamu mau kemana memang?” tanyanya rendah, nada suaranya datar tapi ada tekanan halus di dalamnya.Vanya mengangkat dagu sedikit. Matanya tidak berkedip.“Kamu nggak perlu tahu.”Kata-kata itu keluar pelan, tapi menusuk. Sebuah cerminan yang nyaris sempurna dari apa yang selama ini selalu Jay ucapkan setiap kali Vanya mencoba menyinggung soal ‘urusan kerjaan’-nya.Jay terdiam. Matanya semakin gelap.“Vanya.”Vanya melipat tangan di dada, bibirnya mengerucut tipis. “Kenapa? Mau marah?”Jay tidak menjawab langsung. Ia hanya menatap Vanya dengan tatapan yang sulit dibaca—campuran antara dingin, lelah, dan sesuatu yang lebih dalam yang jarang ia tunjukkan.Vanya melanjutkan, suaranya lebih tajam tapi tetap terkendali.“Itu yang selalu kamu bilang tiap aku tanya. ‘Nggak usah tahu detailnya sekarang’. ‘Ini urusan
Last Updated: 2026-02-26
Chapter: CHAPTER 89.Mata Violet sedikit melebar dan mengangguk cepat. “Ibu ikut.” Varsha memeluk ibunya erat. “Aku juga mau ikut cari Kak Vanya.” Jay tidak melarang. Ia berjalan lebih cepat, langkahnya tetap tenang tapi ada urgensi yang tidak bisa disembunyikan lagi. Mereka bertiga sampai di pintu ruang membaca. Lampu di dalam redup, hanya menyala dari lampu baca kecil di sudut. Jay mendorong pintu pelan. Dan benar, Vanya ada di sana. Ia meringkuk di sofa panjang berwarna krem, selimut tipis menutupi tubuhnya hingga bahu. Rambutnya tergerai di bantal, tangannya memeluk buku tebal yang terbuka di pangkuannya. Matanya tertutup rapat, napasnya teratur—tertidur lelap. Di depannya ada nampan kosong: sisa muffin cokelat dan stroberi yang sudah dimakan separuh, segelas susu hangat yang tinggal setengah. Violet menutup mulutnya dengan tangan. “Ternyata Vanya disini.” Varsha langsung berlari kecil dan memeluk kaki Vanya sambil berbisik, “Kak Vanya .…” Jay berdiri di ambang pintu, tidak berge
Last Updated: 2026-02-25
Chapter: CHAPTER 88.Malam sudah larut di kediaman utama Silvia Russell. Ruang kerja pribadinya terasa lebih dingin dari biasanya, hanya diterangi lampu meja kuning redup. Silvia duduk tegak di kursi kulit hitam besar, jari-jarinya bertaut di atas meja. Di depannya, layar monitor besar menampilkan panggilan video dari tim yang baru kembali dari misi pulau pribadi Jay. Wajah mereka pucat, keringat masih menempel di dahi meski sudah berada di daratan. Bianca Moretti berdiri di samping meja, tangan disilangkan di dada. Matanya dingin, tapi ada kilatan amarah yang tersembunyi. Pria di layar, komandan tim menelan ludah sebelum bicara. “Nyonya Silvia, kami gagal total menyusup ke pulau. Perimeter dijaga sistem otomatis tingkat tinggi: pelat baja anti-peluru di semua jendela, drone patroli 24 jam, sensor gerak di seluruh garis pantai, jammer sinyal yang memblokir hampir semua komunikasi.” Napas pria itu sedikit tercekat. “Dari satelit sipil, pulau itu bahkan tidak terdeteksi sebagai wilayah berpengh
Last Updated: 2026-02-25
Chapter: CHAPTER 87.Vanya berjalan cepat menyusuri koridor panjang mansion. Air matanya masih mengalir pelan, tapi ia tidak lagi menangis tersedu. Hanya sesak yang semakin menekan dada, napasnya pendek-pendek, dan tiba-tiba .… Tubuhnya terasa panas. Bukan panas seperti bara yang membakar seperti dulu, tapi hangat yang menyebar perlahan dari perut ke dada, ke leher, ke pipi. Jantungnya berdegup kencang, tidak teratur, seperti ada yang menekan dari dalam. Keringat tipis muncul di pelipis dan punggungnya. “Feromonku … aktif lagi,” gumam Vanya pelan. Vanya berhenti mendadak di sudut koridor. Ia bersandar ke dinding, tangan kanannya menekan dada, mencoba menahan napas yang semakin cepat. Panas tubuhnya tidak sekuat biasanya, tapi tetap ada. Aroma manis mulai samar-samar tercium dari tubuhnya sendiri. Tajam dan menggoda. Ia menutup mata, mencoba latihan pernapasan yang ia pelajari, berulang hingga empat kali. Panas di tubuhnya perlahan mereda, tidak hilang total, tapi intensitasnya turun. Degup
Last Updated: 2026-02-25
Chapter: CHAPTER 86.Vanya duduk di ranjang kamar utama mansion, selimut tebal masih melorot di pinggangnya. Matanya kosong menatap lantai marmer yang dingin, tapi pikirannya melayang jauh. Pantai putih itu … ombak kecil yang menyapa kaki … angin laut yang lembut mengusap rambut … Jay yang tersenyum tipis saat ia menyuapi tiramisu di pesawat. Dan sebuah janji “Nanti kita balik lagi” yang terucap di helipad sebelum pesawat lepas landas. Semuanya terasa seperti mimpi yang terlalu indah untuk benar. Dan sekarang, mimpi itu sudah berakhir. Vanya menarik napas dalam, tapi dadanya tetap sesak. Ia memeluk lututnya sendiri, mencoba menahan getaran kecil di tubuhnya. “Padahal kita sudah janji …” gumamnya pelan, hampir tak terdengar. “Kita balik lagi ke sana … suatu hari nanti.” Air mata jatuh lagi, pelan, tanpa suara. Ia hanya diam, menatap kosong, seperti orang yang kehilangan sesuatu yang belum sempat ia pegang erat-erat. Tok. tok. Ketukan pelan di pintu utama kamar. Vanya menoleh. Rahangnya me
Last Updated: 2026-02-24
Chapter: CHAPTER 85.Vanya menutup mulutnya dengan tangan. Air matanya langsung jatuh pelan. Ia mundur setengah langkah, nampan teh di tangannya gemetar hingga hampir jatuh. “Jay … dia mau kurung aku?” bisiknya tidak bersuara. Vanya menarik napas pendek, lalu mendorong pintu lebar-lebar tanpa ketuk lagi. Bunyi pintu membentur dinding membuat Jay dan Helena langsung menoleh. Jay duduk di kursi besar belakang meja kerja, tangannya masih di atas tablet. Helena berdiri di sisi meja, ekspresinya langsung berubah tegang. Vanya melangkah masuk satu langkah. Nampan teh di tangannya bergetar keras hingga teh hampir tumpah. “Fasilitas privat itu apa maksudnya?” tanyanya dingin, tapi suaranya bergetar hebat. “Kalian mau kurung aku?” Hening sesaat. Helena membuka mulut, mencoba bicara halus. “Nyonya Vanya, ini bukan—” “Aku dengar sendiri tadi,” potong Vanya tajam, matanya langsung ke Jay. “Jangan bohong lagi.” Jay diam sebentar. Ia hanya menatap Vanya dengan mata yang dingin dan tak bergeming. Lalu
Last Updated: 2026-02-24
Chapter: S2-173. Happy Ending. (+21)Suite honeymoon di lantai tertinggi hotel mewah Paris menyambut mereka dengan cahaya kota yang berkelip lembut melalui jendela kaca besar. Menara Eiffel terlihat jelas di kejauhan, menyala keemasan di malam musim semi. Zelda berdiri di depan jendela, gaun malam sutra putih tipis yang ia pakai setelah mandi menempel lembut di kulitnya. Rambutnya masih agak basah, jatuh di bahu. Noah mendekat dari belakang, tangannya melingkar di pinggang istrinya, dagunya bertumpu di bahu Zelda. “Kau cantik sekali malam ini, istriku,” bisiknya di telinga Zelda, suaranya sudah rendah dan berat. Zelda tersenyum malu, pipinya memerah. “Kau juga tampan, suamiku.” Noah membalik tubuh Zelda perlahan hingga mereka berhadapan. Matanya gelap penuh hasrat yang sudah lama ditahan. Ia menunduk, mencium bibir istrinya dengan lembut di awal, lalu semakin dalam, lidahnya menyusup pelan, mengeksplorasi dengan penuh penyembahan. “Hmm …,” desah Zelda kecil di bibirnya, tangannya naik ke dada Noah, merasakan otot y
Last Updated: 2026-02-23
Chapter: S2-172. Pernikahan dan Janji Selamanya.Zelda berdiri membeku di balkon penthouse, angin malam menyapu rambutnya dengan lembut. Noah masih berlutut di hadapannya, kotak cincin terbuka di tangannya, cincin sederhana dengan berlian kecil itu berkilau pelan di bawah lampu temaram. Mata Zelda berkaca-kaca. Air matanya jatuh tanpa suara, satu per satu, membasahi pipinya. Tangan kanannya menutup mulut, seolah takut suara yang keluar nanti akan pecah. “Noah …” suaranya bergetar, nyaris tak terdengar. Noah menatapnya tanpa berkedip. Matanya penuh kepastian, penuh cinta, dan sedikit gugup yang jarang sekali terlihat pada pria seperti dirinya. “Aku tidak butuh jawaban sekarang kalau kau belum siap,” katanya pelan, suaranya rendah dan hangat. “Aku akan menunggu. Selama yang kau butuhkan. Tapi aku ingin kau tahu … aku sudah memilihmu sejak lama. Dan aku tidak akan berubah pikiran.” Zelda menggeleng pelan. Air matanya semakin deras, tapi senyum kecil mulai terbentuk di bibirnya—senyum yang gemetar, tapi tulus. “Dasar … bodo
Last Updated: 2026-02-23
Chapter: S2-171. Lamaran.Zelda tercekat. Kedua matanya berair hingga air matanya terjatuh pelan setelah mendengar semua ungkapan yang Noelle lontarkan kepadanya. Sebuah pengakuan yang kini tak didasari oleh kebencian lagi. “Kau … benar-benar merestui hubungan Noah denganku?” tanyanya, masih tak menyangka. Noelle mendengus pelan. “Tentu saja! Kenapa kau terkejut begitu? Bukannya ini yang kalian tunggu-tunggu?” Noah menegang di sofa sebelum ia bangkit berdiri perlahan. Wajah pria itu masih terkejut sekaligus bangga pada adiknya. Noelle masih menatap Zelda lama, kali ini matanya berkaca-kaca tapi tidak lagi penuh rasa bersalah yang berat. Ada kelegaan di sana, seperti seseorang yang akhirnya melepaskan beban yang sudah bertahun-tahun ia pikul. Tanpa kata lagi, Noelle berjalan maju dan memeluk Zelda. Pelukan itu lembut, ragu di awal, tapi kemudian semakin erat. Noelle menempelkan pipinya di bahu Zelda, bahunya bergetar pelan. Zelda membeku sepersekian detik, lalu tangannya naik pelan, membalas peluka
Last Updated: 2026-02-21
Chapter: S2-170. Pengakuan dan Restu Noelle Grimm.Zelda menatap Noah. Matanya berkaca-kaca, tapi ia mengangguk kecil. Noah tersenyum tipis ke ponsel. “Kami tunggu kau besok, Noelle. Pulanglah.” Telepon ditutup. Di meja makan itu, empat orang saling pandang. Ada air mata yang hampir jatuh, ada senyum yang mulai terbentuk, ada harapan yang pelan-pelan tumbuh kembali. Zelda akhirnya membuka suara, dengan nada penuh haru. "Akhirnya, keluargamu kembali utuh, Noah.” Noah tak menjawab. Tangannya meraih tangan Zelda disampingnya, dan menggenggamnya lebih erat. Gestur kecil itu lebih penuh arti daripada hanya sekadar kata-kata malam itu. *** Pagi di akhir pekan yang cerah, namun udara di depan gerbang rumah tahanan masih terasa dingin. Michael Grimm berdiri paling depan, tangan di saku jas hitamnya. Di sampingnya, Noah berdiri tegak, wajahnya tenang seperti biasa, tapi jemarinya sesekali mengepal pelan—tanda kecil bahwa ia juga gugup. Zelda berdiri di sebelah Noah, tangannya menggenggam lengan pria itu erat. Zara berdiri p
Last Updated: 2026-02-21
Chapter: S2-169. Penyerahan Kuasa kepada Zara.Ruangan menjadi sunyi sejenak.Zara tidak langsung bereaksi. Matanya hanya sedikit melebar, lalu menyipit, seolah sedang mencerna setiap kata.“Kau yakin?” tanyanya akhirnya, kini nada pribadi mulai menyelinap. “Ini bukan keputusan kecil, Noah.”“Aku yakin,” jawab Noah tegas. “Aku sudah bicara dengan Ayah. Beliau setuju. Yayasan ini butuh pemimpin yang stabil, yang paham dunia akademik dari dalam, dan yang tidak terikat pada konflik keluarga seperti aku.”Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara lebih rendah.“Dan aku ingin punya waktu lebih banyak untuk Zelda. Untuk kami. Tanpa bayangan jabatan ini yang selalu membuat kami harus berhati-hati. Bahkan, Ayahku ingin aku pegang kendali Grimm’s Corporation segera.”Zara menatap Noah lama. Ada banyak hal yang melintas di matanya. Kejutan, pertimbangan, dan akhirnya … pengertian.“Kau sudah bicara dengan Zelda tentang ini?” tanyanya.“Belum,” akui Noah. “Aku ingin bicara denganmu dulu. Karena ini juga menyangkut posisimu sebagai d
Last Updated: 2026-02-20
Chapter: S2-168. Malam yang Melepaskan (+21)Zelda menatap layar ponselnya lama sekali setelah membaca pesan Ariana. Layarnya sudah redup, tapi kalimat pendek itu masih terbayang jelas di benaknya. “Maaf. Aku salah. Semoga kau bahagia.” Jemarinya berhenti di atas keyboard. Ada banyak hal yang ingin ia ketik. Marah, kecewa, bahkan pertanyaan “kenapa kau lakukan itu?” Tapi semuanya terasa terlalu berat malam ini. Akhirnya ia mengetik pelan, huruf demi huruf. “Aku sudah memaafkanmu lebih dulu.” Ia berhenti. Jarinya ragu di atas layar. Lalu melanjutkan. “Setidaknya kau sudah berbuat baik padaku. Terima kasih. Aku harap kau baik-baik saja di sana.” Zelda menarik napas dalam, lalu menekan kirim. Pesan terkirim. Ia meletakkan ponsel di meja, lalu bersandar kembali ke dada Noah. Dadanya terasa sedikit lebih ringan sekarang. Noah yang sejak tadi diam memperhatikannya tanpa mengganggu, akhirnya mengangkat dagu Zelda dengan lembut menggunakan dua jari. Matanya menatap dalam, penuh cinta dan kesabaran. “Aku menging
Last Updated: 2026-02-20