author-banner
Amaleo
Amaleo
Author

Novel-novel oleh Amaleo

Obsesi Dosen Tampan

Obsesi Dosen Tampan

(18+ NOT FOR TEENAGER!) Satu malam impulsif mengubah segalanya. Zelda Lynn hanya ingin melupakan pria asing yang pernah bersamanya di kamar hotel usai gemerlap perayaan ulang tahun nya. Tapi dua bulan kemudian, pria yang diketahui bernama Noah Grimm, muncul lagi—sebagai dosen baru di Universitas. Kini, rahasia masa lalu berubah menjadi permainan berbahaya antara rasa bersalah, godaan, dan obsesi.
Baca
Chapter: S2-173. Happy Ending. (+21)
Suite honeymoon di lantai tertinggi hotel mewah Paris menyambut mereka dengan cahaya kota yang berkelip lembut melalui jendela kaca besar. Menara Eiffel terlihat jelas di kejauhan, menyala keemasan di malam musim semi. Zelda berdiri di depan jendela, gaun malam sutra putih tipis yang ia pakai setelah mandi menempel lembut di kulitnya. Rambutnya masih agak basah, jatuh di bahu. Noah mendekat dari belakang, tangannya melingkar di pinggang istrinya, dagunya bertumpu di bahu Zelda. “Kau cantik sekali malam ini, istriku,” bisiknya di telinga Zelda, suaranya sudah rendah dan berat. Zelda tersenyum malu, pipinya memerah. “Kau juga tampan, suamiku.” Noah membalik tubuh Zelda perlahan hingga mereka berhadapan. Matanya gelap penuh hasrat yang sudah lama ditahan. Ia menunduk, mencium bibir istrinya dengan lembut di awal, lalu semakin dalam, lidahnya menyusup pelan, mengeksplorasi dengan penuh penyembahan. “Hmm …,” desah Zelda kecil di bibirnya, tangannya naik ke dada Noah, merasakan otot y
Terakhir Diperbarui: 2026-02-23
Chapter: S2-172. Pernikahan dan Janji Selamanya.
Zelda berdiri membeku di balkon penthouse, angin malam menyapu rambutnya dengan lembut. Noah masih berlutut di hadapannya, kotak cincin terbuka di tangannya, cincin sederhana dengan berlian kecil itu berkilau pelan di bawah lampu temaram. Mata Zelda berkaca-kaca. Air matanya jatuh tanpa suara, satu per satu, membasahi pipinya. Tangan kanannya menutup mulut, seolah takut suara yang keluar nanti akan pecah. “Noah …” suaranya bergetar, nyaris tak terdengar. Noah menatapnya tanpa berkedip. Matanya penuh kepastian, penuh cinta, dan sedikit gugup yang jarang sekali terlihat pada pria seperti dirinya. “Aku tidak butuh jawaban sekarang kalau kau belum siap,” katanya pelan, suaranya rendah dan hangat. “Aku akan menunggu. Selama yang kau butuhkan. Tapi aku ingin kau tahu … aku sudah memilihmu sejak lama. Dan aku tidak akan berubah pikiran.” Zelda menggeleng pelan. Air matanya semakin deras, tapi senyum kecil mulai terbentuk di bibirnya—senyum yang gemetar, tapi tulus. “Dasar … bodo
Terakhir Diperbarui: 2026-02-23
Chapter: S2-171. Lamaran.
Zelda tercekat. Kedua matanya berair hingga air matanya terjatuh pelan setelah mendengar semua ungkapan yang Noelle lontarkan kepadanya. Sebuah pengakuan yang kini tak didasari oleh kebencian lagi. “Kau … benar-benar merestui hubungan Noah denganku?” tanyanya, masih tak menyangka. Noelle mendengus pelan. “Tentu saja! Kenapa kau terkejut begitu? Bukannya ini yang kalian tunggu-tunggu?” Noah menegang di sofa sebelum ia bangkit berdiri perlahan. Wajah pria itu masih terkejut sekaligus bangga pada adiknya. Noelle masih menatap Zelda lama, kali ini matanya berkaca-kaca tapi tidak lagi penuh rasa bersalah yang berat. Ada kelegaan di sana, seperti seseorang yang akhirnya melepaskan beban yang sudah bertahun-tahun ia pikul. Tanpa kata lagi, Noelle berjalan maju dan memeluk Zelda. Pelukan itu lembut, ragu di awal, tapi kemudian semakin erat. Noelle menempelkan pipinya di bahu Zelda, bahunya bergetar pelan. Zelda membeku sepersekian detik, lalu tangannya naik pelan, membalas peluka
Terakhir Diperbarui: 2026-02-21
Chapter: S2-170. Pengakuan dan Restu Noelle Grimm.
Zelda menatap Noah. Matanya berkaca-kaca, tapi ia mengangguk kecil. Noah tersenyum tipis ke ponsel. “Kami tunggu kau besok, Noelle. Pulanglah.” Telepon ditutup. Di meja makan itu, empat orang saling pandang. Ada air mata yang hampir jatuh, ada senyum yang mulai terbentuk, ada harapan yang pelan-pelan tumbuh kembali. Zelda akhirnya membuka suara, dengan nada penuh haru. "Akhirnya, keluargamu kembali utuh, Noah.” Noah tak menjawab. Tangannya meraih tangan Zelda disampingnya, dan menggenggamnya lebih erat. Gestur kecil itu lebih penuh arti daripada hanya sekadar kata-kata malam itu. *** Pagi di akhir pekan yang cerah, namun udara di depan gerbang rumah tahanan masih terasa dingin. Michael Grimm berdiri paling depan, tangan di saku jas hitamnya. Di sampingnya, Noah berdiri tegak, wajahnya tenang seperti biasa, tapi jemarinya sesekali mengepal pelan—tanda kecil bahwa ia juga gugup. Zelda berdiri di sebelah Noah, tangannya menggenggam lengan pria itu erat. Zara berdiri p
Terakhir Diperbarui: 2026-02-21
Chapter: S2-169. Penyerahan Kuasa kepada Zara.
Ruangan menjadi sunyi sejenak.Zara tidak langsung bereaksi. Matanya hanya sedikit melebar, lalu menyipit, seolah sedang mencerna setiap kata.“Kau yakin?” tanyanya akhirnya, kini nada pribadi mulai menyelinap. “Ini bukan keputusan kecil, Noah.”“Aku yakin,” jawab Noah tegas. “Aku sudah bicara dengan Ayah. Beliau setuju. Yayasan ini butuh pemimpin yang stabil, yang paham dunia akademik dari dalam, dan yang tidak terikat pada konflik keluarga seperti aku.”Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara lebih rendah.“Dan aku ingin punya waktu lebih banyak untuk Zelda. Untuk kami. Tanpa bayangan jabatan ini yang selalu membuat kami harus berhati-hati. Bahkan, Ayahku ingin aku pegang kendali Grimm’s Corporation segera.”Zara menatap Noah lama. Ada banyak hal yang melintas di matanya. Kejutan, pertimbangan, dan akhirnya … pengertian.“Kau sudah bicara dengan Zelda tentang ini?” tanyanya.“Belum,” akui Noah. “Aku ingin bicara denganmu dulu. Karena ini juga menyangkut posisimu sebagai d
Terakhir Diperbarui: 2026-02-20
Chapter: S2-168. Malam yang Melepaskan (+21)
Zelda menatap layar ponselnya lama sekali setelah membaca pesan Ariana. Layarnya sudah redup, tapi kalimat pendek itu masih terbayang jelas di benaknya. “Maaf. Aku salah. Semoga kau bahagia.” Jemarinya berhenti di atas keyboard. Ada banyak hal yang ingin ia ketik. Marah, kecewa, bahkan pertanyaan “kenapa kau lakukan itu?” Tapi semuanya terasa terlalu berat malam ini. Akhirnya ia mengetik pelan, huruf demi huruf. “Aku sudah memaafkanmu lebih dulu.” Ia berhenti. Jarinya ragu di atas layar. Lalu melanjutkan. “Setidaknya kau sudah berbuat baik padaku. Terima kasih. Aku harap kau baik-baik saja di sana.” Zelda menarik napas dalam, lalu menekan kirim. Pesan terkirim. Ia meletakkan ponsel di meja, lalu bersandar kembali ke dada Noah. Dadanya terasa sedikit lebih ringan sekarang. Noah yang sejak tadi diam memperhatikannya tanpa mengganggu, akhirnya mengangkat dagu Zelda dengan lembut menggunakan dua jari. Matanya menatap dalam, penuh cinta dan kesabaran. “Aku menging
Terakhir Diperbarui: 2026-02-20
Partner Pemanasan Sang Atlet

Partner Pemanasan Sang Atlet

Zea punya kondisi tubuh yang tak wajar. Usianya baru 22 tahun, belum menikah ataupun mengandung, tapi bisa memproduksi ASI. Keadaannya semakin rumit ketika Zea tidak sengaja membuat Marco, atlet renang didikan kakaknya, meminum ASI-nya. Anehnya, sejak meminum itu, performa Marco di kolam renang meningkat drastis! Sekarang, setiap sebelum perlombaan, Marco membutuhkan Zea. “Kamu bilang rasanya nyeri setiap dadamu penuh, kan?” bisik Marco sambil menatapnya dengan mata membara. “Aku bisa bantu meminumnya langsung dari tubuhmu sekarang juga.”
Baca
Chapter: 112. Amarah Zavian Meledak.
Zea panik saat Zavian masih memegang rambut Zea sambil menatap tajam ke lehernya. Tangannya refleks naik menutupi leher, dan wajahnya memucat seketika.“Kak, i–ini—”Zavian tidak memberi kesempatan. Ia mendorong Zea masuk ke kamar dengan satu tangan di bahu, lalu menutup pintu di belakangnya dengan gerakan tegas. Bunyi klik terdengar pelan, seolah memastikan Donna tidak akan mendengar apa pun dari luar.Suasana di dalam kamar langsung menjadi tegang, dan hanya napas keduanya yang terdengar.Zavian berdiri di depan pintu dengan tangan masih terlipat di dada. Matanya menyapu wajah Zea dari atas ke bawah, lalu kembali ke leher yang kini ditutupi tangan adiknya.“Turunkan tanganmu,” perintahnya rendah.Zea menggeleng gemetar. "Kak, dengerin dulu—""TURUNKAN!"Suara kakaknya menggelegar, membuat Zea tersentak dan refleks menurunkan tangannya. Zavian mendekat dengan dadan naik turun menahan amarah yang sudah tidak san
Terakhir Diperbarui: 2026-08-13
Chapter: 111. Ketahuan Ada Kissmarks.
Zea menatap foto itu beberapa menit. Anehnya, dadanya sesak, tapi bukan karena rasa cemburu seperti yang mungkin Dimas kira.Yang justru terasa menyesakkan adalah ironi dari semuanya. Kondisinya sendiri yang tidak pernah benar-benar bisa ia kendalikan, tubuh yang tidak bisa hanya bergantung pada pompa. Lalu hidup Marco yang juga tidak sepenuhnya miliknya sendiri, terikat oleh perjodohan yang bahkan bukan keinginannya. Zea maupun Marco sama-sama terjebak dalam sesuatu yang jauh lebih besar dari yang terlihat di permukaan.Ia tahu betul Dimas hanya khawatir. Tapi cara pria itu begitu keliru saat ia mengambil foto diam-diam seperti itu. Meski niat Dimas jelas karena tulus, apalagi setelah konfrontasinya langsung dengan Marco kemarin.Zea menghela napas, lalu mengetik balasan.[Iya, hari ini aku absen. Dan makasih ya. Aku hargai kekhawatiran kamu soal aku. Tapi cukup sampai di sini, ya, Dimas. Apa pun yang terjadi antara aku dan Marco, biar
Terakhir Diperbarui: 2026-08-13
Chapter: 110. Api yang Disulut Dimas.
Zea menghela napas pelan, mencoba menata kalimat yang paling aman untuk diucapkan."Sebenarnya udah dari lama, Ma," katanya akhirnya, suaranya pelan. "Waktu di pesta ulang tahun Selena beberapa minggu lalu, dia sempat … negur aku di depan tamu-tamu."Donna mengerutkan kening. "Menegur gimana?""Yaa … dia menyinggung aku soal jadi satu-satunya perempuan di klub," lanjut Zea, menunduk. "Bilang aku 'betah' dikelilingi cowok-cowok. Terus dia juga sempat jodoh-jodohin aku sama salah satu atlet, di depan banyak orang. Jujur, itu bikin aku nggak nyaman."Zea buru-buru menambahkan. "Mungkin dia juga heran kali, ya, Ma, soalnya kan aku perempuan sendirian di klub renang cowok-cowok kayak gitu. Jadi wajar aja kalau dia nggak biasa."Donna diam sebelum rahangnya mengeras. "Zea, itu bukan alasan buat dia ngomong kayak gitu di depan orang banyak.""Kenapa kamu nggak cerita dari awal?" Nada suaranya naik sedikit, campuran antara kesal dan khaw
Terakhir Diperbarui: 2026-08-13
Chapter: 109. Pertanyaan yang Mulai Muncul.
Jemari Marco di botol itu sedikit mengerat, tetapi ia berusaha mempertahankan wajah datarnya. Ia segera membuka kulkas, lalu menyelipkan botol itu di bagian yang tertutup dan jauh dari pandangan Selena. Selena menatap botol itu dengan heran. Cairan putih kental di dalamnya membuat botol kecil tersebut sekilas mirip botol susu bayi. Alisnya terangkat perlahan. “Kenapa kamu simpan sampai sedalam itu di kulkas?” tanyanya penasaran. "Itu suplemen vitamin," jawab Marco singkat. Nadanya sedatar mungkin, sambil menutup pintu kulkas. "Buat jaga kondisi badan.” Selena masih menatap Marco, dengan keningnya yang sedikit berkerut. Namun ia memilih tidak mendesak lebih jauh. Ia hanya tersenyum tipis, menyimpan rasa penasaran itu diam-diam di baliknya. "Ya udah," ucapnya ringan, lalu melangkah lebih dekat. Tiba-tiba Selena merangkul lengan Marco dan mendekatkan tubuhnya hingga lengan pria itu menempel di dadanya. “Marco …” panggilnya, nadanya berubah lebih manja. Marco menoleh. Alisnya sedik
Terakhir Diperbarui: 2026-08-12
Chapter: 108. Botol di Tangan Marco.
Area pusat pelatihan hari itu terasa jauh lebih formal dari biasanya. Beberapa perwakilan sponsor berjalan di tepi kolam sambil mengamati fasilitas, catatan waktu, dan gerakan setiap atlet. Suara peluit Zavian sesekali memecah keheningan, diselingi bisik-bisik singkat di antara staf dan perwakilan sponsor. Zavian berdiri di depan sekelompok pria berjas, memegang papan data yang berisi rekap time trial dua minggu terakhir. Berkas yang sama yang semalam Zea selesaikan di ruang kerjanya. “Peningkatan Marco Yozefa cukup signifikan,” ucap Zavian, menunjuk grafik di papan. “Dari catatan dua minggu terakhir, selisih waktunya terus membaik. Hanya kemarin ada penurunan sementara, tapi sudah kami evaluasi.” Salah satu perwakilan sponsor mengangkat alis. “Penurunan kemarin cukup mencolok. Ada faktor khusus?” Zavian mengangguk. “Hanya penurunan performa sementara. Hari ini kami pastikan kondisinya kembali stabil.” Zavian sendiri sebenarnya masih penasaran. Performa Marco sering naik-turun
Terakhir Diperbarui: 2026-08-12
Chapter: 107. Senyuman & Sindiran Selena.
Kamera masih terarah ke wajah Zea ketika suara Selena kembali terdengar dari layar ponsel Moara. Nada suaranya masih ringan, nyaris seperti basa-basi biasa. "Lagi ngapain sama Tante Moara, Zea?" Zea menegakkan punggungnya, berusaha terlihat setenang mungkin. "Lagi makan siang bareng, Sel. Kebetulan Mamaku kenal Tante Moara dari dulu, jadi kita janjian ketemu." Tangannya tanpa sadar terangkat, menyentuh kerah blouse-nya sejenak sebelum ia sadar dan menurunkannya kembali. Gestur kecil itu lolos begitu saja dari perhatiannya sendiri, meski jantungnya berdegup lebih cepat dari yang seharusnya. Moara, yang sama sekali tidak menangkap ketegangan di balik percakapan itu, malah ikut menimpali dengan riang. "Iya, Sel," ia tertawa kecil. “Tante juga sebenarnya sudah janjian dari beberapa hari lalu. Waktu itu kan Tante nggak sengaja ketemu Zea di restoran Italia, pas kita lagi makan berdua.” Selena langsung mengangguk, ikut teringat. “Oh, yang ketemu di toilet, Tan?” “Iya, Sel!” seru Mo
Terakhir Diperbarui: 2026-08-12
Dimanja Tuan Mafia: Dia Memberiku Segalanya!

Dimanja Tuan Mafia: Dia Memberiku Segalanya!

"Kamu milikku, Vanya, ha-hanya kamu yang bisa buat aku seperti ini, aahh!" Demi melunasi hutang dan nyawanya, Vanya dijual tunangannya kepada Jay, seorang bos mafia yang dingin. Tanpa Vanya sadari pula, tubuhnya memancarkan feromon alami yang langka. Di tengah gairah yang membara, feromon alami Vanya bekerja secara ajaib. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Jay mencapai klimaks yang intens dan hampir mustahil—sensasi yang selama ini hanya ia anggap mitos. Vanya kini menjadi satu-satunya kelemahan Jay, yang harus dimiliki dan dilindungi sepenuhnya dari dunia mafia gelap yang terus mengancamnya. (+21)
Baca
Chapter: CHAPTER 93.
Vanya beserta Ibu dan adiknya berjalan mengitari setiap lantai di mal besar. Ia tanpa ragu membayar setiap belanjaan pakaian yang menurutnya menarik perhatiannya demi menghibur dirinya sendiri tanpa melihat harga. Semua itu berkat kartu kredit milik Jay yang masih ada di tangannya. Meski begitu, setiap gesekan kartu itu mengingatkannya—bahwa bahkan kebebasan kecil ini pun masih berasal dari pria yang mengikatnya. Perasaan yang sejak tadi berkecamuk akhirnya mereda perlahan, karena perhatiannya teralihkan pada aktivitas yang selama ini sangat jarang untuk dilakukan selama masih di bangku kuliah. Bahkan, selama ia masih bersama Jordan, ia hanya pergi kencan beberapa kali dalam sebulan. Di salah satu toko pakaian, ada sebuah gaun menarik perhatiannya hingga Vanya melirik sekilas. Gaun itu berwarna pastel lembut dengan desain sederhana, dihiasi detail brokat berlipat yang memberi kesan anggun tanpa berlebihan. Kontras dengan gaun-gaun yang selama ini memenuhi lemarinya di mansion Jay—
Terakhir Diperbarui: 2026-04-10
Chapter: CHAPTER 92.
Vanya membeku saat ia membaca isi pesan singkat suaminya. Tanpa sadar, tangannya yang menggenggam ponselnya mengerat hingga buku-buku jari memutih. Campuran kesal sekaligus muak mengendap di dadanya. Betapa tidak, pria itu masih saja mengontrolnya dari jarak jauh meski keberadaannya sudah tidak ada. Tapi bayang-bayang pria dingin yang tak tahu cara bagaimana berekspresi masih hadir di kepalanya. “Sialan,” gumam Vanya mengumpat pelan. Varsha yang duduk di tengah di antara dirinya dan ibunya langsung menoleh cepat, sebelum menutup kedua telinganya dengan tangan kecilnya. Suaranya terdengar pelan, namun sarat protes dan kekesalan yang begitu jelas. “Kak, ngomongnya jangan kasar.” Vanya tersentak dan menoleh cepat pada adiknya sebelum akhirnya ia merengkuh tubuh kecilnya dan mencium puncak kepalanya. Tangan satunya memasukkan ponselnya ke dalam tas kecilnya. “Maafin Kakak ya. Kakak nggak sengaja ngomong kasar.” Varsha hanya mengerucut bibirnya dan menjawab. “Nanti beliin aku es kri
Terakhir Diperbarui: 2026-04-09
Chapter: CHAPTER 91.
Violet menatap putrinya lama sekali sebelum ia tersenyum kecil sambil mengangguk pelan. “Baik. Ibu ikut.” Varsha bertepuk tangan kecil. “Jalan-jalan! Aku mau beli es krim!” Vanya tertawa kecil dan memeluk adiknya lagi. “Kalau begitu, aku pakai baju dulu.” Violet mengangguk. “Ibu akan siap-siap bareng Varsha.” Vanya berbalik menuju kamar utama dengan langkah cepat. Di dalam kamar, ia membuka lemari besar dan memilih dress sederhana berwarna krem panjang selutut, cardigan tipis, dan flat shoes yang nyaman. Rambutnya ia keringkan cepat dan diikat ponytail tinggi. Sebelum keluar, ia menatap cermin sekali lagi. Ia memandang wajahnya dengan tajam dan penuh keyakinan. Dibenaknya ia terus meyakinkan diri sendiri, bahwa ia bisa hidup tanpa suaminya yang selalu mengatur hidupnya. Lantas Vanya mengambil tas kecil dan memasukkan Black Card ke dalamnya, lalu keluar kamar. Di koridor, ia bertemu Violet dan Varsha yang sudah siap. Varsha memegang tangan ibunya dengan wajah yang cerah. “Kak
Terakhir Diperbarui: 2026-04-09
Chapter: CHAPTER 90.
Jay menatap telapak tangan itu lama sekali. Rahangnya mengeras tipis, matanya menyipit.“Kamu mau kemana memang?” tanyanya rendah, nada suaranya datar tapi ada tekanan halus di dalamnya.Vanya mengangkat dagu sedikit. Matanya tidak berkedip.“Kamu nggak perlu tahu.”Kata-kata itu keluar pelan, tapi menusuk. Sebuah cerminan yang nyaris sempurna dari apa yang selama ini selalu Jay ucapkan setiap kali Vanya mencoba menyinggung soal ‘urusan kerjaan’-nya.Jay terdiam. Matanya semakin gelap.“Vanya.”Vanya melipat tangan di dada, bibirnya mengerucut tipis. “Kenapa? Mau marah?”Jay tidak menjawab langsung. Ia hanya menatap Vanya dengan tatapan yang sulit dibaca—campuran antara dingin, lelah, dan sesuatu yang lebih dalam yang jarang ia tunjukkan.Vanya melanjutkan, suaranya lebih tajam tapi tetap terkendali.“Itu yang selalu kamu bilang tiap aku tanya. ‘Nggak usah tahu detailnya sekarang’. ‘Ini urusan
Terakhir Diperbarui: 2026-02-26
Chapter: CHAPTER 89.
Mata Violet sedikit melebar dan mengangguk cepat. “Ibu ikut.” Varsha memeluk ibunya erat. “Aku juga mau ikut cari Kak Vanya.” Jay tidak melarang. Ia berjalan lebih cepat, langkahnya tetap tenang tapi ada urgensi yang tidak bisa disembunyikan lagi. Mereka bertiga sampai di pintu ruang membaca. Lampu di dalam redup, hanya menyala dari lampu baca kecil di sudut. Jay mendorong pintu pelan. Dan benar, Vanya ada di sana. Ia meringkuk di sofa panjang berwarna krem, selimut tipis menutupi tubuhnya hingga bahu. Rambutnya tergerai di bantal, tangannya memeluk buku tebal yang terbuka di pangkuannya. Matanya tertutup rapat, napasnya teratur—tertidur lelap. Di depannya ada nampan kosong: sisa muffin cokelat dan stroberi yang sudah dimakan separuh, segelas susu hangat yang tinggal setengah. Violet menutup mulutnya dengan tangan. “Ternyata Vanya disini.” Varsha langsung berlari kecil dan memeluk kaki Vanya sambil berbisik, “Kak Vanya .…” Jay berdiri di ambang pintu, tidak berge
Terakhir Diperbarui: 2026-02-25
Chapter: CHAPTER 88.
Malam sudah larut di kediaman utama Silvia Russell. Ruang kerja pribadinya terasa lebih dingin dari biasanya, hanya diterangi lampu meja kuning redup. Silvia duduk tegak di kursi kulit hitam besar, jari-jarinya bertaut di atas meja. Di depannya, layar monitor besar menampilkan panggilan video dari tim yang baru kembali dari misi pulau pribadi Jay. Wajah mereka pucat, keringat masih menempel di dahi meski sudah berada di daratan. Bianca Moretti berdiri di samping meja, tangan disilangkan di dada. Matanya dingin, tapi ada kilatan amarah yang tersembunyi. Pria di layar, komandan tim menelan ludah sebelum bicara. “Nyonya Silvia, kami gagal total menyusup ke pulau. Perimeter dijaga sistem otomatis tingkat tinggi: pelat baja anti-peluru di semua jendela, drone patroli 24 jam, sensor gerak di seluruh garis pantai, jammer sinyal yang memblokir hampir semua komunikasi.” Napas pria itu sedikit tercekat. “Dari satelit sipil, pulau itu bahkan tidak terdeteksi sebagai wilayah berpengh
Terakhir Diperbarui: 2026-02-25
Sang Villainess Memikat Tiga Pria!

Sang Villainess Memikat Tiga Pria!

Yuna, pembaca novel reverse harem, terbangun di dalam tubuh Yuna Rein—tokoh antagonis yang ditakdirkan berakhir tragis di buku favoritnya. Bertekad mengubah nasib, ia menjauhi para tokoh utama. Namun demi menyelamatkan ibunya yang sakit parah, Yuna terpaksa menerima tawaran gelap pengacara dingin Kai Verazo: menjadi miliknya selama satu bulan. Di antara kelembutan dokter Firas Adiyaksa dan pesona pewaris Darren Mahesa, Yuna perlahan terseret ke dalam pusaran emosi, rahasia, dan ikatan tak terduga. Jika alur cerita mulai berubah … akankah ia benar-benar bisa selamat kali ini?
Baca
Chapter: Chapter 226.
Hari pernikahan telah tiba.Langit sore di The Orchid Garden berwarna keemasan. Ribuan bunga putih dan baby’s breath menghiasi altar sederhana namun elegan sesuai permintaan Yuna. Undangan dibatasi hanya keluarga dan orang-orang terdekat, menciptakan suasana intim yang hangat.Yuna berjalan menyusuri aisle dengan gaun A-line ber-detail lace yang dipilihnya bersama ibunya. Tangannya gemetar ringan di lengan Yuvita yang mengantarnya.Di ujung altar, Kai berdiri tegap dengan tuksedo hitam. Tatapannya tidak pernah lepas dari Yuna sedetik pun. Wajahnya yang biasanya dingin kini tampak lembut, bahkan sedikit tegang menahan emosi.Saat Yuna sampai di hadapannya, Kai mengulurkan tangan. Yuna meletakkan tangannya di atas telapak Kai yang hangat.“Kamu cantik sekali,” bisik Kai pelan, hanya untuk mereka berdua.Yuna tersenyum malu. “Kamu juga tampan.”Upacara berlangsung singkat, namun sarat khidmat. Saat mengucapkan janji pernikahan, suara Yuna sempat bergetar, menahan haru yang memenuhi dadan
Terakhir Diperbarui: 2026-07-01
Chapter: Chapter 225.
“Jadi, sudah sejauh mana persiapan pernikahan kalian?” Pertanyaan Kendrik yang lugas itu membuat Yuna hampir tersedak air putihnya. Matanya membulat dan jantungnya berdegup kencang. “Eh? Sekarang?” tanyanya tanpa sadar. Kai yang duduk di sebelahnya hanya tersenyum tipis. Ia menjawab dengan tenang, seolah sudah mempersiapkan jawaban ini sejak lama. “Tanggal 18 Oktober. Venue utama di The Orchid Garden, kapasitas 300 orang. Resepsi malam hari. Saya sudah pesan tanggalnya dua minggu lalu.” Yuna menoleh cepat ke arah Kai. Yang benar saja, pria ini malah bergerak cepat dari yang ia kira?! “Kamu … sudah pesan?!” Kai mengangguk santai, seolah itu hal biasa. “Saya tidak suka menunda hal penting.” Ah, benar. Memang begitulah Kai. Begitu sudah mengambil keputusan, ia tak pernah suka menunda atau mengulur waktu. Yuvita langsung berseri-seri, matanya berbinar penuh semangat. “Wah, tanggalnya bagus! Ibu setuju. Kita harus pilih gaun secepatnya, Yuna! Ibu bayangkan yang model A-line denga
Terakhir Diperbarui: 2026-07-01
Chapter: Chapter 224.
Beberapa hari setelah malam itu, Yuna akhirnya mengambil keputusan. Dengan langkah mantap, ia masuk ke ruangan Kai di lantai Firma Hukum Verazo & Associates dan meletakkan surat pengunduran dirinya di atas meja kerja pria itu. Sejak terbangun di dunia novel ini, Yuna selalu berusaha menghindari alur yang telah ditentukan sambil berharap bisa lolos dari akhir tragis yang menanti sang antagonis. Namun kini, saat memutuskan meninggalkan firma itu, Yuna menyadari sesuatu. Tanpa pernah ia rencanakan, ia telah melangkah begitu jauh hingga tak lagi sibuk melarikan diri dari takdir. Kai membaca surat itu sekilas. Sudut bibirnya perlahan terangkat, lalu berubah menjadi senyum lebar yang begitu puas—ekspresi yang nyaris tak pernah ia perlihatkan di kantor. Yuna mendengus pelan dan menyilangkan tangan di depan dada. “Udah puas, kan? Saya sudah menurut apa kata kamu.” Kai tidak langsung menjawab. Ia berdiri dari kursi kebesarannya, mengitari meja kerja dengan langkah santai namun penuh kuas
Terakhir Diperbarui: 2026-06-30
Chapter: Chapter 223.
Kai membeku di tempat. Tatapannya yang biasanya tajam dan penuh kendali, kali ini dipenuhi kejutan yang tak bisa disembunyikan. Detik berikutnya, tangannya bergerak cepat. Ia menarik kepala Yuna ke dadanya dan memeluknya erat di koridor luar penthouse. “Terima kasih …” bisik Kai dengan suara berat, hampir parau. “Terima kasih karena sudah memberi saya kesempatan.” Pelukannya begitu kuat, seolah ia takut Yuna akan menghilang jika dilepaskan. Yuna terkubur dalam pelukan itu, menghirup aroma Kai yang sudah sangat familiar. Yuna tersenyum kecil di dada pria itu. “Terima kasih juga … karena sudah membuat hidup saya seperti roller coaster sejak kenal Anda.” Kai terkekeh pelan. Getaran tawanya terasa di dada Yuna. Ia melepas pelukan sedikit, cukup untuk menatap wajah Yuna, lalu mengambil cincin dari kotak itu. Kai mengangkat tangan Yuna dengan hati-hati. Tanpa terburu-buru, ia menyematkan cincin itu ke jari manis gadis itu. Saat cincin itu melingkar sempurna, keduanya hanya saling menat
Terakhir Diperbarui: 2026-06-30
Chapter: Chapter 222.
Yuna membeku dengan jantung berdegup cepat, sampai rasanya terasa sakit. Wajahnya mendadak panas dan malu setengah mati. Karena pertama kali dalam hidupnya, ia dilamar oleh dua pria yang berbeda dalam satu malam.Yuna tergagap sambil tangannya bergerak ke mana-mana tanpa arah."Tu-tunggu, Kai! Ini ... ini terlalu tiba-tiba! Sa-saya ....”“Saya tahu, Yuna. Saya benar-benar tahu,” potong Kai rendah. “Awalnya saya pikir ... saya hanya ingin memperbaiki kesalahan saya. Tapi ternyata tidak.”Kai tersenyum tipis, tatapannya lembut namun penuh keyakinan."Semakin saya mencoba melepaskanmu, semakin saya sadar, saya memang tidak ingin kehilanganmu.” Kai menunduk sekilas ke cincin di tangannya, lalu kembali menatap Yuna. "Saya belum tahu apakah ini yang orang-orang sebut cinta. Yang saya tahu … saya sudah memutuskan."Yuna menahan napas sejenak, dadanya semakin sakit karena debaran jantung yang semakin kacau."Kalau kamu bersedia ...." Kai mengangkat kotak cincin itu sedikit lebih tinggi. "Hab
Terakhir Diperbarui: 2026-06-30
Chapter: Chapter 221.
Yuna terdiam. Angin malam kembali berhembus membawa dingin yang menyelip di antara keduanya. Dada Yuna terasa sesak oleh rasa bersalah yang mulai menghantuinya. “Apa karena kamu sudah menduga kalau ini bakal terjadi, Firas?” Yuna mengangkat wajahnya menatap pria itu. “Kamu bakal pergi karena … saya menolakmu?” Firas diam sejenak sebelum tersenyum kecil. "Tidak." Suaranya tenang. "Tawaran itu sudah ada beberapa hari yang lalu. Saya hanya … belum memutuskan." "Berarti kamu sudah memutuskannya?" "Sekarang sudah," jawabnya pelan. Yuna menunduk. Jemarinya meremas ujung blazer tanpa sadar. "Firas, saya—" "Yuna." Suara Firas memotong lembut. "Kamu tidak perlu merasa bersalah." "Tapi saya memang merasa bersalah, Firas. Selama ini kamu sudah sangat baik sama saya." Firas menghela napas pelan. Ia menatap hamparan lampu kota di bawah sana yang berkelip tenang. "Saya pergi bukan karena kamu menolak saya," ucapnya akhirnya. "Tapi karena … mungkin memang sudah waktunya saya m
Terakhir Diperbarui: 2026-06-29
Anda juga akan menyukai
I Win You (Indonesia)
I Win You (Indonesia)
Romansa · Cherry Blossom
791.5K Dibaca
Gairah Nakal, Sugar Baby
Gairah Nakal, Sugar Baby
Romansa · Tetesan air
777.1K Dibaca
Mengejar Mantan
Mengejar Mantan
Romansa · Salju yang Ternoda
763.7K Dibaca
IBU SUSU UNTUK ANAK PEWARIS
IBU SUSU UNTUK ANAK PEWARIS
Romansa · Rosemala
760.9K Dibaca
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status