LOGINdr. Elena Ainsley tak pernah membayangkan seorang pasien akan mengubah hidupnya. Arven Laurent, CEO muda yang nyaris kehilangan nyawa akibat kecelakaan misterius, ternyata menyimpan penyakit jantung kronis sekaligus trauma yang membuatnya menolak setiap tindakan medis. Saat Elena berusaha menyelamatkannya, rahasia demi rahasia mulai terungkap. Di balik kekuasaan, pengkhianatan, dan masa lalu yang kelam, Elena justru menjadi satu-satunya alasan Arven memilih untuk bertahan hidup. Namun, ketika seseorang mulai mengincar Elena, mampukah cinta menyelamatkan mereka sebelum detak jantung Arven benar-benar berhenti?
View MoreHujan turun deras tanpa henti sejak sore, menyelimuti kota Surabaya dalam kabut tipis. Di Rumah Sakit Eterna Medical Center, suasana tetap sibuk meski malam semakin larut, suara langkah kaki, roda brankar, dan peralatan medis menjadi latar yang tak pernah berhenti.
Dr. Elena Ainsley baru saja selesai menangani operasi bypass koroner darurat selama hampir lima jam. Wajahnya tampak lelah saat ia melepas masker, aroma antiseptik masih melekat kuat di kulit dan pakaiannya.
“Operasinya sukses, Dok,” lapor perawat anestesi di sampingnya.
Elena hanya mengangguk kecil. Senyum tipis terbit di sudut bibirnya, sebuah bentuk apresiasi sederhana yang tersimpan di balik wajah lelahnya. Di dalam hatinya, ia pun merasa lega, tetapi sebagai seorang dokter yang sudah berpengalaman, ia tahu bahwa tugas belum selesai sampai pasien benar-benar melewati masa kritis pasca-operasi dengan aman.
Di sana, ia membiarkan air hangat membasuh lelahnya. Akan tetapi ketenangan itu tak berlangsung lama. Pintu terbuka dengan tergesa, seorang perawat dari Unit Gawat Darurat tampak cemas.
“Dokter Elena! Dokter Harris minta Anda turun ke UGD sekarang. Ada pasien kecelakaan lalu lintas, kondisinya tidak stabil. Diduga ada masalah jantung.”
Ekspresi Elena berubah fokus seketika. Wajahnya yang sedetik sebelumnya masih tampak lelah kini mengeras, penuh perhitungan dan kesiapan. Masalah jantung pada korban trauma kecelakaan adalah kombinasi berisiko tinggi, bisa berupa benturan fisik, atau komplikasi medis yang tersembunyi dan berbahaya.
“Dokter Raymond?” tanyanya lagi, menyebut nama spesialis jantung lain yang sedang bertugas malam itu.
“Masih di cath lab, Dok. Sedang menangani pasien kateterisasi. Pasien ini mengalami aritmia berulang sejak di ambulans, kondisinya makin sulit dikendalikan.”
Tanpa membuang waktu sedetik pun lagi, Elena segera mengambil kembali jas putihnya yang sempat ia gantungkan di gantungan dinding. Ia memakaikannya kembali dengan gerakan cepat, merapikan kerahnya sekilas, sementara pikirannya sudah mulai menyusun langkah penanganan yang mungkin akan ia lakukan di bawah sana.
“Trauma bay mana?” suaranya terdengar tenang, meski langkah kakinya sudah bergerak cepat menuju pintu.
“Nomor dua.”
Udara di koridor rumah sakit terasa lebih dingin dari biasanya ketika Elena melangkah masuk ke dalam lift yang akan membawanya turun ke lantai dasar. Dinding lift yang tertutup cermin memantulkan bayangannya sendiri, seorang dokter yang tampak siap bertempur kembali, meski tubuhnya sudah bekerja keras hampir sepanjang malam.
Begitu pintu lift terbuka otomatis, suasana riuh dan padat di Unit Gawat Darurat langsung menyambutnya. Kekacauan di sini adalah pemandangan yang sudah terlalu sering ia lihat, tetapi tetap saja menuntut kewaspadaan penuh. Di setiap sudut, orang bergerak dengan tujuan yang jelas tapi terburu-buru.
Terdengar suara monitor yang berbunyi ritmis tapi cemas, berpadu dengan langkah kaki yang beradu cepat di atas lantai keramik, serta instruksi-instruksi singkat yang saling bersahutan di udara yang terasa berat dan penuh ketegangan.
“Tekanan turun!” seru seseorang dengan nada tinggi.
“Pasang akses kedua, cepat!”
“Siapkan cairan infus koloid! Cepat!”
Pintu otomatis di ujung ruangan terbuka lebar tepat saat sebuah brankar didorong masuk dengan kecepatan penuh menuju ruang perawatan trauma. Beberapa petugas medis yang mendorong brankar itu tampak sebagian tubuhnya basah kuyup terkena percikan hujan, bukti betapa cepatnya mereka memindahkan pasien dari kendaraan pengangkut ke dalam bangunan yang aman.
Elena langsung berjalan menyusuri lorong itu menuju brankar, tangannya sudah bergerak mengenakan sarung tangan medis sekali pakai dengan gerakan terlatih dan cepat. Ia melirik sekilas kondisi pasien sambil bertanya dengan suara lantang agar terdengar di tengah keributan.
“Status pasien?” tanya Elena sambil mengenakan sarung tangan.
“Laki-laki, 32 tahun. Trauma dada akibat benturan keras. Ritme jantungnya tidak stabil sejak di lokasi,” jelas Dr. Harris sambil menyerahkan hasil rekaman EKG. Pola garisnya terlihat sangat tidak beraturan, lebih dari sekadar reaksi syok akibat kecelakaan.
Saat Elena menatap wajah pasien, nafasnya tercekat. Ia mengenalinya: Arven Laurent, pewaris tunggal Laurent Group, pria yang sering menghiasi halaman depan media bisnis. Namun sosok yang kini terbaring jauh berbeda dari citra sempurna yang ia kenal. Jas mahalnya penuh debu dan darah, rambutnya basah berantakan, dan luka di pelipisnya masih mengeluarkan darah. Meski lemah, rahangnya tetap menegang seolah menolak terlihat lemah.
“Tekanannya terus turun, kita kehilangan dia,” ujar Harris dengan nada tegang.
Elena segera mendekat. “Tuan Muda Laurent? Saya dr. Elena. Anda mengalami kecelakaan, kami akan menolong Anda.”
Kelopak mata Arven terbuka perlahan. Tatapannya terasa tajam dan penuh kewaspadaan, bahkan dalam kondisi seperti itu. Suaranya serak namun jelas terdengar, “Rem mobil saya dirusak. Kecelakaan ini… bukan kebetulan.”
Suasana sejenak hening. Semua mengerti, ini bukan musibah biasa. Akan tetapi alarm monitor kembali berbunyi nyaring. “Dia masuk takikardia ventrikular!” seru perawat.
“Siapkan obat antiaritmia!” perintah Elena.
Akan tetapi saat perawat hendak menyuntikkan obat, reaksi Arven berubah drastis. Ototnya menegang seketika. “Jangan!” geramnya rendah.
“Kami harus menstabilkan jantung Anda, jika tidak nyawa Anda terancam,” jelas Elena tenang.
“Jangan suntik saya.” Di balik tatapannya yang tajam, Elena menangkap sesuatu yang tak terduga, ketakutan yang mendalam, bukan pada kematian, melainkan pada jarum suntik itu sendiri.
“Elena, kita tidak punya waktu,” desak Harris.
Elena berusaha meyakinkannya. “Obat ini hanya untuk menenangkan detak jantung Anda, tidak ada bius.”
Akan tetapi Arven tetap menolak. Ia berusaha bangkit meski lemah, membuat peralatan tercabut dan alarm berbunyi lebih keras. “Jangan sentuh saya!” teriaknya dengan sisa tenaga.
Saat perawat berusaha menahannya, Arven tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan Elena dengan kekuatan yang mengejutkan. Tatapannya mengunci wajah wanita itu. “Jangan biarkan mereka… mengendalikan saya,” bisiknya parau.
Kalimat itu terasa berat, menyiratkan rahasia kelam di balik ketakutannya. Akan tetapi melihat kondisi jantungnya yang semakin memburuk, Elena mengambil keputusan. “Berikan obat lewat selang infus, cepat!”
Perawat segera menyuntikkan obat melalui saluran yang sudah terpasang, tanpa menyentuh kulitnya secara langsung. Begitu cairan itu mengalir, Arven bereaksi hebat, tubuhnya menegang, nafasnya memburu, dan cengkeramannya semakin kuat. Pandangannya liar, seolah terperangkap dalam kenangan buruk yang tiba-tiba muncul.
“Jangan bius saya.” gumamnya putus asa, matanya menatap Elena seolah memohon perlindungan.
Elena mencoba menenangkannya. “Ini bukan bius. Anda aman di sini.”
Perlahan, efek obat mulai terasa. Detak jantung di monitor perlahan kembali stabil. Kekuatan di tubuh Arven perlahan menghilang, cengkeramannya melemah. Sebelum kesadarannya benar-benar hilang, bibirnya bergerak pelan, mengucapkan satu nama dengan suara penuh emosi:
“Claire.” suara Arven memecah keheningan.
Elena terdiam. Nama itu asing baginya, akan tetapi kerinduan dan kesakitan yang tersirat di dalamnya terasa begitu nyata. Di luar, hujan masih terus mengguyur, seolah menandakan bahwa apa yang baru saja ia saksikan hanyalah awal dari sebuah kisah yang jauh lebih rumit dan berbahaya.
Ruangan pemeriksaan jantung di lantai tertinggi Eterna Medical Center terasa terlalu hening hingga menimbulkan ketidaknyamanan nyata. Dinding putih bersih, bau antiseptik menyengat, dan cahaya lampu dingin membuat udara terasa berat, seolah ada tekanan tak kasat mata menekan dada siapa saja yang berada di sana.Arven Laurent duduk diam di tepi ranjang. Meski tampak lebih tenang dibandingkan malam sebelumnya di ICU, wajahnya tetap sulit dibaca. Di depan layar ekokardiografi, Elena menatap hasil pemindaian tanpa berkedip. Semakin lama ia melihatnya, semakin dingin rasa yang menjalar di tubuhnya.Bilik jantung kiri Arven membesar tidak wajar, jauh melebihi batas normal. Dinding ototnya menunjukkan penurunan kemampuan berkontraksi yang serius, aliran listriknya pun berirama aritmia berbahaya. Lebih parah lagi, ada bekas pengerasan jaringan lama, kerusakan yang bukan terjadi dalam hitungan bulan, melainkan bertahun-tahun. Kondisi ini sudah lama bersarang di sana tanpa diketahui banyak oran
Lorong menuju ICU dipenuhi deru langkah kaki bergegas dan suara roda brankar yang beradu kasar dengan lantai mengilap. Lampu putih langit-langit terasa terlalu silau, menyayat pandang, sementara udara di sepanjang jalan itu makin dingin dan menyesakkan.Di samping brankar, tangan Arven Laurent tak pernah sekalipun melepaskan genggamannya pada Elena. Cengkeramannya sempat melemah saat rasa sakit menyerang, tetapi dalam hitungan detik kembali mengencang erat, refleks bawah sadar, seolah ia sedang mempertahankan satu-satunya jangkar yang membuatnya tetap waras di tengah kekacauan.“Elena!” seru perawat di depan pintu, lalu mendorongnya terbuka lebar. “Ruangan sudah siap!”Brankar didorong masuk cepat tapi hati-hati. Suasana ICU jauh lebih sunyi, hanya terdengar dengungan mesin medis dan detak ritmis monitor jantung. Kehadiran keluarga Laurent seolah menambah beban udara yang menyelimuti ruangan itu.“Elena, ritme jantungnya turun lagi,” ucap Harris tegas tetapi terburu-buru sambil mengam
Suara langkah kaki berhenti tepat di depan ruang observasi VIP. Jumlahnya lebih banyak dari sekadar kunjungan biasa. Suasana rumah sakit yang tadinya riuh oleh bunyi alat medis, langkah perawat, dan percakapan samar, berubah menjadi sunyi yang menekan. Bahkan rintik hujan di luar jendela terasa menjauh, tertutup oleh hawa dingin yang merayap menguasai seluruh lantai itu. Elena masih berdiri di sisi ranjang Arven, tangannya tergenggam erat oleh pria itu. Di sampingnya, monitor memancarkan bunyi ritmis yang kacau,BIP… BIP… BIP….Grafiknya bergerak tak beraturan, mencerminkan detak jantung yang bisa melonjak cepat lalu turun drastis dalam hitungan detik. Nafas Arven tersendat berat, sementara genggamannya makin kuat seolah Elena adalah satu-satunya penahan agar ia tidak terjerumus ke dalam kegelapan.Saat alarm berbunyi makin nyaring, pintu terbuka dan Dr. Harris masuk. Ia langsung terhenti melihat kondisi di layar. Wajahnya yang tenang seketika berubah serius.“Elena,” panggilnya wasp
Bau antiseptik khas rumah sakit bercampur aroma alkohol memenuhi lorong radiologi, menciptakan suasana dingin dan steril. Langkah kaki dr. Elena Ainsley bergema pelan di atas lantai keramik mengilap. Di tangannya tergenggam hasil sementara CT scan yang baru saja keluar.Tatapannya bergerak cepat menelusuri setiap detail laporan. Dari luar, Elena tampak setenang biasanya. Profesional. Terkendali. Namun pikirannya masih tertahan pada kejadian di ruang trauma beberapa saat lalu. Satu nama. Satu kata yang terus terngiang di telinganya."Claire." Nama itu diucapkan Arven Laurent ketika berada dalam kondisi setengah sadar.Bukan dengan nada rindu. Melainkan rasa sakit. Ketakutan. Dan sesuatu yang terdengar seperti penyesalan yang telah lama dipendam. Seolah nama itu adalah pintu menuju masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur."Elena." Suara seseorang membuyarkan lamunannya. Ia menoleh dan mendapati dr. Harris berjalan mendekat dengan ekspresi serius."Bagaimana hasilnya?" tanya pria itu
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.