LOGINBelum genap sebulan usai perceraian mereka, mantan suaminya sudah bersiap menikahi wanita selingkuhannya. Ingin membuktikan bahwa ia juga bisa menemukan pengganti dengan cepat, Audrey Renandy nekat membayar seorang pria muda untuk menjadi kekasihnya agar tak diremehkan keluarga sang mantan. Awalnya, kesepakatan mereka hanya sebatas kontrak di atas kertas, tetapi segalanya berubah saat brondong itu berbalik mengejarnya.
View MoreSuasana restoran malam itu jauh lebih ramai daripada biasanya. Alunan musik mengalun lembut dari sudut ruangan, berpadu dengan gelak tawa dan percakapan para tamu yang memenuhi area private dining. Lampu-lampu gantung yang temaram menciptakan suasana hangat, menjadikan pesta ulang tahun salah satu rekan kerja mereka terasa begitu meriah.
Audrey Renandy duduk di salah satu sisi meja panjang bersama beberapa rekan kantornya. Malam itu seharusnya menjadi malam yang menyenangkan. Setelah seharian disibukkan dengan pekerjaan, ia hanya ingin menikmati makan malam, memberikan ucapan selamat kepada sang pemilik acara, lalu pulang sebelum larut. Namun, rencana itu berubah hanya karena satu nama disebut-sebut dalam percakapan itu. . "Kalian sudah dengar kabar tentang Erlan?" Tangan Audrey yang sedang meraih gelas berhenti sesaat. Gerakannya begitu singkat hingga nyaris tak terlihat oleh siapapun. Ia kemudian melanjutkan tindakannya seolah nama yang baru saja disebut sama sekali tidak memiliki arti. Meski begitu, seluruh indranya seketika tertuju pada percakapan di seberang meja. "Erlan siapa?" tanya seseorang. "Siapa lagi? Mantan suami Audrey." Percakapan yang semula riuh mendadak melambat. Beberapa orang saling berpandangan sebelum tanpa sadar mengalihkan perhatian kepada Audrey. Sementara itu, Audrey tetap duduk tenang. Ia menyesap minumannya perlahan, berusaha menunjukkan bahwa dirinya tidak terusik sedikit pun. Sudah hampir satu bulan sejak perceraian mereka diputuskan secara resmi. Audrey mengira waktu satu bulan itu sudah cukup membuat orang-orang berhenti menghubungkan namanya dengan mantan suaminya. Nyatanya, ia terlalu berharap. "Memangnya kenapa dengan Erlan?" tanya Celine, salah seorang rekan kerja yang duduk tak jauh darinya. "Katanya, dia akan menikahi kekasihnya dalam waktu dekat." Rihanna berucap hati-hati sambil melirik ke arah Audrey. “Kau tidak terkejut, Re?” Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi berhasil membuat jantung Audrey seolah berhenti berdetak selama beberapa detik. Jemarinya yang memegang gelas mengencang tanpa sadar sebelum akhirnya ia meletakkannya kembali ke atas meja dengan gerakan pelan. "Tidak," sahut Audrey datar, singkat, tak peduli. Karena baginya, Erlan hanyalah pria yang ia tinggalkan karena sudah berselingkuh dan tak lebih dari itu. “Bagus jika dia mau melanjutkan hidup.” "Audrey, kau sudah tahu?" tanya Celine hati-hati. Audrey menggeleng pelan. "Belum." "Serius? Kupikir kau akan terus mengikuti berita mantan suamimu,” kata Rihanna seolah tak yakin dengan pernyataan Audrey. “Ini bahkan belum genap satu bulan setelah kalian bercerai, kan? Hebat sekali dia bisa menemukan penggantimu secepat itu.” Audrey hanya mengedikkan bahu. "Kenapa aku harus tahu urusannya? Kami sudah berakhir satu bulan lalu, itu faktanya. Apapun yang berhubungan dengannya, aku tak peduli lagi." Tak seorang pun melanjutkan makan. Semua tampak menunggu reaksi Audrey. "Aku dengar pertunangannya akan diadakan bulan depan," sambung seseorang, lagi-lagi kembali melirik Audrey. Audrey hanya mengangguk kecil. "Baguslah, mereka memang seharusnya segera menikah sebelum menanggung malu," katanya menggumam di akhir kalimat. Beberapa orang langsung saling bertukar pandang. "Apa yang bagus?" ulang Celine dengan nada tak percaya. “Kau yakin akan baik-baik saja, Re?” "Memangnya aku akan kenapa? Jika itu yang dia inginkan, bagus, kan?" Audrey kembali memainkan garpu di atas piringnya, meski sebenarnya ia sama sekali kehilangan selera makan. Ia berusaha terlihat biasa saja. Sangat biasa, seolah kabar bahwa pria yang pernah menjadi suaminya akan menikahi wanita lain bukanlah sesuatu yang pantas mengusik pikirannya. Padahal jauh di lubuk hatinya, sebuah perasaan asing perlahan menyelinap. Ia sudah tidak mencintai Erlan ataupun berharap mantan suaminya kembali. Yang membuat dadanya terasa sesak adalah kenyataan bahwa seseorang yang pernah menghabiskan bertahun-tahun bersamanya kini benar-benar akan memulai hidup baru. Sementara dirinya masih sendiri. “Siapa nama calon istrinya?” “Entahlah, tapi jika tidak salah, namanya Melissa.” Nama itu membuat Audrey sedikit mengangkat kepala. Tanpa sadar ia mengepalkan tangannya, mendengar namanya saja sudah cukup membuat Audrey merasa terbakar. Percakapan di meja makan pun terus bergulir, membahas calon istri Erlan, rencana pernikahan mereka, hingga betapa cepatnya pria itu menemukan kebahagiaan setelah perceraian. Audrey memilih diam, ia sudah melewati fase menangis setiap malam. Ia juga sudah melewati masa ketika dirinya menyalahkan diri sendiri atas gagalnya rumah tangga mereka. Bahkan, ia telah belajar menerima bahwa tidak semua hubungan memang ditakdirkan untuk bertahan. Setidaknya, itulah yang selama ini ia yakini. "Audrey." Suara Celine kembali membuyarkan lamunannya. "Hm?" "Kau benar-benar akan baik-baik saja?" tanya Celine lagi, antara khawatir dan tak yakin. Audrey menoleh sambil mengernyit. "Aku baik-baik saja, tidak usah khawatir seolah-olah aku bisa mati hanya karena berita itu,” sahutnya acuh tak acuh. Audrey menatap wajah sahabatnya beberapa saat sebelum terkekeh pelan. "Haruskah aku merasa sesuatu?" Celine menggeleng pelan lalu tersenyum tipis. "Tidak, aku hanya khawatir padamu." "Tenang saja. Aku baik-baik saja." Meski begitu, dari sudut matanya Audrey menangkap dua orang rekan kerja yang sedang berbisik sambil sesekali melirik ke arahnya dengan tatapan kasihan. “Pertunangannya minggu depan. Audrey, apa kau akan datang ke acara pertunangan itu?” tanya Rihanna pelan. Namun tatapannya menunjukkan rasa penasaran sekaligus kasihan. Ruangan mendadak menjadi sunyi. Semua mata kembali tertuju kepada Audrey. Audrey tahu, apapun jawabannya akan menjadi bahan pembicaraan. Jika ia menolak hadir, orang-orang akan menganggap dirinya belum bisa menerima kenyataan. Namun jika datang seorang diri, mereka mungkin akan mengasihaninya. Audrey tersenyum tipis. "Tentu saja aku akan datang, kenapa tidak?" "Serius?" "Justru aku akan datang ke acara pertunangan itu." Beberapa orang tampak lega mendengar jawabannya. Namun, seseorang kembali bertanya dengan nada bercanda. "Kau akan datang sendirian?" Pertanyaan itu membuat senyum Audrey membeku. Ia dapat merasakan tatapan penuh rasa ingin tahu yang kembali memenuhi ruangan. "Memangnya kenapa jika aku datang sendirian?" balasnya. "Tentu tidak," ujar pria itu sambil tertawa kecil. "Hanya saja, kami cemas nanti orang-orang bisa salah paham padamu. Jika kau datang seorang diri, orang-orang itu pasti akan menganggapmu masih berharap kembali." “Selain itu, orang-orang bisa berpikir kau hanya datang untuk mengacaukan pesta karena tak terima.” Kalimat itu berhasil menyentil harga dirinya. Audrey menegakkan punggung. Tatapannya beralih dari satu wajah ke wajah lainnya sebelum akhirnya sebuah senyum tipis kembali menghiasi bibirnya. “Tenang saja, aku tidak akan datang sendirian. Aku akan datang bersama kekasihku.” Semua orang langsung memperhatikannya. Keheningan yang panjang langsung menyelimuti meja makan. Celine membelalakkan mata. "Tunggu dulu, sejak kapan kau punya pacar?” Audrey mempertahankan ekspresi tenangnya meski dalam hati ia mulai panik. Kebohongan itu keluar begitu saja demi menjaga harga dirinya. Kini, ia justru harus menanggung akibatnya. "Dia bukan tipe orang yang suka jadi pusat perhatian," jawab Audrey singkat. “Benarkah? Jadi kau akan mengajaknya?” “Siapa dia? Apakah dia orang terkenal? Pasti seorang aktor, ya? Kami jadi tidak sabar melihatnya.” “Jangan lupa perkenalkan kami padanya nanti, ya.” Tawa kembali memenuhi ruangan itu dan percakapan perlahan bergeser ke topik lain, tetapi Audrey sudah tidak lagi benar-benar mendengarkannya. Pikirannya dipenuhi oleh satu kenyataan yang baru saja ia ciptakan sendiri. Ia baru saja mengaku memiliki seorang kekasih. Padahal kenyataannya, setelah bercerai dari Erlan, ia bahkan belum pernah membuka hati untuk pria lain. Audrey menatap layar ponselnya yang gelap. Pantulan wajahnya terlihat tenang, tetapi di balik ketenangan itu pikirannya mulai dipenuhi kepanikan. "Apa yang baru saja kulakukan?" Ia menghembuskan napas panjang. Kini, masalahnya bukan lagi bagaimana membuktikan bahwa ia sudah benar-benar move on.Erlan seperti orang tuli yang tidak mau mendengarkan. Alih-alih melepaskan Audrey, ia justru semakin mengeratkan pegangannya pada lengan wanita itu dan menariknya menjauh dari meja."Kau itu tuli, ya? Lepaskan pacarku!" Suara Nareza terdengar tegas dari belakang mereka. Erlan langsung menoleh dan mendapati pria muda itu sudah berdiri dengan ekspresi serius.“Lepaskan dia Erlan!" sentak Evelyn yang sejak tadi berdiri di sisi Audrey, bersiap menjaga sahabatnya itu dari pria seperti Erlan. Erlan menatap Evelyn dengan kesal. "Sudah kukatakan, ini urusan aku dan Audrey. Jangan ikut campur.""Urusan kalian, tapi bukan berarti kau boleh menariknya seenaknya." Evelyn masih terlihat emosi. Sementara itu, Nareza yang berada di sana masih menunggu situasi di mana ia bisa bersikap sebagai pahlawan, melawan pria yang ia ketahui mantan suami Audrey itu dengan tepat. Audrey kembali berusaha melepaskan lengannya dari cengkeraman Erlan. "Erlan, lepaskan aku!" Namun, Erlan tetap mempertahankan pega
Dua hari setelah pesta pertunangan Erlan, Audrey akhirnya bertemu dengan Evelyn di sebuah kafe yang biasa mereka datangi. Sejak duduk di sana, Audrey sudah beberapa kali tersenyum sendiri ketika mengingat kejadian malam itu. Bukan karena masih memikirkan Erlan, melainkan karena ia tidak menyangka rencananya benar-benar berhasil. Evelyn yang duduk di hadapannya segera menyadari perubahan ekspresi sahabatnya. "Jangan bilang semuanya berjalan sesuai rencana." Audrey mengangkat alis, lalu bertanya pelan dengan senyum tipis terangkat. "Kenapa? Apakah terlihat di wajahku" Evelyn menganggukan kepala. "Wajahmu itu terlihat seperti orang yang baru memenangkan pertandingan." Audrey tertawa kecil sebelum menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Kau tidak akan percaya apa yang terjadi di sana, Eve." "Ada hal menarik apa? Ceritakanlah! Aku penasaran!" Audrey kemudian menceritakan semuanya. Mulai dari saat ia dan Nareza memasuki pesta hingga bagaimana seluruh tamu langsung memperhatikan mereka. Ia j
Audrey mengira semuanya akan berjalan mudah setelah berhasil membuat Erlan terdiam. Ia hanya perlu bertahan sampai pesta pertunangan itu selesai, kemudian pulang bersama Nareza. Setelah itu, ia bisa kembali menjalani hidup seperti biasa tanpa harus memikirkan tatapan orang-orang yang sejak tadi sibuk memperhatikan mereka. Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu. Baru beberapa langkah meninggalkan Erlan, Audrey sudah dihampiri beberapa kenalan lama. Mereka datang dengan senyum penuh rasa ingin tahu, tetapi tatapan mereka tidak pernah benar-benar lepas dari Nareza. "Audrey!" Audrey menoleh dan menemukan dua orang teman lama dari masa kuliahnya berdiri di hadapan mereka. "Ternyata benar-benar kau!" seru salah seorang dari mereka. "Aku kira kau tidak akan datang hingga aku mengira kau orang lain." Audrey tersenyum sopan dan melambaikan tangannya. "Hai, semua, aku tidak menyangka akan bertemu dengan kalian di sini.” "Kau datang bersama pria yang sangat tampan, apalagi kau begitu c
Sejak pagi, Audrey sudah menerima beberapa pesan dari teman-temannya yang mengingatkan mengenai acara tersebut. Bahkan Celine sempat mengirim pesan agar Audrey tidak lupa membawa "pacar misteriusnya". Audrey hanya membalas dengan emoji kesal. Ia sebenarnya tidak ingin memikirkan acara ini terlalu banyak, tetapi semakin dekat waktunya, semakin ia menyadari bahwa keputusan spontan yang dibuatnya di pesta ulang tahun rekannya telah berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih besar. Hari ini, ia benar-benar harus datang bersama seorang pria, dan pria itu bukan sekadar teman. Nareza adalah kekasih kontraknya."Jangan terlalu tegang. Ini hanya pesta pertunangan biasa, kan?"Suara Nareza dari balik kemudi membuat Audrey menoleh. "Aku tidak tegang!" balas Audrey tak terima.Nareza meliriknya sekilas, kemudian kembali memusatkan perhatian pada jalan. "Tapi jari Nona mengetuk-ngetuk tas sejak tadi."Audrey langsung menghentikan gerakannya. Ia menatap jemarinya sendiri yang memang sejak tadi m


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.