Brondong Itu Pacar Kontrakku

Brondong Itu Pacar Kontrakku

last updateLast Updated : 2026-08-27
By:  Hernn KhrnsaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
7Chapters
11views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Belum genap sebulan usai perceraian mereka, mantan suaminya sudah bersiap menikahi wanita selingkuhannya. Ingin membuktikan bahwa ia juga bisa menemukan pengganti dengan cepat, Audrey Renandy nekat membayar seorang pria muda untuk menjadi kekasihnya agar tak diremehkan keluarga sang mantan. Awalnya, kesepakatan mereka hanya sebatas kontrak di atas kertas, tetapi segalanya berubah saat brondong itu berbalik mengejarnya.

View More

Chapter 1

Kabar Pernikahannya

Suasana restoran malam itu jauh lebih ramai daripada biasanya. Alunan musik mengalun lembut dari sudut ruangan, berpadu dengan gelak tawa dan percakapan para tamu yang memenuhi area private dining. Lampu-lampu gantung yang temaram menciptakan suasana hangat, menjadikan pesta ulang tahun salah satu rekan kerja mereka terasa begitu meriah.

Audrey Renandy duduk di salah satu sisi meja panjang bersama beberapa rekan kantornya. Malam itu seharusnya menjadi malam yang menyenangkan. Setelah seharian disibukkan dengan pekerjaan, ia hanya ingin menikmati makan malam, memberikan ucapan selamat kepada sang pemilik acara, lalu pulang sebelum larut.

Namun, rencana itu berubah hanya karena satu nama disebut-sebut dalam percakapan itu. .

"Kalian sudah dengar kabar tentang Erlan?"

Tangan Audrey yang sedang meraih gelas berhenti sesaat. Gerakannya begitu singkat hingga nyaris tak terlihat oleh siapapun. Ia kemudian melanjutkan tindakannya seolah nama yang baru saja disebut sama sekali tidak memiliki arti. Meski begitu, seluruh indranya seketika tertuju pada percakapan di seberang meja.

"Erlan siapa?" tanya seseorang.

"Siapa lagi? Mantan suami Audrey." 

Percakapan yang semula riuh mendadak melambat. Beberapa orang saling berpandangan sebelum tanpa sadar mengalihkan perhatian kepada Audrey. Sementara itu, Audrey tetap duduk tenang. Ia menyesap minumannya perlahan, berusaha menunjukkan bahwa dirinya tidak terusik sedikit pun.

Sudah hampir satu bulan sejak perceraian mereka diputuskan secara resmi. Audrey mengira waktu satu bulan itu sudah cukup membuat orang-orang berhenti menghubungkan namanya dengan mantan suaminya. Nyatanya, ia terlalu berharap.

"Memangnya kenapa dengan Erlan?" tanya Celine, salah seorang rekan kerja yang duduk tak jauh darinya.

"Katanya, dia akan menikahi kekasihnya dalam waktu dekat." Rihanna berucap hati-hati sambil melirik ke arah Audrey. “Kau tidak terkejut, Re?”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi berhasil membuat jantung Audrey seolah berhenti berdetak selama beberapa detik. Jemarinya yang memegang gelas mengencang tanpa sadar sebelum akhirnya ia meletakkannya kembali ke atas meja dengan gerakan pelan.

"Tidak," sahut Audrey datar, singkat, tak peduli. Karena baginya, Erlan hanyalah pria yang ia tinggalkan karena sudah berselingkuh dan tak lebih dari itu. “Bagus jika dia mau melanjutkan hidup.” 

"Audrey, kau sudah tahu?" tanya Celine hati-hati.

Audrey menggeleng pelan. "Belum."

"Serius? Kupikir kau akan terus mengikuti berita mantan suamimu,” kata Rihanna seolah tak yakin dengan pernyataan Audrey. “Ini bahkan belum genap satu bulan setelah kalian bercerai, kan? Hebat sekali dia bisa menemukan penggantimu secepat itu.” 

Audrey hanya mengedikkan bahu. "Kenapa aku harus tahu urusannya? Kami sudah berakhir satu bulan lalu, itu faktanya. Apapun yang berhubungan dengannya, aku tak peduli lagi."

Tak seorang pun melanjutkan makan. Semua tampak menunggu reaksi Audrey.

"Aku dengar pertunangannya akan diadakan bulan depan," sambung seseorang, lagi-lagi kembali melirik Audrey.

Audrey hanya mengangguk kecil. "Baguslah, mereka memang seharusnya segera menikah sebelum menanggung malu," katanya menggumam di akhir kalimat.

Beberapa orang langsung saling bertukar pandang.

"Apa yang bagus?" ulang Celine dengan nada tak percaya. “Kau yakin akan baik-baik saja, Re?” 

"Memangnya aku akan kenapa? Jika itu yang dia inginkan, bagus, kan?" Audrey kembali memainkan garpu di atas piringnya, meski sebenarnya ia sama sekali kehilangan selera makan. 

Ia berusaha terlihat biasa saja. Sangat biasa, seolah kabar bahwa pria yang pernah menjadi suaminya akan menikahi wanita lain bukanlah sesuatu yang pantas mengusik pikirannya.

Padahal jauh di lubuk hatinya, sebuah perasaan asing perlahan menyelinap. Ia sudah tidak mencintai Erlan ataupun berharap mantan suaminya kembali. Yang membuat dadanya terasa sesak adalah kenyataan bahwa seseorang yang pernah menghabiskan bertahun-tahun bersamanya kini benar-benar akan memulai hidup baru. Sementara dirinya masih sendiri.

“Siapa nama calon istrinya?” 

“Entahlah, tapi jika tidak salah, namanya Melissa.” 

Nama itu membuat Audrey sedikit mengangkat kepala. Tanpa sadar ia mengepalkan tangannya, mendengar namanya saja sudah cukup membuat Audrey merasa terbakar. 

Percakapan di meja makan pun terus bergulir, membahas calon istri Erlan, rencana pernikahan mereka, hingga betapa cepatnya pria itu menemukan kebahagiaan setelah perceraian.

Audrey memilih diam, ia sudah melewati fase menangis setiap malam. Ia juga sudah melewati masa ketika dirinya menyalahkan diri sendiri atas gagalnya rumah tangga mereka. Bahkan, ia telah belajar menerima bahwa tidak semua hubungan memang ditakdirkan untuk bertahan. Setidaknya, itulah yang selama ini ia yakini.

"Audrey."

Suara Celine kembali membuyarkan lamunannya.

"Hm?"

"Kau benar-benar akan baik-baik saja?" tanya Celine lagi, antara khawatir dan tak yakin. 

Audrey menoleh sambil mengernyit. "Aku baik-baik saja, tidak usah khawatir seolah-olah aku bisa mati hanya karena berita itu,” sahutnya acuh tak acuh. 

Audrey menatap wajah sahabatnya beberapa saat sebelum terkekeh pelan. "Haruskah aku merasa sesuatu?"

Celine menggeleng pelan lalu tersenyum tipis. "Tidak, aku hanya khawatir padamu."

"Tenang saja. Aku baik-baik saja." Meski begitu, dari sudut matanya Audrey menangkap dua orang rekan kerja yang sedang berbisik sambil sesekali melirik ke arahnya dengan tatapan kasihan. 

“Pertunangannya minggu depan. Audrey, apa kau akan datang ke acara pertunangan itu?” tanya Rihanna pelan. Namun tatapannya menunjukkan rasa penasaran sekaligus kasihan. 

Ruangan mendadak menjadi sunyi. Semua mata kembali tertuju kepada Audrey.

Audrey tahu, apapun jawabannya akan menjadi bahan pembicaraan. Jika ia menolak hadir, orang-orang akan menganggap dirinya belum bisa menerima kenyataan. Namun jika datang seorang diri, mereka mungkin akan mengasihaninya.

Audrey tersenyum tipis. "Tentu saja aku akan datang, kenapa tidak?"

"Serius?"

"Justru aku akan datang ke acara pertunangan itu."

Beberapa orang tampak lega mendengar jawabannya. Namun, seseorang kembali bertanya dengan nada bercanda.

"Kau akan datang sendirian?"

Pertanyaan itu membuat senyum Audrey membeku. Ia dapat merasakan tatapan penuh rasa ingin tahu yang kembali memenuhi ruangan.

"Memangnya kenapa jika aku datang sendirian?" balasnya.

"Tentu tidak," ujar pria itu sambil tertawa kecil. "Hanya saja, kami cemas nanti orang-orang bisa salah paham padamu. Jika kau datang seorang diri, orang-orang itu pasti akan menganggapmu masih berharap kembali."

“Selain itu, orang-orang bisa berpikir kau hanya datang untuk mengacaukan pesta karena tak terima.” 

Kalimat itu berhasil menyentil harga dirinya. Audrey menegakkan punggung. Tatapannya beralih dari satu wajah ke wajah lainnya sebelum akhirnya sebuah senyum tipis kembali menghiasi bibirnya.

“Tenang saja, aku tidak akan datang sendirian. Aku akan datang bersama kekasihku.”

Semua orang langsung memperhatikannya. Keheningan yang panjang langsung menyelimuti meja makan.

Celine membelalakkan mata. "Tunggu dulu, sejak kapan kau punya pacar?” 

Audrey mempertahankan ekspresi tenangnya meski dalam hati ia mulai panik. Kebohongan itu keluar begitu saja demi menjaga harga dirinya. Kini, ia justru harus menanggung akibatnya.

"Dia bukan tipe orang yang suka jadi pusat perhatian," jawab Audrey singkat.

“Benarkah? Jadi kau akan mengajaknya?”

“Siapa dia? Apakah dia orang terkenal? Pasti seorang aktor, ya? Kami jadi tidak sabar melihatnya.”

“Jangan lupa perkenalkan kami padanya nanti, ya.” 

Tawa kembali memenuhi ruangan itu dan percakapan perlahan bergeser ke topik lain, tetapi Audrey sudah tidak lagi benar-benar mendengarkannya. Pikirannya dipenuhi oleh satu kenyataan yang baru saja ia ciptakan sendiri.

Ia baru saja mengaku memiliki seorang kekasih. Padahal kenyataannya, setelah bercerai dari Erlan, ia bahkan belum pernah membuka hati untuk pria lain.

Audrey menatap layar ponselnya yang gelap. Pantulan wajahnya terlihat tenang, tetapi di balik ketenangan itu pikirannya mulai dipenuhi kepanikan.

"Apa yang baru saja kulakukan?" Ia menghembuskan napas panjang. Kini, masalahnya bukan lagi bagaimana membuktikan bahwa ia sudah benar-benar move on.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
7 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status