Marco tidak menjawab, hanya melirik Zea sekilas, sebelum pandangannya berpindah lagi ke pelatihnya.“Coach, set selanjutnya target berapa detik?”Zea mengatupkan bibirnya dengan kikuk. Ia baru saja diabaikan oleh pria ini!Padahal, mereka sudah saling kenal sejak kecil.Tapi, kini suara Marco terdengar dingin sekaligus tegas. Ia berdiri tegak dengan bahu lebar dan rahang mengeras, memancarkan aura yang mengintimidasi.“Lupakan soal target. Saya lebih khawatir sama cara kamu renang barusan,” jawab Zavian menepuk bahu Marco. “Kamu terlalu tegang. Bahu kiri kamu kaku, masuk air juga kurang lepas. Dari dua putaran pertama saja sudah kelihatan.”“Kamu juara nasional dua kali, bukan pemula. Tidak usah buru-buru. Sekarang, ulangi pemanasan sampai badanmu rileks.”“Baik, Coach,” jawab Marco, sebelum berlalu ke tepian kolam untuk melakukan pemanasan.Begitu Marco menjauh, Zea langsung menepuk bahu kakaknya dan berbisik.“Kak, itu Marco … Marco Yozefa, kan? Kakak yang melatih dia?”“Iya. Baru-b
Last Updated : 2026-07-06 Read more