FAZER LOGINJangan-jangan apa tuh?
“Mas, maaf tadi aku meeting jadi nggak angkat telepon.” Anindya meraih satu pak tepung terigu, meletakkannya di keranjang sambil memindahkan ponsel ke telinga.Di seberang, suara Arvendra langsung mereda, seperti baru saja menahan sesuatu. “Saya nggak tahu kamu lagi meeting. Kalau tahu, saya nggak ganggu. Gimana? Lancar?”“Lancar, Mas.” Anindya mendorong troli pelan, melewati deretan gula pasir dan baking powder.“Kamu lagi di mana sekarang? Kedengarannya kayak rame.”“Di supermarket,” jawab Anindya jujur. “Mau buat cake sama cookies. Elvio juga udah aku suruh ke apartemen.”Hening satu detik.“Loh Mas nggak diajak?” Nada Arvendra turun sedikit, bukan marah, lebih seperti bingung kenapa dirinya tidak otomatis termasuk dalam rencana. “Terus ada acara apa memang?”Anindya menggigit bibir, menahan senyum kecil. “Aku baru diterima jadi model salah satu brand skincare, Mas. Ini kesempatan besar buat aku. Aku seneng banget.” Terdengar tarikan napas pelan dari seberang. Arvendra butuh dua d
Senyum yang muncul di wajah pria itu bukan senyum ramah profesional. Itu senyum seseorang yang merasa sudah menemukan seseorang yang dia cari.Pria itu Wira. Wira dari klub, pria yang semalam mencondongkan tubuh terlalu dekat, yang mengikuti langkah Anindya tiga menit penuh, yang hampir dia maki kalau saja Arvendra tidak muncul di detik terakhir.Sekarang tatapan Wira jauh lebih halus, jauh lebih dewasa, jauh lebih terkontrol, dan itu justru membuatnya jauh lebih berbahaya.Anindya refleks mundur selangkah.Mia yang tidak tahu apa-apa, tampak heran. “Lara, ini Pak Wira Wibowo. Owner salah satu brand skincare premium dan sponsor utama untuk event kita berikutnya.”Wira mengangguk santai, postur tegaknya menyiratkan kepercayaan diri pria yang terbiasa duduk di kursi paling penting dalam rapat apa pun.“Ternyata kita bertemu lagi,” kata Wira. Senyumnya tetap lembut, terukur, bersih. Namun, bagi Anindya, itu senyum yang jauh lebih mengancam daripada versi klub semalam.“Eh? Kalian sudah k
Anindya langsung kaku.Sudah dia bilang dia belum siap untuk memulai pernikahan. Namun, di dalam hati kecilnya dia tahu, bertahan dalam hubungan seperti ini pun jelas bukan keputusan tepat. Terlebih setelah kejadian semalam, dia tidak bisa pura-pura tidak terjadi apa-apa.“Mas …” Napas Anindya tersangkut.“Tapi saya siap ditolak.” Arvendra mengucapkannya datar, tanpa nada terluka, tanpa gurauan. Lebih seperti pria yang sudah terlalu sering menerima kenyataan pahit dan memutuskan untuk menanggungnya saja.“Mas, bukan begitu maksud aku.” Anindya buru-buru mencondongkan tubuh, panik melihat ekspresi pria itu yang terlalu tenang. “Tunggu, ya, satu tahun lagi?”“Satu tahun?” ulang Arvendra pelan. Terlalu pelan. Terlalu tenang untuk sesuatu yang jelas membuatnya panas.“Aku udah tanda tangan kontrak sama agency. Di sana peraturannya nggak boleh menikah dulu selama satu tahun,” jelas Anindya pelan.Tatapan hazel itu langsung berubah. Bukan marah, tapi kedewasaan seorang pria yang merasa gadi
Beep. Beep. Kode pintu ditekan dari luar.Anindya buru-buru menyeka air matanya, tapi percuma. Pintu sudah terbuka, dan Arvendra berdiri di ambang. Kaus hitam melekat di tubuhnya, rambut sedikit berantakan, napasnya masih tersengal tipis seolah dia berjalan cepat. Di tangannya ada plastik putih kecil.Begitu tatapannya turun pada mata Anindya yang basah, ekspresinya langsung berubah. Tanpa bertanya, tanpa kalimat pembuka, dia berjalan menghampiri.“Anin …” Tangan Arvendra meraih pinggangnya, menariknya ke dada keras itu dengan gerakan mantap tapi lembut.“Hei, hei. Kenapa nangis begini?” tanyanya. Tangan besarnya terangkat ke belakang kepala Anindya, membenamkannya ke pelukan hangatnya.Dan seketika itu juga, pertahanan Anindya runtuh. Dia mencengkeram bagian depan kaus Arvendra, tubuhnya gemetar, tangisnya pecah tanpa bisa ditahan.“Aku … aku nggak suka ditinggal kalau pagi …” Kalimat itu pecah, kecil, memalukan, tapi terasa seperti sesuatu yang tidak mungkin dia simpan sendiri.Arv
“Sejauh yang Mas mau,” bisik Anindya.Arvendra tertawa kecil. Bukan tawa manis. Namun, tawa pria yang baru saja diberi izin untuk kehilangan kendali, dan tahu persis konsekuensinya.“Good. Karena saya juga sudah terlalu lama menahan ini.” Arvendra menunduk, mencium pusat dada Anindya, lalu turun perlahan. Tidak terburu-buru, tetapi tiap inci seolah dihitung, dipelajari, diingat. Tangan besarnya mengusap naik turun sisi pinggulnya, menggenggamnya sekali, cukup untuk membuat Anindya melengkung.“Relax, Sayang.” Pria itu mencium perut bawah Anindya. “Biar saya yang kerja malam ini.”Anindya menggigit bibir, kedua pahanya menegang refleks.Arvendra merasakan itu. Tangan Arvendra menahan kedua paha itu, membukanya sedikit, ibu jarinya mengusap bagian dalam paha Anindya dengan tekanan yang nyaris malas, tapi sangat … sangat niat.“Kamu gemeteran,” gumam Arvendra sebelum mencium bagian dalam paha kiri, lembut dan dalam sekaligus.“Mmm …” Anindya tidak bisa membentuk kata. Yang keluar hanya na
Arvendra membalas ciuman itu tidak terburu-buru, tapi juga tidak ragu. Bibirnya menekan balik dengan kendali seorang pria yang sudah terlalu lama menahan diri, kendali yang sejak tadi hanya tinggal satu tarikan napas untuk pecah.Tangan besarnya melingkar di pinggang Anindya, menarik tubuh gadis itu naik sepenuhnya ke pangkuannya. Gerakan itu tegas, seperti dia akhirnya mengambil apa yang sudah terus menerus menggoda batas sabarnya.Anindya terkejut, tapi tubuhnya justru merapat. Tangannya naik ke bahu Arvendra, meremas kemeja hitam itu begitu erat seolah kalau dia melepaskan genggaman sedikit saja, gravitasi akan menyeretnya jauh lebih dalam.Ciuman itu berubah. Dari impulsif, menjadi haus. Dari haus, berubah menjadi kebutuhan yang tidak peduli siapa yang akan terbakar duluan.“Anin,” suara Arvendra pecah di sela napas mereka, bibirnya masih menyisir bibir gadis itu.Anindya hanya mengeluarkan gumaman tanpa bentuk, tubuhnya terasa terlalu panas untuk memproduksi kalimat yang waras.Ar







