Chapter: Bab 162: Gara-Gara AkuAnindya bangkit perlahan dari kursinya. Dia tidak mendekat, tidak pula menjauh. Hanya berdiri. Cukup dekat untuk peduli, cukup jauh untuk tidak mengambil alih. Menjadi saksi, bukan pusat.Arvendra membeku di tempat. Wajahnya berubah, bukan marah, bukan pula iba. Lebih seperti seseorang yang terlalu lelah untuk langsung bereaksi.“Apa yang kamu lakukan, Ive?” tanya Arvendra rendah.Ivelle menggeleng cepat. Air matanya jatuh tanpa bisa dicegah. “Aku egois. Aku tahu Elvio lagi nggak enak badan, tapi aku maksa ajak dia keluar. Aku cuma mikirin diri aku sendiri.”Wanita itu menunduk. Bahunya bergetar hebat. “Kalau sampai terjadi apa-apa sama Elvio, aku nggak akan pernah maafin diri aku sendiri.”Hening menyelimuti ruangan.Suara monitor terdengar pelan, stabil. Elvio masih tertidur, napasnya teratur. Anindya melirik bocah itu sekilas untuk memastikan, lalu kembali menatap Ivelle. Kali ini, bukan dengan kewaspadaan. Ada empati di sana. Tidak lunak, tapi jujur.Arvendra menghela napas panjan
Last Updated: 2026-01-11
Chapter: Bab 161: Ayah yang Hebat“Pasien atas nama Elvio Dirgantara Pradipta, di sebelah mana ya, Sus?” tanya Anindya pada perawat yang melintas di ruang IGD.Begitu telepon dari Arvendra terputus, dia langsung meluncur ke rumah sakit. Tidak sempat berganti pakaian. Hanya menggosok gigi dan mencuci muka sekadarnya. Rambutnya masih diikat asal, wajahnya polos tanpa riasan. Berantakan, tapi tidak penting. Yang dia pedulikan hanya satu: Elvio.“Dari sini lurus saja, Bu. Paling ujung,” jawab perawat itu ramah, menunjuk ke arah kanan.“Terima kasih.”Anindya hampir berlari menyusuri lorong. Detak jantungnya terasa terlalu keras di telinga. Begitu sampai di bangsal yang dimaksud, dia menarik tirai perlahan, dan dadanya langsung mengencang.Arvendra duduk di kursi di sisi ranjang, tubuhnya condong ke depan, siku bertumpu di lutut. Wajahnya tertunduk. Kusut. Seperti seseorang yang sudah berjam-jam tidak bernapas dengan benar.Di atas ranjang, Elvio tidur. Kulitnya pucat, bibirnya kering, selang infus terpasang di tangan keci
Last Updated: 2026-01-11
Chapter: Bab 160: Berita LainnyaAnindya menghela napas pendek. Bukan kesal. Lebih ke lelah menghadapi tuduhan, dan terlalu malas untuk verifikasi. “Maaf, Kak, aku dapat kerja bukan dengan menjilat. Aku dapat pekerjaan ini karena relasi.”“Oh, jelas,” sahut Isabella cepat, senyum sinis mengembang. “Relasi dari om-om kamu, ‘kan?”Nada itu sengaja dibuat ringan, tapi tajam. Beberapa orang di lorong mulai memperlambat langkah, pura-pura sibuk tapi telinga mereka jelas menangkap arah percakapan.Anindya mengangguk kecil, seolah mempertimbangkan. “Wah, ternyata gosip cepat menyebar ya,” katanya santai. “Tapi nggak apa-apa, memang itu faktanya.”Senyum Isabella mengembang setengah. “Nah, jujur juga akhirnya.”“Bedanya,” Anindya menyambung tanpa terburu-buru, “mereka nerima aku bukan karena kenal calon suami aku. Tapi karena wajah aku cocok sama produk mereka. Itu yang dicari brand, ‘kan?”Isabella tertawa pendek, hambar. “Percaya diri banget.”“Harus,” balas Anindya datar. “Soalnya kalau aku sendiri nggak percaya sama valu
Last Updated: 2026-01-10
Chapter: Bab 159: Bali dan Jakarta“Ngapain kamu masih di sini?” Anindya menahan suaranya, tapi nadanya jelas tidak main-main. “Sana keluar. Debat lagi sama Mbak Ive kalau mau. Biar aku yang urus Elvio.”Arvendra menatap Anindya sesaat, lalu akhirnya menghela napas panjang. Emosinya memang belum turun sepenuhnya, tapi dia tahu Anindya benar.Usai perdebatan panas itu, Ivelle memilih turun ke kamarnya. Pintu kamar Elvio kini tertutup rapat, menyisakan udara yang masih tegang. Arvendra tetap di sana, berdiri beberapa langkah dari ranjang. Hari ini, Ivelle sudah terlalu sering melewati batas. Dan dia tidak suka itu.Beberapa detik berlalu sebelum Arvendra akhirnya duduk di sisi ranjang. Tangannya mengusap rambut Elvio perlahan, lebih hati-hati dari sebelumnya.“Jangan nyindir begitu dong, Sayang,” ucap Arvendra pelan, nada suaranya sudah jauh lebih rendah. “Ive memang keterlaluan. Dia nggak tahu prioritas.”Anindya tidak langsung menjawab. Dia merapikan selimut Elvio lebih dulu, memastikan tubuh kecil itu tertutup dengan
Last Updated: 2026-01-10
Chapter: Bab 158: Layar yang Retak“Kita beli ponsel buat kamu dulu ya?” tawar Arvendra.Kini dia sudah duduk di kursi kemudi. Anindya di sebelahnya, masih memandangi layar retak itu, ibu jarinya mengusap sudut yang pecah seolah berharap garisnya menghilang.Usai fitting baju pengantin, mereka memutuskan langsung pulang. Takut Elvio menanyakan keberadaan mereka, meski ada Ivelle di vila. Arvendra bahkan memilih memesan makan malam secara daring, tidak ingin merepotkan siapa pun, terlebih setelah insiden mangkuk pecah sebelumnya.“Nggak usah, Mas. Masih bisa dipakai kok,” tolak Anindya. “Nanti aku ganti layarnya aja. Nggak perlu ganti ponselnya.”Arvendra melirik sebentar, menatap layar retak itu, lalu kembali menatap jalan di depannya. “Iya, memang masih bisa. Tapi menurut Mas, lebih baik diganti aja.”Anindya menghela napas kecil. “Mas ini kebiasaannya gitu. Ada yang rusak dikit, langsung diganti.”“Bukan soal rusaknya,” jawab Arvendra tenang. “Kata orang, jangan kebiasaan nyimpen barang yang retak. Katanya bawa energ
Last Updated: 2026-01-09
Chapter: Bab 157: FirasatAnindya berdiri di ruang fitting gaun pengantin, dan kali ini, tidak ada bisik-bisik yang membuat bahunya mengeras. Tidak ada tatapan yang menimbang usianya, tubuhnya, atau masa lalunya. Yang ada hanya cahaya putih lembut, kain-kain yang digantung rapi, dan suasana tenang yang membuat napasnya kembali ke ritme normal.Ternyata, telepon tadi berasal dari wedding organizer. Mereka menemukan butik lain, lebih kecil, lebih privat, dan entah bagaimana terasa jauh lebih manusiawi.“Saya bantu pasang resletingnya, Nona,” ujar salah satu staf perempuan dengan senyum hangat.Anindya mengangguk. Gaun putih yang dipilihnya sederhana, dirancang untuk pesta outdoor. Potongannya bersih, jatuh mengikuti lekuk tubuh tanpa berusaha berlebihan. Tidak banyak payet, tidak berat.Rambut Anindya ditata setengah terikat. Beberapa helai dibiarkan jatuh membingkai wajahnya. Tidak ada mahkota, tidak ada hiasan besar, hanya dirinya versi yang utuh, yang tidak sedang membuktikan apa pun.“Kita bisa keluar sekara
Last Updated: 2026-01-09
Chapter: Hai, buat kamu yang udah baca sampai akhir,Makasih banget karena udah setia nemenin cerita Kael dan Zara sampai sejauh ini. Rasanya campur aduk banget pas nulis bagian terakhir.Maaf ya kalau selama perjalanan cerita ini banyak kekurangan. Entah itu bagian yang bikin bingung, alur yang kadang muter-muter, atau tokohnya bikin gemas sendiri. Tapi semoga, di balik semua itu, ada bagian dari cerita ini yang bisa tinggal lebih lama di hati kamu.Makasih karena udah jadi bagian dari perjalanan ini. Dukungan dan komentarmu berarti banget.Jangan lupa mampir ke cerita baru aku, ya ♡
Last Updated: 2025-05-04
Chapter: BAB 193: Akhir Cerita“Perjodohan?” gumam Kael pelan.Lalu pria itu tersenyum tipis, tapi bukan karena setuju. Senyum itu lebih menyerupai kilas balik—mengingatkannya pada masa ketika dirinya dijodohkan oleh keluarganya, hanya untuk akhirnya mengguncang semuanya dengan pernyataan bahwa dia telah menghamili Zara.“Jangan harap, ya,” ucap Kael akhirnya, datar tapi tegas, dengan satu alis terangkat seperti memberi peringatan bahwa topik ini tidak untuk dibahas lebih jauh.Gala tertawa kecil, tapi tidak merasa tersinggung. “Kenapa? Coba kamu bayangkan, Kylar itu cucu pertama keluarga Ashwara, Zelena cucu pertama keluarga Wijaya. Kalau mereka menikah, kekuatan bisnis kita di masa depan—”“Kak Gala ngomong apa sih?” potong Zara, nadanya terdengar tidak senang, meski masih berusaha sopan. “Kylar dan Zelena itu masih anak-anak.”“Benar,” sambung Ceva, kali ini lebih tegas. “Mereka bahkan belum masuk SD. Masa depan bukan cuma tentang bisnis, Kak.”Gala mengangkat tangan, menyerah, lalu tersenyum kecil. “Oke, oke. Ak
Last Updated: 2025-05-04
Chapter: BAB 192: Ulang Tahun“Huwaaaa!” Tangis Kylar pecah saat pipinya dicubit gemas oleh Zelena. Bocah perempuan itu terkekeh geli, tidak menyadari bahwa tangan mungilnya terlalu semangat bermain. “Lena, pelan-pelan, ya … Itu pipi Kylar, bukan squishy,” ujar Ceva sambil tersenyum geli, lalu menarik tangan putrinya pelan. Zelena memang selalu usil pada Kylar. Padahal usia Zelena lebih tua empat tahun, tapi kalau sedang bersama, mereka selalu saja bertengkar. Zara berjongkok di hadapan Kylar, mengelus pipi anaknya yang masih memerah dan cemberut. “Sudah, Sayang. Mami tahu sakit, ya? Tapi Kak Lena nggak sengaja. Yuk, kita bilang ke Kakak supaya cubitnya pelan-pelan lain kali,” ucap Zara lembut. Kylar mengangguk kecil, matanya masih berkaca-kaca, tapi bibirnya mulai membentuk senyum tipis. Senyum langka yang selalu berhasil mencuri perhatian siapa pun yang melihatnya. Wajahnya langsung bersinar ketika melihat Kael berjalan mendekat, membawa kue besar berhiaskan dinosaurus hijau toska di atas cokelat favoritny
Last Updated: 2025-05-03
Chapter: BAB 191: Episode Akhir"Apa maksudnya, ada yang salah?" tanya Kael cepat, nada suaranya meninggi, panik mulai merayap dari dalam dada.Suasana di ruang bersalin seketika berubah. Detak monitor terdengar semakin cepat, disusul suara langkah para perawat yang mulai bergerak panik. Salah satu dari mereka segera menyerahkan perlengkapan tambahan ke Gala, yang kini telah mengenakan masker dan sarung tangan lengkap."Denyut jantung bayinya menurun. Kita harus bertindak cepat sebelum oksigennya turun lebih jauh," jawab Gala cepat namun tetap tenang. "Aku akan lakukan tindakan darurat. Kael, kamu tetap di sini, jangan lepas tangannya."Kael menunduk, menggenggam tangan Zara lebih erat lagi, seakan ingin memindahkan semua kekuatannya pada wanita itu."Zara, dengar aku," bisik Kael di dekat telinga istrinya, suaranya bergetar. "Kamu harus kuat. Kamu dan bayi kita … kalian harus baik-baik saja. Kumohon ..."Zara membuka mata dengan susah payah, tatapannya sudah buram oleh rasa sakit yang menumpuk. Namun, dia melihat Ka
Last Updated: 2025-05-02
Chapter: BAB 190: Lahir ke Dunia"Mas, perut aku sakit!"Suara Zara terdengar serak dan cemas saat dia berusaha membangunkan suaminya yang tengah terlelap. Napasnya berat, pelipisnya basah oleh keringat dingin.Kael terbangun dengan tergesa-gesa, matanya masih buram, dan napasnya terengah-engah saat tubuhnya bergerak cepat. Perasaan bingung langsung menguasainya, sementara jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya."Kamu ... kamu kenapa?" tanya Kael, suara serak penuh kepanikan, masih setengah sadar akan apa yang sedang terjadi.Di hadapannya, Zara meringis menahan rasa sakit. Wajahnya pucat, kedua tangannya mencengkeram perutnya yang sudah membuncit besar. Tatapannya bergetar, seolah menahan terjangan rasa sakit yang tak tertahankan.Perut itu, tempat di mana kehidupan kecil mereka tumbuh, kini tampak begitu tegang. Dan Kael baru tersadar, usia kandungan Zara memang sudah masuk minggu ke-37. Gala bahkan sudah bilang, kapan saja bayi mereka bisa lahir.Ini ... ini bukan sekadar sakit biasa. Ini saatnya.Kael seger
Last Updated: 2025-05-01
Chapter: BAB 189: Kembali Pulang"Bu Anjana, saya mau bawa Zara pulang ke rumah," ucap Kael tegas, suaranya rendah namun mantap.Pria itu kini tengah duduk di ruang tamu keluarga Wijaya, tubuhnya tegak, kedua tangan saling bertaut di depan tubuhnya, rahangnya mengeras. Kakinya bergerak kecil—menandakan kegelisahan yang berusaha dia tekan.Di hadapannya, Anjana duduk dengan sikap kaku. Wajah wanita paruh baya itu tampak dingin dan keras, sorot matanya menatap Kael tajam, penuh kewaspadaan. Sementara itu, Harun hanya mengamati dalam diam, sesekali melirik ke arah Kael dan cucunya tanpa banyak bicara.Keheningan menegang di antara mereka. Hanya suara detik jam dinding yang terdengar, menggema samar di ruangan luas itu."Pulang? Kamu pikir ini solusi terbaik? Zara baru saja mengalami kejadian berbahaya," seru Anjana akhirnya, nada suaranya penuh tekanan. "Aku hanya mau menjaga putriku!"Kael mengangguk perlahan, tetap menjaga sikap sopan meski hatinya bergejolak."Saya tahu, Bu. Saya tahu Ibu khawatir," sahut Kael, suaran
Last Updated: 2025-04-30
Chapter: For my readersAkhirnya, ya … kata ‘tamat’ benar-benar sampai juga di kisah Alvano dan Isvara.Nggak nyangka perjalanan mereka sejauh ini, dari rasa asing, pernikahan mendadak, luka, sampai akhirnya mereka belajar lagi tentang arti pulang dan cinta yang nggak selalu manis tapi tetap nyata.Aku nulis kisah ini sambil ikut jatuh cinta, ikut marah, ikut nangis bareng mereka.Dan jujur, nggak akan sampai di titik ini tanpa kalian yang sabar ngikutin tiap babnya, yang ngasih semangat, lempar teori-teori seru, bahkan yang ikut gemas kalau Alvano kebablasan atau kesel sama keras kepalanya Isvara.Kalian bukan cuma pembaca, tapi juga bagian dari perjalanan mereka.Maaf kalau selama nulis masih banyak kekurangan. Entah di alur, di penulisan, atau hal-hal kecil yang mungkin terlewat. Aku masih belajar, dan setiap komentar, tawa, dan emosi kalian jadi bahan belajar paling berharga buat aku.Semoga setelah ini, setiap kali kalian dengar nama Isvara dan Alvano, yang kalian ingat bukan cuma kisah cinta dua orang d
Last Updated: 2025-10-24
Chapter: FlashbackDua puluh lima tahun yang lalu.Lorong rumah sakit yang dingin. Lampu putih menyilaukan di atas kepala, suara roda ranjang dorong bergesekan di lantai, bercampur dengan bau antiseptik yang tajam.Di sudut lorong itu, seorang anak perempuan kecil duduk memeluk lututnya. Rok sekolahnya sobek, lututnya berdarah, tangannya gemetar.Isvara kecil menunduk, menahan isak. Dia baru saja jatuh ketika berlari menuju kantin, ingin membelikan teh untuk sang kakek yang sedang dirawat. Namun sekarang, tak ada yang tahu dia di sini. Sampai sepasang sepatu menghadapnya.Anak laki-laki sedikit lebih tua, rambutnya rapi, kemeja putihnya disetrika sempurna. Wajahnya bersih, tapi tatapannya tegas seperti orang dewasa kecil.“Ini buat nutup lukanya,” ucapnya pelan, sambil berjongkok dan mengeluarkan saputangan biru muda dari saku.Isvara tidak menjawab. Namun, anak itu tidak menyerah, dia menunduk, mengikatkan saputangan itu di lututnya, gerakannya hati-hati seperti takut menyakiti.“Udah, gini dulu. Nanti
Last Updated: 2025-10-24
Chapter: Bab 350: Akhir KisahHari ini ulang tahun si kembar yang kedelapan. Namun, berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, rumah mereka tidak lagi dipenuhi balon, kue bertingkat, atau tawa tamu undangan. Tidak ada pesta besar, tidak ada dekorasi megah. Hanya pagi yang hangat, aroma roti panggang dari dapur, dan rencana kecil yang terasa jauh lebih bermakna.Isvara dan Alvano sepakat merayakannya dengan cara sederhana, yaitu mengunjungi panti asuhan yang selama ini rutin mereka bantu.Bukan untuk pamer kebahagiaan, bukan pula pamer kebaikan. Alvano hanya ingin anak-anaknya belajar satu hal yang tak bisa diajarkan di ruang kelas: rasa syukur.Di kursi belakang mobil, Avanil dan Avanira saling bersahutan menyanyikan lagu ulang tahun dengan versi mereka sendiri, sementara seorang bayi kecil berusia setahun duduk di pangkuan Isvara, yaitu Devantara, dengan pipi bulat dan rambut hitam tebal yang selalu berdiri di ubun-ubun.Sesekali Devantara menepuk-nepuk kursi depannya sambil berseru riang, “Daa-ddy!” membuat seluruh mob
Last Updated: 2025-10-24
Chapter: Bab 349: Pemimpin AgungDevantara Lakshvara Narendra. Pemimpin agung yang berhati luhur, unggul dalam mencapai tujuan, dan membawa kejayaan bagi banyak orang.Nama itu sudah dipilih jauh sebelum hari ini, tapi baru terasa bermakna ketika tangisan pertama bayi itu pecah memenuhi ruang bersalin.Bayi laki-laki itu akhirnya lahir ke dunia pada pukul tiga dini hari, dalam pelukan hangat para perawat dan tatapan mata yang basah oleh air mata bahagia.Isvara masih terkulai lemah di ranjang rawat. Prosesnya memang melalui operasi sesar, tapi rasa sakit itu kalah jauh dibanding perasaan lega yang menggenang di dadanya saat mendengar tangisan anaknya sendiri untuk pertama kali.Di sisi lain ruangan, Alvano berdiri di dekat inkubator, ditemani si kembar yang masih memakai piyama. Keduanya tampak terpukau, menatap makhluk kecil yang baru beberapa jam hadir ke dunia mereka.“Lucu banget,” puji Avanira sambil menatap adiknya dari balik kaca. Tangannya sudah terangkat, ingin menyentuh.“Hei, jangan sembarangan pegang,” teg
Last Updated: 2025-10-23
Chapter: Bab 348: Mangga MudaJam hampir menunjukkan pukul dua belas malam. Rumah sudah sunyi. Hanya satu lampu kamar yang masih menyala redup di sudut, menebar cahaya hangat di dinding.Isvara belum tidur. Dia menggeliat gelisah di tempat tidur, lalu duduk sambil memegangi perutnya yang kini memasuki minggu ke-lima belas.“Mas …,” panggilnya pelan.“Hm?” Dari sisi tempat tidur, terdengar suara bergumam setengah sadar. “Mas, aku mau mangga muda.”“Mangga?” Alvano masih separuh bermimpi. “Besok pagi aja, ya?”Isvara menggeleng, pelan tapi tegas. “Nggak mau. Maunya sekarang. Yang dari rumah Ibu. Yang masih di pohon belakang.”Mata Alvano langsung terbuka penuh. Dia menatap jam di nakas, lalu menatap istrinya yang duduk dengan ekspresi serius, terlalu serius untuk urusan mangga.“Sekarang? Tengah malam gini?” tanya Alvano memastikan.“Iya,” jawab Isvara ringan, seolah hal itu masuk akal sepenuhnya.“Ra, rumah Ibu itu tiga puluh menit dari sini.”“Tapi mangga yang di rumah Ibu rasanya beda, Mas,” rengek Isvara pelan s
Last Updated: 2025-10-23
Chapter: Bab 347: Klarifikasi“Pak Alvano, saya bawa–”Suara Fajar langsung terputus. Wajahnya menegang, matanya membulat, dan tangannya masih menggenggam obat semprot serta perban. Untuk beberapa detik, tak ada yang bergerak, kecuali kelopak mata Fajar yang tampak ingin menutup sendiri.Isvara yang lebih dulu sadar langsung panik, menepuk-nepuk punggung Alvano. “Mas! Mas, cukup!”Alvano yang masih separuh menunduk, hanya bergumam pelan. “Kenapa, Cantik?”“Mas …” Isvara hampir tak bersuara. “Ada Fajar.”“Pak Al …,” suara Fajar kini serak, antara kaget dan berusaha tetap profesional. “Saya … ini obatnya …”Barulah Alvano menoleh. Seketika wajahnya memucat sebelum beralih menjadi senyum paling canggung yang bisa dia keluarkan.“Taruh aja di meja,” kata Alvano santai, seolah tidak terjadi apa-apa barusan.“Baik, Pak,” sahut Fajar cepat. Dia menaruh obat di meja kerja, menunduk dalam-dalam, lalu melangkah mundur dengan kecepatan nyaris lari.Dan sebelum pintu menutup, sempat terdengar desis pelan dari luar, “Astaga, ma
Last Updated: 2025-10-22
Chapter: BAB 171: Akhir KisahArka baru saja keluar dari ruang pemeriksaan, berdiri hanya beberapa langkah dari Alea. Mata hitamnya tajam, menusuk tanpa perlu banyak kata. Sorotnya menyiratkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kehadiran, sebuah peringatan yang tak perlu diucapkan.Randy mengerti pesan itu. Ia bisa merasakannya, bisa melihatnya dalam ekspresi Arka yang dingin dan penuh penguasaan.Dan entah kenapa, hal itu menusuknya lebih dalam daripada yang seharusnya.Di hadapannya, ada Alea, wanita yang ia cintai dengan sepenuh hati. Tetapi di sampingnya, berdiri pria yang memiliki ikatan lebih kuat dengannya. Ikatan yang tak bisa ia lawan, tak peduli seberapa besar keinginannya untuk tetap berada di sisi Alea.Ada perbedaan mendasar di antara mereka.Jika Alea terluka, Randy akan selalu datang untuknya. Tetapi Arka? Arka adalah luka itu sendiri. Luka yang menyakitkan, yang merobek, tetapi pada akhirnya, luka itu juga yang mengajarkan Alea cara untuk bertahan.Randy menelan ludah, lalu perlahan menundukkan k
Last Updated: 2025-03-11
Chapter: BAB 170: Kehilangan dan PenyadaranHari-hari berlalu, tetapi keheningan yang mencekik sejak perpisahannya dengan Randy masih mengurung Alea dalam kesedihan yang tak berujung. Ia meyakinkan dirinya bahwa ini adalah keputusan terbaik, tetapi hatinya tetap terasa hampa. Luka yang tak terlihat itu tetap ada, menyelimuti dadanya dengan perasaan kehilangan yang sulit diungkapkan.Namun, di tengah kekalutan itu, hidup kembali memberinya ujian yang lebih besar.Saat sedang berada di pusat terapi seni, ia merasakan ponselnya bergetar di atas meja. Awalnya, ia enggan mengangkatnya, tetapi ketika melihat nama sebuah rumah sakit yang muncul di layar, detak jantungnya langsung berdebar keras.Dengan tangan sedikit gemetar, ia menekan tombol jawab."Halo?""Apakah ini ibu dari Raka Wicaksana?" Suara seorang perawat terdengar di seberang sana.Jantung Alea mencelos. "Iya, saya ibunya. Ada apa dengan Raka?""Putra Anda mengalami kecelakaan. Kami membawanya ke rumah sakit dalam kondisi kritis. Anda harus segera datang."Dunia Alea seke
Last Updated: 2025-03-10
Chapter: Bab 169: PerpisahanAlea berdiri di depan cermin panjang di sudut galeri, menatap bayangannya sendiri seperti melihat seseorang yang tak lagi ia kenali.Cahaya lampu galeri yang temaram membentuk siluetnya, tubuh yang dulu ia banggakan kini tampak begitu rapuh. Matanya sembab, kelopak merah, jejak tangis yang terlalu lama ditahan membuat wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya. Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara memenuhi paru-parunya, seolah itu bisa menguatkannya.‘Ini yang terbaik,’ ia berbisik dalam hati. Ini yang seharusnya terjadi.Suara-suara itu masih menggema di telinganya."Dia janda, Randy. Dan dia punya anak. Apa kamu benar-benar sudah memikirkan ini?""Cinta saja tidak cukup."Alea menggigit bibir, mencoba menghalau perih yang tiba-tiba menyusup ke dadanya. Ia tahu sejak awal bahwa menjalin hubungan dengan Randy tidak akan mudah. Ia sadar ada batas yang mungkin tidak bisa mereka langkahi. Namun tetap saja, kata-kata itu terasa seperti palu yang menghantam hatinya berkali-kali.L
Last Updated: 2025-03-10
Chapter: BAB 168: PilihanDi tengah keramaian pameran, Alea sibuk menjelaskan sebuah lukisan kepada beberapa pengunjung. Cahaya hangat dari lampu-lampu galeri memantulkan bayangan samar di lantai marmer, menciptakan atmosfer elegan yang kontras dengan kegelisahan yang perlahan menyusup ke dalam dirinya.Di sudut ruangan, Randy berdiri diam, memperhatikan Alea dengan senyum bangga. Ia kagum melihat bagaimana perempuan itu mampu menguasai ruangan, berbicara dengan percaya diri, dan membuat orang-orang terpukau dengan caranya bercerita tentang seni.Namun, suasana yang tenang itu berubah seketika saat dari arah pintu masuk, sepasang suami istri berpenampilan elegan melangkah masuk. Mereka tampak mencari seseorang, tatapan mereka menyapu ruangan dengan penuh tujuan.“Randy!” panggil wanita itu dengan nada ramah tetapi tegas.Randy menoleh. Wajahnya seketika berubah. Ada keterkejutan dalam matanya, diikuti dengan ketegangan halus yang sulit disembunyikan.“Ma, Pa?”Alea yang baru saja menyelesaikan penjelasannya ke
Last Updated: 2025-03-09
Chapter: BAB 167: Bertemu KembaliArka menatapnya, matanya tajam seperti biasanya. “Perusahaan kami adalah salah satu sponsor acara ini,” jawabnya singkat, nada dinginnya terasa menusuk.“Dan kamu? Apa alasanmu ada di sini?”Randy mengangguk ringan, berusaha menjaga ketenangannya. “Aku datang untuk mendukung Alea,” jawabnya jujur, meskipun ia bisa merasakan atmosfir di antara mereka berubah tegang.Arka mengangkat alisnya sedikit, sebuah gerakan kecil yang menunjukkan ketidakpuasannya.“Mendukung Alea?” tanyanya, meskipun sebenarnya ia sudah tahu jawabannya. “Kamu sepertinya cukup sering ada di dekatnya akhir-akhir ini.”Randy tersenyum kecil, meskipun ia tahu ada pertanyaan terselubung di balik kata-kata itu. “Iya, aku memang sering di dekatnya. Karena aku peduli sama dia. Sama Raka juga.”Arka mengepalkan tangan di sisi tubuhnya, berusaha mengendalikan emosi yang mulai muncul.“Raka?” ulangnya, nada suaranya semakin rendah. “Jadi, kamu pikir kamu cukup peduli untuk ada di kehidupan mereka?”Randy menatap Arka dengan
Last Updated: 2025-03-08
Chapter: Bab 166: Di Balik KanvasAlea menggeleng sambil tertawa kecil. “Jangan lebay.”“Tapi itu kenyataannya,” Randy bersikeras dengan senyum lebar. “Aku nggak bakal melewatkan momen penting dalam hidup kamu.”“Dan aku juga berharap dapat panduan khusus dari kamu. Siapa tahu ada cerita menarik di balik karya-karya itu.”Alea tertawa kecil. “Aku nggak bisa janji cerita semuanya. Banyak yang terlalu pribadi.”“Fair enough,” Randy mengangkat bahu sambil tersenyum. “Aku tetap nggak sabar buat datang dan lihat kamu bersinar di tempat kerja kamu.”Alea terdiam sejenak, memandangi Randy dengan rasa terima kasih yang sulit ia ungkapkan dengan kata-kata. “Makasih, Randy. Aku… aku senang kamu mau datang.”“Selalu, Alea,” jawab Randy lembut. “Aku di sini buat kamu dan Raka, kapan pun kamu butuh.”Malam itu berlanjut dengan percakapan ringan tentang pameran, tentang Raka, dan tentang seni yang membantu orang-orang menemukan diri mereka. Suasana apartemen Alea yang hangat, ditambah perhatian tulus dari Randy, membuat malam itu t
Last Updated: 2025-03-07