LOGINDijual oleh ayahnya, Melati dibeli dan diselamatkan oleh Adrian, seorang konglomerat berkuasa yang dingin. Dari gadis desa miskin, kini ia hidup dalam kemewahan. Melati sangat berterima kasih kepada Adrian. Lalu, rasa terima kasih itu perlahan berubah menjadi cinta yang dalam dan membara. Namun sayangnya, Adrian tidak melihatnya sebagai kekasih. Melati hanyalah satu dari banyak wanita yang mengisi istananya. Melati tidak mau menyerah. Ia ingin berjuang melawan para pesaing dan melawan dinginnya hati Adrian. Namun, mampukah ia membuat Adrian yakin padanya dan menyingkirkan semua wanita di kediaman itu, dan menjadikannya satu-satunya?
View MoreSuara teriakan Karna menggema di tengah hutan akibat tamparan yang pria itu terima dari adiknya, Sisupala.
Kekuatan penuh tenaga dalam itu membuat tubuh Karna terhuyung ke depan dan memuntahkan seteguk darah dari mulutnya. Kepalanya terasa berputar dan tubuhnya lemas. Berburu di hutan merupakan kegiatan rutin yang dimaksudkan untuk berlibur dari latihan ketat para murid. Namun, Karna tak menyangka kalau dia akan dijadikan sebagai samsak hidup oleh adiknya sendiri. Karna berusaha melawan dengan menggerakkan tangannya ke sana kemari, tapi tubuhnya terkunci dan tak bisa melakukan apa-apa. Sebab, beberapa rekan seperguruannya yang juga teman dekat Sisupala memegangi tangan dan pundaknya dengan tenaga dalam yang mereka kuasai. “Lepas!!” Tak adanya hasil membuat Karna menggeram. Meski dia bisa membela diri dengan kekuatan fisik yang mumpuni, tapi dia tetap tak bisa mengimbangi kekuatan mereka yang masing-masing sudah mencapai tingkat kanuragan menengah. Di saat-saat seperti ini, Karna sangat membenci diri sendiri karena tidak memiliki tenaga dalam sama sekali. Tak hanya perciknya, inti tenaga dalamnya saja tidak ada! “Kau tahu apa yang paling memalukan dalam hidupku? Itu adalah saat aku harus berbagi darah dengan orang sepertimu! Jangan pernah sekalipun kau berani menyebut dirimu kakakku—aku tak sudi!!” Sisupala memandang benci ke arah Karna yang telah tersungkur dengan mulut penuh darah. Karna adalah anak pertama dari Raja Durwasa dan Bunda Ratu Maharani, yang dipandang sebelah mata oleh orang tuanya. Tubuh lemah dan tanpa tenaga dalam, adalah sebab dimana dia dicap ‘Pangeran Sampah’. Pemandangan buruk yang sering dilihat oleh anak- anak yang lain, tapi tidak ada satupun anak yang berani untuk berteman dengan Karna. Sebab, tenaga dalam yang dimiliki Sisupala merupakan salah satu yang istimewa. Sebagai putra kedua yang berbakat, dia diperlakukan lebih istimewa dari Kakaknya. Bahkan, bakat alami dalam dirinya membuat Sisupala berhasil mendapatkan gelar Putra Mahkota meski dia merupakan anak yang lahir setelah Karna. “Apapun sebabnya, kamu tetap lebih muda dariku, Sisupala! Kamu tidak pantas melakukan ini!” Karna mencoba membela harga dirinya meski sudah terinjak lebih dari ribuan kali. “Tak peduli berapa umurmu, hanya orang kuat yang bisa menjadi pangeran dan diakui keberadaannya sebagai manusia! Kamu tak lebih dari sekedar onggokan daging yang hidup!!” Usai berkata demikian, Sisupala mengunci lengan Karna dan memutarnya ke atas dengan tenaga dalam yang ia punya. Penuh kebencian. Tindakan itu membuat tangan Karna patah dan terputar dengan bentuk yang tak normal. AAARRGGHHHH!!! Teriakan Karna kembali menggema dan membuat burung-burung merpati yang hinggap diatas pohon berterbangan. Seakan menyiratkan sakit yang dirasakan olehnya. Sisupala mengambil keris kecil di samping pinggangnya Kemudian menyayat tangannya dengan sengaja dan berkata, “Kita lihat bagaimana nasibmu setelah ini, Karna. Apa kamu masih bisa hidup? Apalagi setelah menyerang Putra Mahkota sepertiku!” Sisupala beranjak pergi setelah meludah sekali tanpa menatap ke tempat Karna yang sudah berguling di tanah dengan tangan kiri yang terkulai. Di dunia bela diri seperti ini, tenaga dalam adalah kunci dari keberhasilan sekaligus martabat sosial. Karna yang terlahir tanpa inti tenaga dalam sudah pasti merasakan perlakuan sosial timpang ini tanpa bisa membalas dengan layak meski kemampuan bela dirinya merupakan salah satu yang terbaik. *** "Ayahanda, aku benar-benar tidak mengerti kenapa Pangeran Karna tega melakukan ini padaku. Aku hanya mencoba membela diri!" ujar Sisupala dengan suara gemetar. Di hadapannya kini duduk dengan agung Ayahandanya, Raja Durwasa, yang memandang mereka tajam. Sisupala lalu melirik ke arah Karna dengan tatapan penuh rasa sakit, seolah-olah ia adalah korban yang menderita. "Pangeran Karna tiba-tiba menyerangku di hutan dan berkata bahwa aku telah merebut gelar Putra Mahkota darinya. Aku mencoba menenangkannya, tapi... tapi dia semakin beringas. Padahal semua orang pun tahu kalau Ayahanda adalah orang yang memberikannya padaku." Mendengar itu, Karna yang duduk bersimpuh dengan tangan yang di-gips langsung menatap Sisupala dengan tatapan tak terima. “Itu tidak benar! Ayaha–” “DIAM, KARNA!” Raja Durwasa memotong perkataan Karna yang terlihat ingin protes. Ia lalu memandang Sisupala dan mempersilakan pemuda itu berbicara lagi. Dalam tunduknya, Sisupala menyeringai sebelum kembali berkata dengan nada memelas. "Apabila Pangeran Karna tidak terima, tolong cabut kembali gelar itu, Ayahanda. Aku tak ingin persaudaraan kami berakhir karena masalah seperti ini!!" “Ah!” Ujar berkata demikian, Sisupala meringis kesakitan karena luka sayatan yang ada di lengan kirinya. “Sisupala, anakku kau terluka?!” Ratu Maharani berlari mendekat dan memegang tangan Sisupala cemas. “Keterlaluan!!! Karna! Bisa-bisanya kamu melukai adikmu seperti ini? Dia adalah Putra Mahkota!!” Ibu Ratu marah sambil menunjuk-nunjuk Karna. Dengan masih merasakan sakit yang tidak dapat digambarkan lagi, Karna berusaha untuk menyelamatkan diri. Sebab, perkataan Ibunya itu jelas mempertegas fakta bahwa dia telah menyerang calon raja. “Ayahanda, semua yang dikatakan oleh Pangeran Sisupala itu tidak benar! Dialah yang lebih dulu–” “Aku tidak mau dengar penjelasan apapun lagi. Dari dulu kamu memang selalu berusaha untuk mencelakai Sisupala, tapi sekarang kondisinya berbeda. Dia adalah Putra Mahkota! Penerusku di kerajaan ini!” Raja Durwasa tidak mau lagi mendengar apapun dari Karna. “Kamu yang merupakan seorang Pangeran pasti tahu apa hukum menyakiti Putra Mahkota, Karna.!” “Tidak, Ayahanda! Kamu sudah ditipu olehnya!” Mendengar perkataan itu, Karna membelalak dan kini tubuhnya sudah bergetar hebat. Hatinya sakit, apa dia memang harus berakhir seperti ini? Perdana Menteri dan para tetua yang melihat ini segera bangkit berdiri untuk melindungi Karna. Sebab, mereka juga tahu apa hukuman yang akan diterima Karna di balik benar atau tidaknya perkataan Sisupala itu. Hukuman mati. Perdana Menteri Danutra maju selangkah,“Mohon ampun, Tuanku Raja. Seberat apa pun perlakuan Pangeran Karna, dia masihlah darah daging Tuanku Raja. Dia adalah Pangeran. Tidak baik apabila Kerajaan menghukum mati pangeran sendiri, Tuanku!!” Perdana Menteri Danutra adalah anak dari Raja sebelumnya dengan seorang selir. Kebijaksanaan dan kepandaiannya amat diperlukan untuk keseimbangan Pemerintahan Kerajaan. “Tidak, Tuanku Raja! Tindakan Pangeran Karna memang sudah keterlaluan! Jika dibiarkan, bisa saja dia akan kembali membahayakan lagi Pangeran Sisupala! Hukuman mati adalah yang terbaik untuknya!” Adipati Situmba, paman dari Karna dan Sisupala berkata sambil melirik Karna dengan sinis. Situmba adalah kerabat Ratu Maharani yang sangat menyayangi Sisupala. Dia adalah salah satu pihak yang mendukung Sisupala untuk menjadi Putra Mahkota. “Sudah cukup! Sampai kapan pun, hukuman mati terhadap putra-putri Raja memang sebaiknya tidak dilakukan, Tuanku Raja! Namun, agar tindakan ini tak terjadi lagi, sebaiknya Pangeran Karna menerima hukuman dengan pergi meninggalkan istana!!” Salah seorang Tetua membungkuk dalam ke arah Raja Durwasa. Sebab, sudah tugasnya melindungi darah Raja demi kestabilan perusahaan. “Baiklah! Demi kestabilan Kerajaan Karmapura dan keselamatan penerus raja, Pangeran Karna akan diperintahkan untuk pergi dari istana dan jangan pernah kembali!” ucap Raja Durwasa. Perkataan Raja yang mutlak membuat beberapa orang prajurit segera menarik Karna dan membawanya pergi dari kerajaan. "Aku harus kemana sekarang?" Bersambung...Bandara selalu memiliki caranya sendiri untuk membuat perpisahan terasa lebih menggetarkan.Aku berdiri di dekat pintu keberangkatan, menatap layar besar yang terus memperbarui jadwal penerbangan. Di sebelahku, Kak Adel menggenggam dokumennya erat, sebuah legalitas yang kini menjadi penanda akhir dari masa tinggalnya di ibu kota.“Melati,” panggilnya pelan.Aku menoleh. Wajahnya tampak berbeda hari ini. Lebih jujur, lebih terbuka, seolah semua lapisan yang biasa ia kenakan akhirnya luruh.Kami berdiri saling berhadapan.“Aku ingin meminta maaf,” ucapnya.Aku tidak segera menjawab. Kuberi ia ruang untuk menyelesaikan kalimatnya.“Mengenai makanan untuk Adrian yang pernah kamu titipkan padaku ....” Ia berhenti sejenak, menarik napas. “Aku tidak pernah menyampaikannya.”Aku tidak benar-benar terkejut. Namun tetap saja, dadaku terasa seperti dihantam sesuatu yang keras saat pengakuan itu keluar langsung dari bibirnya.“Aku iri,” lanjutnya lirih. “Merasa masih punya kesempatan, aku sempat
Bab 127Aku tidak pernah menyangka bahwa kejutan besar masih menungguku.Tuan Adrian mengungkapkan sebuah kebenaran tentang diriku, bahwa aku adalah anak kandung ayahku.Selama ini, ayah hanya salah paham terhadap ibuku. Aku adalah darah daging mereka.Tidak pernah ada perselingkuhan. Ibuku tidak bersalah. Ia hanya difitnah. Hasil tes DNA-ku telah dipalsukan oleh nenekku sendiri.Mengetahui semua itu, aku bergegas meninggalkan tempat tidur dan bersiap mencari ayah. Aku ingin menjelaskan segalanya. Aku ingin ia tahu kebenaran yang selama ini mengurung kami dalam luka.Namun, belum sampai aku meninggalkan rumah, aku melihat ayah sudah menungguku di ruang tamu.Ayah yang semula duduk segera berdiri saat melihatku. “Melati ....”Aku berlari kecil menghampirinya. “Ayah ....”Kami saling mendekat tanpa perlu aba-aba. Pelukan itu terjadi begitu saja, erat, lama, dan penuh isak yang tidak lagi bisa ditahan.Sudah begitu lama aku mendambakan momen ini. Ini adalah pengalaman pertamaku, merasaka
Hari ini, kebenaran tidak lagi dibungkus rapi. Ia berdiri telanjang, tanpa bisa disangkal.Nama Nyonya Vanya disebut berkali-kali oleh petugas kepolisian. Laporan demi laporan dibacakan.Penyalahgunaan wewenang di perusahaan, penggelapan, manipulasi dokumen, serta tekanan terhadap pihak internal, semuanya memiliki bukti yang konkret dan tak terbantahkan.Selama ini, Nyonya Vanya memang sudah mempersiapkan segalanya dengan rapi. Namun ... siapa sangka, ternyata semua tidak berjalan semulus yang ia harapkan.Dan dari semua itu, ada satu poin yang membuat dadaku menegang pelan.Tentang kematian Tuan Bakrie.Ternyata, itu bukan disebabkan oleh serangan jantung seperti yang selama ini diberitakan. Melainkan, kematian itu adalah sebuah upaya pelenyapan yang dilakukan dengan sengaja oleh Nyonya Vanya.Kematian Tuan Bakrie yang begitu cepat rupanya merupakan hasil dari kesengajaan yang terencana. Semua itu terekam jelas oleh kamera rahasia milik pengawal Tuan Adrian yang terpasang di ruang pe
“Ayah?”Suara itu keluar begitu saja dari bibirku, lirih. Dadaku mendadak terasa kosong, seperti ada sesuatu yang tercabut paksa.Pria itu melangkah masuk perlahan. Seringai tipis di wajahnya seolah menegaskan bahwa ia telah mengetahui segalanya, dan kini siap untuk membukanya.“A-apa—apa maksudmu?” sahut Nyonya Vanya tergagap. “Siapa kamu? Aku tidak mengenalmu.”Ayah tersenyum samar.“Kenapa Anda berpura-pura tidak mengenal saya, Nyonya Vanya?” ucapnya tenang. “Oh, atau ... haruskah saya memanggil Anda Mr. Y agar Anda ingat?”Ia berhenti sejenak, menatap Nyonya Vanya lurus-lurus.“Y itu ... inisial nama ayah Anda, bukan?” lanjutnya. “Yusa Hutama.”Nyonya Vanya diam terpaku. Dia seolah tidak bisa bersuara.Sementara itu, Tuan Adrian kembali berucap, mengungkapkan beberapa hal yang membuatku kembali dilanda keterkejutan.Dari penjelasannya, akhirnya aku memahami alasan di balik kedatangan ayahku ke Kediaman Cempaka untuk mencariku.Ternyata, Nyonya Vanya mengatasnamakan dirinya sebagai
Ruangan rumah duka berubah menjadi ladang bisik-bisik yang tidak terkendali. Doa yang seharusnya mengiringi kepergian almarhum kini tergantikan oleh suara rekaman yang membedah dosa tanpa ampun.“Apa ini?”“Ini suara siapa?”“Apa yang terjadi?”“Tidakkah ini terdengar seperti suara Nyonya Vanya?”P
Sebagai “anak baru” di Rumah Jelita, para nona memberiku ospek kecil-kecilan. Aku harus mencuci semua piring dan gelas kotor bekas makan malam bersama.Aku sama sekali tidak keberatan. Dengan tenang, aku menyelesaikan pekerjaanku sebelum akhirnya kembali ke kamar.Malam belum terlalu larut ketika a
Aku dan Arga dulu sangat dekat. Dia sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Namun sejak aku mulai ikut Papa mengurus perusahaan, jarak itu perlahan tercipta. Kesibukan mengambil alih, dan aku tidak lagi punya waktu seperti dulu.Saat aku mulai mengenal Bunga, aku bahkan hampir tidak pernah lagi data
Setelah menimbang cukup lama, pada akhirnya aku menggeleng pelan.“Aku ... boleh tidak bercerita?” tanyaku lirih.Kak Arga tidak terlihat kecewa. Ia justru tersenyum tipis, senyum yang terasa hangat dan penuh pengertian.“Tentu saja,” jawabnya. “Kamu berhak untuk diam, Melati.”Ia lalu melanjutkan












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.