Share

99. Navigator Cantik

Penulis: Leva Lorich
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-24 09:06:00

Pram tersenyum lebar. "Tenang aja, Sar, aku nggak ada yang marahin kalau jalan bareng wanita secantik kamu. Aman jaya pokoknya."

"Yeay! Seru nih! Ya udah, ayo kita berangkat sekarang biar nggak kesiangan di jalan," seru Sarah dengan nada riang.

Ia segera bangkit dari ranjang empuknya dan meraih sebuah cardigan panjang berwarna krem yang elegan untuk melapisi kaos ketatnya.

Begitu cardigan itu terpasang, postur tubuh Sarah yang tinggi semampai khas wanita Timur Tengah semakin terlihat menonjol
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   127. Aku Padamu

    "Aduh, ya udah deh, aku nyerah. Tapi jangan diketawain ya kalau telinga kalian mendadak sakit," ucap Pram sambil menerima mikrofon dari tangan Intan dengan berat hati.Bunga segera beranjak dari sofa, mendekati layar sentuh pemilih lagu dengan gerakan anggunnya. "Mau nyanyi lagu apa, Mas Pram? Biar Bunga yang cariin dan pencetkan judulnya."Pram berpikir sejenak, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia melirik Dara yang sedang menyandarkan punggungnya di sofa sambil menatapnya penuh minat. "Hmm, kalau aku nyanyi lagu rock, kalian keberatan nggak?"Dara mengangguk semangat, matanya berbinar. "Boleh banget! Aku suka kok dengerin musik yang agak keras."Intan bahkan mengacungkan jempolnya tinggi-tinggi sambil mulutnya masih sibuk mengunyah kentang goreng. "Gas terus, Mas! Rocker juga manusia, asal jangan dangdut koplo yang bikin pusing.""Oke, Rock ya. Apa judulnya biar Bunga carikan?" tanya Bunga sambil jarinya bersiap di atas layar."Lagu jadul sih, judulnya 'Kasih' dari band Boomer

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   126. Dilarang Menolak

    "Kamu nggak ada kegiatan apa gitu sore ini, Ra?" tanya Pram sambil meletakkan kanebo yang masih basah ke atas jok motornya.Dara menggeleng perlahan, matanya yang biasanya memancarkan ketegasan kini nampak sayu dan penuh beban. Pelukannya pada lengan Pram semakin erat, membuat Pram bisa merasakan kenyalan semangka miliknya yang tertekan di balik blus tanpa lengan yang dikenakan gadis itu. "Nggak ada. Aku lagi suntuk banget, Mas Pram. Mau jalan-jalan sejenak keluar rumah nggak? Temenin aku cari angin, pusing banget mikirin Ayah sama Ibu."Pram tersenyum tipis, ia mengusap sisa air di tangannya ke celana. "Kebetulan banget aku udah bebas tugas hari ini. Bu Sisil tadi nyuruh aku istirahat. Kalau kamu mau ngajak jalan, aku setuju aja.""Beneran? Oke deh, ayo, Mas," ucap Dara dengan binar mata yang sedikit lebih cerah."Iya, tunggu ya, aku mau masuk sebentar buat ganti pakaian yang lebih pantes. Masa jalan sama anak majikan pake celana koloran begini," sahut Pram sambil melangkah masuk k

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   125. Bebas Tugas

    "Siapa?!" teriak Sisil dengan nada tinggi yang sedikit bergetar. Ia segera menarik napas dalam, mencoba menetralkan sisa-sisa gairah yang masih tertinggal di dada.Dari balik pintu yang tertutup rapat, suara khas Bi Surti menyahut pelan. "Ini Bibi, Bu. Anu... saya cari Mas Pram, apa Bu Sisil tahu dimana dia? Saya lupa ngasihkan rokok yang tadi.“Sisil melirik Pram yang sedang terburu-buru memungut celananya di lantai. "Nggak ada! Saya nggak tahu Mas Pram ke mana. Sudah, Bibi turun saja dulu, jangan ganggu saya. Saya lagi butuh ketenangan buat mikir strategi sidang besok!" seru Sisil tegas, memberikan perintah."Oh, baik, Bu. Maaf ya kalau saya mengganggu. Saya turun dulu kalau begitu," sahut Bi Surti dengan nada penuh rasa bersalah, lalu terdengar langkah kakinya yang perlahan menjauh menuju lantai bawah.Pram dan Sisil segera bergerak cepat memakai pakaian mereka kembali. Pram mengancingkan kemejanya dengan tangan yang masih sedikit gemetar akibat ketegangan barusan, sementara Sisi

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   124. Melantai

    "Mas Pram, mundur dikit," bisik Sisil dengan suara yang serak, matanya berkilat penuh hasrat. Ia segera turun dari meja kerja dengan gerakan yang sangat sensual. Jemarinya yang lentik dengan cepat melucuti setiap helai pakaian yang masih melekat di tubuh tegap Pram, mulai dari kemeja hingga celana kainnya. Sisil kemudian menarik lengan Pram agar rebah di lantai granit yang dingin karena hembusan AC yang stabil di suhu rendah. Tanpa membuang waktu, Sisil berlutut di antara dua kaki Pram. Ia mulai menjilati batang pedang pusaka Pram dengan lidahnya yang hangat, sementara tangannya bergerak liar membelai dan meremas lembut dua telur puyuh Pram. Sensasi kontras antara lantai yang dingin dan lidah Sisil yang panas membuat Pram mengerang keras. “Enak sekali jilatannya, Bu, ahhhh!“ Sisil semakin giat. Ia membuka mulutnya lebar-lebar dan mulai melumat seluruh bagian mercusuar Pram, menghisapnya dengan sangat dalam hingga ujungnya mentok ke dalam kerongkongannya. Suara se

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   123. Puncak Imajinasi

    "Sekarang nggak ada yang boleh ganggu, pintu sudah aku kunci rapat. Waktu ini cuma milik kita berdua, Mas Pram," bisik Sisil sambil menyandarkan punggungnya di balik pintu kayu jati tersebut. Matanya menatap Pram dengan binar yang sangat berbeda, bukan lagi tatapan majikan yang sedang tertekan, melainkan wanita yang sedang haus akan belaian. Ia melangkah mendekat, membiarkan jemarinya yang lentik merambat di kemeja Pram lalu memeluk pinggang pria itu dengan erat. Wajahnya ia benamkan di dada Pram yang bidang. "Makasih banyak ya, Mas. Makasih karena Mas Pram selalu ada di garda terdepan buat jagain aku dari orang-orang jahat kayak tadi." Pram mengelus rambut Sisil yang halus, menghirup aroma wangi shampoonya. "Sudah jadi tugas saya sebagai pelayan buat memastikan Bu Sisil selalu aman dan nyaman, Bu." Sisil mendongak, bibirnya yang merah merekah membentuk lengkungan genit. "Kalau gitu, apa Mas Pram bisa bantu aku satu hal lagi siang ini? Aku bener-bener butuh bantuanmu, Mas...

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   122. Sudah Kering

    "Tadinya saya cuma mau beralasan ambil dompet biar Pak Rekan ini tahu diri dan sadar kalau saya masih mengawasi,” tutur Pram lirih. “Tapi karena Pak Relan malah menghardik saya, mending saya blak-blakan aja sekarang. Saya beneran nggak suka lihat tingkah genit Pak Rekan pada Bu Sisil tadi!" ucap Pram dengan nada suara yang rendah namun sarat akan ancaman. Pak Rekan yang merasa harga dirinya diinjak-injak oleh seorang pelayan di depan kliennya yang cantik langsung kehilangan kendali. Wajahnya memerah padam, urat lehernya menonjol, dan tanpa babibu ia melayangkan sebuah tinju mentah ke arah wajah Pram. "Kurang ajar kamu! Berani-beraninya ceramahi saya!" Namun, Pram bukan pria sembarangan. Sebagai pria yang sarat akan pengalaman, refleksnya jauh di atas manusia rata-rata. Dengan gerakan yang sangat lincah, Pram menangkap kepalan tangan Pak Rekan di udara sebelum menyentuh pipinya. Tak butuh waktu lama, Pram langsung memutar pergelangan tangan pria berkacamata itu dan me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status