LOGINBerusaha mencari jalan keluar, satu nama mendadak terlintas di pikiran Elbara. Lekas saja ia meraih ponselnya, mencari kontak Thalia. Ia yakin kepala pelayan kepercayaan sang kakek itu mengetahui alamat rumah masa kecil Kageo."Halo, Bibi Thalia! Ini Elbara," ujar Elbara begitu telepon diangkat. "Katakan padaku, di mana alamat rumah masa kecil Kageo? Seingatku, ibunya Kageo punya dua rumah yang berbeda. Satu harus ditempuh dengan pesawat, dan satu lagi cukup dekat dari ibu kota."Suara Thalia terdengar ragu di seberang sana. "Tuan Muda... Tuan Besar berpesan agar tempat itu dilupakan saja.""Bibi, ini situasi genting. Tolong, beritahu aku alamat rumah ibunya Kageo yang terdekat," desak Elbara.Setelah hening yang menegangkan, Thalia akhirnya memberitahukan sebuah alamat, tempat Kageo dibesarkan."Terima kasih, Bibi Thalia." Elbara mematikan ponselnya. Ia menatap layar GPS, memasukkan alamat tersebut. Sebuah titik merah segera muncul. Itulah petunjuk penting yang akan menjadi p
Di dalam kabin mobil, udara terasa lebih dingin daripada hembusan AC. Elbara mencengkeram kemudi dengan buku-buku jari yang memutih. Tangan kirinya terus menekan tombol panggil di layar dasbor, mencoba menghubungi Dastan."Angkat, Kak... Angkat!" desis Elbara. Suaranya serak karena frustrasi.Setelah lima kali percobaan yang gagal, ia beralih menghubungi Moza. Hanya butuh dua nada sambung, sebelum suara sang kakak ipar yang parau menyambutnya.“Moza, apa Kak Dastan masih bersamamu? Aku ingin bicara.”"Dastan sudah pergi, Bara. Tolong... tolong susul dia," balas Moza. Suaranya terdengar begitu rapuh di seberang sana."Moza, tenanglah. Aku sedang di jalan bersama psikiater yang menangani Kageo," balas Elbara berusaha menenangkan. "Katakan padaku, di mana Kak Dastan sekarang?"Moza menyebutkan sebuah nama daerah, yang berjarak dua jam perjalanan dari ibu kota."Si penculik mengirimkan koordinat ke sana. Dastan pergi sendirian untuk melakukan pertukaran dengan Kayden,” tutut Moza parau.
Aya baru selesai membantu dokter Larissa melakukan terapi kepada penderita skizofrenia. Ia pun berjalan dengan tergesa-gesa. Hatinya semakin gelisah seiring berjalannya waktu. Begitu sampai di meja kerjanya, Aya melirik jam dinding.Sekarang sudah hampir waktunya makan siang, tetapi pesan untuk Kageo belum juga terkirim. Jadwal terapi yang ia rencanakan seakan menguap di ruang hampa.Tanpa berpikir panjang, Aya segera menekan nomor ponsel Kageo. Ia menempelkan ponsel ke telinganya, berharap bahwa suara operator yang dingin akan berganti dengan nada sambung."Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan...."Ketika mendengarnya, Aya langsung menurunkan ponsel dengan helaan napas berat. Jemarinya meremas pinggiran meja, tempat ia biasa mendengarkan keluh kesah pasien. "Jelas terjadi sesuatu pada Kageo," bisik Aya pada ruangan yang sepi itu.Firasatnya berteriak nyaring. Hilangnya kontak ini, ditambah dengan obsesi gelap Kageo terhadap keluarga sang kakak, memb
Walau hatinya pedih, Reva tidak ingin menunjukkan kerapuhan di hadapan Baskoro. Ia pun menaikkan pandangan dan menjawab dengan mantap."Papa saya... juga sudah meninggal, Pak," jawab Reva dengan nada datar. "Bahkan sebelum saya lahir ke dunia ini."Mata Baskoro terbelalak. Ada kilat keterkejutan yang nyata, seolah jawaban itu adalah hantaman fisik bagi jiwanya. Namun sebelum ia sempat merespons, Reva sudah menyambung kalimatnya dengan tatapan lurus ke piring."Tapi saya beruntung karena memiliki ayah lain yang sangat menyayangi saya. Hanya saja... Beliau juga sudah tiada beberapa tahun lalu," pungkas Reva. Ia kembali menyuap potongan kecil daging ke mulutnya untuk menenangkan diri.Baskoro berdehem sejenak, mencoba menetralkan suaranya yang mendadak serak."Ternyata kita hampir senasib, Reva. Kamu kehilangan kedua orang tuamu, sedangkan saya... kehilangan putri saya."Gerakan tangan Reva terhenti di udara. Ia mendongak sejenak, untuk memastikan telinganya tidak salah mendengar."Jika
Taksi yang ditumpangi Reva berhenti tepat di depan restoran The Clarinet, sebuah restoran fine dining bertema mediterania yang sangat prestisius. Reva turun dengan langkah ragu. Jantungnya berdegup kencang, campuran antara waspada dan rasa penasaran yang membuncah. Saat melintasi area parkir, mata Reva tertuju pada sebuah sedan hitam panjang dengan plat nomor khusus. Itu mobil yang sama, yang terparkir di pengadilan kemarin.‘Baskoro sudah di dalam,’ batin Reva sembari menggigit bibirnya.Baru saja Reva hendak menyapa pelayan di pintu depan, pria tegap yang kemarin menghampirinya muncul dari balik pilar. "Selamat siang, Nona Reva. Anda sudah datang," sapa ajudan itu dengan nada formal yang sangat sopan. "Mari saya antarkan ke meja Tuan Baskoro. Beliau sudah menunggu Anda sejak sepuluh menit yang lalu."Reva hanya mengangguk kecil, mengikuti langkah pria itu melewati lorong-lorong restoran yang dihiasi lukisan abstrak. Mereka berhenti di sebuah area private di sudut ruangan, yang m
Mendengar percakapan itu, Dastan pun menyambar ponsel dari tangan Moza. "Halo, Bara! Ini aku. Apa benar Kageo menghilang dari mansion?""Kak, kau sudah mendarat?" Elbara terkejut. "Iya, Kageo tidak kembali semalaman. Bibi Thalia bilang dia mungkin menginap di apartemen pribadinya. Tapi, aku baru saja mengecek lewat resepsionis dan apartemen itu kosong."Dastan langsung mematikan sambungan tanpa kata pamit. Ia beralih ke ponselnya sendiri, menekan nomor Kageo dengan harapan tipis yang tersisa. Namun, suara operator yang dingin kembali menyambutnya. “Nomor yang Anda tuju tidak aktif.”Suara mekanis tersebut membuat Dastan mengetatkan rahangnya. Terlihat jelas, bahwa ia belum bisa menerima kenyataan pahit mengenai keterlibatan sang adik. "Kau benar, Moza. Kageo menghilang. Dia yang membawa Kayden."Dastan terdiam sejenak, menatap kosong ke arah jendela. "Pantas saja ... di foto itu Kayden terlihat begitu nyaman memakan burger. Dia tidak menangis, tidak terlihat seperti tawanan. Itu ka
Pria itu mengamati Moza dengan ekspresi yang sulit ditebak. Tatapannya yang dingin terasa menusuk sampai ke tulang belakang.“Siapa kau? Kenapa kau tidur di kamar ini?”Suara bariton tersebut menyusup ke dalam alam sadar Moza, seperti gema dari masa lalu yang menyakitkan.Detik itu juga, nyawa Moza
Pertanyaan Dastan bagai cambuk yang menyentak kesadaran Moza. Dalam sekejap, rasa takutnya tersapu oleh gelombang keberanian yang menyala.Tidak. Dia tidak boleh kalah sekarang. Bagaimanapun dia tidak akan membiarkan Dastan Limantara menganggapnya sebagai wanita yang bisa dibeli atau dimainkan."Ua
Meski masih ada tanda tanya besar dalam dirinya, Moza memilih untuk berjalan meninggalkan ruang makan.Di belakangnya, tawa Abigail masih terdengar. Namun, Moza berusaha memusatkan perhatian pada tugas utamanya untuk mengantar makanan ke kamar Tuan Markus.Karena sudah hafal jalanny
Diam-diam, Moza merasa bingung melihat ketidaksesuaian antara sosok Kageo yang kuat dan Kageo yang lemah. Apakah ini bagian dari permainan? Atau justru inilah realitas sebenarnya dari penyakit langka yang dideritanya?Namun apa pun kebenarannya, Moza bertekad memanfaatkan kesempatan ini. Ia harus m







