LOGINDi dalam kabin mobil, udara terasa lebih dingin daripada hembusan AC. Elbara mencengkeram kemudi dengan buku-buku jari yang memutih. Tangan kirinya terus menekan tombol panggil di layar dasbor, mencoba menghubungi Dastan."Angkat, Kak... Angkat!" desis Elbara. Suaranya serak karena frustrasi.Setelah lima kali percobaan yang gagal, ia beralih menghubungi Moza. Hanya butuh dua nada sambung, sebelum suara sang kakak ipar yang parau menyambutnya.“Moza, apa Kak Dastan masih bersamamu? Aku ingin bicara.”"Dastan sudah pergi, Bara. Tolong... tolong susul dia," balas Moza. Suaranya terdengar begitu rapuh di seberang sana."Moza, tenanglah. Aku sedang di jalan bersama psikiater yang menangani Kageo," balas Elbara berusaha menenangkan. "Katakan padaku, di mana Kak Dastan sekarang?"Moza menyebutkan sebuah nama daerah, yang berjarak dua jam perjalanan dari ibu kota."Si penculik mengirimkan koordinat ke sana. Dastan pergi sendirian untuk melakukan pertukaran dengan Kayden,” tutut Moza parau.
Aya baru selesai membantu dokter Larissa melakukan terapi kepada penderita skizofrenia. Ia pun berjalan dengan tergesa-gesa. Hatinya semakin gelisah seiring berjalannya waktu. Begitu sampai di meja kerjanya, Aya melirik jam dinding.Sekarang sudah hampir waktunya makan siang, tetapi pesan untuk Kageo belum juga terkirim. Jadwal terapi yang ia rencanakan seakan menguap di ruang hampa.Tanpa berpikir panjang, Aya segera menekan nomor ponsel Kageo. Ia menempelkan ponsel ke telinganya, berharap bahwa suara operator yang dingin akan berganti dengan nada sambung."Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan...."Ketika mendengarnya, Aya langsung menurunkan ponsel dengan helaan napas berat. Jemarinya meremas pinggiran meja, tempat ia biasa mendengarkan keluh kesah pasien. "Jelas terjadi sesuatu pada Kageo," bisik Aya pada ruangan yang sepi itu.Firasatnya berteriak nyaring. Hilangnya kontak ini, ditambah dengan obsesi gelap Kageo terhadap keluarga sang kakak, memb
Walau hatinya pedih, Reva tidak ingin menunjukkan kerapuhan di hadapan Baskoro. Ia pun menaikkan pandangan dan menjawab dengan mantap."Papa saya... juga sudah meninggal, Pak," jawab Reva dengan nada datar. "Bahkan sebelum saya lahir ke dunia ini."Mata Baskoro terbelalak. Ada kilat keterkejutan yang nyata, seolah jawaban itu adalah hantaman fisik bagi jiwanya. Namun sebelum ia sempat merespons, Reva sudah menyambung kalimatnya dengan tatapan lurus ke piring."Tapi saya beruntung karena memiliki ayah lain yang sangat menyayangi saya. Hanya saja... Beliau juga sudah tiada beberapa tahun lalu," pungkas Reva. Ia kembali menyuap potongan kecil daging ke mulutnya untuk menenangkan diri.Baskoro berdehem sejenak, mencoba menetralkan suaranya yang mendadak serak."Ternyata kita hampir senasib, Reva. Kamu kehilangan kedua orang tuamu, sedangkan saya... kehilangan putri saya."Gerakan tangan Reva terhenti di udara. Ia mendongak sejenak, untuk memastikan telinganya tidak salah mendengar."Jika
Taksi yang ditumpangi Reva berhenti tepat di depan restoran The Clarinet, sebuah restoran fine dining bertema mediterania yang sangat prestisius. Reva turun dengan langkah ragu. Jantungnya berdegup kencang, campuran antara waspada dan rasa penasaran yang membuncah. Saat melintasi area parkir, mata Reva tertuju pada sebuah sedan hitam panjang dengan plat nomor khusus. Itu mobil yang sama, yang terparkir di pengadilan kemarin.‘Baskoro sudah di dalam,’ batin Reva sembari menggigit bibirnya.Baru saja Reva hendak menyapa pelayan di pintu depan, pria tegap yang kemarin menghampirinya muncul dari balik pilar. "Selamat siang, Nona Reva. Anda sudah datang," sapa ajudan itu dengan nada formal yang sangat sopan. "Mari saya antarkan ke meja Tuan Baskoro. Beliau sudah menunggu Anda sejak sepuluh menit yang lalu."Reva hanya mengangguk kecil, mengikuti langkah pria itu melewati lorong-lorong restoran yang dihiasi lukisan abstrak. Mereka berhenti di sebuah area private di sudut ruangan, yang m
Mendengar percakapan itu, Dastan pun menyambar ponsel dari tangan Moza. "Halo, Bara! Ini aku. Apa benar Kageo menghilang dari mansion?""Kak, kau sudah mendarat?" Elbara terkejut. "Iya, Kageo tidak kembali semalaman. Bibi Thalia bilang dia mungkin menginap di apartemen pribadinya. Tapi, aku baru saja mengecek lewat resepsionis dan apartemen itu kosong."Dastan langsung mematikan sambungan tanpa kata pamit. Ia beralih ke ponselnya sendiri, menekan nomor Kageo dengan harapan tipis yang tersisa. Namun, suara operator yang dingin kembali menyambutnya. “Nomor yang Anda tuju tidak aktif.”Suara mekanis tersebut membuat Dastan mengetatkan rahangnya. Terlihat jelas, bahwa ia belum bisa menerima kenyataan pahit mengenai keterlibatan sang adik. "Kau benar, Moza. Kageo menghilang. Dia yang membawa Kayden."Dastan terdiam sejenak, menatap kosong ke arah jendela. "Pantas saja ... di foto itu Kayden terlihat begitu nyaman memakan burger. Dia tidak menangis, tidak terlihat seperti tawanan. Itu ka
Moza memperhatikan perubahan drastis pada raut wajah Dastan. Sesudah membaca pesan masuk itu, sorot mata suaminya meredup oleh kabut ketegangan, Dengan suara bergetar, Moza memberanikan diri untuk bertanya. "Dastan... apa pesan itu dari dia? Dari... Kageo?"Napas Dastan terdengar memburu. Ia menggeleng perlahan, seolah mencoba mengusir pikiran buruk yang mulai merayap. "Penculik itu baru saja mengirimkan lokasi pertemuan di luar kota," jawab Dastan."Aku tidak percaya bila Kageo yang melakukan drama murahan ini. Kau tahu sendiri, tubuhnya lemah. Kageo juga sangat menyayangi Kayden."Melihat sang suami masih belum percaya, Moza menghela napas panjang. Ia meraih tangan Dastan dan menggenggamnya erat. "Aku tidak bicara tanpa alasan, Dastan. Sudah lama aku mencurigai Kageo, tapi aku menahan diri untuk tidak mengatakannya padamu,” ungkap Moza.“Aku diam, karena aku tidak mau hubungan persaudaraan kalian rusak.”Dastan menyugar rambutnya dengan kasar, tampak frustrasi. Ia bangkit dan ber
Moza pun berjalan sendirian menuju kamarnya yang dilengkapi dengan toilet pribadi. Ia sengaja membuka tirai agar bisa melihat bulan purnama yang sedang menggantung di langit malam. Tanpa ragu, Moza melepas bajunya dan mandi air hangat untuk mengusir rasa lelah.Setelah itu, ia mengenakan gaun pemb
Sebelum Dastan bereaksi, Moza sudah menunduk dan menyambar bibirnya. Ciumannya tidak ahli, tetapi penuh dengan intensitas dan keinginan untuk menaklukkan. Dengan mengandalkan insting, Moza menghisap bibir atas dan bawah Dastan, menirukan cara yang dipakai pria itu semalam.Saat merasakan bibir Dast
Wajah Bu Lintang berubah pucat, tangannya yang masih mengupas mangga langsung berhenti bergerak."Saya hanya bercerita tentang mangga, Tuan Besar. Saya bawa mangga dari pohon di rumah. Sudah masak sempurna.”Tuan Markus tidak serta-merta percaya. Tatapannya tertuju pada Bu Lintang sebelum akhirnya b
Mobil segera melaju meninggalkan keramaian mall, menuju mansion keluarga Limantara. Di dalam kabin, Elzen mengajak Abigail bernyanyi lagu ulang tahun. "Abi harus rajin berlatih," kata Elzen sambil tersenyum pada keponakannya. "Minggu depan ulang tahun Paman Elzen dan Paman Elbara. Paman ingin Abi y







