MasukMalam turun di halaman belakang istana yang luas, ribuan jenazah telah ditumpuk dengan rapi di atas panggung kayu besar. Sebuah pemandangan tragis di mana kawan dan lawan kini berbaring berdampingan, dipersatukan oleh kematian.Obor-obor minyak menyala di sekeliling halaman. Di tengah keheningan yang mencekam, seorang pendeta baru dari Paviliun Bintang melangkah maju.Jubah birunya melambangkan kekuatan langit, ia mulai merapalkan mantra suci, sebuah nyanyian kuno yang dipercaya mampu menuntun jiwa-jiwa yang tersesat menuju gerbang alam baka.Ye Lin muncul dari balik kegelapan. Ia mengenakan jubah putih polos tanpa hiasan apa pun sebagai lambang duka cita yang mendalam. Wajahnya bersih tanpa riasan, rambutnya dibiarkan tergerai sampai ke betis. Ia hanya menggenggam seruling gioknya, tanpa pedang atau belati di pinggang.Kaisar Shen Hong berdiri meski harus dipapah oleh kasim, di dampingi oleh Shen Yuan yang merangkul bahu A Ruo yang masih terlihat lemah. Yang hadir semua menundukkan k
Mata Ye Lin perlahan terbuka. Wanita pembaca kematian itu memindai sekeliling ruangan yang terlihat asing, bukan kamarnya juga bukan kamar Yanzuo. Kebingungan membuatnya terdiam.Namun, bayangan kejadian keji itu berkelebat di matanya. Kilatan belati, darah segar dan tatapan mata ayahnya yang memintanya segera lari tergambar dengan sangat jelas."Ayah..." bisik Ye Lin dengan suara berat.Napasnya memburu. Ye Lin segera menyingkap selimut tebal yang menutupi tubuhnya dan memaksakan diri untuk turun dari ranjang. Namun, begitu kedua kakinya menginjak lantai dan ia mencoba berdiri, pandangannya seketika berputar. Kepalanya pusing dan tubuhnya oleng karena kehilangan keseimbangan.Kemudian pintu kamar terbuka, Yanzuo yang baru datang terkejut melihat Ye Lin sadarkan diri. Pangeran Pertama itu maju dan menangkap tubuh Ye Lin sebelum jatuh ke lantai."Lin'er!" Yanzuo merengkuh bahu istrinya dengan erat. "Jangan memaksakan diri, tubuhmu masih sangat lemah. Apa kau baik-baik saja? Apa perutm
Di dalam paviliun yang dijaga ketat, suasana terasa sangat mencekam. Kaisar Shen Hong masih duduk bersandar di ranjangnya, sementara Ratu Agung terbaring lemah di atas ranjang dengan napas yang masih tersengal.Tenggorokannya terasa terbakar akibat muntahan asam lambungnya sendiri, membuat wanita penguasa itu tak bisa lagi mengucapkan sepatah kata pun. Namun, hubungan spiritual Wei Lan Yi yang pernah mengikat perjanjian dengan dewa kuno masih sangat tajam.Dari balik dinding paviliun yang ternoda darah, ia bisa merasakan pergantian siang dan malam yang tak wajar di luar sana adalah ulah A Yue. Ia juga bisa merasakan bahwa para prajurit pembela istana semakin berkurang jumlahnya, terdesak oleh pasukan pemberontak Jenderal Zhao.Kedua putranya, Yanzuo dan Shen Yuan, kemungkinan besar akan mengalami kekalahan.Di lubuk hatinya yang terdalam, Wei Lan Yi tetap seorang ibu. Ia melahirkan Yanzuo dan Shen Yuan dengan mempertaruhkan nyawanya. Ia tak akan pernah rela membiarkan darah dagingnya
"Menyedihkan sekali!" cemooh A Yue. "Dua pangeran terkuat Dinasti Hanlu... saling menahan amarah, sementara musuh sebenarnya tertawa terbahak-bahak.""Tutup mulutmu, wanita iblis!" jerit Yanzuo. Telapak tangannya kembali menyala, memercikkan api yang siap membakar A Yue.A Yue hanya tersenyum, ia meremehkan kekuatan Pangeran Api. Senyumnya membuat bulu kuduk kuduk siapa pun merinding."Kau mengandalkan matahari untuk apimu, Yanzuo. Dan kau..." Mata A Yue tertuju pada Shen Yuan, "Mengandalkan dinginnya bulan untuk kekuatan esmu. Kalian hanyalah budak dari perputaran alam."A Yue menghentakkan kedua telapak tangannya ke samping. Energi yang besar meledak dari tubuhnya, lalu melesat naik tinggi ke langit malam."Dewa Iblis di Neraka, biarkan alam tunduk padaku malam ini!"Sebuah gelombang yang mengerikan menghantam udara. Dalam sekejap mata, langit malam yang kelam hilang. Matahari yang menyengat panasnya muncul dan melelehkan salju dalam hitungan detik. Siang hari tiba tanpa peringatan.
Jenderal Zhao duduk dengan santai di atas kursi yang telah disediakan. Ia dikelilingi oleh barisan pengawal kepercayaannya yang berlapis pedang, panah, dan tombak. Senyum licik tak lepas dari wajahnya saat ia menyaksikan pertumpahan darah, dan kekacauan yang terjadi di hadapannya.Bagi Jenderal Zhao, jeritan kematian para prajurit itu adalah alunan musik yang mengiringi langkahnya menuju puncak kekuasaan.Ia menoleh ke arah salah satu pengawal di sampingnya, lalu memberikan perintah yang amat sangat keji. "Beri isyarat pada prajurit bayaran kita di bawah sana. Eksekusi Jenderal Besar Ye beserta putrinya sekarang juga. Jangan biarkan mereka hidup, siapa yang berhasil membunuh mereka akan diberikan imbalan tambahan!"Pengawal itu mengangguk dan segera memberikan sinyal rahasia ke arah pasukan yang mengawal Ye Lin serta ayahnya.Setelah memastikan perintahnya berjalan lancar, Jenderal Zhao kembali menatap lurus ke arah bangunan utama istana. Harapannya untuk menjadi Kaisar yang baru begi
"Penggal kepalanya, cincang tubuhnya dan beri makan anjing!" perintah Ye Lin sambil menahan amarah melihat darah ayahnya.Hanya saja, perintah itu justru berubah menjadi mimpi buruk yang jauh lebih mengerikan. Pasukan elite Keluarga Ye tidak bergerak serentak.Ada hal yang terlewatkan dari pegawasan Jenderal besar Ye. Lebih dari separuh prajuritnya tiba-tiba memutar senjata dan mengarahkan pedang serta tombak mereka ke rekan sendiri.Suara benda tajam beradu dan jeritan kematian langsung memenuhi udara. Pasukan elite pribadi kebanggaan itu saling membantai di depan mata Jenderal Besar Ye.Pengkhianatan Jenderal Zhao ternyata telah mengakar sangat dalam, lelaki licik itu telah menyuap separuh pasukan elite tersebut demi memastikan ayah dan anak Keluarga Ye benar-benar tewas tak bersisa malam itu juga."Lindungi Jenderal Besar dan Nona Muda!" teriak salah satu ajudan yang paling setia, sebelum lehernya ditebas dari belakang oleh rekannya sendiri.Ye Lin tidak punya waktu untuk meratapi







