Masuk“Tidak ada yang perlu didengar,” kata Sumi. Suaranya datar, tidak ada nada. Ia mendekat kearah Sophia mengangkat benang hitam yang tidak bisa mereka lihat. Sophia berteriak takut jika Sumi melakukan sesuatu padanya. “Jangan! Tio, lakukan sesuatu!” Tio tidak bergerak, kakinya terasa seperti terpaku. Benang kuningnya tiba-tiba menegang, menarik pergelangan kakinya ke belakang. Sumi memotong, satu. Benang merah antara Tio dan Sophia putus. Tidak ada darah, tidak ada teriakan yang ada hanya suara seperti kain robek yang sangat pelan. Sophia tertekuk, ia memegangi dadanya. Napasnya tercekat, ia panik jika Sumi melakukan sesuatu pada bayinya bahkan wajahnya berubah. Cantiknya menjadi luntur yang tersisa hanya kosong. Sama seperti Sumi seminggu lalu. “Apa yang kamu lakukan?” bisik Sophia. “Aku mengambil kembali tempat yang kamu curi,” kata Sumi. Kedua, benang kuning Tio putus. Tio jatuh terduduk, matanya membelalak. Ia menatap tangannya dengan telapaknya yang kosong. Rasanya sepert
Benang-benang di sekeliling desa tampak seperti jaring laba-laba raksasa yang dibentangkan, ada benang kuning tipis dari warung kopi, itu artinya ikatan hutang. Ada benang hijau dari rumah bidan, itu artinya ikatan nyawa yang baru lahir. Ada benang hitam pekat dari arah makam, itu adalah ikatan dendam yang belum selesai.Matanya tidak berkedip, otaknya tidak merasa lelah. Sumi mengikuti benang merah itu, benang itu membawanya melewati pematang sawah, melewati jembatan kayu yang kayunya sudah lapuk. Setiap langkahnya meninggalkan jejak abu tipis di tanah, jejak dari benang hitam yang dililitkan di tangan.Di ujung pematang, benang itu berhenti di sebuah rumah panggung tua. Catnya sudah mengelupas, di teras sedang duduk seorang anak perempuan berumur sekitar sembilan tahun. Sedang memeluk boneka kain. Dari dada anak itu keluar benang merah, tapi benang itu dicekik. Ada tangan yang tak terlihat yang menariknya dari dalam rumah.Anak itu menatap Sumi, matanya lebar ia tampak tidak taku
Sumi mendorong pintu itu. Di baliknya bukanlah sebuah ruangan, melainkan sebuah sumur. Sumur tua miliknya, tapi airnya bukanlah air melainkan wajah-wajah. Wajah Ibu yang terlihat tenang. Wajah Tio yang terlihat palsu. Wajah Sophia yang terlihat mengejek. Satu wajah lagi yaitu wajah Sumi sendiri, tapi matanya kosong tidak ada harapan, tidak ada luka hanya datar.Itu Sumi dirinya sendiri, setelah menyerahkan rasa dicintai.“Jadi ini yang ikut keluar,” gumamnya. Benang putih di tangannya tiba-tiba menegang, seakan tertarik dari arah sumur. Seseorang, atau sesuatu, menarik ujung benang itu dari dalam.Sumi melawannya Ia menanam kakinya dengan erat, hingga bekas biru di tangannya terlihat menyala. “Kalau kamu ingin keluar, sebut namamu,” katanya. Suaranya tidak keras, tapi setiap kata jatuh seperti batu.Air sumur beriak, wajah Sumi yang kosong itu muncul ke permukaan. Bibirnya bergerak tanpa suara. Lalu ia berbicara, memakai suara Sumi juga. “Aku adalah kamu tanpa harapan, aku ad
Air di mangkok itu berhenti mendidih, tapi terlihat tidak tenang. Sumi membuka matanya, mangkok tanah liat itu kini kosong. Airnya habis, menguap tanpa sisa yang tertinggal hanya satu helai benang tipis di dasar mangkok. Benangnya hitam, hampir tidak terlihat, tapi ketika Sumi menyentuhnya dengan ujung jari, benang itu hangat, berdenyut seperti urat.Bekas genggaman di pergelangan tangannya ikut berdenyut bersamaan, biru kehitaman itu kini bergerak pelan di bawah kulit, membentuk pola garis halus yang menjalar sampai ke nadinya.Keris tumpul di tangannya kini terasa berat, lalu kemudian ringan. Seperti ada yang mengambilnya dari dalam.“Jadi… sudah,” bisik Sumi. Tidak ada jawaban, tidak ada suara Ibunya. Gubuk belakang rumah benar-benar hening, jangkrik pun tidak mengeluarkan suara. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dada Sumi tidak sakit tapi kosong. Benar-benar kosong, tidak ada harapan lagi dan tidak ada rasa takut ditinggal. Ia mengangkat buku bersampul kulit kambing itu, hal
Cengkraman tangan itu lepas, kini Sumi mendengar ada suara mendesis marah, lalu menghilang seperti diseret ke dalam tanah.Malam ketujuh, adalah malam terakhir ia disana. Sumi sudah terbiasa melewati malam yang penuh gangguan disana, kini ia tidak merasa dingin badannya benar-benar merasa kosong, tapi enteng. Jam 12 malam, Sumi melihat dengan mata kepalanya sendiri. Bahwa kain mori di nisan itu bergerak sendiri. Bayangan Ibunya muncul sesaat, tampak lengkap dan utuh. Tidak sepertu bayangan-bayangan sebelumnya. Kali ini dia berdiri, memakai kebaya yang sama waktu dimakamkan. “Selamat,” katanya. Suaranya lembut, tapi masuk langsung ke kepala Sumi. “Sekarang kamu bisa melihat!”Sumi tidak menjawab, ia hanya menunggu. Ia melihat Ibunya berjongkok di depannya, tangannya dingin waktu menyentuh pipi Sumi. “Lihatlah dengan hati yang sudah kosong, jika masih ada dendam, yang kamu lihat cuma bayanganmu sendiri!” Sumi mengerti, selama 7 malam ia tidak cuma diuji dengan “yang tak te
“Nduk, lebih baik kamu segera berziarah ke makan Mbahmu dulu!” perintah Mbah Ngatmi.“Memangnya wajib Mbah?” tanya Sumi.“Iya, Nduk kamu nurut saja selama beberapa malam seperti keturunanmu sebelumnya!” ucap Mbah Ngatmi.Setelah makan dengan kenyang, Sumi hendak segera pergi untuk datang kesana. Ia yakin karena ilmunya pasti tak akan sia-sia.Namun di sisi lain Mbah Ngatmi merasa iba pada Sumi, karena tidak mampu menolong Sumi dari rantai iblis itu. “Kamu tidak tahu nduk!” ucap Mbah Ngatmi dengan rasa iba. Hanya Mbah Ngatmi lah yang tahu asal usul makan itu, tidak ada yang bisa selain darah keturunannya. Karena makan itu dibuat oleh leluhur Sumi. Selama ini mereka menyembah iblis disana, dan makan itu hanya di rawat oleh keturunan Sumi. Makam Mbah buyut Sumi berada di bawah pohon beringin tua, ia harus menempuh waktu sekitar 2 jam dengan berjalan kaki dari desa untuk sampai kesana. Katanya, akar pohon itu sudah sampai hingga ke sungai bawah tanah. Tempat air yang tidak pernah ker
Di sisi lain, sophia sudah nyaman dengan pekerjaan barunya. Kini ia sedang di sibukkan dengan tanggung jawab, yang telah di beri penuh, dari nyonya Risa untuknya.Tak terasa sekarang sudah jam istirahat, waktunya untuk Sophia mengisi perut. Kali ini ia hanya akan makan, di cafe dekat tempatnya beke
Sewaktu kepulangan Sophia, si Mbah meminta istrinya untuk tidak menggangunya sebentar. Karena ia akan ada kepentingan sebentar, sang istrinya pun menuruti permintaan si Mbah.Nyatanya si Mbah masih ada kepedulian terhadap Menik, ia ingin mengetahui bagaimana keadaan Menik sekarang. Setelah ia berm
Setelah mendapat kemakmuran dari warga desa, hingga sampai kepada anak turunnya. Hingga kematian nenek moyang mereka, dan para keturunan selanjutnya yang telah meninggal. Semua keturunan nenek moyang Menik, menjadi budak bangsa iblis tersebut.Sosok yang Nenek moyang Menik temui, adalah sosok raja
Ia sangat ketakutan, kala ia di bawa pergi kembali untuk meninggalkan raganya. Pergi melayang bersama sosok tersebut, ia memasuki sebuah lorong yang sangat panjang.Lorong panjang tersebut, semakin jauh untuk ia lewati.Akan semakin hitam pekat pula lorong yang ia masuki, ibunda Sumi ingin sekali







