LOGINSumi mendorong pintu itu. Di baliknya bukanlah sebuah ruangan, melainkan sebuah sumur. Sumur tua miliknya, tapi airnya bukanlah air melainkan wajah-wajah. Wajah Ibu yang terlihat tenang. Wajah Tio yang terlihat palsu. Wajah Sophia yang terlihat mengejek. Satu wajah lagi yaitu wajah Sumi sendiri, tapi matanya kosong tidak ada harapan, tidak ada luka hanya datar.Itu Sumi dirinya sendiri, setelah menyerahkan rasa dicintai.“Jadi ini yang ikut keluar,” gumamnya. Benang putih di tangannya tiba-tiba menegang, seakan tertarik dari arah sumur. Seseorang, atau sesuatu, menarik ujung benang itu dari dalam.Sumi melawannya Ia menanam kakinya dengan erat, hingga bekas biru di tangannya terlihat menyala. “Kalau kamu ingin keluar, sebut namamu,” katanya. Suaranya tidak keras, tapi setiap kata jatuh seperti batu.Air sumur beriak, wajah Sumi yang kosong itu muncul ke permukaan. Bibirnya bergerak tanpa suara. Lalu ia berbicara, memakai suara Sumi juga. “Aku adalah kamu tanpa harapan, aku ad
Air di mangkok itu berhenti mendidih, tapi terlihat tidak tenang. Sumi membuka matanya, mangkok tanah liat itu kini kosong. Airnya habis, menguap tanpa sisa yang tertinggal hanya satu helai benang tipis di dasar mangkok. Benangnya hitam, hampir tidak terlihat, tapi ketika Sumi menyentuhnya dengan ujung jari, benang itu hangat, berdenyut seperti urat.Bekas genggaman di pergelangan tangannya ikut berdenyut bersamaan, biru kehitaman itu kini bergerak pelan di bawah kulit, membentuk pola garis halus yang menjalar sampai ke nadinya.Keris tumpul di tangannya kini terasa berat, lalu kemudian ringan. Seperti ada yang mengambilnya dari dalam.“Jadi… sudah,” bisik Sumi. Tidak ada jawaban, tidak ada suara Ibunya. Gubuk belakang rumah benar-benar hening, jangkrik pun tidak mengeluarkan suara. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dada Sumi tidak sakit tapi kosong. Benar-benar kosong, tidak ada harapan lagi dan tidak ada rasa takut ditinggal. Ia mengangkat buku bersampul kulit kambing itu, hal
Cengkraman tangan itu lepas, kini Sumi mendengar ada suara mendesis marah, lalu menghilang seperti diseret ke dalam tanah.Malam ketujuh, adalah malam terakhir ia disana. Sumi sudah terbiasa melewati malam yang penuh gangguan disana, kini ia tidak merasa dingin badannya benar-benar merasa kosong, tapi enteng. Jam 12 malam, Sumi melihat dengan mata kepalanya sendiri. Bahwa kain mori di nisan itu bergerak sendiri. Bayangan Ibunya muncul sesaat, tampak lengkap dan utuh. Tidak sepertu bayangan-bayangan sebelumnya. Kali ini dia berdiri, memakai kebaya yang sama waktu dimakamkan. “Selamat,” katanya. Suaranya lembut, tapi masuk langsung ke kepala Sumi. “Sekarang kamu bisa melihat!”Sumi tidak menjawab, ia hanya menunggu. Ia melihat Ibunya berjongkok di depannya, tangannya dingin waktu menyentuh pipi Sumi. “Lihatlah dengan hati yang sudah kosong, jika masih ada dendam, yang kamu lihat cuma bayanganmu sendiri!” Sumi mengerti, selama 7 malam ia tidak cuma diuji dengan “yang tak te
“Nduk, lebih baik kamu segera berziarah ke makan Mbahmu dulu!” perintah Mbah Ngatmi.“Memangnya wajib Mbah?” tanya Sumi.“Iya, Nduk kamu nurut saja selama beberapa malam seperti keturunanmu sebelumnya!” ucap Mbah Ngatmi.Setelah makan dengan kenyang, Sumi hendak segera pergi untuk datang kesana. Ia yakin karena ilmunya pasti tak akan sia-sia.Namun di sisi lain Mbah Ngatmi merasa iba pada Sumi, karena tidak mampu menolong Sumi dari rantai iblis itu. “Kamu tidak tahu nduk!” ucap Mbah Ngatmi dengan rasa iba. Hanya Mbah Ngatmi lah yang tahu asal usul makan itu, tidak ada yang bisa selain darah keturunannya. Karena makan itu dibuat oleh leluhur Sumi. Selama ini mereka menyembah iblis disana, dan makan itu hanya di rawat oleh keturunan Sumi. Makam Mbah buyut Sumi berada di bawah pohon beringin tua, ia harus menempuh waktu sekitar 2 jam dengan berjalan kaki dari desa untuk sampai kesana. Katanya, akar pohon itu sudah sampai hingga ke sungai bawah tanah. Tempat air yang tidak pernah ker
HP lama Sumi yang ia simpan di pojok gubuk tiba-tiba menyala sendiri, padahal sebelumnya baterainya sudah habis dari 40 hari yang lalu. Notifikasi terlihat masuk satu, rupanya DM dari Sophia. “Sum, kita bisa bicara baik-baik kan?”Tangan Sumi tiba-tiba gemetar, jari telunjuknya sudah di atas tombol tinggal mengklik hapus. Sumi berpikir jika ia membalasnya, maka semua aturan akan pecah maka ia akan gagal. Sumi kembali teringat pesan Ibu di mimpi. “Kalau kamu berhenti di tengah, yang datang bukan aku tapi lapar!”Sumi memilih menghapusnya, ia tidak membalas. Malamnya ia bermimpi bahwa Ibunya berdiri di ujung jurang lagi, kali ini Ibunya tersenyum. “Bagus, suara pertamamu nanti hanya untuk aku!”Kini tubuh Sumi sudah mulai terbiasa, laparnya tidak sekeras dulu yang merasakan sakit hingga menjalar ke kepala. Rasa sepi itu seperti orang yang sedang berbicara terus di telinga, tapi tidak ada mulutnya. Sumi mulai berbicara dengan bayangan Ibunya di dalam hati. “Bu, sakit ya jadi
Keesokan harinya, rasa laparnya mulai terasa. Namun, Sumi hanya boleh makan bubur tawar sekali sehari, yaitu hanya di jam 6 sore. Harus tanpa garam, tanpa gula rasanya seperti sedang makan lem.Hari ini rasanya Sumi ingin sekali minum kopi, kopi hitam panas yang biasa ia minum, mengingatkannya saat minum berdua dengan Ibu sewaktu subuh dulu.Tenggorokannya terasa kering, tapi ia tidak boleh memintanya dan tidak boleh berbicara. Malam harinya Sumi bermimpi Tio. Tio sedang berdiri di ujung gubuk, ia tersenyum menatap Sumi senyumnya seperti dulu waktu mereka PDKT. Ia berkata. “Sum, balik yuk. Aku kangen!”Rasanya Sumi ingin sekali menjawab, mulutnya kebuka tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya sama sekaki. Tio tampak tertawa pelan, lalu menghilang begitu saja.Sumi terbangun dengan pipinya yang tampak basah, Ia baru menyadari bahwa Ia menangis dalam mimpi.Hari kelima, Sepi mulai berubah menjadi suara. Suara teman yang sedang menemani. Membuat Sumi sadar, selama ini Ia berbic
"Besok pagi, aku akan pindah ke gubuk belakang! Untuk memulai puasa bisu!" pekiknya dalam hati. Sumi akhirnya tertidur lelap, dengan menyimpan rasa lara dan dendam yang menyelimuti hati. Hati yang memang sudah kotor sedari awal, kini bertambah gelap. Tidak lagi ditemukan secercah cahaya di dalam
Hujan gerimis turun pelan malam itu. Lumayan deras, tapi cukup untuk membuat tanah di depan rumah Sumi menjadi licin dan berbau lumpur. Desanya menjadi sepi tanpa penerangan di sisi jalan, membuat suasana horror lebih terasa panjang. Para warga desa pun sudah banyak yang mengunci rumah mereka, ter
Matahari sudah ingin menjulang tinggi, namun tampaknya, Sumi enggan untuk keluar dari kamar. Pikiran wanita itu masih kacau.Tapi mau tidak mau.Para karyawan harus segera memberitahunya, entah akan bagaimana nanti hasilnya. Yang jelas mereka juga akan segera pulang. " Mba, kami mau bicara!" kata
Sedangkan di dalam dunia Sophia, akhir-akhir ini dirinya senang sekali. Hatinya berbunga-bunga, layaknya bunga di taman, yang tengah bermekaran secara silih berganti.Mimpinya untuk bersama dengan Tio, telah di Kabulkan. Setelah bersama, beberapa Minggu lamanya. Tak jarang juga, Tio memperlihatkan







