LOGINSetiap pukul nol nol dini hari, studio radio tempat Ardian Sagara dan Raina Mahesa bekerja dipenuhi aroma pandan yang lembut dan aneh, karena tak seorang pun membawa bunga atau daun pandan. Awalnya mereka mengira hanya halusinasi karena lelah siaran malam. Namun ketika suara perempuan samar menyusup lewat setiap kesempatan dan menyebut satu nama “Mei Lin...” hidup Ardian tak pernah sama lagi. Aroma itu bukan sekadar wangi. Ia adalah panggilan dari arwah seorang gadis Tionghoa yang mati tragis dua puluh tahun lalu, terkubur tanpa nama di taman liar tempat pandan tumbuh. Mei Lin tak ingin menakuti siapa pun, ia hanya ingin ditemukan dan dimakamkan dengan layak. Tapi untuk mencapainya, ia mengikat nyawa gadis yang disukai Ardian sebagai jaminan. Demi menyelamatkan keduanya, Ardian harus menelusuri misteri masa lalu yang kelam. ritual keluarga, perjanjian darah, dan sebuah cermin yang menjadi penjara arwah. Di antara bisikan malam dan suara siaran yang tak pernah berhenti, Ardian belajar satu hal, tidak semua arwah datang untuk menakuti, sebagian datang untuk menuntaskan kisah yang belum sempat diakhiri. “Dan malam itu, di balik aroma pandan yang lembut, suara itu berbisik... "Tolong, selamatkan aku.’” Bagaimana ceritanya, yuk baca terus novelnya hingga tamat. Happy Reading
View MoreJarum jam menunjuk hampir pukul dua belas. Raina Mahesa menyelesaikan kata-kata terakhirnya di ruang siaran. Suaranya terdengar lembut, menenangkan, penuh senyum yang hanya bisa dibayangkan oleh para pendengar di luar sana.
“Baiklah pengengar setia Senada FM, itu dia lagu penutup malam ini untuk kamu yang masih setia mendengarkan. Saya, Raina, pamit undur diri. Selamat malam dan sampai jumpa di siaran berikutnya.” Lampu indikator merah on-air meredup. Raina melepas headset dengan gerakan lelah, lalu menghembuskan napas panjang. Suaranya berubah cempreng, jauh dari kelembutan saat siaran. “Fiuh… akhirnya kelar juga. beres untuk hari ini, waktunya pulang” Studio kecil itu sepi. Hanya dengung AC yang menemani. Biasanya Adrian, senior announcer akan menemaninya setiap dinas malam, sambil berbincang seputar acara acara yang mau di update. Tapi malam ini Adrian pamit lebih awal, katanya ada urusan keluarga. Jadilah Raina menutup siaran sendirian. Bukan hal baru sebenarnya, tapi tetap saja, sepi malam selalu membuat bulu kuduknya gampang meremang. Ia termasuk tipe yang penakut. Untuk menghibur diri, ia bersenandung kecil sambil membereskan playlist dan ngesave data data acara yang sudah digelar olehnya malam ini. “Kenapa sih aku selalu kebagian shift malam sendirian, hufs...Adrian malah nggak bisa nemanin pula kali ini, lengkap sudah penderitaanku” gumamnya pelan. Setelah memastikan semua beres, ia keluar studio. Koridor kantor radio itu gelap, hanya beberapa lampu menyala redup di langit-langit. Cahayanya temaram, menyisakan bayangan panjang yang seakan menempel di dinding. Raina menelan ludah. Ia paling tidak suka momen ini. perjalanan dari studio menuju mesin absen di ujung lorong. Jaraknya tidak jauh, tapi setiap kali melewatinya, nuansa horor seperti menempel di kulit, belum lagi kadang aneka suara selalu muncul tiba tiba. Ia merapatkan jaket jeansnya, lalu mulai berjalan cepat. Tumit sepatunya menimbulkan bunyi kecil yang bergema, membuat lorong terasa lebih sunyi. untuk menghilangkan gelisah dan takut, ia bersenandung pelan. Baru beberapa langkah, hidungnya menangkap sesuatu. Samar, lembut, tapi jelas. Aroma pandan. Raina berhenti. Keningnya berkerut. “Eh… bau pandan, emang siapa sih make pandan malem malem kayak gini. mau masak kue kali ya?” bisiknya. Ia menoleh ke sekitar. Pantry kantor ada di lantai bawah, dan semua makanan biasanya sudah dibereskan sore tadi. Tidak mungkin ada aroma pandan di lorong ini. "Tapi di sekitar sini nggak ada tuh yang bawa pandan. apa tetangga deket sini ya lagi ada acara buat kue untuk hajatan atau tadi ada yang bawa pandan ke kantor ya?? Berusaha menenangkan diri, ia menggeleng. “Paling bekas ada yang makan kue sore tadi,” gumamnya, meski logika itu terasa dipaksakan. Namun semakin ia melangkah, semakin kuat aroma itu. Wangi pandan menempel di udara, manis sekaligus menyesakkan. Seolah-olah ada yang baru saja mengukus kue, lalu meninggalkannya di ujung lorong. Raina memeluk tasnya erat-erat. Hatinya mulai berdebar. Klik… klik… Lampu neon di salah satu sudut lorong berkedip, lalu padam. Gelap menguasai sebagian jalur. Raina menahan napas. “Ya ampun, kenapa harus mati sekarang sih…ini lampu kok pake acara mati segala sihhhh” suaranya bergetar. Ia mempercepat langkah, matanya tertuju ke mesin absen yang terlihat kecil di ujung lorong. “Cepet, Rai, cepet. Absen, terus pulang.” sambil mencari HP di dalam tasnya. setelah ketemu ia menghidupkan penerang dari ponsel dan bergegas menyalakannya untuk menuntun langkahnya berjalan. Aroma pandan semakin tajam. Rasanya menempel di kerongkongan, membuatnya mual. Bersamaan dengan itu, bulu kuduk di lengannya perlahan berdiri. "Kenapa buku kudukku merinding. aduh ....Adrian ...tega ya kamu nggak nemenin aku, dasar pria jambu, ngomong kalau aku siaran malem mau nemenin" Udara di lorong terasa aneh. Hawa dingin dari AC bercampur dengan angin hangat yang datang entah dari mana, mendorong wangi pandan semakin pekat. Raina menggenggam kartu ID di tangannya erat-erat. Jarak ke mesin absen tinggal beberapa langkah. Tiba-tiba, di tengah kesunyian, ia mendengar sesuatu. Samar, tapi cukup jelas. Tok… tok… tok… Suara langkah kaki. Pelan. Teratur. Dari arah belakangnya. "Aaahhh ...ada suara langkah kaki, tapi siapa ..bukannya semua sudah pada pulang kan.....????" Raina menoleh cepat. Lorong kosong. Tidak ada siapa pun. Jantungnya berdegup semakin kencang. Ia mempercepat langkah. Setiap langkah terasa berat, seolah lantai menahan kakinya. Aroma pandan makin kuat. Bulu kuduknya perlahan naik lagi, seperti ada sesuatu yang berdiri tepat di belakangnya, menghembuskan wangi itu ke lehernya. Raina terengah ketika akhirnya sampai di mesin absen. Tangannya gemetar saat menempelkan kartu. Bip. Lampu hijau menyala, tanda ia sudah absen pulang. Ia ingin segera berlari keluar. Tapi pada detik berikutnya, hawa di belakangnya berubah semakin dingin. Aroma pandan begitu tajam, menusuk hidung hingga membuatnya ingin muntah. Tok… tok… tok… Raina menelan ludah. Tangannya gemetar. Aroma pandan kembali datang, samar dulu, lalu makin tajam, menusuk hidung, dan langkah itu juga makin mendekat. “Ya Tuhan… jangan bercanda, jangan sekarang. please. .jangan ganggu aku ya” Raina bergumam dengan suara serak. Bayangan gelap makin dekat. Tinggi, tegak, bergerak pelan. Raina merasa darahnya berhenti mengalir. Nafasnya jadi pendek-pendek, tak teratur. Dadanya berdentum keras. Ia refleks mundur, punggungnya segera menjauh dari mesin absen dan makin mempercepat langkahnya. Mulutnya mulai komat-kamit tanpa sadar dan berteriak. "Aaahhhhkkkk.... “Please… jangan deket-deket. Aku beneran takut. Aku masih pengen hidup… aku masih pengen nikah… punya anak… ya Allah, tolong aku. jangan tunjukin wajah mahkluk itu…aku di sini cuma mau kerja. ....” Tubuhnya gemetar parah. Bayangan itu akhirnya berhenti. “Mbak Raina?” Suara berat itu menusuk udara, nyata, manusia. Raina terkejut setengah mati. Matanya melebar, napasnya tersengal. Saat cahaya senter menyorot dari bawah, wajah itu jelas Pak Satpam. “P-Pak… Satpam, Pak Mamat?” suaranya nyaris tercekat. Satpam itu mengangguk, menurunkan senternya. “Iya, Mbak. Kenapa teriak-teriak begitu? Saya kira ada apa.” Raina masih berdiri kaku, dadanya naik turun cepat. Wajahnya pucat. “Aku … Aku kira… h-hantu…” Pak Satpam menarik napas panjang, lalu berdehem. “Astaga, Mbak. Saya cuma patroli. Masa saya dikira hantu emang hantu bisa jalan.” Raina menunduk, malu setengah mati. Lututnya gemetar, hampir roboh kalau tidak bersandar ke dinding. “Sumpah… aku kira beneran… takut karena ada suara langkah… sama bau pandan…” Pak Satpam menyipitkan mata. “Bau pandan? Mungkin pengharum ruangan atau ada yang masih pakai parfum begitu. Sudahlah, ayo saya antar ke parkiran.” Raina hanya bisa mengangguk lemah. Napasnya masih ngos-ngosan, dadanya jedag-jedug kayak mau meledak. Ia berjalan di belakang Satpam, menunduk, berusaha menenangkan diri. Tapi rasa malunya justru makin menjadi. "Astaga… tadi aku ngomong apa aja sih? Aku bilang masih mau nikah? Punya anak? Aduh, Pak satpam kira kira denger nggak ya… !" Meski begitu, rasa lega mulai masuk. Setidaknya yang tadi bukan hantu dan ia masih hidup. Mereka keluar menuju parkiran belakang. Lampu-lampu neon di sana redup, sebagian berkedip-kedip seperti mau mati. Angin malam menerpa, dingin menusuk tulang. Raina menarik napas panjang, mencoba tersenyum. “Makasih ya, Pak… udah nemenin.” “Iya, hati-hati pulang, Mbak.” Satpam itu memberi salam, lalu berjalan ke arah lain, melanjutkan patrolinya. Raina berdiri sendiri di parkiran. Tangannya sibuk mengeluarkan kunci motor. Tubuhnya masih lemas, tapi perlahan ia mulai merasa aman. Hingga ...... ***Sepuluh tahun telah berlalu sejak malam penuh cahaya di taman pandan.Dunia tampak berjalan seperti biasa matahari tetap terbit, angin tetap berhembus, dan kehidupan manusia terus melaju tanpa menyadari bahwa sebagian dari keseimbangan spiritual pernah hampir runtuh.Namun, bagi Adrian, Raina, dan gadis muda bernama Lina Mei, waktu bukan sekadar putaran hari.Waktu adalah pengingat, cermin yang hidup tentang bagaimana takdir dan jiwa saling berjalin, membawa pelajaran yang tak lekang oleh masa.Lina Mei kini beranjak dewasa. Wajahnya memantulkan ketenangan yang aneh perpaduan antara kelembutan masa kini dan kebijaksanaan masa lampau.Ia sering terdiam di depan jendela, menatap senja, seolah mencari sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Dalam tatapannya, tersimpan kisah seribu kehidupan yang belum sempat usai.Adrian memandang gadis itu seperti melihat masa lalu yang menitis menjadi bentuk baru.Kadang, sa
Langit senja membentang di atas taman pandan, memercikkan semburat jingga yang lembut ke permukaan danau kecil di tengah taman.Udara membawa aroma melati yang menenangkan, seolah menandakan bahwa semua energi yang kacau kini kembali ke keseimbangan.Adrian berdiri di tepi danau, menatap cahaya jingga yang berpendar di atas permukaan air, bayangannya sendiri tercermin di sana bersama sosok Lina Mei yang berdiri di sampingnya.Lina Mei menatap ke arah danau, wajahnya teduh namun penuh perasaan. Ia tidak lagi membawa beban cermin yang dulu menghantui dunia mereka; tubuh dan jiwanya kini murni, membawa sebagian dari energi Mei Lin yang dulu terperangkap.Adrian merasa lega, tetapi sekaligus campur aduk, rasa damai bercampur dengan kesadaran bahwa sebagian dari perjalanan hidupnya tetap tertinggal di dunia lain.Di sisi lain, Raina berdiri beberapa langkah di belakang, memeluk bayi Mei. Senyum lembut menghiasi wajahnya.Ia sudah sepenuhn
Matahari sore memudar, meninggalkan langit yang perlahan berubah menjadi jingga gelap. Taman pandan berbisik lembut oleh angin yang menembus dedaunan.Adrian berdiri di tengah lingkaran perlindungan yang mereka bentuk, menatap cermin kecil yang kini memantulkan cahaya lembut, berbeda dari kilau gelap yang dulu menghantui rumahnya.Raina berdiri di sampingnya, bayi Mei di gendongannya, sementara Lina Mei menatap cermin itu dengan ekspresi serius namun penuh ketenangan.Adrian terdiam lama. Dalam benaknya, semua kenangan, semua kutukan, semua roh yang dulu pernah menghantui hidupnya, kembali menyeruak.Ia menatap Lina Mei, menyadari sesuatu yang selama ini tersembunyi di balik misteri cermin, sebagian jiwa Mei Lin hidup kembali dalam tubuh Lina Mei, bukan untuk membalas dendam, tapi untuk menuntaskan janji yang dulu tak sempat dipenuhi janji untuk “pulang.”“Lina… kau benar-benar… Mei Lin?” Adrian akhirny
Sore itu, taman pandan terasa lebih hening dari biasanya. Cahaya matahari yang menyisakan warna oranye lembut menyelimuti pepohonan, menembus celah-celah daun dan menari di tanah berumput.Adrian berdiri membeku, menatap sosok wanita di depannya, wanita yang sangat mirip Mei Lin, namun berpakaian modern, dan dengan ekspresi penuh ketenangan sekaligus misteri.Raina menatap dari belakang Adrian, memeluk bayi Mei dengan hati-hati.“Adrian… kau yakin dia…” suaranya terhenti, takut mengucapkan nama yang terlalu cepat.Adrian menggeleng pelan, meski hatinya sendiri berdegup kencang. Ia tidak tahu pasti siapa wanita ini, tapi ada getaran familiar yang tak bisa dibohongi getaran yang sama seperti ketika ia menatap Mei Lin dulu.Wanita itu menatap Adrian dengan mata lembut tapi tegas.“Namaku Lina Mei,” katanya. Suaranya lembut seperti alunan musik Mandarin, namun membawa ketegasan yang membuat udara di seki
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore