登入Maaf ya di bab sebelumnya Karina malah jadi Kirana, aku oleng geng tidur cuma 3 sampai 4 jam sehari huhuhuhu sehat-sehat ya kita
Kabut kuning pekat masih menempel rapat di kaca jendela lantai delapan hotel itu. Jarak pandang bahkan tidak sampai ke seberang jalan raya di bawah sana. Sera berdiri mematung di balik kaca tebal, kedua tangannya terlipat di depan dada. Cahaya matahari pagi yang seharusnya cerah hanya tampak seperti bulatan redup yang pucat, tertahan oleh asap tebal sisa kebakaran hutan.Suara gemericik air dari kamar mandi berhenti. Selang beberapa saat pintu terbuka, Rendra melangkah keluar dengan handuk kecil tersampir di lehernya. Rambutnya masih sedikit basah, dan ia sudah mengenakan celana kain hitam panjang serta kaos polos berwarna senada. Pandangannya langsung terarah pada Sera yang tak bergeming di depan jendela. Rendra mengembuskan napas pendek, lalu melangkah mendekat tanpa alas kaki.Kedua lengan kokoh Rendra melingkar di pinggang Sera dari belakang. Ia menarik tubuh istrinya perlahan hingga punggung Sera menempel di dadanya. Rendra menyandarkan dagunya di bahu Sera, ikut menatap ke luar
Malam Hari Sera berdiri mematung di balik dinding kaca kamar hotel bintang lima di lantai sepuluh. Di dalam kamar luas berlantai marmer itu, pendingin ruangan berdesing pelan, menyebarkan aroma vanila segar yang berpadu dengan udara bersih berfilter ganda. Di atas meja nakas, teko porselen berisi teh hangat dan piring buah potong tersaji rapi tanpa cela. Namun, di luar sana, pemandangan kota Kalinaya tampak abu-abu pekat dan mencekam. Lampu-lampu jalan raya di bawah hanya tampak seperti titik-titik kuning pudar yang nyaris padam tertelan kabut asap tebal. Sera meletakkan telapak tangannya di permukaan kaca yang dingin. Napasnya menghela berat, bahunya turun seraya menundukkan kepala. Di telinganya, suara tangisan serak bayi berusia tiga bulan dan batuk parah anak-anak yang dia temui siang tadi masih berdengung jelas. Suara langkah kaki pelan terdengar mendekat. Rendra yang baru saja selesai membersihkan diri melangkah menghampiri Sera. Rendra berhenti tepat di belakang Sera
Roda pesawat kepresidenan menyentuh landasan pacu dengan guncangan halus. Begitu pintu kabin terbuka, aroma sangit langsung menyusup masuk, menusuk hidung dan membuat tenggorokan terasa kering seketika. Evan melangkah maju, menyerahkan dua masker respirator N95 berwarna putih kepada Rendra dan Sera. "Silakan dipakai sebelum turun, Pak, Nona Sera. Indeks kualitas udara di luar sudah menyentuh angka berbahaya." Sera segera mengaitkan tali elastis masker ke belakang kepalanya, menekan klip aluminium di pangkal hidung agar menutup rapat. Ia melangkah menuruni tangga pesawat di samping Rendra. Pemandangan di sekeliling bandara tampak suram. Jarak pandang tidak lebih dari lima puluh meter, gedung terminal dan deretan pohon palem di kejauhan hanya tampak seperti siluet kelabu yang kabur tertelan kabut asap tebal kekuningan. Mata Sera terasa perih hanya dalam beberapa detik terpapar udara luar. Iring-iringan kendaraan dinas berpelat khusus sudah bersiaga di bawah tangga. Tanpa mem
Sinar matahari pagi yang menembus tirai kaca kamar utama jatuh tepat di atas selimut tebal. Rendra membuka kelopak matanya perlahan. Udara sejuk pendingin ruangan menyapa kulitnya saat ia mengubah posisi tidur menghadap ke samping. Di sebelahnya, Sera masih tertidur pulas dengan napas teratur.Rendra mengulurkan tangannya, lalu mengusap lembut lengan atas Sera yang terbalut piyama katun tipis. Gerakan jemarinya pelan dan berulang, berusaha tidak mengagetkan wanita itu."Sera..." bisik Rendra dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.Sentuhan hangat itu membuat bulu mata Sera bergerak-gerak pelan. Kelopak matanya mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya terbuka sempurna. Sera menoleh, menatap wajah suaminya yang sudah tersenyum tipis tepat di depannya."Pagi, Mas," gumam Sera seraya menarik selimut lebih tinggi hingga sebatas dada."Pagi," balas Rendra seraya kembali mengusap lengannya pelan. "Hari ini kamu mau ikut denganku?"Kening Sera berkerut samar. Rasa kantuknya perlahan
"Tadi sore aku langsung marah-marah dan menuduh Mas yang tidak-tidak tanpa berpikir panjang," ucap Sera seraya meremas bantal di pangkuannya. Rasa panas merayap cepat ke kedua pipinya. "Pasti Mas Rendra sekarang berpikir kalau aku ini wanita yang gampang dihasut orang lain. Aku cuma termakan cemburu buta sampai lupa memakai akal sehatku sendiri. Padahal Mas sudah bilang dari awal kalau Sofia itu orangnya seperti apa."Rendra terdiam mendengarkan penuturan itu. Pandangannya tidak lepas dari ekspresi Sera yang tampak begitu menyesal dan gelisah. Perlahan, garis-garis tegas di wajah Rendra memudar. Sudut bibirnya berkedut menahan tawa kecil sebelum akhirnya seulas senyuman hangat merekah di wajahnya.Sera yang mendengar hembusan napas geli dari Rendra lekas mendongak dengan bibir mengerucut. "Mas Rendra kok malah tertawa? Aku ini sedang bicara serius."Rendra mengulurkan kedua tangannya, menarik bantal kecil dari pangkuan Sera lalu meletakkannya ke sisi ranjang. Ia meraih kedua telapak t
Satu jam kemudian, di sebuah restoran privat. Sofia duduk di salah satu sudut meja bundar dengan cangkir teh yang mengepul di depannya. Sesekali melirik pintu masuk dengan sorot mata penuh antisipasi. Di benaknya, rencana tadi siang pasti sudah bekerja. Sera yang masih muda dan lugu pasti menangis di hadapan Rendra, dan Rendra yang panik pasti terpaksa datang menemuinya untuk menyelesaikan masalah ini. Apalagi saat Evan berkata ingin bertemu, ia langsung menyetujuinya begitu saja. Bunyi lonceng kecil di atas pintu masuk kafe berdentang pelan. Sofia seketika menegakkan punggungnya, dagunya terangkat tinggi dengan senyum kemenangan yang mulai terbit di bibirnya. Namun, senyum itu membeku di detik berikutnya saat matanya menangkap sosok yang melangkah masuk. Bukan Rendra, melainkan Evan yang berjalan santai menuju mejanya. Sofia menahan napas sejenak, guratan kecewa dan amarah sekilas melintas di wajahnya sebelum ia buru-buru menyembunyikannya di balik topeng ketenangan yang kaku







