เข้าสู่ระบบSera tidak langsung menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menatap lekat manik mata adiknya, lalu menganggukkan kepala perlahan dengan guratan wajah yang tegas."Ayo masuk ke dalam. Kita bicara di dalam saja," ucap Sera seraya menunjuk pintu depan rumah dengan dagunya.Arkan menghela napas pasrah, menundukkan pandangannya seraya meletakkan helm di atas jok motor. Sera kemudian berbalik, menoleh ke arah Lana dan Deo yang masih berdiri tegak di dekat pintu mobil dengan sikap waspada."Lana, Deo, kalian berdua ikut masuk saja ke dalam," ujar Sera lembut seraya melambaikan tangannya pelan. "Tidak perlu berjaga di luar seperti itu, cuacanya panas. Duduk di ruang tamu saja.""Baik, Nona Sera," sahut Deo dan Lana hampir bersamaan seraya mengangguk patuh.Mereka berempat akhirnya melangkah beriringan melewati pintu teras yang terbuka. Begitu kakinya menjejak lantai ruang tamu yang beralas karpet sederhana, Arkan berbalik menghadap kakaknya. Pemuda itu melirik sekilas ke arah Deo dan Lana yang mu
Sera yang menangkap arti tatapan saling melempar pandang antara suaminya dan Evan langsung membuka suara. Sudut bibirnya terangkat tipis untuk meredakan kecemasan di ruangan itu."Tenang saja, Mas. Aku tetap tahu batas kok," ucap Sera meyakinkan seraya memandang suaminya lurus.Rendra menghela napas tipis lalu mengangguk singkat. Sera melangkah mendekat, meraih tangan kanan Rendra untuk mencium punggung tangannya dengan takzim. "Aku pamit pergi dulu ya, Mas.""Hati-hati di jalan. Jangan terbawa emosi saat bicara dengan Arkan," pesan Rendra lembut seraya membalas remasan tangan sang istri.Sera berbalik dan melangkah keluar menuju pelataran istana. Di sepanjang koridor, jemarinya terus bergerak mengetik balasan pesan singkat dari Erika. Sahabatnya itu sejak tadi tiada henti mengeluh lewat pesan teks, mengaku kepalanya hampir pecah memikirkan situasi yang ada. Pasalnya, Deo sudah berjanji akan memberanikan diri menemui papanya. Namun gara-gara berita heboh itu mencuat, papanya kini mala
Ratu bukannya tidak tahu soal berita yang menghebohkan publik pagi ini. Tengah malam tadi ia sempat terbangun dari tidur, iseng membuka ponsel lalu menjelajahi media sosial, dan langsung menemukan artikel serta foto-foto itu berseliweran di linimasanya. Pandangan Ratu beralih dari ujung karpet menuju layar tablet yang baru saja dilempar kasar oleh ibunya. Gadis itu menarik napas pelan, lalu menyandarkan punggungnya ke sofa tanpa rasa gentar sedikit pun. "Kenapa sih, Ma, ribut sekali sepagi ini?" keluh Ratu seraya memutar bola matanya malas. "Mana mungkin aku berkencan dengan pria seperti pengawal pribadi Sera? Itu cuma berita ngaco yang dibesar-besarkan media saja." Dada Sintia kian naik-turun mendengar jawaban santai putrinya. Sorot matanya menatap tajam ke arah Ratu. "Kalau memang berita itu ngaco, kenapa bisa sampai muncul foto dan narasi memalukan seperti ini di internet?!" "Ya mana aku tahu, Ma," sahut Ratu ketus seraya mengibaskan tangannya pelan. "Jangan tanya ke aku. T
Rendra menggeleng pelan, raut wajahnya tampak mengeras menatap layar ponsel yang kini berada di tangan Sera. "Aku belum tahu persis apa yang sebenarnya terjadi."Sera menurunkan ponsel itu ke pangkuannya, keningnya berkerut cemas seraya menatap profil samping suaminya. "Apa Pak Evan belum melapor soal berita heboh ini ke Mas Rendra?""Belum," sahut Rendra pendek seraya meraih kembali ponselnya dari genggaman Sera. Jemarinya mengetuk layar cepat. "Aku baru saja mengirim pesan padanya, tapi belum dibaca. Kemarin Evan bilang sedang tidak enak badan, jadi mungkin jam segini dia masih tidur karena pengaruh obat."Sera menggeser duduknya, menatap Rendra lekat-lekat dengan rasa penasaran yang kian memuncak. "Lalu Mas Rendra dapat info dari mana sepagi ini? Apa Mas tadi tidak sengaja membuka portal berita?"Rendra mengangguk pelan seraya melirik sekilas ke arah istrinya. "Iya. Tadi saat membuka ponsel, notifikasi beritanya langsung muncul di beranda." Rendra menarik napas pendek, lalu mengges
Erika dan Deo melangkah cepat membelah keremangan taman, mempercepat ayunan tungkai mereka ke arah bangku di bawah pohon rindang. Tanpa membuang waktu sedetik pun, Erika langsung menghambur ke depan dan melingkarkan kedua tangannya ke leher Arkan, memeluk anak laki-laki itu dari samping.Arkan tersentak kaku, nyaris berseru heran, namun bisikan cepat Erika di samping telinganya seketika menahan suaranya di tenggorokan."Diam dan jangan bergerak aneh. Ada orang di ujung jalan yang sedang memata-matai kalian berdua."Ratu yang sempat melotot kaget melihat seorang wanita tiba-tiba muncul dan merengkuh Arkan begitu saja, baru hendak membuka mulut untuk memprotes. Namun, Deo sudah lebih dulu berdiri tegap sedikit membelakangi arah mobil penguntit, bersedekap seraya menundukkan pandangan ke arah sepatunya sendiri. Pria itu berbicara dengan bibir yang nyaris tak bergerak, bergaya seolah-olah ia tidak sedang berkomunikasi langsung dengan adik presidennya."Nona, ada seseorang di dalam mobil s
Sementara itu di sebuah taman kota yang temaram, Erika dan Deo duduk berdampingan di atas bangku kayu panjang. Embusan angin malam terasa cukup dingin, namun Erika tampak gelisah seraya meremas kedua tangannya di atas pangkuan.Erika menoleh ke samping, menatap profil wajah Deo yang tenang. "Deo, sebenarnya ada hal penting yang harus kukatakan padamu," buka Erika dengan suara tertahan.Deo menoleh pelan, menatap kekasihnya dengan kening terangkat sedikit. "Ada apa, Erika?"Erika menarik napas dalam-dalam sebelum berucap jujur, "Anak Pak Wapres berniat melamarku ke Papa."Deo tidak langsung bersuara. Pria itu hanya terpaku menatap wajah Erika yang tampak cemas."Tapi tenang saja, Deo," lanjut Erika cepat-cepat seraya memegang lengan jaket Deo. "Besok aku akan jujur ke Papa. Aku akan bilang kalau aku menolak lamaran itu karena aku sedang menjalin hubungan denganmu."Alih-alih merespons lega, Deo justru mengunci mulutnya rapat-rapat. Pria itu menurunkan pandangannya ke arah tanah berbatu







