INICIAR SESIÓNSehari sebelum pernikahan, Nora Bennett membatalkan pernikahannya setelah memergoki tunangannya bercinta dengan sahabatnya sendiri. Tidak bisa menerima kenyataan, Nora mengalami depresi hingga berkali-kali ingin mengakhiri hidupnya sendiri. Namun, selama setahun masa sakit hati yang membuatnya terpuruk, William Marchetti, sahabatnya selama masa kuliah justru datang memberikan pertolongan. Saat Nora menggores tangannya sendiri, William juga menggores tangannya sebanyak dua kali. Ketika Nora tidak mau makan, William juga ikut mogok makan. William dengan sabar dan setia mendampingi Nora selama setahun penuh hingga Nora akhirnya bisa bangkit dari keterpurukan dan menerima cinta William. Namun, di pagi hari setelah malam pertama mereka, ia mendengar suara dingin William yang sedang menelepon seseorang. "Lihat? Aku berhasil menikahinya. Sekarang, mana uang taruhanmu itu.”
Ver másNora menggeleng pelan."William tidak ikut."Nora menjawab dengan singkat, tidak seperti biasanya.Meskipun setelah sembuh dari depresinya Nora hampir setiap hari bersama dengan William hingga jarang berkumpul bersama orang tuanya, namun setiap kali mereka bertemu Nora hanya akan menceritakan segala sesuatu tentang William.William begini.William begitu.Tiba-tiba, hari ini putri mereka tampak enggan saat menyebut nama William.Elena sedikit mengerutkan keningnya dan bertanya dengan hati-hati, "Kalian bertengkar?"Nora terdiam, namun tidak menyangkal."Mom, Dad... aku ingin mengatakan sesuatu."Pengakuan Nora membuat Sergio dan Elena saling menatap, wajah mereka dipenuhi kekhawatiran.Namun, mereka tidak ingin mendesak putri mereka. Melihat wajah murung Nora sudah cukup membuat mereka sedih."Kita makan malam dulu, baru cerita, oke?""Ayahmu benar, curhat juga butuh energi."Mendengar jawaban ayah ibunya, Nora pun tidak kuasa menahan tawanya.Orang tuanya paling tahu cara membuatnya
Clara melangkah mendekat, tangannya terangkat seolah ingin melayangkan sebuah tamparan keras ke pipi Nora. Nora tidak menghindar. Ia berdiri tegak, menatap lurus mata ibu mertuanya dengan sorot penuh perlawanan, siap menerima apa pun untuk membuktikan bahwa dia tidak akan membiarkan siapapun menginjak-injak harga dirinya, terutama di hadapan Zoya dan Luca. Namun, sebelum tangan Clara sempat menyentuh wajahnya, sebuah gerakan cepat terjadi di samping Nora. William dengan sigap menepis tangan sang ibu, berdiri tepat di antara Nora dan Clara. Napas pria itu memburu, sorot matanya menatap sang ibu dengan kilatan emosi yang sulit diartikan. "Cukup, Ma!" suara William memecah keheningan ruangan VVIP itu. Semua orang tertegun. Bahkan Zoya dan Luca tampak terkejut melihat William membela Nora di hadapan ibunya sendiri. Clara membelalakkan mata tidak percaya. "William! Kamu membela perempuan ini dan membentak Mama?!" William menatap Nora sekilas, lalu kembali menatap sang ibu den
William baru saja akan membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, namun Zoya lebih dulu bersuara, "Nora, jangan marah sama William. Tante Clara lah yang mengundang kami makan malam bersama hari ini." Wanita berambut pendek itu tersenyum ceria, Nora bisa melihat bahwa Zoya sangat menikmati ekspresinya yang berubah murung. Saat itu, ibu mertuanya, Clara Marchetti, ikut menatap Nora. Tatapannya tampak dingin dan tidak sabar. Padahal, Clara dulu sangat baik dan hangat kepadanya. Entah kenapa, selama setahun belakangan, sikap ibu mertuanya sedikit berubah. Sekarang, setelah melihat Zoya yang tampak begitu akrab dengannya, Nora seketika paham dengan perubahan ibu mertuanya. Tanpa sadar, sudut bibir Nora terangkat sedikit, menyunggingkan senyuman tipis penuh sindiran. "Nora, duduklah. Jangan menatapku dan Zoya seperti musuh. Yang lalu biarlah berlalu, kenapa kamu tidak bisa melepaskan masa lalu?" "Tante Clara benar. Dan lagi, biar ku ulangi, kalau nggak ada kejadian hari itu,
Keesokan harinya, Nora terbangun lebih awal dari biasanya. Di sampingnya, William masih terlelap dalam posisi telentang. Lengan kokoh pria itu sedikit bergeser dari pinggang Nora. Wajah tidur William tampak begitu damai dan polos. Tidak akan ada yang menyangka bahwa pria yang begitu terang-terangan menunjukkan cintanya pada Nora, memanjakannya tanpa batas, ternyata melakukan sebuah taruhan dengan nominal yang bahkan lebih murah dari harga jam tangannya. Nora menatap suaminya itu lama sekali, lalu sebuah pertanyaan keluar dari bibirnya. "Kenapa, Will?" Nora mengulurkan tangannya, hendak menyentuh wajah William, namun akhirnya ia menarik tangannya kembali. Cintanya pada William belum mati, namun rasa kecewanya sudah cukup untuk mengubur rasa cinta itu sendiri. Dengan sangat hati-hati, Nora menyingkirkan selimut dan beranjak turun dari ranjang. Ia bergerak tanpa menimbulkan suara sedikit pun, mandi dengan cepat, lalu mengenakan pakaian rapi berupa blazer krem dan celana panja












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.