登入Like, komen, vote gem buat Presiden kita :)
Sera perlahan memutar tubuhnya, masih dalam posisi berjongkok. Nampak siluet tinggi tegap itu berdiri membelakangi cahaya lampu lorong. Sera mengerjapkan matanya yang sembap, membiarkan sisa air mata jatuh ke pipinya. Ia tertegun, bibirnya kelu dan seluruh syarafnya seolah lumpuh. "Apakah ini halusinasi?" batinnya ragu. Dua malam tanpa tidur dan tekanan mental yang luar biasa membuat Sera merasa kewarasannya sedang diuji. Bayangan itu tampak terlalu nyata untuk menjadi sekadar bunga tidur, namun terlalu mustahil untuk menjadi kenyataan baginya. "Kenapa diam saja?" Pria itu melangkah maju, perlahan menampakkan wajahnya yang tampak lelah namun tetap memiliki gurat ketegasan yang sama. "Bukankah akan jauh lebih nyaman jika kamu menangis di kamar, daripada di tempat berdebu seperti ini?" "Mas... Rendra?" Suara Sera nyaris hilang, berubah menjadi gumaman lirih yang gemetar. Rendra menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman tipis yang sangat langka. Melihat senyum itu, pertaha
Marsekal Pertama Aditya tidak memedulikan pertanyaan Sofia yang mendesak. Ia justru memacu langkahnya, berlari menyusuri koridor yang panjang dengan napas memburu. Sofia yang tidak mau kehilangan informasi sedetik pun, segera ikut berlari mengekor di belakang sang Marsekal. Di lobi utama, Sera baru saja hendak melangkahkan kaki masuk ke dalam mobil yang sudah dibukakan pintunya oleh Deo. "Ibu Negara! Tunggu, Ibu!" teriak Marsekal Aditya dari kejauhan. Sera tersentak, gerakannya membeku. Ia berbalik dengan jantung yang berdegup kencang, menatap sang Marsekal yang tampak terengah-engah di depannya. "Baru saja kami menerima sinyal transmisi satelit dari tim taktis di lapangan," ucap Aditya sembari mencoba mengatur napasnya. "Kabar dari Amartapura, Ibu. Bapak Presiden dan seluruh tim pengawal dalam kondisi selamat. Mereka saat ini berada di posisi aman." Seketika, seluruh beban yang menghimpit dada Sera seolah luruh. Ia merasa lututnya lemas, jemarinya yang menggenggam pintu mobi
Mobil hitam yang membawa Sera meluncur membelah jalanan protokol dengan kecepatan tinggi. Lana dan Deo tidak banyak bicara, mereka bisa merasakan aura dingin dan ketegangan yang memancar dari kursi belakang. Begitu sampai di kompleks perkantoran Sekretariat Militer Kepresidenan, Sera tidak menunggu pintu dibuka. Ia turun dengan langkah lebar dan berjalan melewati penjagaan ketat tanpa bicara. Para petugas di lobi terperangah. Mereka mengenali wajah itu—Ibu Negara yang biasanya tampil lembut dan bersahaja, kini datang dengan tatapan mata yang sanggup membekukan udara. Tanpa memedulikan prosedur administrasi yang berbelit, Sera langsung menuju lantai atas, menuju ruangan Marsekal Pertama, sang Sekretaris Militer. Begitu pintu terbuka, Sera tertegun sejenak. Di dalam ruangan, Sofia sudah berdiri di depan meja besar, tampak sedang mendiskusikan sesuatu yang sangat serius. "Tentu saja dia pasti juga sedang mencari informasi," batin Sera. Sebagai juru bicara kepresidenan, Sofia m
Eyang Utari menghela napas panjang, tatapannya menyiratkan kelelahan yang amat sangat. Ia mengeratkan genggamannya pada tangan Sera yang masih sedingin es. "Sera," suaranya merendah, hampir seperti bisikan rahasia di tengah keheningan kamar. "Kemarin, aku mendapati Sintia mengganti aromaterapi di kamar ini. Dia menaruh zat berbahaya di dalamnya—sesuatu yang jika kau hirup terus-menerus, akan merusak kesehatanmu, bahkan rahimmu." Sera tersentak, kelopak matanya bergetar hebat. "Untuk menetralkannya, aku harus memastikanmu tidur sangat nyenyak agar sistem tubuhmu melakukan pembersihan alami dan efek obat itu tidak merasuk lebih jauh. Itulah alasan teh herbal itu kuberikan," lanjut Eyang Utari sembari mengusap punggung tangan Sera. "Dan hari ini, aromaterapi itu sengaja kuganti dengan yang lain, agar tidak ada lagi racun yang mengganggumu. Aku tidak sedang mencelakaimu, Nak." Sera terdiam seribu bahasa. Lidahnya terasa kelu mendengar kenyataan bahwa ibu mertuanya sendiri berniat
Sera menatap layar ponselnya yang kini menggelap dengan tangan yang gemetar hebat. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat suara ledakan tadi terus terngiang, memekakkan telinga sekaligus menghancurkan pertahanannya. Ia mencoba mendial kembali nomor Rendra. Sekali, dua kali, lima kali—hanya suara operator dingin yang memberitahu bahwa nomor itu berada di luar jangkauan. "Mas... angkat, Mas. Tolong angkat," bisiknya parau, air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya yang pucat. Sepuluh menit yang terasa seperti berabad-abad itu tiba-tiba dipecah oleh suara gedoran keras di pintu kamar. Suara itu kasar, penuh amarah, dan tidak sabaran. "Sera! Buka pintunya! Sera!" Suara Sintia. Sera segera menghapus air matanya kasar dan berlari membuka pintu. Namun, baru saja daun pintu itu terbuka sedikit, sebuah hantaman keras mendarat di pipi kirinya. PLAK! Sera terhuyung ke samping, rasa panas menjalar di wajahnya seiring dengan bunyi denging di telinga. Di ambang pintu, Sintia b
Jemari Sera yang sedikit gemetar meraih tombol daya, menekan dengan mantap hingga pendar lampu kecil dan desis uap tipis dari difuser itu padam seketika. Ia tidak lagi bisa membedakan mana bantuan dan mana ancaman. Keraguan kini merayap, menyelimuti pikirannya terhadap siapa pun yang berada di bawah atap Mansion Narrottama. Bahkan kepada Eyang Utari yang selama ini menjadi satu-satunya tempat ia merasa aman, Sera mulai membangun benteng. Sera beranjak menuju ranjang, menjatuhkan tubuhnya di tepian kasur sembari menggenggam ponsel. Matanya tertuju pada layar hitam yang membisu, berharap ada satu baris pesan atau kabar dari Rendra. Sera melirik televisi layar datar yang tergantung di dinding kamar. Tangannya sempat meraih remote, ingin sekali menyalakan berita untuk mencari tahu perkembangan situasi di Amartapura, namun keraguan menahannya. Ia takut jika layar itu justru akan menampilkan gambar yang menghancurkan hatinya. Keheningan malam terasa begitu mencekam. Sera terdiam cuku







