FAZER LOGIN“Jika aku tahu kau akan pergi selamanya, aku tidak akan pernah meragukanmu, Naomi.” Namun penyesalan Mayor Raiden datang terlambat. Difitnah berselingkuh dan dikhianati oleh suaminya sendiri, Naomi memalsukan kematiannya dan memulai hidup baru bersama putrinya. Lima tahun kemudian mereka bertemu lagi di wilayah konflik. Raiden tidak mengenali istrinya yang telah mati, tetapi terus tertarik pada dokter dingin yang kini menjadi identitas baru Naomi. Masalahnya, putri kecil Naomi memiliki mata yang sama dengan Raiden. Saat kebenaran mendekat, Naomi harus memilih untuk mempertahankan kebebasannya atau kembali pada pria yang dulu menghancurkan hatinya.
Ver mais"Nyonya Naomi Vargas, istri yang dicintai oleh suaminya, Mayor Raiden Vargas, kini telah berpulang.”
Naomi hampir tertawa. Refleks, Naomi menutup mulutnya sendiri dengan tangan bersarung hitam. Suara kecil itu nyaris lolos sebelum dia berhasil menelannya kembali. Dicintai? Sejak kapan? Angin siang berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan bunga kamboja yang berjatuhan di sekitar kompleks pemakaman militer. Pemimpin upacara mengucapkan kata itu dengan begitu yakin. Seolah dia memang hadir di setiap sudut pernikahan Naomi dan menyaksikan sendiri betapa agungnya cinta seorang Mayor Raiden Vargas kepada sang istri. Naomi tahu lebih baik dari itu. Orang memang baru akan disanjung ketika sudah tidak bisa lagi membantah. Ketika sudah tidak bisa lagi menceritakan sisi lain dari kisah yang selama ini hanya mengalir satu arah. Namun ketika Naomi hidup, mereka sibuk mencari kesalahan, menghina, dan memojokkannya. "Nona, tolong pelankan suara Anda," tegur pria jangkung di sebelahnya. Naomi sedikit memiringkan kepala, menatapnya dari balik kacamata hitam. "Mereka tidak akan mendengarku," balas Naomi sambil mengernyitkan dahi, tidak terima ditegur. "Jarak kita dengan area upacara sangat jauh. Lagipula, kenapa aku tidak boleh sedikit saja bersuara di pemakamanku sendiri?" Pria itu melirik sekilas, berdeham, lalu kembali menatap ke depan. Ke arah para prajurit berseragam hijau tua yang bersiap membawa peti mati. Naomi memandang peti itu dari kejauhan. "Aku ingin melihat lebih dekat," tukas Naomi. "Tunggu, Nona." Pria itu sigap menghadang sambil menyodorkan masker. "Tolong pakai ini dulu." Naomi mengambilnya tanpa banyak bicara. Jas panjang hitam. Sepatu boots hitam. Topi lebar yang menutupi separuh wajah. Masker dan kacamata yang menyembunyikan wajahnya. Pria itu membantu merapikan kerah jas. Sementara Naomi menyelipkan rambut hitam panjang kesukaan Raiden ke dalam lipatan kain jas. Sempurna. Naomi siap berbaur dengan lautan manusia yang sedang berlomba-lomba membuktikan bahwa mereka memiliki empati. Naomi membelah kerumunan dengan tenang. Di sekitarnya, suara isak tangis bercampur dengan bisik-bisik mulai terdengar. "Naomi mati dalam keadaan hamil delapan bulan," ucap seorang wanita tepat di depannya. "Kasihan sekali. Padahal sebentar lagi anaknya lahir," sahut wanita di sebelahnya. "Mayor Raiden sudah menunggu anak itu selama tiga tahun." Naomi tersenyum di balik masker. Menunggu? Tangan Naomi terangkat tanpa sadar, mengusap perutnya yang kini rata. Benar. Tiga tahun Raiden menunggu keturunan yang tidak kunjung hadir. Dan Naomi tahu persis bagaimana rasanya menanggung beban penantian itu. Beban yang tidak pernah terasa adil dan selalu berakhir dengan jari-jari telunjuk yang hanya mengarah ke satu arah saja, pihak perempuan. Naomi ingat siapa kedua wanita ini. Istri perwira yang juga merupakan tetangga di kompleks perumahan dinas, tempat di mana dulu Naomi dan Raiden tinggal bersama. Saat rumor bahwa kandungan Naomi bukanlah anak Raiden mulai beredar, mereka berdua ada di barisan terdepan. Mereka menyebutnya istri licik. Wanita yang memanfaatkan seragam suaminya untuk menutupi aib. Sekarang mereka berdiri di sini dengan mata berkaca-kaca. Naomi mengepalkan tangan di dalam saku jas. "Suamiku sempat melihat jasad Naomi," bisik suara lain. Naomi menoleh. Istri Letnan Kolonel. Wanita dengan jabatan sosial tertinggi di antara mereka, dan karena itu pula merasa paling berhak atas setiap informasi yang beredar. "Bagaimana jasadnya?" tanya Naomi, memaksakan diri masuk ke dalam percakapan itu. Ketiganya menoleh hampir bersamaan. "Maaf, Anda siapa?" Istri Letnan Kolonel menelusuri Naomi dari atas ke bawah, penuh penilaian. Naomi sadar penampilannya mencolok. Di antara lautan seragam hijau tua dan abu-abu formal, hanya dia yang hadir dengan serba hitam. "Keluarga jauh Naomi," jawabnya singkat. Mereka mengangguk. Naomi mengira percakapan akan berhenti di sana. Namun rupanya standar moral mereka memang tidak pernah setinggi yang Naomi bayangkan. "Bengkak, tidak berbentuk, dan hampir mustahil dikenali," kata istri Letnan Kolonel penuh penekanan. "Bahkan DNA dalam jasad sudah tidak bisa dicek karena sudah membusuk. Suamiku sampai muntah-muntah saat melihatnya." Kedua temannya bergidik. Salah satunya menutup mulut dengan tangan. "Lalu bagaimana Mayor Raiden bisa mengenali jasad itu sebagai istrinya?" tanya Naomi tanpa menunjukkan ekspresi apa pun. "Kehamilannya yang sudah besar, tentu saja." Istri Letnan Kolonel mengangkat bahu. "Naomi cukup beruntung karena mati dalam keadaan hamil besar, jadi jasadnya masih bisa dikenali." Naomi terpaku. Kata itu menghantam Naomi lebih keras dari semua cibiran semasa hidup. Perut rata Naomi mendadak terasa kram hingga wajahnya memucat. Naomi tidak sanggup bergerak. Dia tidak sanggup mengikuti obrolan ketiga wanita yang berdiri di depannya dengan wajah tanpa rasa bersalah. Wanita-wanita yang bisa menyebut kematian seorang ibu hamil sebagai sebuah keberuntungan. "Mayor Raiden kehilangan istri dan anak sekaligus. Aku tidak bisa membayangkan betapa hancurnya dia," ucap salah satu dari mereka sambil menggeleng pelan dan menghela napas dramatis. “Ya, Mayor Raiden adalah sosok suami yang setia dan pandai menutup aib istrinya,” sahut yang lain. Kepalan tangan Naomi semakin erat di dalam saku. Kuku-kukunya menggores telapak tangannya sendiri. Apakah Raiden benar-benar hancur? Naomi tersenyum pahit sambil menahan kram di perutnya. Apakah mereka pernah melihat wajah Raiden ketika dia menatap Naomi penuh kecurigaan? Apakah mereka pernah mendengar bagaimana Raiden bertanya siapa ayah dari bayi yang Naomi kandung? Tentu tidak. "Mayor Raiden! Mayor Raiden tiba!" Teriakan itu memecah kerumunan seperti kilat. Semua kepala menoleh ke arah gerbang. Napas Naomi tercekat. Seluruh tubuh Naomi menegang. Jantungnya berdegup tidak karuan. Bukan karena takut atau pun rindu, tetapi karena sesuatu yang sudah lama Naomi pendam tiba-tiba berdesak-desakan mencari jalan keluar dan tidak menemukan satu pun celah yang cukup besar. Perlahan, Naomi menoleh. Di sudut pemakaman itu, di bawah cahaya siang yang tidak kenal belas kasihan, Raiden berdiri. Raiden berdiri tegap sambil mengangkat dagunya. Dan wajah yang pernah dihapal Naomi hingga ke setiap lekuk terkecilnya itu, memakai ekspresi yang sudah sangat dia kenal. Ekspresi Mayor Raiden Vargas saat menjalankan tugas. Bukan seorang suami yang sedang mengantar kepergian istri tercinta untuk selamanya. Di belakang Raiden, peti mati Naomi perlahan diletakkan di atas tanah. Angin bertiup. Bunga-bunga karangan layu bergerak pelan. Dan Naomi berdiri di sana, memandang pria yang dulu dia sebut suami dengan pertanyaan yang tidak akan pernah bisa dijawab oleh upacara pemakaman semewah apa pun. “Apakah kamu pernah benar-benar melihatku, Raiden?Atau kamu baru bisa melihatku sekarang, ketika aku sudah tidak ada?”“Ya.” Vance menjawab tanpa ragu sedikit pun. “Lihat saja nanti di persidangan, Nao. Insting Papa jarang meleset.” Naomi terdiam. Ucapan Vance membuat satu potongan ingatan yang selama ini terkubur tiba-tiba muncul kembali. “Dia lumayan hebat di ranjang, meski memiliki wajah yang polos. Tapi sayang, sekarang kami sudah tidak bisa melakukan itu lagi,” ungkap Dante saat itu. Mata Naomi perlahan membelalak. “Jadi, wanita yang dia maksud adalah Lucy?” gumam Naomi lirih. Ruangan mendadak sunyi. Naomi memejamkan mata sejenak. Semua kepingan yang selama ini tercerai-berai perlahan mulai menyatu. Dante mengetahui identitas aslinya sebagai Naomi, padahal informasi itu hampir tidak diketahui siapa pun. Naomi mengembuskan napas panjang. “Lucy yang memberitahunya,” bisik Naomi pelan. Vance menatap putrinya tanpa menyela. Kini semuanya terasa jauh lebih masuk akal. Hampir dua minggu setelah Naomi keluar dari rumah sakit, persidangan Dante akhirnya dimulai. Naomi datang
Sore itu, Raiden mengantar Tasya pulang ke rumah. Begitu mobil berhenti di halaman, Raiden turun lebih dulu. Dia membukakan pintu untuk ibunya, lalu berjalan mengantarnya sampai ke teras. “Aku harus berangkat lagi, Ma,” ujar Raiden sambil melirik mobilnya. Tasya yang sedang mencari kunci rumah menoleh. “Berangkat?” Kedua alis wanita paruh baya itu terangkat. “Bukannya kamu masih mendapat izin menjaga Nicolle?” “Masih.” Raiden mengangguk. “Tapi ada tugas pengganti di Markas Besar selama aku tidak berada di garis depan.” “Markas Besar?” “Iya.” Senyum tipis muncul di bibir Raiden. “Ada perintah langsung dari atasanku.” Raiden mengembuskan napas pelan. “Sepertinya ...” Pria itu terkekeh kecil. “Aku mulai dipercaya lagi. Kali ini tanpa bantuan siapa pun.” Tatapan Tasya melembut. Perlahan wanita paruh baya itu mengusap lengan putranya.
Jemari Raiden yang hangat mengusap perlahan punggung tangan Naomi yang bebas dari selang infus. “Tidak apa-apa,” jawab Raiden lembut. “Jangan terlalu dipikirkan. Kalau aku bisa kembali ke sini, berarti aku sudah mendapat izin.” “Benarkah?” Tatapan Naomi melembut. Raiden mengangguk. “Aku tidak akan meninggalkan tugasku sembarangan, Nao.” Sudut bibir Raiden terangkat tipis. Naomi tertawa pelan meski gerakan itu membuat sisi tubuhnya sedikit nyeri. “Baiklah,” jawabnya lirih. Raiden mengecup pelan punggung tangan Naomi sebelum kembali menggenggamnya. Malam itu akhirnya berlalu dengan tenang. Keesokan paginya, suara langkah kaki kecil berlari memenuhi lorong rumah sakit. “Mama!” Pintu kamar perawatan terbuka. Aveline langsung berlari menghampiri ranjang Naomi sebelum Raiden sempat mengejarnya. “P
Suara gaduh terdengar samar di telinga Naomi.“Tekanan darah turun. Cepat, pindahkan ke ruang operasi!”“Jalur infus kedua sudah terpasang!”Kelopak mata Naomi bergerak pelan.Cahaya lampu yang menyilaukan langsung menyambut Naomi. Pandangannya masih kabur. Langit-langit putih rumah sakit bergerak perlahan di atas kepalanya.Naomi merasa tubuhnya berguncang mengikuti laju brankar yang didorong cepat di sepanjang koridor.Wajah-wajah panik para tenaga kesehatan menjadi pemandangan pertama yang berhasil ditangkap matanya.“Bu? Bu, apa Anda bisa mendengar saya?”Seorang dokter berlari di samping brankar sambil menyorotkan senter kecil ke mata Naomi.Naomi berusaha menjawab. Bibirnya sedikit terbuka. Namun rasa nyeri luar biasa langsung menjalar hingga ke rahangnya.“Ugh ....”Suara yang keluar hanya erangan pelan.“Jangan dipaksa bicara,” ujar dokter itu cepat. “Kami akan menanga
Sesuatu menghimpit dada Naomi. Tatapannya masih terpaku pada pintu ruangan tempat Clara dirawat.Naomi memang belum lama mengenal Clara. Bahkan beberapa minggu lalu mereka masih saling menatap sinis hampir setiap kali bertemu.Namun sekarang, wanita itu terbaring tidak sadarkan
Raiden perlahan melepaskan pelukannya. Kedua tangan pria itu berpindah ke bahu Naomi.Tatapan mereka bertemu di bawah sorot lampu helipad yang terang.“Jangan bicara sembarangan,” pinta Raiden. “Tidak akan ada yang berani melakukan hal buruk padamu, selama kamu ada di
Naomi membeku.Sementara itu, Dante justru tertawa.“Lihat wajahmu,” gumam Dante.Jantung Naomi berdebar sangat kencang.Darah seolah mengalir mundur dari wajahnya. Tubuhnya terasa ringan sekaligus lemas.Namun bertahun-tahun hidup dalam kebohongan mem
Seakan bisa mendengar gumaman itu, Dante langsung menoleh.Tatapan mereka bertemu. Jantung Naomi spontan berdegup lebih keras.Dante melambaikan salah satu tangannya untuk menyapa. Pria itu berjalan lurus ke arah Naomi.“Nao?” Suara Raiden terdengar dari ponsel.


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
avaliaçõesMais