LOGINMenjadi model yang memiliki fisik nyaris sempurna, ternyata tak manjamin Loviana mendapat kesetiaan dari sang kekasih. Tanpa disangka, pacarnya yang selalu meratukannya bermain ranjang dengan wanita lain di depan matanya sendiri. Sebab itu Loviana menerima ajakan ayah dari sang pacar untuk melakukan hal yang sama saat itu juga. Laki-laki matang, berbadan kekar, dadanya lebar dan bidang itu rupanya mampu membuat Loviana seketika melupakan rasa sakit hatinya. Dia pun berniat untuk melanjutkan hubungannya dengan ayah sang pacar demi balas dendam. Namun, apakah Loviana sanggup melayani lelaki yang sangat brutal di atas ranjang itu?
View MoreLoviana, wanita cantik nan anggun bermata almon, yang memiliki gelar sebagai gadis terpopuler di kampusnya telah lama menjalin cinta dengan seorang lelaki tampan dan kaya raya bernama Jerry Nikcolas. Mereka dinobatkan sebagai pasangan paling serasi dan romantis di universitas tersebut. Sebab perlakuan Jerry yang selalu meratukan Loviana, dari hal-hal kecil hingga besar membuat banyak wanita ikut terpesona.
Apa pun yang diminta Loviana pasti dikabulkan oleh Jerry. Seperti saat ada jadwal pemotretan. Loviana yang merupakan seorang model, selalu meminta Jerry menemaninya hingga selesai. Tentu tak sulit bagi Jerry untuk mengabulkan permintaan itu. Sore ini, sebelum matahari terbenam, Loviana harus sudah berada di lokasi pemotretan. Tepatnya di bibir pantai Mutiara, yang lokasinya cukup jauh dari kota. Namun, sampai pukul 17.00 Jerry tak juga menjemputnya. Padahal perjalanan harus ditempuh sekitar satu jam lebih. Sudah belasan kali Loviana menekan tombol panggilan ke nomor kekasihnya itu. Akan tetapi tak ada satu kali pun panggilannya diterima. Mata almon yang indah itu telah berubah seram, merah dan berair. Alis tebalnya bertautan, keningnya bergulung. Mulut kecilnya tak henti mengomel, sesekali mengumpat. “Jerry! Ya Tuhan! Kamu di mana sih, Je? Baru kali ini aku melewatkan pemotretan.” Loviana tampak panik. Mondar-mandir di depan gerbang rumahnya Selain sibuk menghubungi Jerry, jari Loviana juga sibuk membalas chat dari kliennya yang hampir memutuskan kontrak dengannya. Untung saja Loviana mendapatkan kesempatan kedua, meski dengan kesepakatan pemotongan royalti. Drrrttt drtttt Ponsel Loviana bergetar di genggaman tangannya. Tanpa melihat layar, Loviana langsung saja mengangkat. “Jerry! Apa maksudmu! Aku sudah terlambat pemotretan! Cepat temui aku di rumah sekarang juga!” “Tunggu ....” “Ini aku Resa, Loviana.” Suara di seberang telepon ternyata suara seorang wanita. Loviana menjauhkan ponsel dari telinganya. Barulah ia baca nama yang tertera di layar. Rupanya benar, bukan Jerry, melainkan teman kampusnya. “Sorry Resa, ada perlu apa? Aku sedang sibuk,” tegasnya. “Tunggu jangan tutup dulu, Lovi! Ada suatu hal yang penting,” lanjut Resa terdengar ragu. “Sepenting apa?” Loviana mulai penasaran. Alisnya kembali naik. “Ini soal Jerry.” “Kamu tahu di mana dia sekarang? Bagus. Ayo katakan!” “Bukan. Aku tidak tahu dia ada di mana, tapi aku tahu sesuatu.” “Jangan bilang kamu juga melihat Jerry dengan wanita lain, seperti berita gosip murahan di luar sana!” “T-tapi ini benar, Lovi. Aku melihatnya sendiri di depan mataku, aku berani bersumpah. Dan aku mengatakan ini demi kebaikan kamu,” kata Resa meyakinkan. “Hahaha. Resa, sudahi halusinasimu. Aku tekankan sekali lagi. Aku tahu, banyak wanita yang tergila-gila dengan Jerry. Banyak yang mengincar harta Jerry. Jadi, banyak juga berita gosip murahan begini yang aku dengar. Tetapi nyatanya itu tidak terbukti. Jerry tetap setia padaku, dan tetap mencintai aku secara ugal-ugalan. Jadi tolong stop gosip murahan itu! Karena Jerry tidak bisa hidup tanpa aku. Dia sangat takut kehilangan aku. Hanya aku wanita yang dicintainya, mengerti?” “Serius, Lovi. Kamu dibohongi olehnya!” “Kalau sudah tidak ada lagi obrolan yang lebih penting, aku tutup teleponnya,” tegas Loviana geram. “Kali ini kamu harus percaya, aku—“ Loviana memutus panggilan tanpa mendengar penjelasan selanjutnya. Namun, Loviana tak bisa diam di rumah. Ia harus segera menemui Jerry. Sasaran pertama Loviana adalah rumah Jerry, karena teman-teman tongkrongannya mengatakan lelaki itu tak bersama mereka. Segera ia memesan taksi online. Tak lama kemudian mobil pesanannya datang. “Kompleks Diamond, rumah nomor seratus dua belas, Pak.” “Baik, Neng.” “Cepat ya, Pak!” ucap Loviana, jarinya masih sibuk menghubungi sang kekasih. “Aku yakin Jerry tertidur di rumah. Akan aku buktikan gosip murahan itu tidak benar. Jerry tidak mungkin mengkhianati aku. Dia saja tidak berani membuatku marah, kecuali hari ini. Hari ini aku benar-benar marah karena aku hampir kehilangan job besar,” gerutunya dalam hati. Meski begitu Loviana masih berpikir positif tentang Jerry. Mobil yang ia tumpangi sudah memasuki kompleks elit perumahan sang kekasih, tetapi mendadak Loviana menghentikannya. “Stop di depan, Pak!” “Loh, tidak jadi berhenti di rumah nomor seratus dua belas, Neng?” “Sampai sini saja. Terima kasih.” Loviana segera masuk ke dalam rumah Jerry yang dijaga ketat oleh body guard. Namun, mereka sudah mengenali Loviana yang merupakan pacar tuan mudanya. Mobil mewah berwarna merah elegan milik Jerry benar ada di rumah. Loviana sedikit lega. “Benar kan dugaanku. Dia pasti ketiduran. Huuh. Awas saja setelah ini akan aku beri hukuman untuk anak manja itu!” Sialnya, ada hal tak terduga yang mengejutkan Loviana, saat dirinya berada di ambang pintu kamar Jerry yang tidak terkunci. Ia melihat kekasihnya sedang bercumbu brutal di atas ranjang kamar Jerry dengan perempuan lain tanpa sehelai benang pun. Loviana menutup mulutnya yang hampir berteriak. Jantungnya berdegup sangat kencang. Kakinya perlahan mundur dari kehadiran yang tidak diketahui oleh Jerry. Loviana menutup kembali pintu kamar Jerry sembari memegang dadanya yang terasa sangat sesak. Sebagai wanita terhormat, Loviana tak mau melabrak dengan cara murahan. Meski air matanya sudah menggunduk memenuhi kelopak mata, serta tenggorokannya tercekat begitu sakit, ia mencoba tetap tenang dan mengatur emosinya agar tak meledak. Namun, saat hendak berbalik, tanpa sengaja Loviana menabrak seseorang bertubuh besar, kekar, dan wajahnya tak kalah tampan dari Jerry. Pria matang dengan mata merah akibat pengaruh alkohol itu menatapnya penuh goda. Aroma maskulin yang menguar dari pria berkulit agak cokelat dan berkumis tipis itu perlahan melemahkan jantung Loviana, yang semula berapi-api karena sakit hati. Tatapan pria yang merupakan ayah dari Jerry itu cukup lama dan dalam. Bibirnya yang sedikit gelap mendekat ke telinga Loviana. Sebuah bisikkan manis menghentikan air matanya. “Lupakan apa yang baru saja kamu lihat. Ikutlah denganku, aku akan membuatmu lebih bahagia,” ucap Nicko bersamaan dengan sentuhan tangan kekarnya yang merambah ke pinggang Loviana, lalu semakin turun dan berhenti di atas gundukan empuk itu. “Kamu sangat cantik. Aku akan mengajakmu bersenang-senang. Kamu mau?” Loviana mengangguk pelan. Bak terhipnotis oleh kalimat Nicko. Nicko mengangkat tubuh Loviana dengan sangat enteng, kemudian menjatuhkannya di ranjang kamarnya. Setelah memastikan pintu terkunci. Nicko segera melucuti pakaian gadis kecil di hadapannya. Kulit mulus Loviana terpancar cerah. Membuat hasrat Nicko semakin memuncak tak tertahankan. Tubuh Loviana benar-benar polos sekarang. Namun, ia tak memberontak apa pun. Ia pasrah dengan sentuhan-sentuhan lembut bibir Nicko yang terus menjelajahi tubuhnya. “Apakah ini baru pertama kali?” Nicko berbisik lagi sembari bermain nakal dengan tongkatnya di bawah sana. Loviana hanya mengangguk. “Tenang saja, aku tak akan membuatmu sakit. Kamu akan merasa ketagihan.” Loviana mengangguk lagi sambil menatap wajah pria matang yang berada di atasnya. “Pelan-pelan saja, Tuan. Aku tak sanggup," desahnya. Nicko terkekeh. Ia tetap melanjutkan aksinya lebih dalam. Sementara itu Loviana terus bergelinjang hebat. Sesekali ia berteriak dan menarik rambut Nicko. “Apa kau siap aku tusuk, Gadis Cantik?” “Silakan, Tuan. Aku sudah terlanjur basah.” Ia setuju. Nicko tersenyum nakal. Ia pun segera melakukannya. “Aaa. Emmh. Tuan ....” Loviana mencengkeram lengan keras Nicko yang tampak berotot. “Sakit, Cantik?”Namun Loviana masih terbawa emosi. Ia menatap wanita muda itu dengan mata tajam sebelum akhirnya menoleh kepada Nicko. Wajahnya menunjukkan rasa kesal sekaligus merasa dirinya berada di pihak yang benar.“Dia yang bikin masalah duluan, loh, Mas!” pekik Loviana dengan suara tinggi. Tangannya bahkan sempat menunjuk ke arah wanita tersebut sebelum Nicko dengan cepat menurunkannya.“Iya, iya... aku tahu,” jawab Nicko sabar sambil menghela napas. Ia sedikit membungkuk agar sejajar dengan wajah Loviana, berusaha membuat istrinya fokus kepadanya. “Sudah, dong. Kamu begini malah bisa bikin masalahnya makin besar. Ayo, ikut aku dulu.”Loviana langsung mengembungkan pipinya, ia jelas tidak puas. Perempuan itu akhirnya menyilangkan kedua tangannya di depan dada, lalu membuang wajah ke samping dengan bibir mengerucut dalam-dalam. Ekspresinya benar-benar menunjukkan bahwa ia masih kesal dan belum rela mengakhiri perdebatan begitu saja.Nicko hanya mampu menatapnya beberapa detik, ia mengenal ekspr
Di sisi lain, Nicko yang masih berada di area utama glamping perlahan mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Beberapa saat sebelumnya ia memang masih sibuk dengan urusan di sekitar tenda, tetapi semakin lama suasana di tempat itu terasa terlalu sepi. Tidak ada suara Loviana yang biasanya mudah dikenali dari kejauhan, tidak ada pula sosok mungil istrinya yang sejak pagi hampir selalu berada di sekitar pandangannya.Nicko mengedarkan pandangan ke sekeliling, awalnya ia hanya mengira Loviana sedang pergi bersama salah satu pelayan atau mungkin kembali ke kamar. Namun ketika beberapa kali ia memanggil nama istrinya dan tidak mendapatkan jawaban, firasat buruk mulai muncul. Ekspresi santainya seketika menghilang. Dahi pria itu mengernyit, sementara matanya bergerak cepat menyapu seluruh area glamping.“Loviana?” panggilnya sekali lagi.Tetap tidak ada jawaban membuat perasaan tidak nyaman langsung menjalar di dadanya. Nicko tahu betul bagaimana istrinya. Loviana bisa saja tiba-tiba
Tidak ada jawaban, Loviana menunggu beberapa detik. Tetap tidak ada jawaban dan ia akhirnya mengembuskan napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepala. Setelah rasa kesalnya sedikit berkurang, ia berbalik untuk kembali ke tempatnya. Namun baru beberapa langkah berjalan, Loviana berhenti. Ia menoleh ke belakang dengan tatapan curiga.“Jangan berisik lagi,” ancamnya sambil menunjuk tenda itu sekali lagi.Setelah memastikan tidak ada suara apa pun, Loviana kembali berjalan menuju tikarnya. Ia kemudian merebahkan tubuhnya dengan sedikit kesal, menarik napas panjang, lalu memejamkan mata.Belum sempat Loviana benar-benar duduk kembali di atas tikarnya, suara dari tenda tersebut kembali terdengar. Kali ini jauh lebih jelas dan membuat kesabaran Loviana yang memang sudah menipis sejak tadi benar-benar habis. Tubuhnya yang baru saja hendak beristirahat kembali menegang. Matanya membulat, kemudian perlahan menyipit dengan tatapan kesal. Ia menoleh ke arah tenda tersebut dengan ekspresi tidak p
Setelah menikmati ikan bakar hasil perburuan yang berakhir di luar dugaan tersebut, Loviana akhirnya merasa cukup kenyang. Wajahnya kembali ceria seperti tidak pernah terjadi kekacauan apa pun sebelumnya. Sementara Nicko masih sibuk memastikan seluruh urusan dengan pihak glamping benar-benar selesai, Loviana justru mulai merasa ingin mencari tempat yang lebih tenang untuk bersantai. Ia tidak ingin terus berada di area utama yang sejak pagi terasa cukup ramai.Tanpa banyak berpikir, Loviana mengambil sebuah tikar yang tersedia di dekat area glamping. Ia membawanya dengan kedua tangan sambil berjalan perlahan menjauh dari tenda. Beberapa bodyguard sebenarnya masih berada di sekitar kawasan tersebut, tetapi karena Loviana berjalan santai dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan melakukan sesuatu yang aneh, mereka sempat kehilangan jejak perempuan itu ketika Loviana berbelok melewati deretan pepohonan.Untuk beberapa saat, Loviana benar-benar berjalan sendirian. Ia menyusuri jalur kecil yan
Dalam hati Jerry bertanya-tanya, dari mana Loviana mendapatkan semua bukti itu? Bahkan selama ini Loviana tak menaruh curiga padanya. Hubungan mereka baik-baik saja. Tak ada pertengkaran serius. Oleh sebab itu, kejadian ini membuat Jerry seperti tersambar petir di siang bolong. Tak ada angin, tak a
“Katakan syaratmu itu, aku akan mengabulkannya.”Loviana menegapkan dada, mengangkat wajah, meluruskan pandangannya pada bola mata Nicko.“Syarat yang pertama. Saat ini hatiku belum mencintai Anda. Dan masih ada sisa rasa dari cinta yang dulu, dari putramu Jerry. Jika dalam waktu dua puluh delapan
“K-kamar? D-dia ada di sini?” Dengan langkah gemetar Loviana mendekat ke jendela. Ia singkap sedikit tirai putih itu. Matanya langsung tertuju pada sebuah mobil hitam mewah yang terparkir di bawah sana. Namun, ada yang membuatnya lebih terkejut. Tak hanya ada Nicko di sana. Melainkan sederet mobil
Tengah malam, dering ponsel mengagetkan Loviana. Dia terbangun dengan terperanjat. Loviana memandangi tubuhnya sendiri yang hanya terbalut selimut. Tak ada satu pakaiannya pun yang melekat. Pikirannya agak kacau. Kepalanya sedikit pusing. Ia acak wajahnya kasar setelah teringat apa yang baru saja












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews