LOGINEvan mengembuskan napas pendek lewat hidung, mencoba bersikap jujur di hadapan pemimpin tertinggi Iraya ini. "Saya merasa Anda seolah-olah sedang menaruh rasa curiga yang sangat besar kepada saya dan Pak Syaki, hanya karena fakta kekerabatan kami," ungkap Evan, mengutarakan isi hatinya yang mengganjal. Mendengar keberanian dari ajudan kepercayaannya itu, Rendra menyunggingkan seulas senyuman miring yang terkesan sangat dingin di sudut bibirnya. Ia tidak mencoba berkelit atau menyembunyikan fakta yang ada. "Aku memang menaruh rasa curiga kepadamu, Van. Aku tidak akan menampik hal itu," aku Rendra jujur dengan nada suara yang teramat tenang namun menusuk. Evan terdiam selama satu detik, rahangnya tampak mengeras di depan kemudi. "Saya bisa membuktikan kepada Anda, bahwa saya sama sekali tidak seperti apa yang dituduhkan oleh pihak luar, Pak. Jika Anda mengizinkan, saya sendiri yang akan bergerak turun ke lapangan untuk menyelidiki seluruh aktivitas internal Pak Syaki demi membuk
Sera mengulas senyuman tipis, mencoba mempertahankan ekspresi wajahnya agar tetap terlihat tenang. Ia membetulkan posisi duduknya, lalu menjawab dengan nada suara santun. "Mengenai hal itu, Erika sebenarnya termasuk orang yang sedikit tertutup jika sudah menyangkut masalah pribadinya," jawab Sera. Tak ada jawaban. Sera mulai merasa bingung dan serba salah harus merespons bagaimana lagi agar tidak menyinggung keluarga Wakil Presiden. Dengan gerakan sembunyi-sembunyi, jemari lentik Sera bergerak ke samping, lalu menepuk-nepuk pelan paha tegap Rendra beberapa kali. Ia berharap suaminya itu menangkap kode darurat yang dikirimkannya dan segera membantunya mengalihkan pembicaraan ini. Rendra yang sejak tadi diam memperhatikan, mengulum bibirnya kuat-kuat untuk menahan senyuman yang hampir pecah. Ia bisa merasakan dengan jelas ketukan panik dari jemari Sera di pahanya. Tahu betul kalau sang istri saat ini sedang merasa sangat kikuk dan sudah tidak tahu harus berkata apa lagi, Rendra
Sera mendongak, menatap Raja yang sengaja menggantung lisannya di udara.“Apakah mungkin Anda mengenal gadis bernama Erika? Setahu saya, dia saat ini juga sedang menjalani program koas medis di Rumah Sakit Narita," tanya Raja dengan nada suara yang terdengar cukup penasaran.Sera seketika tersentak kaget mendengar nama sahabat dekatnya mendadak disebut oleh putra Wakil Presiden. Gerakan menyuapnya terhenti di udara. Ia refleks menolehkan kepalanya ke arah Rendra sebentar, dan sepasang suami istri itu saling berpandangan selama satu detik dengan dahi yang sama-sama berkerut heran.Sera kembali menatap Raja, lalu menganggukkan kepala perlahan. "Iya, saya kenal. Erika adalah teman seangkatan saya di kampus dan rekan koas," jawab Sera sopan.Rendra yang duduk di samping Sera langsung menimpali dengan suara beratnya yang tegas, menegaskan posisi kedekatan mereka. "Teman baik malahan. Mereka berdua selalu bersama ke mana-mana, saling menempel seperti lem dan perangko.”Ucapan Rendra membuat
Evan sedikit tersedak mendengar perkataan Rendra yang meluncur begitu tiba-tiba. Suara batuk kecilnya memecah ketegangan. Dengan gerakan agak terburu-buru, ia meraih gelasnya dan menenggak air putih di dalamnya hingga tandas untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak kering.Setelah meletakkan kembali gelasnya ke atas meja, Evan menatap sungkan ke arah Pak Syaki dan Ibu Amina secara bergantian sebelum memberikan jawaban dengan nada suara yang dilingkupi keraguan."Sepertinya, sudah cukup lama, Pak," jawab Evan, memilih kalimat aman.Di dalam benaknya, Evan harus menahan diri dengan sekuat tenaga. Ia tidak mungkin berterus terang mengatakan di hadapan semua orang kalau momen terakhir kali dirinya bertemu dan mengobrol langsung dengan Pak Syaki adalah saat acara prosesi lamaran resmi Raja beberapa waktu lalu. Evan tahu betul situasi sensitif itu, jika ia sampai menyebutkan hal tersebut sekarang, bisa jadi Raja akan langsung merasa tersinggung dan suasana makan malam ini akan menjadi b
Pak Syaki segera bangkit dari kursi, mengulas senyum ramah yang tampak begitu tulus menyambut kehadiran Rendra. "Ah, tidak sama sekali, Pak Rendra. Kami juga baru saja duduk," jawab Pak Syaki dengan nada suara yang hangat dan penuh hormat. Rendra menganggukkan kepalanya perlahan, menerima sambutan tersebut dengan gestur tubuh yang tetap berwibawa. Di sisi kirinya, Sera melangkah maju sembari menyunggingkan seulas senyuman manis yang begitu menawan. "Selamat malam, Pak Syaki, Ibu Amina," sapa Sera dengan nada suara yang lembut dan santun. Ia menundukkan kepalanya sedikit sebagai bentuk penghormatan, tak lupa tatapan matanya juga beralih melayangkan salam yang sama ke arah Raja yang duduk di sisi meja. Melihat kehadiran Rendra dan Sera, Raja yang semula bersikap acuh tak acuh seketika langsung menegakkan posisi tubuhnya. Pemuda itu berdiri tegap, lalu mengulurkan tangan kanannya terlebih dahulu ke arah Rendra untuk menjabatnya dengan formal. "Selamat malam, Pak Presiden," ucap R
Sera tersentak, sepasang matanya membelalak menatap Rendra."Astaga, Mas Rendra untuk apa sampai harus mengantarku? Tidak perlu repot-repot seperti itu, Mas. Aku di dalam kamar mandi hanya sebentar saja untuk memastikan riasan. Lagipula, di area restoran nanti pasti sudah ada banyak personel pengawal istana yang berjaga di setiap sudut," protes Sera, merasa tindakan suaminya terlalu berlebihan. Rendra tampak terdiam dengan gurat keraguan yang sangat kentara di wajahnya, teringat akan peringatan Sofia tentang ancaman keselamatan. Namun, setelah menatap mata Sera yang memohon, ia akhirnya mengembuskan napas pasrah dan mengizinkan. "Baiklah. Tapi jangan lama-lama di dalam," pesannya. Setelah melalui proses koordinasi singkat di lapangan antara Evan dan pihak ajudan pribadi Wakil Presiden terkait sterilisasi area, lokasi makan malam akhirnya diputuskan diadakan di sebuah restoran mewah bergaya oriental yang cukup tertutup dari jangkauan publik. Begitu mobil berhenti di pelataran dalam,







