Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa

Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa

By:  Niu SusantiUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
50Chapters
5views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Hari itu, sepulang dari perjalanan dinas di Kota Deblin, pesawat yang ditumpangi Maudy Wirawan nyaris celaka. Berita tersebut masih bertengger di puncak pencarian. Namun, saat dia pulang dengan jantung masih berdebar ketakutan, dia justru mendapati suaminya, David Hartono, sedang bermesraan dengan seorang gadis magang baru di stasiun TV di ruang tengah. Gadis itu kaget dan buru-buru bangkit saat melihat Maudy, tetapi David malah menyalahkan Maudy karena sudah membuat gadis itu kaget. Tepat di detik itu juga, Maudy memutuskan untuk melepaskan hubungan yang telah terjalin selama tujuh tahun berpacaran dan tiga tahun pernikahan ini. Saat David menerima surat perjanjian cerai yang disodorkan Maudy, dia sedikit mengerutkan keningnya dan bertanya, "Kalau mau sesuatu, bilang aja langsung. Aku nggak punya waktu buat meladeni dramamu." Maudy menjawab, "Aku nggak mau apa-apa. Aku cuma mau Althaf." Yakin bahwa Maudy tidak akan bisa lepas darinya, David dengan santai menandatangani surat cerai itu. Dia sama sekali tidak menyangka jika wanita yang selama bertahun-tahun dicintainya dan dikenal sangat lembut serta penurut itu, kini malah berbisik mesra dengan pria lain di bawah temaram lampu jalan. David merasa cemburu dan hampir kehilangan akal. Demi bisa mendapatkan kembali perhatian Maudy, dia mulai menghalalkan segala cara, mulai dari bersikap lemah, berpura-pura menyedihkan, hingga menjegal langkah saingannya. Ketika Maudy menuntut di mana harga diri dan prinsipnya yang dulu, suara David terdengar serak bagai benang yang hampir putus, "Semuanya sudah nggak penting lagi. Asalkan aku bisa tetap berada di sisimu, apa pun akan kulepaskan."

View More

Chapter 1

Bab 1

"Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat menjawab. Silakan coba lagi nanti ...."

Maudy Wirawan dengan tangan gemetar memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku.

Pesawat yang ditumpangi untuk pulang dari Kota Deblin tadi baru saja diterjang turbulensi hebat, nyaris menjemput ajal.

Sekarang, begitu mendarat dan berdiri di pintu keluar, kakinya masih terasa lemas.

Dia menelepon David Hartono. Sebenarnya dia tak terlalu berharap, tetapi saat pria itu tidak juga mengangkat telepon, sisa harapannya pun benar-benar pupus.

Sesampainya di rumah.

David sedang mabuk berat.

Dia menyandar miring di salah satu sudut sofa dengan wajah tanpa ekspresi. Di sudut bibirnya terjepit setengah batang rokok yang hampir habis, sementara di sebelahnya ada seorang gadis yang bersandar, terlihat sangat intim.

Gadis itu dengan pipi merona melepaskan dasi David, lalu mulai membuka kancing kemeja pria itu.

David sama sekali tidak menolak, raut wajahnya bahkan menampilkan ekspresi yang samar dan sulit diartikan.

Maudy menutup pintu. Mendengar suara itu, gadis tersebut menoleh. Begitu melihat Maudy, dia tertegun sejenak lalu buru-buru menarik kembali tangannya.

"Kak Maudy ...."

Barulah saat itu Maudy mengenali gadis tersebut. Gadis itu adalah presenter magang baru yang baru saja dikontrak di stasiun TV. Wajahnya terlihat sangat polos.

Dulu saat merekrutnya, Maudy sendiri yang menyeleksi. Katanya, gadis ini mirip dengan dirinya di masa muda, penuh semangat dan punya daya juang.

"Halo," sapanya sambil mengangguk sopan.

"Tadi waktu acara makan bersama, Pak David minum agak banyak. Jadi, saya khawatir perutnya akan bermasalah, makanya saya putuskan buat tinggal sebentar." Gadis itu menunjuk setengah gelas air madu yang sudah dingin di sampingnya sambil menjelaskan dengan sikap yang begitu sopan. "Anda nggak keberatan, 'kan?"

Dia menundukkan kepala. Tubuhnya yang mungil membuatnya tampak begitu penurut.

Tipe wanita yang disukai oleh David.

Bahkan Maudy sendiri tidak sampai hati berkata kasar padanya.

"Nggak kok," jawab Maudy datar. "Makasih, ya."

Gadis itu melirik Maudy dengan takut-takut. Melihat Maudy benar-benar tidak marah, dia seolah kehilangan semangat. "Karena Anda sudah sampai, saya pamit pulang dulu. Oh ya, jangan lupa minta Pak David minum air madunya."

Setelah gadis itu pergi, rumah kembali sunyi.

David tampak kehabisan tenaga akibat mabuk. Kelopak matanya terkulai berat, kedua tangannya bersedekap. Dia menyandar di sofa, sesekali mengembuskan asap rokok yang mengepul perlahan. Entah sedang memikirkan apa, tetapi jelas sekali dia sedang tidak dalam suasana hati yang baik, membuat aura di sekitarnya terasa begitu berat.

Keduanya terdiam.

Tak seorang pun angkat bicara.

Maudy menyingsingkan lengan bajunya, lalu tanpa sepatah kata pun, memungut bingkai foto pernikahan mereka dari lantai.

Kacanya pecah, serpihannya berserakan di sekitar.

Di dalam bingkai itu hanya tersisa foto pendaftaran pernikahan berlatar merah yang sudah kusut. Ekspresi wajah mereka berdua di foto itu sama-sama muram, bahkan terlihat saling menjaga jarak. Maudy samar-samar ingat, setelah foto ini diambil, David langsung pergi dengan mobilnya, bahkan tanpa mengucapkan selamat tinggal.

Selama tiga tahun menikah, ini adalah satu-satunya foto mereka.

Dan kemungkinan besar, ini juga akan menjadi foto terakhir mereka.

Dia meletakkan kembali bingkai foto itu di atas meja. Hampir di saat yang sama, David tiba-tiba memeluknya dari belakang.

Tubuh David terasa berat, sebagian besar beban tubuhnya menindih Maudy, kedua lengannya melingkar erat di pinggangnya.

Jemari Maudy yang menggenggam foto itu seketika mengencang. Dengan sisa harapan terakhirnya, dia bertanya, "Kenapa kamu nggak angkat telepon?"

David sama sekali tidak menyadari gelagat aneh Maudy. Butuh waktu agak lama baginya untuk merespons, suaranya terdengar rendah.

"Kenapa?"

Nada bicara Maudy yang tadinya datar kini mulai bergetar, "Aku meneleponmu belasan kali hari ini, kenapa satu pun nggak kamu angkat?"

Suara David terdengar sedikit tidak sabar, "Nggak dengar."

Tidak dengar.

Padahal, dua minggu sebelum pulang dari perjalanan dinas di Kota Deblin, Maudy sudah mengirimkan jadwal penerbangan dan waktu kedatangannya. Sekarang, sudah sepuluh jam lewat dari waktu mendarat yang seharusnya.

Penerbangan itu baru saja diterjang turbulensi hebat dan semua penumpang nyaris tidak bisa kembali dengan selamat.

Kabar itu masih bertengger di puncak pencarian real-time, membuat banyak warganet ikut cemas.

Sementara David, suaminya sendiri.

Bahkan tak mengucapkan sepatah kata pun untuk menunjukkan kepedulian.

Dia tidak bertanya kenapa Maudy baru pulang, atau ada apa dengannya.

Dia hanya melontarkan satu alasan: tidak mendengar panggilannya.

Rasa lelah yang mendera fisik maupun batin membuat Maudy tak punya tenaga untuk mengutarakan apa pun lagi. Dia menundukkan pandangan, hanya bergumam pelan, "Hmm."

Terserah.

Biarlah.

Setelah cukup lama, David tampaknya sudah agak sadar dari mabuknya. Nada suaranya kini terdengar lebih sadar. Dia menoleh melihat sekeliling rumah, lalu bertanya pelan, "Di mana dia?"

Yang dimaksud David adalah gadis yang tadi.

"Udah pergi."

"Kamu usir?"

"Kalau kamu butuh, biar aku bisa memanggilnya kembali." Maudy hanya berkata begitu.

Aroma alkohol yang belum sepenuhnya menguap masih tercium dari napas David. Bibir tipisnya hampir menempel di cuping telinga Maudy. "Kok nadamu begitu? Cemburu?"

Napasnya begitu dekat, terasa panas.

Bibir bawahnya mengusap pelan cuping telinga Maudy yang paling sensitif, menimbulkan rasa geli.

"Nggak."

Maudy memalingkan wajah.

Sikap Maudy yang menghindar sepertinya membuat David tidak senang. Dia meraih dagu Maudy, "Kenapa menghindar?"

Maudy tidak ingin berbasa-basi lagi. Baru saja dia hendak berbalik pergi, tangan pria itu langsung mencengkeram belakang kepalanya, membalikkan tubuh Maudy dan menindihnya di atas sofa.

Sofa itu ambles cukup dalam, dan seketika ciumannya pun menyergap Maudy.

Ciuman itu datang tanpa peringatan, gerakannya kasar, melumat bibir Maudy sampai terasa kebas, membuatnya merasa dunia berputar.

Tubuh David masih dipenuhi aroma rokok dan alkohol, sementara sikapnya memancarkan hasrat untuk menguasai. Maudy merasa tubuhnya kian lemas. Sweater rajut putih yang dikenakannya disingkap oleh David, hawa dingin langsung menyergap, menampakkan kulitnya yang halus dan mulus dengan aroma lembut sabun mandi yang masih tersisa.

Udara di sekitar mereka terasa panas dan lengket, kulit mereka saling menempel erat.

David membenamkan wajah di area sensitif cuping telinga Maudy, mengecupnya dua kali. Tangannya meraba perut bawah Maudy, suaranya terdengar serak, "Boleh, 'kan?"

"Aku lagi capek banget hari ini."

Maudy memejamkan mata, sangat menolak sentuhan pria itu. "Lagi pula, Althaf sebentar lagi pulang sekolah. Aku udah lama nggak ketemu dia. Aku sangat merindukannya."

Mereka memiliki seorang putra berusia tiga tahun.

Nama panggilannya adalah Althaf.

"Terus aku gimana? Kamu kangen aku nggak?"

Maudy tak menjawab.

Tak mendapat respons, David tak bergerak selama beberapa saat. Dia tetap mempertahankan posisi itu cukup lama sebelum akhirnya kembali membuka suara, "Sekarang jam berapa?"

"Jam lima lewat tiga puluh satu."

Tinggal kurang dari setengah jam lagi sebelum Althaf pulang sekolah.

"Baiklah."

Efek mabuk David sudah jauh berkurang. Dia akhirnya melepaskan Maudy, lalu dengan santai mulai membuka kancing kemejanya.

Sambil terus membuka kancingnya, dia melangkah menuju kamar mandi. Suaranya terdengar serak, "Tunggu aku sepuluh menit."

Pukul lima lebih tiga puluh sembilan menit.

David melangkah keluar setelah mandi, kini mengenakan sweater hitam berkerah tinggi yang terlihat santai. Rambut hitam di dahinya masih basah dan disibak ke belakang dengan satu usapan, memperlihatkan garis wajah dan rahang yang tegas serta tajam.

Ruang tamu sudah dibersihkan oleh Maudy hingga bersih tak berdebu, menyisakan dua kantong sampah hitam di dekat pintu masuk.

"Kalau udah beres, kita berangkat."

Selesai bicara, Maudy langsung melangkah lebih dulu.

Saat hendak keluar, pandangan David tiba-tiba menangkap sesuatu di atas meja ruang tamu yang sepertinya tadi tidak ada. Dia pun bertanya santai, "Yang ada di atas meja itu apa?"

"Surat perjanjian cerai."

Nada Maudy terdengar sangat wajar, saking wajarnya sampai membuat David butuh beberapa detik untuk mencerna ucapannya.

David menghentikan langkahnya. Dia menoleh, menatap lurus ke mata Maudy yang tenang. Suaranya ditekan rendah, sulit ditebak apakah dia sedang marah atau tidak. "Maksud kamu apa?"

Maudy tak menjawab. Baru saja dia hendak membuka pintu, pria itu langsung menahan pintu dengan satu tangan, menghalangi jalannya.

"Jawab aku," tanyanya. "Maksud kamu apa?"

Maudy menunduk melirik jam tangannya. Dia tidak berniat bertengkar, jadi dia hanya berkata, "Kalau kita terus begini, aku nggak yakin dengan kemampuan mengemudiku bisa sampai ke sekolah Althaf dalam 15 menit."

David menatap wajah Maudy beberapa saat, baru kemudian menarik kembali tangannya.

Maudy mengangkat kedua kantong sampah itu dengan satu tangan, lalu mendorong pintu dan melangkah keluar.

Pria di belakangnya terdiam cukup lama, lalu berkata pelan, "Gimana kalau aku bilang nggak mau cerai?"

Maudy tidak menghentikan langkahnya. Angin dingin menerbangkan rambutnya hingga berantakan. Dia mendongak menatap Kota Amber yang diselimuti angin dan salju di bulan Desember. Jari-jemarinya terasa kaku karena dingin dan pandangannya pun sedikit kabur.

Wajahnya datar tanpa ekspresi, suaranya terdengar sangat pelan.

"Aku cuma mau Althaf."

Maudy tidak mengincar harta Keluarga Hartono sedikit pun, juga tidak menginginkan status sebagai Nyonya Hartono. Tak ada lagi yang ingin dia harapkan.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
50 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status