登入Semua mata mengikuti langkah Tasya. Bu Titik, Dini, dan Rina yang masih berada di dekat makam tampak terkejut melihat kehadirannya.Tasya berhenti di hadapan mereka.Dengan sopan ia mengulurkan tangan. "Assalamualaikum."Dini dan Rina membalas salamnya agak sedikit bingung. Aneh rasanya melihat Tasya sesopan ini. Sementara Bu Titik memandang Tasya beberapa saat sebelum berdiri dan memeluk Tasya."Maafkan Erland ya, Nak."Suara Bu Titik bergetar. "Maafkan anak saya karena tidak bertanggung jawab padamu. Erland salah." Bu Titik berurai air mata. Tasya membeku beberapa detik. Ia tidak menyangka, orang seegois dan semanipulatif Bu Titik mau meminta maaf. Mungkin kehilangan putra kesayangannya membuat mata hati Bu Titik terbuka.Matanya mulai berkaca-kaca.Perlahan, ia membalas pelukan Bu Titik. "Bukan cuma Erland yang salah, Bu," ucap Tasya sendu. Sikap legawa Bu Titik membuat Tasya ingin melakukan hal yang sama.Bu Titik melepaskan pelukannya. Ia lalu memandang Tasya penuh tanda tanya
Mendung menggantung rendah di langit siang itu. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah basah yang masih menyisakan jejak hujan semalam.Hari itu adalah hari pemakaman Erland. Nurul datang bersama Alfi dan Elang. Walau bagaimana pun, terlepas dari segala luka dan kesalahan yang Erland lakukan pada putranya, ia tetaplah ayah kandung Alfi.Di depan pusara yang masih merah, suasana dipenuhi duka.Bu Titik berjongkok di samping makam putranya. Tangannya berulang kali mengusap nisan yang baru ditancapkan. Air matanya mengalir tanpa henti."Kenapa semua jadi begini? Seharusnya kamu yang menguburkan Ibu. Bukan sebaliknya, Nak." Bu Titik meratap lirih.Di kanan dan kirinya, Dini dan Rina ikut menangis tersedu-sedu. Sesekali mereka memegang bahu sang ibu yang tampak semakin rapuh.Tak jauh dari mereka, Dika dan Vito berdiri dengan wajah gelisah. Suasana muram membuat mereka keduanya tidak nyaman.Suami Dini dan Rina tidak tampak hadir. Hendrik memilih tidak datang karena takut memicu perteng
"Mas, dengarkan aku baik-baik.""Ayo masuk mobil!" Erland memotong ucapan Nurul. Sambil tetap menggendong Alfi, ia berjalan cepat menuju mobilnya.Nurul tidak punya pilihan. Ia tidak mungkin membiarkan Alfi pergi berdua dengan Erland.Dengan langkah gemetar, ia mengikuti dari belakang. Begitu Erland memasukkan Alfi ke kursi penumpang, Nurul langsung masuk dan memangku Alfi."Ibu ... Alfi takut." Alfi menangis dipelukannya."Tidak apa-apa, Nak. Jangan takut. Ada Ibu," bujuk Nurul sambil membelai rambut Alfi walau tangannya gemetar..Baru saja pintu mobil tertutup, suara sirene terdengar meraung-raung dari kejauhan.Erland menoleh. Wajahnya berubah kesal. Di gerbang sekolah terlihat beberapa mobil polisi melaju masuk dengan cepat. Di belakangnya menyusul sebuah SUV hitam yang sangat dikenal Nurul. Mobil Elang!Namun bukan hanya itu.Beberapa mobil lain juga masuk ke halaman sekolah. Dari dalamnya turun laki-laki bertubuh besar dengan wajah garang. Nurul menduga mereka adalah para debt c
Nurul menghentikan laju motornya di tepi jalan saat merasakan ponselnya bergetar di saku jaketnya.Ia membuka layar ponsel sekilas. Keningnya langsung berkerut.Bu Helen. Wali kelas Alfi.Perasaannya tiba-tiba tidak nyaman. Pasti ada sesuatu yang terjadi pada Alfi. Tanpa menunggu dering kedua, Nurul segera mengangkat panggilan itu."Selamat siang, Bu Helen. Ada apa?" tanyanya cepat.Suara Bu Helen terdengar ragu."Bu Nurul, maaf mengganggu. Ini... Pak Erland datang ke sekolah. Katanya mau jemput Alfi."Nurul langsung menegakkan punggungnya."Menjemput Alfi?""Iya, Bu. Beliau bilang ingin membawa Alfi jalan-jalan. Saya menelepon untuk memastikan apakah Ibu mengizinkannya."Kali ini jantung Nurul berdetak dua kali lebih cepat.Berbagai kemungkinan buruk langsung berputar di kepalanya. Namun ia berusaha tetap tenang.“Bu Helen, tolong jangan izinkan Alfi ikut dulu.”"Tapi Pak Erland berjanji ingin membawa Alfi, Bu. Saat ini saya dan rekan-rekan sedang berusaha untuk menahan beliau.""Ba
Siang itu restoran Selera Khatulistiwa sedang ramai. Nurul baru saja selesai memeriksa stok bahan baku di dapur ketika Zahwa menghampirinya."Chef, ada tamu yang mau ketemu," bisik Zahwa pelan."Tamu? Siapa?" tanya Nurul sambil menutup pintu lemari es."Katanya namanya Rina. Mantan adik ipar, Chef."Nurul berdecak. Ia bisa menebak kedatangan Rina. Pasti ia meminta agar Dini dibebaskan. "Ya, sudah. Bawa mereka ke ruangan saya. Nanti saya menyusul.""Baik, Chef." Zahwa pun berlalu.Nurul melepas celemek dan keluar dari dapur. Ia masuk ke ruangannya melalui jalan khusus. Saat ia membuka pintu Rina menoleh. Ia langsung berdiri diikuti Vito dan Dika. "Mbak Nurul," sapanya pelan."Duduk, Rin." Nurul mempersilakan Rina duduk. Vito juga ikut duduk sambil memegang tangan Dika yang terlihat murung.Rina tersenyum kaku lalu berkata pelan. "Maaf sudah menganggu waktu Mbak Nurul.""Nggak apa-apa," jawab Nurul tenang. Beberapa detik suasana terasa canggung. Rina terlihat berkali-kali meremas jem
Nurul menghampiri Elang dan Alfi yang duduk di atas tikar pantai sambil menggigit jagung rebus."Pelan-pelan makannya, Nak," tegur Nurul. Ia kemudian duduk di sisi sang putra.Alfi mengangguk patuh dengan mulut yang masih penuh. Ketika melihat sebuah kapal kecil, menunjuk ke arah pantai."Om Pider-Man!""Ya?" sahut Elang."Kok... ada perahu?"Elang mengikuti arah telunjuk Alfi.Di kejauhan memang tampak sebuah perahu yang perlahan bergerak."Tadi... nggak ada," lanjut Alfi bingung.Elang tersenyum. "Bukan nggak ada."Alfi mengerutkan dahi. "Terus?""Kapalnya memang sudah ada dari tadi," terang Elang."Tapi Alfi... nggak lihat." Alfi menggeleng."Ada. Tidak terlihat awalnya karena bumi kita ini bentuknya bulat."Alfi tampak semakin bingung.Elang mengambil ranting kecil lalu menggambar lingkaran di pasir."Nah, misalnya ini bumi." Alfi memperhatikan dengan serius."Kalau kapal masih jauh sekali, dia berada di balik lengkungan bumi. Jadi yang terlihat duluan biasanya bagian atas kapal."
"Iya, Mbak. Paham. Gimana motornya? Mbak suka nggak?" Daffa mengganti topik pembicaraan. "Suka dong, Dek. Apalagi gratis." Nurul nyengir. "Nanti tiap bulan Mbak cicil ya, motornya.""Nggak usah, Mbak," potong Daffa cepat. " Aku memang ingin menghadiahkannya untuk Mbak kok.""Baiklah kalau begitu.
"Maaf, Mbak, kita sudah sampai."Nurul terbangun dengan sedikit tersentak. Ia mengedipkan mata beberapa kali, mencoba mengusir kantuk yang masih menggantung."Oh… iya. Maaf," gumamnya gelagapan. Ia baru sadar motor sudah berhenti tepat di depan rumahnya. Ternyata suara yang membangunkannya tadi ada
Beberapa kepala langsung menoleh. Nurul pun menghentikan pekerjaannya."Saya?" Nurul menunjuk dirinya sendiri.Ardy mengangguk. "Ia kalau Anda adalah Chef Nurul," katanya seraya menghampiri Nurul."Chef diminta menyiapkan makan siang untuk boss besar. Boss ada di meja 4 bersama dua orang anak buahn
Nurul mengebut sepanjang jalan dengan jantung berdebar tidak karuan. Angin sore menampar wajahnya karena helmnya tidak terpasang dengan baik. Ia tidak menyadarinya. Karena yang ada di pikirannya hanya Alfi."Semoga tidak ada luka yang serius ya Allah," gumamnya berulang-ulang. Inilah yang ia khawat







