Share

64. Ricuh.

Author: Suzy Wiryanty
last update publish date: 2026-05-09 19:55:08

Beberapa detik kemudian pintu pun terbuka. Elang masuk dengan langkah santai.

Nurul refleks menegakkan duduknya.

"Selamat pagi, Nurul," sapa Elang santai.

Nurul membalas dengan anggukan kecil. "Pagi, Pak," sahutnya kikuk. Setelah pengakuan cintanya, Nurul menjadi grogi saat berpandangan dengan Elang.

Elang lalu menoleh pada Mahdi.

“Erland sudah mentransfer bagian Nurul, Pak Mahdi?"

"Sudah. Pokoknya semua amanah Pak Elang sudah saya jalankan dengan baik." Mahdi mengacungkan jempolnya.

Elang me
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (7)
goodnovel comment avatar
Iin Iin
kasihan Nurul,, di restoran milik Elang ada Tasya yg rusuh, di restoran milik pak Ahmad ada Asti yg rusuh, dah lah Nurul buka warung sendiri aja, mumpung ada dana dari harga gono gini..
goodnovel comment avatar
Erni Apriani
rusuh banget si asti, orang ga diajakin sama bapaknya juga nimbrung mulu.
goodnovel comment avatar
Ayra Arsyifa M
buka warung makan sendiri aja,mumpung ada modal dr harta gono gini
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama   94. Akhir Bahagia (END)

    Sore itu langit tampak cerah. Sinar matahari keemasan menerobos jendela kamar perawatan, membuat ruangan terasa hangat dan nyaman.Nurul yang kini sudah dipindahkan ke ruang rawat inap tampak jauh lebih segar dibandingkan pagi tadi. Meski tubuhnya masih lelah setelah proses persalinan, senyumnya tak pernah lepas dari bibirnya. Apalagi saat melihat sang putra datang berkunjung."Ibu..."Alfi berlari kecil memasuki ruangan dengan wajah berbinar."Pelan-pelan, Sayang," tegur Elang sambil tersenyum. Namun Alfi sudah lebih dulu sampai di sisi ranjang."Bunda... adik... keluar?" tanya Alfi polos saat mendapati perut ibunya sudah kempes."Sudah, Nak. Adikmu sudah lahir. Arfa namanya," ucap Nurul lembut. "Adik mana?" Alfi celingukan ke kanan kiri. Mencari-cari sosok adiknya. "Adik sedang dibawa ke sini sama nenek dan suster. Sebentar lagi pasti datang," Nurul memberi pengertian pada Alfi. Tepat pada saat itu, pintu ruangan terbuka. Seorang perawat masuk bersama Bu Sari. Arfa ada dalam buai

  • Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama   93. Anggota Keluarga Baru.

    Tiga Tahun KemudianSejak semalam Nurul sebenarnya sudah merasakan kontraksi. Mulanya ia mengira itu hanya kontraksi palsu seperti yang sering dialaminya beberapa minggu terakhir. Karena itu ia memilih diam dan berusaha tidur. Namun menjelang subuh, rasa mulas itu datang lagi. Kali ini lebih teratur dan membuatnya harus berhenti berbicara setiap beberapa menit.Pagi itu Nurul sedang duduk di tepi ranjang ketika kontraksi kembali datang."Aduh...."Tangannya refleks memegang perut yang sudah sangat membesar.Elang yang baru keluar dari kamar mandi langsung menghampiri. "Kenapa, Sayang?"Nurul menarik napas perlahan."Sepertinya ini kontraksi beneran." Nurul berbicara sendiri. Namun Elang yang ikut mendengar seketika panik.Wajah Elang langsung berubah."Hah, kontraksi?""Iya." Nurul meringis sambil terus mengelus-elus perutnya."Sejak kapan, Sayang?" Elang ikut duduk di ranjang dan mengelus perut Nurul. "Semalam, Mas.""Apa?" Elang hampir berteriak. Ia kemudian berdiri karena tegang.

  • Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama   92. Saling Memaafkan.

    Semua mata mengikuti langkah Tasya. Bu Titik, Dini, dan Rina yang masih berada di dekat makam tampak terkejut melihat kehadirannya.Tasya berhenti di hadapan mereka.Dengan sopan ia mengulurkan tangan. "Assalamualaikum."Dini dan Rina membalas salamnya agak sedikit bingung. Aneh rasanya melihat Tasya sesopan ini. Sementara Bu Titik memandang Tasya beberapa saat sebelum berdiri dan memeluk Tasya."Maafkan Erland ya, Nak."Suara Bu Titik bergetar. "Maafkan anak saya karena tidak bertanggung jawab padamu. Erland salah." Bu Titik berurai air mata. Tasya membeku beberapa detik. Ia tidak menyangka, orang seegois dan semanipulatif Bu Titik mau meminta maaf. Mungkin kehilangan putra kesayangannya membuat mata hati Bu Titik terbuka.Matanya mulai berkaca-kaca.Perlahan, ia membalas pelukan Bu Titik. "Bukan cuma Erland yang salah, Bu," ucap Tasya sendu. Sikap legawa Bu Titik membuat Tasya ingin melakukan hal yang sama.Bu Titik melepaskan pelukannya. Ia lalu memandang Tasya penuh tanda tanya

  • Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama   91. Haru Biru.

    Mendung menggantung rendah di langit siang itu. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah basah yang masih menyisakan jejak hujan semalam.Hari itu adalah hari pemakaman Erland. Nurul datang bersama Alfi dan Elang. Walau bagaimana pun, terlepas dari segala luka dan kesalahan yang Erland lakukan pada putranya, ia tetaplah ayah kandung Alfi.Di depan pusara yang masih merah, suasana dipenuhi duka.Bu Titik berjongkok di samping makam putranya. Tangannya berulang kali mengusap nisan yang baru ditancapkan. Air matanya mengalir tanpa henti."Kenapa semua jadi begini? Seharusnya kamu yang menguburkan Ibu. Bukan sebaliknya, Nak." Bu Titik meratap lirih.Di kanan dan kirinya, Dini dan Rina ikut menangis tersedu-sedu. Sesekali mereka memegang bahu sang ibu yang tampak semakin rapuh.Tak jauh dari mereka, Dika dan Vito berdiri dengan wajah gelisah. Suasana muram membuat mereka keduanya tidak nyaman.Suami Dini dan Rina tidak tampak hadir. Hendrik memilih tidak datang karena takut memicu perteng

  • Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama   90. Lelaki Pilihan Allah.

    "Mas, dengarkan aku baik-baik.""Ayo masuk mobil!" Erland memotong ucapan Nurul. Sambil tetap menggendong Alfi, ia berjalan cepat menuju mobilnya.Nurul tidak punya pilihan. Ia tidak mungkin membiarkan Alfi pergi berdua dengan Erland.Dengan langkah gemetar, ia mengikuti dari belakang. Begitu Erland memasukkan Alfi ke kursi penumpang, Nurul langsung masuk dan memangku Alfi."Ibu ... Alfi takut." Alfi menangis dipelukannya."Tidak apa-apa, Nak. Jangan takut. Ada Ibu," bujuk Nurul sambil membelai rambut Alfi walau tangannya gemetar..Baru saja pintu mobil tertutup, suara sirene terdengar meraung-raung dari kejauhan.Erland menoleh. Wajahnya berubah kesal. Di gerbang sekolah terlihat beberapa mobil polisi melaju masuk dengan cepat. Di belakangnya menyusul sebuah SUV hitam yang sangat dikenal Nurul. Mobil Elang!Namun bukan hanya itu.Beberapa mobil lain juga masuk ke halaman sekolah. Dari dalamnya turun laki-laki bertubuh besar dengan wajah garang. Nurul menduga mereka adalah para debt c

  • Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama   89. Usai Sudah.

    Nurul menghentikan laju motornya di tepi jalan saat merasakan ponselnya bergetar di saku jaketnya.Ia membuka layar ponsel sekilas. Keningnya langsung berkerut.Bu Helen. Wali kelas Alfi.Perasaannya tiba-tiba tidak nyaman. Pasti ada sesuatu yang terjadi pada Alfi. Tanpa menunggu dering kedua, Nurul segera mengangkat panggilan itu."Selamat siang, Bu Helen. Ada apa?" tanyanya cepat.Suara Bu Helen terdengar ragu."Bu Nurul, maaf mengganggu. Ini... Pak Erland datang ke sekolah. Katanya mau jemput Alfi."Nurul langsung menegakkan punggungnya."Menjemput Alfi?""Iya, Bu. Beliau bilang ingin membawa Alfi jalan-jalan. Saya menelepon untuk memastikan apakah Ibu mengizinkannya."Kali ini jantung Nurul berdetak dua kali lebih cepat.Berbagai kemungkinan buruk langsung berputar di kepalanya. Namun ia berusaha tetap tenang.“Bu Helen, tolong jangan izinkan Alfi ikut dulu.”"Tapi Pak Erland berjanji ingin membawa Alfi, Bu. Saat ini saya dan rekan-rekan sedang berusaha untuk menahan beliau.""Ba

  • Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama   77. Mulai Tersadar.

    Malam itu Tasya tidak bisa tenang. Setelah Elang pergi meninggalkan rumah, suasana berubah mencekam. Bu Sari duduk diam di sofa sambil memandang langit-langit ruang tamu. Tampak penyesalan di wajahnya.Pak Yasman memilih kembali ke pos depan, malas ikut campur urusan keluarga majikannya.Sementara

  • Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama   76. Cinta Sejati.

    Elang lantas memegang dadanya sendiri sambil menatap Nurul lekat-lekat. "Dan saya bersedia berkorban apapun untukmu karena saya sungguh-sungguh mencintaimu. Walaupun saya sadar, mungkin saya tidak akan pernah mendapat balasan cinta darimu," ungkap Elang jujur.Air mata Nurul luruh seketika. Ia bis

  • Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama   72. Atas Nama Cinta.

    Namun teman-temannya masih bertahan sebentar. Salah satu dari mereka lalu meminta maaf pada Elang."Maaf ya, Pak. Teman kami memang suka ngomong sembarangan."Elang mengangguk tipis. "Kalian sebagai teman dan Ibu, nasehatilah teman kalian itu. Jadilah perempuan dan ibu yang penuh cinta dan kasih."

  • Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama   44. Dilema.

    Raut wajah Bu Sari berubah.Matanya menajam. Beberapa detik, ia hanya menatap Nurul sebelum menjawab dengan nada meremehkan."Kalau saya tidak mau, kenapa?" tantangnya sinis. "Saya ini ibu pemilik restoran." Bu Sari menepuk dadanya. “Sementara kamu," Bu Sari menatap Nurul dari atas ke bawah, "cuma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status