Investor Asing

Investor Asing

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-03
Oleh:  WinaraBZBaru saja diperbarui
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Belum ada penilaian
6Bab
8Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Bunda Zayna, perempuan asal Parepare, Sulawesi Selatan, adalah seorang trader saham sekaligus konten kreator edukasi finansial yang dikenal cerdas dan berintegritas. Dari ruang kerjanya yang sederhana, ia membangun reputasi melalui analisis yang tajam dan sikap profesional. Di rumah, ia adalah ibu bagi Ana dan Ziyan, serta istri yang menjaga keharmonisan keluarganya dengan penuh kesetiaan. Tanpa pernah ia sadari, video-videonya ditonton oleh Karim—miliarder berdarah Turki-Bandung, pemilik kerajaan bisnis real estate, resort, dan tambang energi terbarukan. Di tengah ekspansi bisnisnya ke Indonesia dengan Bandung sebagai pusat operasional, Karim diam-diam mengagumi kecerdasan dan keteguhan prinsip Bunda Zayna. Pertemuan mereka terjadi melalui kerja sama investasi di Makassar. Karim menunjuk Bunda Zayna sebagai pengelola portofolio pribadinya. Namun ketika ia melihat langsung keharmonisan keluarga perempuan itu, hatinya goyah. Untuk pertama kalinya, Karim merasakan cinta yang tak bisa ia miliki. Ia berusaha mengikhlaskan. Di tengah pergulatan batin, Karim menyadari dirinya telah lama jauh dari Tuhan. Cinta yang mustahil itu justru membawanya kembali pada sholat dan doa. Orang tuanya, yang memahami perubahan itu, berusaha menjaga agar Karim tidak tenggelam terlalu dalam pada perasaan yang semu. Namun ujian sesungguhnya datang dari dunia investasi. Manuver bisnis yang kejam menyeret nama Bunda Zayna dalam isu manipulasi pasar, mengancam reputasinya. Karim harus memilih: menggunakan kekuasaannya untuk melindungi perempuan yang ia cintai, atau mundur demi menjaga kehormatan dan batas yang tak boleh dilanggar. Investor Asing adalah kisah tentang cinta yang hadir di waktu yang salah, tentang iman yang kembali tumbuh, dan tentang kesetiaan yang menjadi investasi paling berharga dalam kehidupan.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab. 1

Adzan Subuh baru saja usai ketika Bunda Zayna melipat sajadahnya perlahan. Rumah masih diselimuti sunyi yang lembut. Udara pagi terasa dingin, menyusup melalui celah jendela dapur.

Ia berjalan ke dapur dengan langkah ringan.

Kompor dinyalakan. Wajan dipanaskan. Telur ceplok, tumis sayur sederhana, dan nasi hangat mulai tersaji satu per satu. Tangannya bergerak cekatan, terbiasa dengan ritme pagi yang hampir selalu sama.

Di sudut dapur, teko kecil mulai mendidih.

Suaminya keluar dari kamar dengan kemeja kantor yang sudah rapi disetrika.

“Sudah bangun dari tadi?” tanyanya lembut

Seperti biasa,” jawab Bunda Zayna sambil tersenyum tipis.

Ana muncul berikutnya, rambutnya masih sedikit berantakan. “Mama… hari ini ada olahraga.”

“Iya, Mama sudah siapkan bekal lebih. Jangan lupa sepatu.” Tak lama, Ziyan menyusul sambil mengucek mata.

“Mama, hari ini ziyan latihan Bulu Tangkis…”

“Iya, Nak. Mama sudah masukkan roti tambahan. Biar semangat.”

Suasana pagi itu sederhana, tapi hangat.

Suaminya duduk sebentar di meja makan.

“Kamu nanti posting jam berapa?”

“Setengah delapan. Setelah ngopi.”

Suaminya tersenyum. “Kopi dulu baru market ya?”

Bunda Zayna terkekeh kecil. “Market bisa merah, tapi kopi harus hitam dan hangat.” Ia memang pecinta kopi. Bukan yang mahal atau berkelas, cukup kopi hitam tubruk sederhana yang aromanya memenuhi dapur.

Setelah anak-anak sarapan dan berpamitan, suaminya berdiri mengambil tas kerja.

“Hati-hati ya di rumah.”

“Kk juga.” Pintu tertutup pelan.

Rumah kembali sunyi. Jam menunjukkan pukul 07.32. Inilah waktunya.

Bunda Zayna membawa cangkir kopinya ke meja kecil di sudut ruang keluarga yang ia sulap menjadi ruang kerja sederhana. Laptop dibuka. Grafik candlestick memenuhi layar.

Ia menyesap kopi pertama. Hangat. Pahit. Menenangkan. Seperti market — kadang pahit, tapi selalu memberi pelajaran.

Ia menarik napas sebelum menekan tombol rekam.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh… Selamat pagi, teman-teman trader dan investor di mana pun berada.” Suaranya tenang, stabil, tidak dibuat-buat.

“Semalam indeks Dow Jones ditutup menguat 0,8% setelah data inflasi Amerika menunjukkan perlambatan. S&P 500 ikut menguat, sementara Nasdaq cenderung bergerak terbatas.” Tangannya bergerak pada mouse, mengganti slide.

“Harga minyak mentah naik tipis akibat sentimen geopolitik. Hal ini berpotensi memberi angin segar pada sektor energi domestik.” Ia kembali menyesap kopi.

Untuk IHSG hari ini, kita masih berada di fase konsolidasi. Support terdekat di 7.120 dan resistance di 7.200. Selama support bertahan, peluang rebound masih terbuka.” Nada suaranya tetap rendah hati.

“Untuk trading harian, saya memantau sektor energi dan perbankan digital. Potensi kenaikan 5–8% dengan cut loss disiplin di bawah support terdekat. Ingat, jangan serakah. Disiplin lebih penting dari cuan besar.” Ia selalu menutup dengan kalimat yang sama.

“Market tidak pernah salah. Yang perlu diperbaiki adalah manajemen diri kita.” Rekaman selesai.

Video itu diunggah seperti biasa — tanpa wajah, hanya suara dan grafik. Dua tahun terakhir, ia konsisten seperti ini.

Tidak pamer.

Tidak sensasional.

Tidak menjanjikan kaya mendadak.

Hanya analisa.

Notifikasi mulai berdenting.

Like. Komentar. Pertanyaan.

Ia baru saja hendak merapikan catatan ketika ponselnya berdering. Nomor tidak dikenal.

Ia menatap layar beberapa detik.

“Ya, halo?” Suara di seberang terdengar berat namun tenang.

“Maaf, ini dengan Bunda Zayna?”

Bunda Zayna yang sedang merapikan catatan analisa sahamnya menoleh pada layar ponsel. Nomor tak dikenal.

“Benar, Pak. Dengan siapa?”

“Saya Karim. Saya mendapatkan nomor Ibu dari kanal MiTube edukasi saham.”

Jantungnya berdetak pelan. Ia mencoba mengingat. Nomor pribadinya jarang sekali ia bagikan. Hanya beberapa murid kelas privat yang menyimpannya.

"Halo, Bunda Zayna? Apakah Ibu masih di sana?”

“Oh, iya. Maaf, Pak. Ada yang bisa saya bantu?”

“Saya ingin membuka akun RDN dengan referral Ibu. Apakah memungkinkan?”

Mata Bunda Zayna berbinar. Referral berarti tambahan poin dan komisi kecil—lumayan untuk tambahan uang sekolah anak-anak.

“Baik, Pak. Silakan instal aplikasi sekuritas kami dan gunakan kode referral saya.” Ia menjelaskan dengan suara profesional, seperti biasa saat membalas pesan follower.

“Apakah boleh jika Bunda Zayna yang membantu proses pembuatannya? Persyaratannya bisa saya kirim sekarang.”

"Maaf sebelumnya, Pak. Aplikasi RDN tidak bisa dibuka dari sembarang ponsel. IP awal terdaftar yang dapat mengakses akun. Jika saya yang membuatkan, Bapak akan kesulitan memantau sendiri.” Hening sepersekian detik.

“Oh, itu tidak masalah,” jawab Karim santai. “Justru saya berharap Bunda Zayna yang mengelola akun saya. Dengan pembagian 75:25 dari setiap keuntungan mingguan.” Tangan Bunda Zayna otomatis mengepal.

Terlalu mudah

Terlalu percaya.

Atau… terlalu berani?

Maaf sebelumnya, Pak,” ucapnya hati-hati. “Saya tidak menerima pengelolaan dana pribadi. Kita juga belum pernah bertemu.”

“Saya percaya pada data. Akurasi analisa Ibu cukup konsisten.” Kalimat itu membuatnya sedikit tertegun.

Namun tetap saja—

“Maaf, Tuan. Saya sulit menerima tawaran ini. Terima kasih atas kepercayaannya.” Dan sebelum pria itu melanjutkan, ia menutup panggilan.

Tut… tut… tut…

Tangannya sedikit gemetar. Ia menatap layar ponselnya lama.

Ruangan kembali sunyi. Kopi di cangkirnya masih mengepul.

“Aneh,” gumamnya. “Orang dari mana pula ini…”

Namun jauh di dalam hati kecilnya, ada rasa lain yang tak mau ia akui—sebuah peluang besar yang baru saja ia tolak.

Di tempat lain, Karim masih memegang ponselnya.

“Dia… menolak?” Nada sambungan terputus masih terngiang. Ia jarang sekali mendengar kata tidak. Biasanya orang berebut kesempatan ketika mendengar pembagian hasil yang cukup menggiurkan, Sudut bibirnya terangkat pelan.

Menarik.Hari ini, masih ada perempuan yang tidak silau oleh uang.

"Hemm… seorang Karim tidak akan menyerah.”

Dari balik pintu kaca ruang kerjanya, Ziyan memperhatikan. Sudah lama ia tidak melihat bosnya tersenyum seperti itu—bukan senyum bisnis, tapi senyum tertarik.

“Oh tidak,” gumamnya pelan. “Ini bahaya.”

Tok… tok… tok…

“Bos, boleh saya masuk?”

“Masuk.”

Hari ini kita siapkan penerbangan ke Makassar.” Karim mengangkat alis. “Mendadak?”

“Bos lupa? Meeting malam ini dengan investor.”

Karim menatap jam di pergelangan tangannya. Benar. Jadwal padat, rapi, tak pernah meleset. Namun entah kenapa, pikirannya justru kembali pada suara lembut yang menolaknya barusan.

“Siapkan penerbangan sekarang.”

“Siap, Bos.”

Beberapa jam kemudian, di dalam jet pribadinya, Karim memandangi langit sore. Ziyan duduk di seberangnya, menahan rasa ingin tahu.

Kita akan melebarkan bisnis di pulau ini,” ujar Karim akhirnya. “Ziyan, bukankah Bunda Zayna tinggal di Sulawesi?”

“Benar, Sir. Di Pare-Pare. Sekitar tiga sampai empat jam perjalanan darat dari Makassar.”

“Tidak ada penerbangan?”

“Belum ada, Sir.”

Karim terdiam, lalu berkata pelan namun pasti, “Kita ke Pare-Pare. Cari lahan strategis. Tidak harus dekat keramaian. Saya ingin tempat yang tenang.”

Ziyan menyipitkan mata. “Baik, Sir. Tapi… ini tentang ekspansi bisnis, atau…” Karim menatapnya datar.

Ziyan langsung tersenyum kikuk. “Baik, saya atur.”

Namun dalam hati ia bergumam, Bos… ini bukan sekadar bisnis.

Di sore hari Bunda Zayna duduk termenung di ruang tamu.

Suaminya keluar dari kamar membawa cangkir teh yang sudah disiapkan bunda Zayna sebelumnya.

“Kenapa melamun, hemm?”

Ia menoleh ke arah suaminya. “Kak, malam ini kita ke Hotel Lotus, ya.”

“Dalam rangka apa?” “Ada orang dari Bandung. Katanya tertarik dengan konten sahamku. Kita diundang satu keluarga.”

Suaminya mengangguk pelan.

“Kalau begitu, kita datang bersama."

Bunda Zayna tersenyum tipis. Namun di dalam hatinya, ada firasat yang mulai muncul.

Entah kenapa… ia merasa hidupnya akan segera berubah. Dan ia belum tahu — perubahan itu akan membawa keberuntungan. Atau justru badai.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status