MasukIstrinya ditukar di depan matanya dan tanpa persetujuannya. Tidak ada satu pun di rumah itu yang menganggap Bara punya hak untuk menolak. Bara harus merelakan istrinya yang bernama Helend digeser begitu saja ke pria lain yang bernama Jodi yang merupakan suami Anjani, wanita bercadar yang merupakan kakaknya Helend. Sementara Bara harus rela menjadi suami Anjani ,Kakak kandung istrinya yang bercadar itu yang diketahui mandul. Bara tidak langsung marah. Ia hanya diam, karena sejak awal ada sesuatu yang terasa janggal dari cara semua orang di ruangan itu memperlakukannya—seolah keberadaannya tidak pernah benar-benar dihitung. Sampai sebuah fakta tentang identitas Bara tiba-tiba terkuak. Bara ternyata merupakan pewaris orang terkaya di negeri ini, sekaligus termasuk orang terkaya ketiga di Asia dan kelima di dunia versi daftar kekayaan global yang selama ini tidak pernah ia kaitkan dengan dirinya sendiri. Namun sebelum itu sempat benar-benar dicerna, pukulan datang dari arah yang tidak terduga, membuatnya langsung kehilangan kesadaran. Saat Bara sadar kembali, semuanya sudah berubah. Posisi ranjang sudah berubah, Helend sudah di ranjang Jodi yang menggantikannya, sementara Bara telah di ranjang Anjani wanita bercadar yang merupakan kakak kandung istrinya yang wajahnya belum sekali pun pernah bara lihat. Konon katanya wajah Anjani buruk ini rupa. Tapi, ternyata tanpa mereka ketahui bahwa di balik cadar itu sebenarnya tersimpan wajah cantik secantik ribuan bidadari.
Lihat lebih banyakSeluruh orang di lorong bawah tanah masih terpaku menatap layar ponsel Roland yang kini telah kembali gelap. Tidak ada yang bersuara selama beberapa detik, membiarkan keheningan malam dan deru napas tertahan mendominasi ruangan.Namun di luar dugaan, Bara justru tidak langsung panik. Dengan gestur tenang, ia meminta Roland memutar ulang video rekaman siaran langsung ruang rapat yang baru saja dikirimkan.Roland mengernyitkan dahi, menatap tuannya dengan keheranan. "Tuan Muda, isi pesannya sudah sangat jelas. Pria bermata abu-abu itu sudah menguasai ruang rapat. Untuk apa kita melihatnya lagi?"Bara tidak menjawab pertanyaan asistennya. Alih-alih memperhatikan wajah paman yang sedang berkhianat di layar, sorot mata Bara justru mengamati setiap detail sudut ruangan tempat video itu direkam.Ia mengamati posisi tiang infus, pantulan cahaya tipis pada kaca jendela, angka digital di layar monitor pasien yang redup, hingga arah bayangan tirai di lat
Seluruh orang di lorong bawah tanah mendadak membeku dalam keheningan yang menyesakkan. Sorot mata Bara terkunci tajam pada layar ponsel Roland yang masih menampilkan siaran langsung dari ruang rapat utama kantor pusat.Di layar tersebut, pria bermata kiri abu-abu tampak berdiri dengan angkuh di hadapan para direksi, mengangkat selembar dokumen resmi yang baru saja ia buka. Di atas kertas berlogo negara itu, memang tertulis nama Bara Arthur sebagai pihak pertama.Namun, ketika mata Bara membaca lebih jauh pada kolom berikutnya, darahnya seolah berdesir dingin. Nama mempelai wanita di dalam akta pernikahan tersebut bukanlah Anjani.Di ruang rapat pusat, sang paman bermata abu-abu mulai mengumumkan dokumen itu dengan suara lantang yang sengaja disiarkan ke seluruh penjuru ruangan. Ia menuding bahwa Bara selama ini telah membohongi keluarga besar Arthur dan dewan direksi dengan menyembunyikan status pernikahan masa lalu yang sah secara hukum, menjadikannya tidak layak memegang tampuk
Sorot senter dari tangan Bara menerangi lorong yang tersembunyi di balik dinding batu. Sosok pria berjas hitam yang berdiri di ujung lorong itu sama sekali tidak menunjukkan niat untuk melawan. Di belakangnya, sebuah ruangan yang lebih luas terpampang nyata, dihiasi sebuah meja batu besar dan sebuah lukisan minyak berukuran besar yang tergantung di dinding paling dalam.Seluruh rombongan memandang lukisan itu tanpa berkedip. Ketua Dewan melangkah mendekat dengan napas memburu. Tongkat di tangannya hampir terlepas dari genggamannya saat matanya menangkap sosok pria yang berdiri tepat di samping pendiri keluarga Arthur dalam lukisan kuno tersebut.Kemiripan wajah pria dalam lukisan itu dengan Bara terlalu mencolok untuk disebut sebuah kebetulan. Bentuk rahangnya, sorot mata tajamnya, bahkan garis alisnya tampak hampir identik, seolah-olah wajah Bara yang dipindahkan ke atas kanvas tua.Roland spontan menoleh ke arah Bara, lalu kembali menatap lukisan di dinding. "Mustahil..." bisikny
Suara ledakan yang menggema dari bangunan utama masih menyisakan dengung di telinga, namun perhatian rombongan kecil itu kini terkunci sepenuhnya pada pintu besi tua di hadapan mereka. Semua orang membeku dalam ketegangan yang pekat.Roland langsung memberi isyarat tajam kepada dua pengawal terbaiknya untuk menyisir dan memeriksa area sekitar lorong. Setelah pemeriksaan kilat dilakukan, kedua pengawal itu kembali dengan napas terengah-engah dan menggelengkan kepala."Tidak ada siapa pun yang melewati lorong ini, Tuan Muda," lapor salah satu pengawal. "Hanya kita yang ada di sini."Pernyataan itu menyisakan dua kemungkinan yang sama-sama mengerikan. Entah ada jalan rahasia lain yang tersembunyi di balik dinding, atau... seseorang memang telah berada di dalam ruangan itu jauh sebelum mereka datang.Ketua Dewan tampak kehilangan ketenangan yang selama ini selalu ia jaga. Pria sepuh itu meremas tongkatnya dengan jemari yang gemetar. Selama puluhan tahun mengabdi pada keluarga Arthur,












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan