로그인Kematian mendadak sang ayah seharusnya menjadi duka terdalam bagi Rani yang baru berusia sepuluh tahun. Namun, air matanya tak sempat mengering ketika kebenaran yang jauh lebih kejam terungkap. Tante Riska, bibinya sendiri, merekayasa utang fiktif dan merampas paksa seluruh harta keluarganya, melempar Rani dan ibunya, Sinta, ke dasar jurang kemiskinan yang paling hina. Demi bertahan hidup, Sinta terpaksa berjualan gorengan menggunakan minyak jelantah sisa. Asap tengik itu menempel abadi di seragam sekolah Rani, menjadikannya sasaran empuk perundungan tanpa ampun. Dijuluki "Rani Jelantah", ia dihina, sepatunya dibuang ke selokan, uang sekolahnya dicuri, dan masa depannya nyaris dihancurkan oleh sepupunya yang licik dan arogan, Hilda. Namun, para penindas itu melupakan satu hal penting: kemiskinan mungkin bisa merampas rumah Rani, tapi tak akan pernah bisa menumpulkan kecerdasannya yang mengerikan. Di balik aroma tengik minyak jelantah dan telapak kakinya yang melepuh di atas aspal panas, sebuah sumpah dendam yang absolut telah lahir. Rani menolak untuk hancur. Ia akan menggunakan otak jeniusnya sebagai senjata mematikan untuk menguliti kesombongan keluarga Kusuma dari akar-akarnya. Gadis Bau Jelantah Itu Kini Bosmu Jilid adalah epik tentang pengorbanan darah seorang ibu, konspirasi keluarga yang keji, dan bangkitnya seorang anak dari dasar selokan. Karena balas dendam terbaik tidak butuh kepalan tangan; ia hanya butuh kecerdasan yang menolak untuk dikalahkan.
더 보기Tujuannya hanya satu: rumah mewah berpagar besi tinggi milik Om Arman dan Tante Riska yang terletak di kawasan perumahan elite, beberapa kilometer dari gang kumal tempatnya tinggal. Tempat yang selama ini paling dihindarinya karena merupakan pusat dari segala sumber penderitaan psikologisnya.Rani berdiri di depan gerbang besi hitam menjulang yang dilapisi pelat fiber penutup. Tangan kanannya yang kurus mencengkeram besi dingin itu, lalu menekan tombol bel kuningan di sisi kanan pilar beton. Bunyi nyaring menggema dari dalam halaman rumah berarsitektur mediteranian tersebut. Kedua kaki Rani bergetar hebat, bukan karena takut, melainkan karena ia berlari tanpa henti di bawah terik matahari pagi yang mulai memanggang aspal demi menghemat uang dua belas ribu di sakunya.Cklek. Pintu utama rumah ber-AC itu terbuka. Sosok pria paruh baya dengan kaos oblong putih tipis dan sarung kotak-kotak melangkah keluar. Om Arman."Rani?" Om Arman melebarkan matanya, terkejut melihat keponakannya be
"Bertahanlah, Bu," bisik Rani, suaranya kini bergetar, pertahanan emosionalnya sedikit retak melihat satu-satunya pilar kehidupannya tumbang. "Aku janji bakal cari obatnya besok pagi. Aku bakal jualan tempenya. Aku bakal ngelakuin apa aja. Ibu cuma perlu napas sampai besok pagi. Tolong, Bu... jangan tinggalin Rani sendirian di dunia yang isinya cuma lintah dan parasit ini."Ketika fajar menyelinap di antara celah dinding papan gubuk mereka, hawa dingin yang menusuk tulang berganti dengan pengap yang mencekik. Rani terbangun dengan sentakan instan. Kesadarannya langsung pulih seratus persen dalam hitungan detik. Ia menoleh ke samping, tempat ibunya terbujur kaku."Ibu? Sudah pagi. Biar aku yang ke pasar," kata Rani sambil mengguncang bahu Sinta.Tidak ada jawaban. Kulit Sinta yang biasanya sawo matang kini berubah pucat pasi, nyaris keabu-abuan seperti kertas usang. Saat Rani menyentuh lengan ibunya, rasa panas yang menyengat langsung merambat ke telapak tangannya. Suhu tubuh Sinta
Di bawah cahaya rapuh sebatang lilin itu, Rani menatap wajah ibunya. Hatinya seperti diremas tangan raksasa tak kasat mata. Cahaya lilin menyorot tegas seberapa kurus dan kelelahannya Sinta saat ini. Punggung baja yang selama ini menopang hidup Rani itu tampak begitu rapuh, siap hancur kapan saja.Sinta terbatuk lagi, kali ini lebih keras. Ia memegangi dadanya, berusaha meredam suara batuk agar tak terdengar sampai ke telinga Bu Tejo di sebelah."Ibu duduk sekarang. Tinggalkan wajan itu," perintah Rani absolut, suaranya tak menyisakan ruang untuk bantahan. Ia menarik kursi kayu reyot dan menuntun ibunya duduk."Ibu masih bisa ngaduk bumbunya, Rani..." tolak Sinta parau, napasnya berembus panas. "Kalau nggak dipanasin bener-bener, besok—""Besok adalah urusan besok!" potong Rani cepat, matanya menatap tajam ibunya di keremangan. "Aku ini bukan ahli nujum, Bu. Tapi melihat pupil mata Ibu yang melebar, keringat dingin, dan napas pendek ini, anak SD pun tahu Ibu sedang demam tinggi. K
Dunia yang baru saja terasa cerah kembali runtuh menimpa kepala Sinta. Lutut wanita itu lemas seketika. Telur dadar spesial, tawa kemenangan, dan segala euforia di ruang BP tadi menguap dihantam palu godam realita kemiskinan yang brutal."Ya Allah... listrik kita diputus..." bisik Sinta dengan bibir gemetar pucat, matanya menatap kosong pada segel kuning itu. "Bulan lalu uangnya Ibu pakai buat beli seragam putihmu, Nduk... Bulan ini dagangan sepi kena hujan terus... Ibu... Ibu belum pegang uang sama sekali..."Rani mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Ia memang bisa mengalahkan kesombongan guru eksakta dengan rumus kalkulus, ia bisa menghancurkan alibi palsu Tante Riska dengan logika forensik, tapi otaknya yang jenius tak bisa menciptakan lembaran uang kertas untuk membayar tagihan yang mencekik leher mereka hari ini.Udara siang itu mendadak terasa begitu menyesakkan. Gelap yang sesungguhnya kini sedang menanti mereka di balik pintu kayu yang lapuk itu.Kresek sayuran dan bumbu
"Nikmati kemenangan sementaramu, Hilda. Karena setelah ini, giliran aku yang akan membongkar semua busuknya keluargamu di depan seluruh guru," desis Rani sebelum melangkah tegap keluar kelas mendahului Pak Joni.Hilda terdiam, senyum kemenangannya mendadak beku. Mengapa di saat seperti ini, di saa
Begitu punggung kecil Rani menghilang di balik ambang pintu kayu kelas, Hilda bangkit dari posisinya yang menelungkup. Sisa air mata pura-pura di pipinya sudah mengering tanpa bekas, digantikan oleh kilat kelicikan yang menggelap di manik matanya.Hilda menoleh ke kiri dan kanan dengan cepat. Kela
Rani melangkah masuk ke ruang kelas empat B dengan sepatu ketsnya yang menyisakan jejak lem Aibon kekuningan di pinggiran sol. Setiap tapaknya mantap. Tidak ada lagi keraguan. Udara kelas yang pengap seakan terbelah oleh kehadirannya. Namun, seperti yang sudah ia duga, sambutan pertama yang ia teri
Rani mendorong pintu kamar itu lebar-lebar. Engsel berkarat yang berderit nyaring memecah keheningan malam, membuat Sinta terkesiap hebat di atas kasur.Jarum jahit di tangan Sinta terlepas, jatuh berdenting ke lantai semen yang dingin. Sepatu kets basah berlumur lumpur selokan itu ikut merosot da












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.