Gadis Bau Jelantah itu Kini Bosmu

Gadis Bau Jelantah itu Kini Bosmu

last updateDernière mise à jour : 2026-05-25
Par:  Taufik TangguhEn cours
Langue: Bahasa_indonesia
goodnovel12goodnovel
Notes insuffisantes
7Chapitres
10Vues
Lire
Bibliothèque

Partager:  

Report
Overview
Catalog
Scanner le code pour lire sur l'application

​Kematian mendadak sang ayah seharusnya menjadi duka terdalam bagi Rani yang baru berusia sepuluh tahun. Namun, air matanya tak sempat mengering ketika kebenaran yang jauh lebih kejam terungkap. Tante Riska, bibinya sendiri, merekayasa utang fiktif dan merampas paksa seluruh harta keluarganya, melempar Rani dan ibunya, Sinta, ke dasar jurang kemiskinan yang paling hina. ​Demi bertahan hidup, Sinta terpaksa berjualan gorengan menggunakan minyak jelantah sisa. Asap tengik itu menempel abadi di seragam sekolah Rani, menjadikannya sasaran empuk perundungan tanpa ampun. Dijuluki "Rani Jelantah", ia dihina, sepatunya dibuang ke selokan, uang sekolahnya dicuri, dan masa depannya nyaris dihancurkan oleh sepupunya yang licik dan arogan, Hilda. ​Namun, para penindas itu melupakan satu hal penting: kemiskinan mungkin bisa merampas rumah Rani, tapi tak akan pernah bisa menumpulkan kecerdasannya yang mengerikan. Di balik aroma tengik minyak jelantah dan telapak kakinya yang melepuh di atas aspal panas, sebuah sumpah dendam yang absolut telah lahir. Rani menolak untuk hancur. Ia akan menggunakan otak jeniusnya sebagai senjata mematikan untuk menguliti kesombongan keluarga Kusuma dari akar-akarnya. ​Gadis Bau Jelantah Itu Kini Bosmu Jilid adalah epik tentang pengorbanan darah seorang ibu, konspirasi keluarga yang keji, dan bangkitnya seorang anak dari dasar selokan. Karena balas dendam terbaik tidak butuh kepalan tangan; ia hanya butuh kecerdasan yang menolak untuk dikalahkan.

Voir plus

Chapitre 1

Langit Runtuh di Usia Sepuluh

"Tangisi terus mayat suamimu itu, Sinta! Menjeritlah sampai suaramu habis! Tapi ingat, air matamu itu tidak akan bisa dipakai untuk membayar tagihan ambulans, tenda pelayat, dan biaya gali kubur hari ini!"

Suara melengking Tante Riska membelah udara ruang tamu yang masih menyisakan aroma kapur barus dan melati. Tidak ada belas kasihan. Tidak ada empati.

Sinta, yang masih mengenakan kerudung hitam lusuhnya, mendongak dengan mata bengkak kemerahan. "Mbak Riska... Mas Seno baru saja diturunkan ke liang lahat. Tanah kuburnya bahkan belum kering. Teganya Mbak berteriak menagih uang di saat kami sedang hancur?"

"Tega? Justru suamimu yang tidak punya otak, Sinta!" Tante Riska berkacak pinggang, menatap hina ke sekeliling rumah sederhana berlantai ubin kusam itu. "Mati mendadak akibat kecelakaan, lalu meninggalkan utang lima puluh juta padaku! Kalau bukan karena aku yang menalangi biaya rumah sakit dan pemakaman hari ini, jenazah Seno sudah membusuk di kamar mayat karena kalian tidak punya sepeser pun uang tunai!"

Di sudut ruangan, tepat di samping sofa hijau yang busanya mulai menyembul keluar, Rani hanya bisa memeluk lututnya erat-erat. Gadis kecil berusia sepuluh tahun itu menatap ngeri pada perempuan berlipstik merah menyala yang sedang menunjuk-nunjuk wajah ibunya.

Dunia Rani baru saja runtuh tiga jam yang lalu. Ayahnya, pria yang semalam masih berjanji akan membelikannya sepatu sekolah baru, tewas seketika setelah motornya menabrak truk akibat rem blong. Namun, duka Rani dipaksa berhenti oleh rentetan kalimat kejam bibinya sendiri.

"Utang lima puluh juta?" Suara Sinta bergetar keras, menyiratkan kebingungan yang bercampur dengan amarah. "Mas Seno tidak pernah meminjam uang sepeser pun darimu, Mbak! Bengkel motornya sedang ramai, tabungan kami di bank masih cukup untuk..."

"Tabungan? Buka matamu yang buta itu, Sinta!" Tante Riska merogoh tas kulit mahalnya, lalu melempar sebuah map plastik tebal tepat ke wajah Sinta. Ujung map itu menggores pipi Sinta hingga memerah. "Seno itu menggadaikan sertifikat rumah ini padaku bulan lalu untuk menutupi kerugian bengkelnya yang nyaris bangkrut! Suamimu itu kelihatannya saja alim, aslinya? Tukang utang yang tidak tahu diri!"

Sinta memungut map tersebut dengan tangan gemetar. Saat matanya membaca deretan angka dan tanda tangan di atas meterai, napasnya tercekat.

"Ini bukan tanda tangan Mas Seno..." bisik Sinta, air mata kembali menetes membasahi kertas tersebut. "Tarikan garisnya berbeda. Ini pemalsuan!"

"Berani kamu menuduhku memalsukan dokumen, hah?!" Tante Riska melangkah maju, mengangkat tangannya bersiap menampar Sinta.

Namun, sebelum tangan berhias gelang emas itu mendarat di pipi ibunya, sebuah tubuh kecil melesat dari sudut ruangan dan berdiri merentangkan tangan tepat di depan Sinta.

"Jangan berani pukul Ibu!" teriak Rani lantang. Dada gadis sepuluh tahun itu naik turun dengan cepat. Matanya yang bulat menatap tajam, mengunci manik mata Tante Riska tanpa rasa takut sedikit pun.

"Oh, anak bau kencur ini sudah berani melawan?" Tante Riska tersenyum sinis, menunduk menatap Rani dengan jijik. "Minggir kamu, anak miskin! Kamu tidak tahu apa-apa!"

"Rani tahu Tante berbohong!" balas Rani cepat. Setiap kata yang keluar dari mulut kecilnya terdengar setajam pisau. "Kemarin malam Ayah bilang sertifikat rumah ini ada di laci meja kerjanya. Ayah bilang baru saja melunasi cicilan terakhirnya ke bank bulan lalu. Tante yang mengambil sertifikat itu saat Ibu sedang sibuk menangis di rumah sakit tadi pagi, kan?"

Wajah Tante Riska seketika pias. Gurat kepanikan melintas kilat di matanya sebelum tertutup oleh topeng kemarahan yang lebih meledak-ledak. Rahasia kelam yang ia susun rapi mendadak dikoyak oleh ingatan fotografis seorang anak berusia sepuluh tahun.

"Jaga mulutmu, anak sialan!" bentak Tante Riska, suaranya naik satu oktaf menutupi kegugupannya.

"Dan soal uang bengkel," Rani tidak mundur, ia justru maju satu langkah, suaranya mendesak telinga bibinya. "Ayah tidak pernah pinjam uang ke Tante untuk modal bengkel. Seminggu yang lalu, Rani dengar sendiri Ayah menelepon Om Arman. Ayah menagih utang Tante yang kalah arisan. Tante yang sering pinjam uang belanja sama Ayah, bukan sebaliknya!"

"Cukup!"

Suara bariton yang sedari tadi diam di ambang pintu akhirnya terdengar. Om Arman, suami Tante Riska, melangkah masuk dengan wajah tertunduk. Ia menarik lengan istrinya dengan canggung. "Sudah, Ma, sudah... Seno baru saja dikubur. Jangan ribut soal utang sekarang. Malu didengar tetangga di luar."

"Diam kamu, Arman! Suami tidak berguna!" Tante Riska menghempaskan tangan suaminya dengan kasar. "Kalau kamu tidak lembek dan tidak gampang ditipu Seno, kita tidak akan rugi puluhan juta! Aku tidak peduli dengan tetangga. Aku hanya peduli pada uangku yang dibawa mati oleh pria brengsek itu!"

Sinta mendekap tubuh Rani dari belakang, menutupi telinga putrinya. "Jangan sebut suamiku brengsek, Mbak Riska! Dia adik kandung suamimu sendiri!"

"Adik yang membebani, ya!" Tante Riska menuding lurus ke hidung Sinta. "Dengar baik-baik, janda miskin. Sertifikat ini sudah berpindah tangan. Kalau kamu tidak bisa melunasi lima puluh juta itu besok pagi, bersiaplah angkat kaki dari rumah ini! Aku akan menyita rumah ini, beserta seluruh isi bengkel rongsokan di depan sana!"

"Tante tidak bisa melakukan itu!" Rani kembali bersuara, menepis tangan ibunya yang mencoba menahannya. Mata gadis kecil itu menyipit, memancarkan kecerdasan dan intrik yang melampaui usianya. "Sertifikat itu harus melalui balik nama di notaris. Ayah belum meninggal saat Tante mengklaim utang itu dibuat. Kalau Tante memaksa menyita rumah ini besok, Rani akan berteriak pada Pak RT dan polisi bahwa Tante mencuri dokumen kami saat kami sedang berduka!"

Ruang tamu itu mendadak hening. Hening yang sangat mencekam. Om Arman menatap keponakannya dengan mulut sedikit terbuka, tidak menyangka analisis hukum dasar itu bisa keluar dari mulut anak kelas empat SD.

Tante Riska mengertakkan giginya hingga rahangnya berbunyi. Matanya menatap Rani seolah ingin menelan gadis itu hidup-hidup. "Anak ini... benar-benar mewarisi kelicikan bapaknya."

"Dan satu lagi," Rani menambahkan, suaranya kini memelan namun auranya terasa jauh lebih mengancam, membongkar sebuah konspirasi yang membuat darah Om Arman berdesir dingin. "Kenapa Tante sangat marah dan menuduh Ayah kecelakaan karena bodoh? Bukankah Tante yang memaksa membelikan Ayah suku cadang kampas rem motor itu dua hari yang lalu dari bengkel kenalan Tante yang harganya sangat murah? Padahal Ayah bilang rem itu tidak standar."

Sinta tersentak. Ia menoleh menatap Riska dengan mata membelalak. "Mbak... kamu yang mengganti rem motor Mas Seno?"

Wajah Tante Riska kehilangan warnanya. Lipstik merahnya tampak kontras dengan kulitnya yang tiba-tiba sepucat mayat. Ia melirik liar ke arah pintu, memastikan tidak ada pelayat yang mendengar ucapan Rani. Kecelakaan akibat rem blong itu belum diselidiki polisi, namun Rani sudah menyambungkan benang merah yang sengaja Riska putus.

"I-itu fitnah!" Tante Riska tergagap, suaranya bergetar hebat. "Arman, ayo kita pulang! Percuma bicara dengan janda gila dan anak halusinasi ini! Dengar, Sinta! Aku beri waktu satu minggu! Satu minggu! Kalau uangku tidak kembali, aku sendiri yang akan menyeret kalian berdua keluar dari rumah ini ke jalanan!"

Tanpa menunggu balasan, Tante Riska berbalik dan berjalan cepat keluar rumah, langkah sepatunya terdengar kasar dan terburu-buru. Om Arman hanya menatap Sinta dengan tatapan bersalah yang memuakkan, lalu bergegas menyusul istrinya yang sudah berteriak memanggil dari luar pagar.

Sepeninggal mereka, keheningan yang menyakitkan kembali menguasai rumah tersebut. Bau kapur barus terasa semakin menyengat, bercampur dengan aroma keputusasaan yang pekat.

Sinta jatuh terduduk di atas lantai ubin. Tangisnya yang tadi tertahan oleh amarah kini pecah berantakan. Ia memukul-mukul dadanya yang sesak, meratapi nasib yang berbalik seratus delapan puluh derajat hanya dalam hitungan jam. Ayah yang menjadi tulang punggung, pelindung, dan kompas kehidupan mereka telah pergi, meninggalkan utang fiktif dan sengketa yang akan mencekik leher mereka.

"Ibu..." Rani ikut bersimpuh, memeluk leher ibunya erat-erat. Air mata yang sedari tadi ia tahan di depan Tante Riska akhirnya tumpah membasahi bahu Sinta.

"Maafkan Ibu, Rani... Maafkan Ibu..." Sinta meracau di sela isakannya. Tangan kasarnya membelai rambut putrinya yang kusut. "Rumah ini... bengkel Ayah... semuanya akan dirampas. Kita tidak punya uang sepeser pun. Uang di dompet Ibu bahkan tidak cukup untuk membeli beras besok pagi."

Rani melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah ibunya yang hancur. Di usianya yang baru sepuluh tahun, Rani dipaksa menelan kenyataan bahwa dunia tidak pernah adil bagi mereka yang lemah dan miskin. Air matanya memang mengalir, tetapi di balik manik mata hitam kelam itu, sebuah bara api baru saja menyala. Bara api yang kelak akan membakar siapa pun yang berani merendahkan ibunya.

Gadis kecil itu menyeka air mata di pipi ibunya dengan ibu jari.

"Ibu jangan menangis lagi," bisik Rani, suaranya tidak lagi bergetar. Ada ketegasan yang absolut, sebuah kemantapan yang terasa terlalu berat untuk diucapkan oleh seorang anak kecil. "Rani berjanji, mulai hari ini tidak akan ada lagi yang boleh menghina Ibu. Mereka boleh merampas rumah ini, mereka boleh merampas bengkel Ayah, tapi mereka tidak akan pernah bisa merampas otak Rani. Rani akan mengambil kembali semua milik kita, seratus kali lipat dari yang mereka curi hari ini."

Sinta hanya bisa memeluk putrinya sambil terus menangis, tidak menyadari bahwa sumpah yang diucapkan putrinya di atas lantai ubin dingin malam itu, akan menjadi awal dari sebuah pembalasan dendam paling epik di masa depan.

Malam semakin larut. Perut Rani berbunyi pelan, mengingatkan bahwa mereka benar-benar berada di dasar jurang kemiskinan. Dari arah dapur, tercium aroma tengik yang menguar dari wajan tua. Aroma minyak goreng bekas yang sudah dipakai berulang kali.

Sinta melepaskan pelukannya, menatap ke arah dapur yang gelap dengan tatapan kosong, lalu perlahan bangkit berdiri.

"Kita harus bertahan hidup besok pagi, Rani," gumam Sinta parau, menyeka air matanya dengan ujung kerudung. "Tidur yang nyenyak malam ini, Nak. Karena besok sebelum subuh, Ibu sudah harus mulai memanaskan wajan itu."

Rani menatap punggung ibunya yang berjalan gontai menuju dapur. Bau minyak goreng bekas yang tengik itu perlahan memenuhi hidungnya, sebuah aroma kemiskinan yang tanpa Rani sadari, kelak akan menempel abadi di seragam sekolahnya dan menjadi identitas penderitaannya.

Déplier
Chapitre suivant
Télécharger

Dernier chapitre

Plus de chapitres

Aux lecteurs

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Pas de commentaire
7
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status