Home / Romansa / Pelukan Sang Majikan di Malam Hari / 21. Tempatmu Ada di Bawah

Share

21. Tempatmu Ada di Bawah

last update Huling Na-update: 2025-10-27 17:50:26

Sera tercenung. Tangannya mengepal di sisi tubuh, berusaha menahan sesuatu yang kembali retak di dalam dada.

Seharusnya Sera tidak menaruh harapan apa pun pada Raven. Karena pada akhirnya, hanya luka yang akan pria itu berikan padanya.

Sera memperhatikan wajah Raven. Wajahnya tenang, tapi ada jarak di balik ketampanannya, seolah tak ada yang benar-benar bisa menyentuhnya.

“Terima kasih,” ucap Sera pelan ketika Raven selesai merapikan penampilannya.

Raven mundur satu langkah, tak menjawab.

Tanpa
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (5)
goodnovel comment avatar
Julee
Celine sepertinya sdh mulai mencium bau2 aroma perselingkuhan Raven & Sera
goodnovel comment avatar
Isma Eni
celine kayaknya selingkuh dia
goodnovel comment avatar
Gita
2 manusia sombong yg akhirnya bakalan jatuh ditangan sera. Liat aja. Tinggal kita sabar nungguin ka ocha up. Wakakak
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   259. Sosok yang Berbeda

    Demi Sera.Dia melangkah masuk.Seorang ibu-ibu paruh baya yang sedang merapikan lapak buah, menatap Raven dengan curiga. “Cari apa, Mas?”Raven mengeluarkan ponsel dan membaca catatan yang ditulis Sera. “Mangga muda keras. Campur jambu dan nanas. Cabai diulek. Gula merah, bukan gula pasir,” ujarnya, dengan nada suara seolah-olah dia sedang membaca dokumen kerjaan.Ibu itu berkedip beberapa kali, lalu tersenyum tipis. “Oh. Mau bikin rujak?”Raven mengangguk samar. “Iya.”“Buat istri yang lagi ngidam, ya?”Raven terdiam selama sepersekian detik, lalu kembali mengangguk. “Iya.”Ibu itu tersenyum lebar. “Tunggu sebentar,” katanya, lalu memilihkan mangga muda, dia tekan-tekan sebentar, memasukkannya ke dalam kantong kresek. Lalu nanas yang masih segar dan jambu yang kulitnya mulus.“Cabenya mau berapa, Mas?”Raven menatap cabe rawit yang merah menyala itu. “Yang pedas sekali.”Ibu itu terkekeh-kekeh. “Kalau gitu yang banyak, Mas. Saya tambahin, ya.”Raven membayar tanpa menawar. Bahkan di

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   258. Demi Sera

    Raven mengerutkan keningnya, napasnya sedikit berat. “Sesuatu yang lain?”“Hm.” Sera mengangguk. Dia menurunkan kedua tangannya dari dada, ke pinggang Raven dan meremasnya pelan, membuat Raven kesulitan menelan salivanya. “Saya… pengen makan rujak serut mangga muda,” lanjutnya dengan ragu.Mata Raven mengerjap. Dia melirik jam dinding sesaat, lalu menatap wajah Sera lagi. “Sudah jam sepuluh. Memangnya masih ada yang jual?”“Nggak tahu.” Sera menggeleng sambil tersenyum kikuk.“Kamu benar-benar menginginkannya?”Kali ini Sera mengangguk. “Iya.”Sebenarnya Sera tidak ingin merepotkan suaminya, dan dia juga tidak berani berharap banyak Raven akan mencari makanan itu untuknya. Apalagi saat ini sudah hampir tengah malam.Tapi tiba-tiba….“Baik. Aku akan mencarinya untukmu,” kata Raven tanpa ragu.Sera membulatkan matanya. “Mas? Serius?”“Iya.” Raven mengangguk mantap. “Kamu sedang mengidam. Keinginanmu jauh lebih penting.” Lalu tanpa banyak bicara, dia masuk ke walk in closet dan mengeluar

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   257. Kacang Lupa Kulitnya

    Sera berhenti melangkah di ambang pintu. Perasaannya tiba-tiba ragu. Jari-jari tangannya menggenggam erat nampan berisi secangkir teh melati hangat.Menghela napas panjang, Sera kembali melanjutkan langkahnya menghampiri Cantika yang sedang duduk di beranda.“Saya membuat teh melati hangat untuk Nyonya,” kata Sera sambil meletakkan gelas bening berisi cairan keemasan itu di meja kecil samping kursi rotan.Cantika melirik minuman itu sesaat, tapi tidak memberi tanggapan apapun pada Sera.Sera kembali menegakkan punggungnya dan terdiam selama beberapa detik sambil menggenggam nampan kosong.“Saya… minta maaf,” ucap Sera setelah beberapa saat hening. “Karena kehadiran saya sudah membuat Nyonya terganggu.”Cantika mengembuskan napas kasar. Ujung matanya bergerak samar.Sera mengeratkan genggamannya dan kembali melanjutkan ucapannya, “Saya tahu ini bukan pilihan yang Nyonya harapkan, tapi saya akan berusaha menjadi istri yang tidak memalukan untuk keluarga ini.”Mendengarnya, Cantika membe

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   256. Makan Malam Keluarga

    Jari-jari tangan Sera yang dingin saling meremas di depan perutnya. Matanya menatap bangunan klasik yang terlihat megah di depan sana.Dia pernah berkunjung ke rumah itu beberapa bulan yang lalu. Tapi dulu statusnya masih sebagai asisten rumah tangga.Sore ini dia kembali ke sana, tapi sebagai istri Raven. Sera benar-benar merasa gugup.“Jangan khawatir. Ada aku.” Raven meraih salah satu tangan Sera, menyelipkan jari-jari tangannya pada sela jari istrinya. Berusaha memberikan kehangatan pada tangan yang dingin itu.Sera mendongak, menatap Raven yang selalu terlihat tampan dengan kemeja hitamnya. “Iya. Selama ada Mas Raven, saya pasti akan baik-baik saja.”Raven seketika berdehem. Lalu menunduk dan berbisik di telinga Sera, “Itu kata-kata milikku. Kamu jangan mengatakan sesuatu yang membuatku kehilangan kendali.”Sera akhirnya terkekeh kecil. Perasaan gugupnya perlahan hilang lalu dia menegakkan punggungnya.“Ayo, ikut aku.”Sambil menggenggam tangan Sera, Raven membawanya memasuki ked

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   255. Cinta Pertama

    Sera ternganga saat mendengar pertanyaan Raven yang tak masuk akal itu.Apa katanya?Dia bertanya apakah Bastian sudah lebih dulu menempati hatinya?Kenapa Raven tiba-tiba bertanya seperti itu?Sera lalu menatap Raven dengan kening berkerut dan sedikit menelengkan kepalanya, berusaha meneliti ekspresi Raven yang keruh saat ini.Bukan. Ekspresi Raven saat ini bukan marah. Tapi dia seolah kesal karena sesuatu yang lain.“Kenapa tidak menjawab?” tanya Raven saat Sera tak kunjung memberikan jawaban. “Kamu lebih dulu menyukainya daripada aku?”Sera kembali ternganga. Tapi detik berikutnya dia tertawa. “Kenapa Mas tanya seperti itu? Saya nggak pernah menyukai siapapun sebelumnya.” Dia menjawab polos dan jujur apa adanya. “Termasuk Bastian.”Raven seketika menegang, pupilnya melebar. Jawaban Sera barusan membuat debaran di dalam dadanya berdetak cepat hingga nyaris meledak.Ting!Pintu lift terbuka. Ruangan kecil itu kosong.Sera melangkah masuk dan menekan tombol angka tiga. Raven berdiri d

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   254. Terbakar Cemburu

    “Kayaknya dia nggak suka kita bicara berdua.”“Hm?” Sera mengerutkan keningnya, lalu menoleh ke arah yang ditatap Bastian.Di sebuah meja yang berjarak sekitar tiga meja dari mereka, Raven terlihat sedang duduk bersandar dan bersedekap dada dengan tatapan tertuju ke arah mereka. Ditemani gelas kecil berisi espresso yang sudah tinggal separuh.“Dia terus memperhatikan kita dari tadi.” Bastian tersenyum kecil. “Posesif juga ternyata.”Sera meluruskan kembali pandangannya dan meringis. Ya, setelah mendapatkan izin untuk berbicara berdua dengan Bastian, Sera dan Bastian pergi ke cafe yang ada di lobi rumah sakit. Dan siapa sangka Raven mengikuti mereka berdua, tapi duduk agak jauh sambil mengawasi.Sera sudah menjelaskan pada Bastian mengenai apa yang terjadi pada dirinya selama lima bulan terakhir.Tidak semua. Karena memang Sera tidak memiliki hutang penjelasan apapun. Tapi sebagai seorang teman, Sera berusaha menghargai Bastian.Sera menceritakan di mana selama ini dia tinggal, alasan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status