LOGINRaven Lucien Maheswara, lelaki dingin dan berkarisma itu tak hanya menjadikan Sera sebagai pembantu, tetapi juga sebagai pemuas hasratnya di malam hari. Seharusnya, Sera tidak melibatkan perasaan dalam hubungan terlarang mereka. Namun Sera lupa, hatinya tak pernah sejalan dengan rencananya. Sikap dingin Raven selalu berubah hangat dan lembut setiap kali mereka menghabiskan malam panas bersama. Ketika cinta mengakar semakin kuat, realita menamparnya, menyadarkan Sera bahwa status dan kasta yang berbeda membuat mereka tak pernah bisa bersama. Haruskah Sera bertahan dalam hubungan terlarang itu dan menanggung segala rasa sakitnya? Atau pergi dari kehidupan Raven membawa cinta dan sesuatu yang bertumbuh di dalam rahimnya?
View MoreDemi Sera.Dia melangkah masuk.Seorang ibu-ibu paruh baya yang sedang merapikan lapak buah, menatap Raven dengan curiga. “Cari apa, Mas?”Raven mengeluarkan ponsel dan membaca catatan yang ditulis Sera. “Mangga muda keras. Campur jambu dan nanas. Cabai diulek. Gula merah, bukan gula pasir,” ujarnya, dengan nada suara seolah-olah dia sedang membaca dokumen kerjaan.Ibu itu berkedip beberapa kali, lalu tersenyum tipis. “Oh. Mau bikin rujak?”Raven mengangguk samar. “Iya.”“Buat istri yang lagi ngidam, ya?”Raven terdiam selama sepersekian detik, lalu kembali mengangguk. “Iya.”Ibu itu tersenyum lebar. “Tunggu sebentar,” katanya, lalu memilihkan mangga muda, dia tekan-tekan sebentar, memasukkannya ke dalam kantong kresek. Lalu nanas yang masih segar dan jambu yang kulitnya mulus.“Cabenya mau berapa, Mas?”Raven menatap cabe rawit yang merah menyala itu. “Yang pedas sekali.”Ibu itu terkekeh-kekeh. “Kalau gitu yang banyak, Mas. Saya tambahin, ya.”Raven membayar tanpa menawar. Bahkan di
Raven mengerutkan keningnya, napasnya sedikit berat. “Sesuatu yang lain?”“Hm.” Sera mengangguk. Dia menurunkan kedua tangannya dari dada, ke pinggang Raven dan meremasnya pelan, membuat Raven kesulitan menelan salivanya. “Saya… pengen makan rujak serut mangga muda,” lanjutnya dengan ragu.Mata Raven mengerjap. Dia melirik jam dinding sesaat, lalu menatap wajah Sera lagi. “Sudah jam sepuluh. Memangnya masih ada yang jual?”“Nggak tahu.” Sera menggeleng sambil tersenyum kikuk.“Kamu benar-benar menginginkannya?”Kali ini Sera mengangguk. “Iya.”Sebenarnya Sera tidak ingin merepotkan suaminya, dan dia juga tidak berani berharap banyak Raven akan mencari makanan itu untuknya. Apalagi saat ini sudah hampir tengah malam.Tapi tiba-tiba….“Baik. Aku akan mencarinya untukmu,” kata Raven tanpa ragu.Sera membulatkan matanya. “Mas? Serius?”“Iya.” Raven mengangguk mantap. “Kamu sedang mengidam. Keinginanmu jauh lebih penting.” Lalu tanpa banyak bicara, dia masuk ke walk in closet dan mengeluar
Sera berhenti melangkah di ambang pintu. Perasaannya tiba-tiba ragu. Jari-jari tangannya menggenggam erat nampan berisi secangkir teh melati hangat.Menghela napas panjang, Sera kembali melanjutkan langkahnya menghampiri Cantika yang sedang duduk di beranda.“Saya membuat teh melati hangat untuk Nyonya,” kata Sera sambil meletakkan gelas bening berisi cairan keemasan itu di meja kecil samping kursi rotan.Cantika melirik minuman itu sesaat, tapi tidak memberi tanggapan apapun pada Sera.Sera kembali menegakkan punggungnya dan terdiam selama beberapa detik sambil menggenggam nampan kosong.“Saya… minta maaf,” ucap Sera setelah beberapa saat hening. “Karena kehadiran saya sudah membuat Nyonya terganggu.”Cantika mengembuskan napas kasar. Ujung matanya bergerak samar.Sera mengeratkan genggamannya dan kembali melanjutkan ucapannya, “Saya tahu ini bukan pilihan yang Nyonya harapkan, tapi saya akan berusaha menjadi istri yang tidak memalukan untuk keluarga ini.”Mendengarnya, Cantika membe
Jari-jari tangan Sera yang dingin saling meremas di depan perutnya. Matanya menatap bangunan klasik yang terlihat megah di depan sana.Dia pernah berkunjung ke rumah itu beberapa bulan yang lalu. Tapi dulu statusnya masih sebagai asisten rumah tangga.Sore ini dia kembali ke sana, tapi sebagai istri Raven. Sera benar-benar merasa gugup.“Jangan khawatir. Ada aku.” Raven meraih salah satu tangan Sera, menyelipkan jari-jari tangannya pada sela jari istrinya. Berusaha memberikan kehangatan pada tangan yang dingin itu.Sera mendongak, menatap Raven yang selalu terlihat tampan dengan kemeja hitamnya. “Iya. Selama ada Mas Raven, saya pasti akan baik-baik saja.”Raven seketika berdehem. Lalu menunduk dan berbisik di telinga Sera, “Itu kata-kata milikku. Kamu jangan mengatakan sesuatu yang membuatku kehilangan kendali.”Sera akhirnya terkekeh kecil. Perasaan gugupnya perlahan hilang lalu dia menegakkan punggungnya.“Ayo, ikut aku.”Sambil menggenggam tangan Sera, Raven membawanya memasuki ked






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore