Share

Bab 81

Penulis: Lilia
Bukannya Wulan yang meracik dupa penenang untuk Nenek? Dupa itu sudah habis belakangan ini?

Dimas sangat jarang berada di rumah. Dia lebih sering tinggal di rumahnya sendiri sehingga dia tidak begitu jelas mengenai hal-hal yang terjadi di Kediaman Jenderal Musafir. Setelah memikirkannya, dia pun mengalihkan pandangannya dari camilan di meja, lalu melangkah keluar dari aula.

Di bawah salju, Anggi dan pelayannya sedang berjalan bersama di bawah satu payung. Dimas memandang mereka berjalan melewa
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (4)
goodnovel comment avatar
Rani Saidah
berap Bab ya cerita ini
goodnovel comment avatar
Zeb Ara
anggi nih ga merasa ya kalo dicintai luis secara ugal"an gitu...
goodnovel comment avatar
Nora Aziz
y do i feel, the more i read, the shorter each episode become? i like the story. however, it's kind of frustrating that there weren't much movement to the plots in each episode
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1199

    "Terima kasih, Putri Mahkota." Arya kembali menyampaikan terima kasih.Anggi mengerutkan kening. "Ke depannya kita sudah satu keluarga, nggak perlu terlalu sungkan. Panggil saja dia Zahra." Kalau nanti sudah menikah, setiap hari memanggil "Putri Mahkota" terus, bukankah jadi canggung?Sejak dia dan Luis saling menaruh hati, dia lebih sering memanggilnya "suamiku", jarang sekali memanggil dengan sebutan resmi seperti pangeran, putra mahkota, atau kaisar."Panggil Zenna dengan namanya langsung, panggil Ishaq sebagai kakak. Kalau bertemu aku dan Kaisar, ikut saja cara Zahra memanggil kami," kata Anggi.Meskipun pernikahan agung belum dilangsungkan, begitu titah turun, Arya sudah menjadi pendamping Zahra. Itu berarti, mereka sudah keluarga.Lagi pula, Anggi sudah melihatnya tumbuh besar. Semakin dilihat semakin cocok. Jadi, Anggi sama sekali tidak ingin mempersulitnya.Bibir Arya mengatup rapat, lalu dia mengangguk perlahan. "Baik, Ibunda."Wajahnya terasa panas. Dia berpura-pura tenang da

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1198

    Di Paviliun Hangat, dia teringat banyak hal. Dulu ketika Zahra pergi ke Biro Falak, dia juga sering menunggu di paviliun ini bersama Ando dan Titiek.Tahun demi tahun berlalu. Paviliun Hangat masih ada, Biro Falak juga masih ada, hanya Aska yang sudah berkelana jauh. Sementara dirinya, tetap saja orang yang tidak bisa masuk ke Biro Falak."Tuan, biar Putri Mahkota yang mengeluarkan titah untuk memerintahkan Pangeran Ishaq keluar dari Biro Falak, lalu pindah dari istana dan mendirikan kediaman sendiri. Bukankah cara itu bisa?" Sembilan memeras otak, akhirnya terpikir cara ini.Arya tersenyum pahit. "Di tangannya ada segel Biro Falak. Dia adalah calon pemimpin berikutnya. Lagi pula, Guru tidak ada, jadi dialah yang memimpin Biro Falak. Bahkan Zahra pun nggak bisa memerintahkannya sembarangan."Sembilan termangu sesaat. "Kalau begitu, pikirkan cara lain. Selama bisa membuat Pangeran Ishaq keluar dari Biro Falak, setidaknya kita masih punya ruang untuk berusaha."Arya mengerutkan kening. "

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1197

    Zahra membuka mulutnya. "Nggak bisa, nggak bisa. Kalaupun Kakak harus menikah, tetap tidak boleh cari janda cantik."Arya mengangguk. "Tentu tidak boleh.""Tapi kalau tidak ada gadis yang mau menggoda Kak Ishaq ...."Benar juga. Tidak ada gadis dari keluarga baik-baik yang mau menggoda Pangeran Mahkota. Kalau begitu, bukankah dia akan selamanya tidak bisa menyentuh Zahra?Memikirkannya saja sudah membuat Arya putus asa."Zahra, urusan ini tidak bisa dilakukan terlalu tergesa-gesa. Bisa nggak kamu jangan sekeras ini?" Mata Arya tampak penuh permohonan.Zahra menggeleng. "Nggak bisa."Jika urusan keturunan kekaisaran belum terselesaikan, bagaimana dia bisa tenang? Kalaupun dia melahirkan sendiri, mana bisa dibandingkan dengan beberapa saudara yang melahirkan bersama?Di satu sisi sikapnya tegas, di sisi lain dia menggenggam tangan Arya. "Arya, kamu pasti bisa. Aku percaya padamu."Tatapan Zahra begitu indah. Tanpa sadar dia mengangguk. "Mm, aku pasti akan menemukan caranya."Zahra tersen

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1196

    "Kamu baik-baik saja?" tanya Arya.Zahra tersenyum. Padahal mereka bertemu setiap hari, bagaimana mungkin Arya tidak tahu apakah dia baik-baik saja atau tidak.Bodoh."Mm, baik-baik saja," jawab Zahra sambil berjalan menuju Istana Emas.Arya, Sembilan, Ando, dan Titiek pun ikut menyusul.Setelah kembali ke Istana Emas.Arya ingin mencari kesempatan untuk mencium dan memeluknya, tetapi siapa sangka Zahra terus sibuk. Sesekali para pelayan istana datang untuk mengukur tubuhnya dan menyesuaikan pakaian."Tuan Muda juga perlu diukur, untuk persiapan busana pernikahan," kata orang dari Biro Busana.Arya baru tersadar. "Waktunya begitu mepet, apa masih sempat?""Seluruh bordir sudah dipersiapkan sejak awal. Sekarang hanya tinggal tahap akhir. Tuan tidak perlu khawatir, semuanya akan selesai tepat waktu.""Terima kasih atas jerih payahnya.""Sebuah kehormatan bagi kami," jawab orang dari Biro Busana.Setelah pengukuran selesai, mereka akhirnya pergi.Arya memberi isyarat dengan pandangan pada

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1195

    Jantungnya berdegup kencang, bahkan lebih keras daripada suara ketukan pintu."Masuk," kata Arya mempersilakan Sembilan.Sembilan berpikir, pemilik toko itu melihat Yara masih gadis, masa sampai memberikan buku yang terlalu vulgar kepadanya?Memikirkan itu, dia sedikit merasa lega. Kemudian, dia mendorong pintu dan masuk, menyerahkan dua buku cerita yang tidak terlalu vulgar. "Ini buku cerita yang hamba carikan."Arya melirik sekilas. "Buku cerita?" Memang hanya Sembilan yang suka membaca buku-buku semacam ini.Sembilan tersenyum, "Pangeran sejak kecil diasuh oleh Master Cahyo. Di dalam hati pasti ada sifat seperti Buddha, setidaknya dalam urusan pria dan wanita .... Jadi, buku-buku ini semua tentang orang dari kalangan Buddha yang kembali ke dunia fana."Arya menerimanya. "Baik."Dia terdiam sejenak, lalu menatap Sembilan. "Kamu jangan cuma suka baca saja. Kamu juga harus berusaha. Kalau nggak, ke depannya jangan baca lagi."Sembilan mengangguk, menepuk dadanya sambil bersumpah, "Hamb

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1194

    Awalnya, Sembilan tersentak. "Mana mungkin, mana mungkin. Dari lubuk hati terdalam, hamba justru berharap Tuan Arya bahagia.""Kalau begitu, cepat bawa aku ke sana. Sebentar lagi gerbang kediaman akan ditutup.""Hamba .... Baiklah." Sembilan tak berani lagi mengelak.Tak sampai sejam, akhirnya mereka tiba di Rumah Buku Minat. Lokasinya memang relatif terpencil. Tak heran ada buku-buku cerita semacam itu di sana."Aduh, Tuan Sembilan datang." Pemilik Rumah Buku Minat langsung menyambut Sembilan dengan senyuman.Begitu melihat Yara, dia sedikit terkejut. Mengapa membawa seorang gadis? Oh, tidak. Dari pakaiannya, jelas dia adalah gadis bangsawan. Pasti dari keluarga pejabat atau ningrat.Sembilan berkata, "Hari ini aku nggak mau basa-basi. Ada nggak buku cerita tentang biksu yang jatuh ke dunia fana?""Oh ... tentu ada.""Kalau begitu, jangan banyak omong. Aku mau semuanya." Yara berbicara lugas, lalu melemparkan sebongkah perak ke penjaga toko. "Satu pun nggak boleh kurang.""Oh ... baik

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 177

    "Tapi, Fani sekarang bahkan nggak bisa bicara lagi ....""Nggak apa-apa, yang penting dia masih hidup."Wulan pun berpura-pura menunjukkan empati yang dalam. "Benar, untung dia masih hidup."Sunaryo terdiam sejenak, lalu menatap Wulan dan bertanya dengan serius, "Kali ini setelah kamu berhasil lolos

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 168

    "Pangeran ...," panggil Anggi.Anggi yang baru keluar dari kamar mandi melihat Luis sedang menatap kosong bukunya. Pikiran pria itu jelas tidak tertuju pada buku. Apa yang dilamunkannya siang-siang begini?Menyadari tatapan Luis padanya, Anggi berjalan mendekat dengan langkah anggun. Tangan mulusnya

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 184

    Anggi melihat wajah Luis yang masih tampak kebingungan. Dia kembali mendekat. Ciuman yang tadinya hanya singkat, perlahan semakin dalam. Dia memegang kepala pria itu, lalu berbisik lembut di telinganya."Pangeran, kamu harus percaya pada pesona dirimu sendiri. Aku nggak akan mengkhianatimu."Konon,

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 138

    Kediaman Jenderal Musafir.Hidayat kembali dan menyampaikan informasi yang berhasil dia kumpulkan kepada Dimas, "Hari ini Nona Anggi mengadakan pengobatan gratis. Banyak pasien yang memuji keahlian medisnya tanpa henti.""Memuji tanpa henti ...," gumam Dimas dengan nada tak percaya."Benar, dan Pang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status