Se connecterIa menikah… tanpa pengantin pria. Hanya sebilah keris yang menemaninya di pelaminan. Raras Ayudia Weningrum tak pernah menginginkan pernikahan ini. Ia datang ke pemilihan permaisuri untuk kalah, namun takdir malah menyeretnya menjadi istri Pangeran Rakai Indradipa Adiningrat, putra Raja Majakirana dari seorang ratu yang turun tahta, dan seorang panglima perang yang bahkan tak sudi menemuinya. Seminggu ia menunggu di istana yang dingin dan sunyi. Seminggu ia tidur sendiri di ranjang pengantin yang kosong. Hingga akhirnya, ia nekat menjemput suaminya di medan perang yang membawanya hingga ke Kerajaan Indralaya. Namun di tanah Indralaya, ia justru bertemu kembali dengan cinta lamanya, yang kini berkuasa sebagai raja. Dan di tengah intrik kerajaan, Raras dijadikan umpan hidup demi sebuah aliansi. Cinta, dendam, dan politik bercampur menjadi satu. Dan ketika semua lelaki berusaha mengatur langkahnya… Raras memutuskan menjadi pemain, bukan lagi bidak di papan catur.
Voir plusLangit pagi itu cerah, secerah wajah Raras yang duduk santai di atas kereta kuda berhias ukiran emas. Gaun kebaya warna gading yang dikenakannya tampak tak serasi dengan sikap santainya, salah satu kaki menggantung keluar, tangannya memegang jeruk manis yang baru dikupas. Gadis itu sibuk mengoceh pada emban tua yang duduk di sampingnya.
“Aku sudah bilang, Mbok. Aku tidak mau menikah dengan pangeran mana pun. Apalagi kalau mukanya kaku, dan aku kalau ngomong harus pelan, dan jalannya kayak mau menghadiri pemakaman,” keluhnya sambil menggigit jeruk. Mbok Nini, sang emban, hanya geleng-geleng kepala. “Ya Tuhan, Gusti Putri, itu kan belum tentu. Siapa tahu Pangeran yang Gusti temui nanti justru gagah, tampan, dan bisa diajak ngobrol tentang bintang.” “Kalau dia bisa main gamelan, baru aku pikir-pikir,” cibir Raras sambil menjentikkan kulit jeruk ke luar jendela. “Atau bisa masak sayur lodeh.” Kereta melaju di antara pepohonan jati menuju pusat kerajaan Majakirana, tempat Istana Reksaputra berdiri megah. Raras dikirim sebagai salah satu putri bangsawan dari kerajaan wilayah utara untuk mengikuti Pemilihan selir, ajang tradisional yang diadakan ketika sang pangeran sudah berumur untuk membangun rumah tangga dan ajang untuk menentukan siapa di antara para gadis terpilih yang layak mendampingi sang pangeran calon putra mahkota. Tapi Raras? Ia punya rencana. “Aku mau gagal,” bisiknya ke Mbok Nini dengan penuh semangat. “Aku akan jawab semua ujian dengan ngawur. Kalau disuruh menyulam, aku bikin simpul tali tambang. Kalau disuruh menari, aku joget sableng. Kalau ditanya tentang strategi kerajaan, aku akan bilang, ‘Tanya dukun saja, saya tidak tahu!’” Mbok Nini dan dan seorang dayang bernama Alin menahan tawa dengan susah payah. “Tapi Gusti Putri, bagaimana kalau justru… Gusti berhasil?” tanya Alin. “Gagal adalah rencanaku yang paling matang, Mbok. Aku tidak sudi menjadi istri seorang pangeran kaku yang hidupnya diatur protokol!” katanya sambil melipat tangan. “Lagipula, siapa sih Pangeran Haryo Wirabumi itu? Namanya saja bikin ngantuk.” Namun, rencana Raras tidak berjalan semulus kulit mangga muda. Langit siang itu cerah seperti suasana hati Raras yang sedang dipenuhi rasa penasaran. Suara burung-burung di halaman istana pelatihan Putri menggema merdu, namun kalah nyaring dibanding suara Raras yang sedang mengeluh karena rambutnya ditarik-tarik dayang istana. “Aduh, Mbak Narsih! Ini rambutku mau disanggul atau disiksa?” keluh Raras sambil mengerutkan hidungnya. Dayang itu hanya mendecak pelan. “Putri Ayudia, panjenengan harus terlihat pantas di hadapan Pangeran Haryo. Ini seleksi istri masa depan raja, bukan pasar malam. Setidaknya kalau tidak terpilih menjadi permaisuri, terpilih menjadi Selir itu sudah anugrah." Raras, tidak peduli. Ia tidak ingin menjadi istri pangeran mana pun. Baginya, menikah berarti kehilangan kebebasan. Ia lebih suka berkeliling desa dengan kereta kuda, berbicara dengan rakyat, atau ikut menyelinap ke dapur kerajaan mencicipi kudapan panas-panas. Namun, aturan kerajaan adalah aturan. Semua putri bangsawan di usia tujuh belas tahun wajib mengikuti Seleksi Putri Permaisuri dan selir, termasuk dirinya. Dan kini, hari itu pun tiba. Dengan seragam kebesaran berwarna gading dan sanggul khas Majakirana, Raras menaiki kereta kuda kerajaan. Denting lonceng kecil di leher kuda mengiringi langkah-langkah menuju Istana Kencana, tempat ujian dan seleksi berlangsung. --- Seleksi berjalan dengan sangat ketat. Ujian pertama adalah kecakapan berbicara dalam forum diplomatik. Raras sengaja menjawab dengan ngawur. “Jika dua kerajaan berperang, kita sebaiknya kirimkan makanan enak supaya mereka sibuk makan dan lupa bertempur!” katanya polos, membuat para sesepuh tergelak namun para penilai hanya saling melirik dengan tatapan dingin. Ujian kedua, menjahit dan merangkai bunga. Raras menusuk jarinya tiga kali dan membuat rangkaian bunga berbentuk ayam goreng. Lagi-lagi para putri lain menahan tawa. Tapi saat sesi pemecahan masalah, seorang putri hampir pingsan karena insiden gas di dapur istana. Raraslah yang cepat tanggap dan menutup sumber api, menyelamatkan keadaan. “Dia bodoh, tapi... selalu muncul saat dibutuhkan," bisik salah satu juri. Namun, seperti yang sudah bisa diduga, Raras tidak lolos menjadi calon istri Pangeran Haryo, pangeran pertama yang tenang dan kalem, yang katanya menginginkan istri yang anggun dan lembut. Bahkan untuk menjadi selirnya pun Raras tidak masuk kriteria. Raras hanya tersenyum puas. “Syukurlah, tidak jadi.” Tapi nasib berkata lain. Karena aksi-aksinya yang dianggap menyelamatkan rekan-rekannya, kerajaan memutuskan untuk tetap menjodohkan Raras, bukan dengan Pangeran Haryo, tapi dengan Pangeran Rakai Indradipa, adik dari Pangeran Haryo, seorang jenderal kerajaan yang kini tengah memimpin perang di perbatasan di kadipaten Mandalajati “Kenapa bukan ditunjuk jadi kepala dapur saja, sih?” keluh Raras sambil menahan air mata saat mendengar keputusan raja. Tapi perintah kerajaan tidak bisa ditolak. Hari pernikahan pun tiba. Iring-iringan pengantin dari istana pun berangkat. Kereta kuda berhias melati, pasukan berkuda berbaris, dan genderang dibunyikan. Di dalamnya, duduk Raras dalam balutan kebaya pengantin, memandangi jalanan menuju rumah Adipati Rakai Indradipa. “Aku bahkan belum pernah bertemu dia. Parahnya aku baru dengar namanya," bisiknya. “Apa dia juga belum pernah dengar tentang aku?” Angin sore menyapa wajahnya. Dan perjalanan menuju takdir yang tak pernah ia rencanakan… pun dimulai. Langit Kerajaan Majakirana menggantung muram. Awan kelabu menggulung pelan, menelan cahaya mentari dan menaburkan bayangan ke atas tanah suci kerajaan. Derap kaki kuda menggema keras di gerbang utama istana. Barisan pengawal berkuda melaju rapi, mengapit satu kereta utama berhiaskan lambang Kerajaan Wanasari, bunga melati dan kenanga bersilang keris. Kereta itu menjalar perlahan di atas batu-batu yang telah disiram air mawar sejak fajar. Di belakangnya, pasukan pengiring dan para abdi dalem menundukkan kepala, menyiratkan hormat atau mungkin penyesalan. Di balik tirai kereta berhias benang emas dan kaca patri, duduk seorang gadis dengan gaun kebaya krem pucat menjuntai ke bawah lantai kereta. Raras Ayudia Weningrum, kini bergelar Raden Ayu Raras, duduk dengan tubuh tegak tapi dada sesak. Cadar tipis membingkai wajahnya yang masih remaja, menyisakan hanya matanya mata yang bersinar nyaris keemasan, tajam dan resah. Ia bukan lagi putri manja dari Wanasari. Hari ini, ia adalah pengantin titipan negara. “Kenapa harus pakai cadar segala?” gumamnya pelan, dengan suara yang lebih menusuk daripada pertanyaan. Nada tak rela. Dayang pengiringnya, Alin, hanya tersenyum, tenang seperti embun pagi. “Tradisi, Den Ayu. Titah dari istana Mandalajati. Kanjeng Pangeran Rakai Indradipa menghendaki pengantinnya disembunyikan dari pandangan rakyat hingga ia sendiri yang membuka tabirnya.” Raras menghela napas tajam, menahan kata kasar di ujung lidahnya. Rakai Indradipa. Nama itu sudah lama mengendap di kepalanya, kini menggumpal jadi bayang hitam. Ia bukan sekadar pangeran. Ia adalah senapati agung, panglima tertinggi garis timur, yang konon pernah menaklukkan dua perbatasan dalam satu musim. Dingin. Diam. Pangeran perang yang kabarnya jarang berbicara dan tak pernah tersenyum. Dan sekarang, lelaki itu... akan menjadi suaminya. Sungguh aneh jalan nasib. Raras datang ke istana Majakirana bukan untuk dipersunting, tapi untuk gagal. Ia ingin nilai rendah, ingin dikeluarkan dari pemilihan permaisuri maupun selir, agar bisa pulang dan hidup bebas seperti sedia kala. Tapi takdir mengendalikannya seperti wayang di ujung jemari dalang. Nilainya memang buruk, namun keberaniannya, kepintarannya, dan kejadian-kejadian ajaib selama seleksi membuatnya dijodohkan. Bukan dengan pangeran pewaris tahtanyang awalnya menjadi tujuan sayembara. Melainkan dengan Rakai Indradipa, pangeran senyap yang kini menjadi tumpuan pertahanan kerajaan. Dan kini, iring-iringan pengantin berjalan menuju perbatasan timur. Bukan menuju rumah. Tapi menuju benteng batu, tempat sang pangeran menunggu... seperti bayangan malam yang tak pernah hangat. Raras menggenggam lipatan gaunnya, menenangkan debar jantung yang tak karuan. Hatinya menjerit, tapi wajahnya tenang. Karena seorang perempuan yang melangkah ke dalam pernikahan kerajaan... harus bisa mengubur air mata dengan senyuman.Kereta kuda berhenti di halaman dalam Mandalajati saat senja hampir runtuh. Batu-batu pelataran memantulkan cahaya obor, membuat bayangan para pengawal memanjang seperti jeruji. Rakai turun lebih dulu, lalu membantu Raras turun dengan hati-hati. Tangannya tidak pernah lepas, seolah dunia bisa runtuh jika ia melepas satu detik saja.Pintu aula utama terbuka.Pangeran Haryo berdiri di sana, jubahnya rapi, mahkota tipis bertengger di kepalanya. Wajahnya tenang, terlalu tenang. Mata itu menatap Rakai lama, lalu turun ke Raras, singgah sepersekian detik di perutnya yang disembunyikan kain longgar.“Adikku akhirnya pulang,” kata Haryo pelan.Kata itu jatuh seperti batu ke air diam.Raras menegang. Rakai tidak. Rahangnya mengeras, matanya menyala tertahan.“Jangan panggil aku begitu di depan orang-orangmu,” jawab Rakai datar.Haryo tersenyum kecil. “Darah tidak berubah hanya karena kau pergi. Kita saudara tiri. Putra ayah yang sama. Hanya ibu yang berbeda.”Pengawal di sekeliling mereka sali
Kabut pagi masih menempel di dermaga Mandalajati. Rakai, Raras, Arya, dan Alin menapaki kayu yang basah, perasaan mereka tegang. Belum sempat menyesuaikan diri, beberapa pengawal berseragam Mandalajati muncul dari sisi gudang, pedang dan tombak terangkat.“Berhenti! Siapa kalian? Apa maksud kalian masuk ke Mandalajati?” teriak seorang pengawal bertubuh besar. Suaranya tegas, tidak memberi ruang untuk berdebat.Arya menatap Rakai. Ia ingin menjawab, tapi Rakai mengangkat tangan, menahannya. “Jangan bicara,” katanya singkat.Pengawal itu melangkah maju, lebih agresif. “Kalian harus ikut ke markas! Perintah Pangeran Haryo!”Alin hendak menanggapi, tapi Rakai menatapnya tajam. “Diam. Ikuti arahanku.”Raras, yang berjalan di samping Rakai, menunduk. Tubuhnya lemas, perutnya menonjol karena kehamilan, tapi matanya tetap waspada.Rakai menatap pengawal itu, suaranya tenang tapi tegas. “Kami pedagang lintas kerajaan yang sedang mengalami musibah. Kami diserang dalam perjalanan, dan satu orang
Ruang bawah istana Majakirana tidak lembap.Ia terlalu bersih untuk disebut penjara.Obor-obor perunggu berjajar rapi, cahaya mereka memantul pada lantai batu hitam yang licin. Bau dupa tipis menggantikan bau darah, cara Majakirana menyembunyikan kekejamannya.Arum berlutut di tengah ruangan.Tangannya terikat ke belakang, namun punggungnya tetap tegak. Wajahnya lebam, bibirnya pecah, tapi matanya masih berani menatap lurus.Langkah sepatu bergema.Pangeran Haryo Wirabumi masuk tanpa pengawal.Jubahnya rapi, Wajahnya tampan, tenang terlalu tenang untuk seseorang yang memegang nyawa orang lain.“Arum,” katanya pelan.“Sebutkan namamu, dan katakan pada siapa kau bekerja.”Arum tersenyum tipis, darah mengering di sudut bibirnya.“Aku hanya pengelola penginapan,” jawabnya lirih. “Salahkah perempuan tua mencari makan?”Haryo berhenti tepat di hadapannya.Ia berjongkok, menyamakan tinggi mata mereka.“Kau terlalu cerdas untuk berbohong buruk seperti itu,” katanya lembut. “Dan terlalu berhar
Langkah kaki tergesa terdengar di lorong penginapan.Rakai dan Raras serempak menoleh ketika Arya muncul di ambang pintu. Napasnya masih tersengal, wajahnya tegang, mata yang biasanya ringan kini dipenuhi bayang cemas.“Rakai,” katanya cepat. “Raras.”Raras langsung berdiri. “Alin mana?”“Aman,” potong Arya. “Alin bersama Reyas. Tapi… Arum.”Satu kata itu cukup membuat udara di ruangan berubah berat.“Apa yang terjadi?” tanya Rakai, nada suaranya rendah tapi tajam.Arya mengusap wajahnya sebentar, seolah menyusun ulang pikirannya. “Penginapan itu kosong. Terlalu kosong. Tidak ada tanda perkelahian besar, tapi jelas ditinggalkan terburu-buru. Barang-barang Arum masih ada pisau kecilnya, tas obat, tapi dia tidak ada.”Raras menutup mulutnya, jantungnya berdebar keras. “Mungkin dia pergi sendiri?”Arya menggeleng. “Tidak. Ada jejak. Seseorang menariknya. Dan penjaga sekitar penginapan… seolah tidak pernah mengenalnya. Mereka diam tak mau bersuara."Rakai berdiri. Gerakannya tenang, tapi






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.