Beranda / Romansa / Pembalasan Dendam Sang Putri Angkat / Mereka pasti keluarga harmonis

Share

Mereka pasti keluarga harmonis

Penulis: Azitung
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-31 21:43:12

​Media hari ini dipenuhi oleh berita kedekatan Dama dan Hasa. Foto-foto mereka yang diambil di taman menjadi perbincangan hangat. Berbagai platform media sosial dan berita daring ramai membahas CEO muda Dama Huston, yang selama ini terkenal tertutup soal kehidupan pribadi.

Banyak yang berkomentar jika Dama Huston sudah menunjukkan wanita yang dekat dengannya itu tandanya dia pasti serius.

​"Lima tahun sejak dia putus dengan pacarnya." Gumaman kekecewaan dari komentar-komentar daring.

"Aku patah hati."

"Siapa gadis itu? Dia sangat beruntung."

​Dama, yang sedang berdiri di dekat jendela kantornya, memandang ke luar, ekspresinya tenang seolah sudah menduga reaksi publik. Dia berbalik dan meletakkan tablet milik Stephanie, yang menampilkan beranda berita penuh fotonya dengan Hasa, di atas meja.

​"Tuan, keluarga anda ingin anda pulang saat ini juga," kata gadis berkaca mata bulat itu. Stephanie membetulkan letak kacamata dan menunduk sedikit, meski suaranya terdengar profesional, ada sedik
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Angkat   Han Luke

    ​Suasana kafe yang tenang mendadak ceria saat Rene mengangkat tangan tinggi-tinggi, melambaikan jemarinya dengan semangat ke arah pintu masuk.​"Julian!"​Suara Rene memecah keheningan tipis di sana. Julian, yang tampil necis dengan kemeja rapi yang pas di badannya, membalas dengan senyum lebar. Langkahnya mantap mendekat, namun binar matanya sedikit meredup, berubah menjadi sorot penuh tanya saat menyadari ada pria lain yang duduk satu meja dengan kekasihnya.​"Duduklah, dia sudah mau pergi," kata Rene, mencoba mencairkan ketegangan yang belum sempat terbentuk. Julian menarik kursi kayu di samping Rene, mendaratkan tubuhnya di sana sembari tetap menjaga pandangan pada pria di depannya.​"Dama Huston!" Julian menyebutkan nama itu dengan nada yang sulit diartikan. Di seberang meja, Dama mendongak, merasa familiar dengan suara tersebut.​"Kau mengenalku?" tanya Dama heran.​"Siapa yang tidak mengenalmu, pengusaha muda yang sukses. Aku Julian, teman dekatnya Rene." Julian mengulurkan tan

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Angkat   Mencari Hasa

    Pintu salah satu ruangan terbuka pelan, menampakkan Nenek Mori dan temannya yang berjalan keluar sambil berbincang hangat. Rania yang menyadari kehadiran mereka segera memberikan isyarat kecil pada putranya agar bersiap menyapa.​"Ternyata kau sudah pulang, kenapa tidak langsung masuk saja? Perkenalkan, ini teman nenek." Nenek Mori menarik Nenek Lingye mendekat dengan raut wajah bangga.​"Ini cucumu?" Nenek Lingye tersenyum lebar, memandang Dama dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Tidak heran dia tumbuh segagah ini, waktu kecilnya saja sudah sangat tampan," pujinya tulus.​"Bagaimana menurutmu? Apa Yinhe kira-kira akan menolaknya?" Nenek Mori bertanya dengan nada penuh semangat, seolah sedang memamerkan barang berharga.​Perasaan Dama mulai tidak enak. Aura di sekitarnya mendadak terasa menyesakkan, membuatnya refleks menggaruk tengkuk yang tidak gatal.​"Kurasa tidak ada perempuan yang bisa menolak pria setampan dia, haha..." Nenek Lingye tertawa renyah sambil melirik penuh arti ke

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Angkat   Luka batin

    ​Dama melangkah memasuki rumah dengan bahu yang tampak lebih berat dari biasanya. Namun, alih-alih ketenangan, ia justru disambut oleh seringai tipis Willy. Adiknya itu sedang merapikan jaket, bersiap untuk pergi.​"Sudah menikah bukannya bahagia, tapi malah sebaliknya," celetuk Willy tanpa basa-basi. Kalimat itu menghantam Dama tepat di ulu hati.​Dama menghentikan gerakannya, menatap sang adik dengan tatapan kosong. "Apa sejelas itu?" Ia seolah butuh cermin untuk melihat seberapa hancur wajahnya saat ini.​Willy mengetuk dagunya, berpura-pura berpikir. "Hem, seperti kehilangan hal paling berharga dalam hidupmu." Ia menjeda sejenak, menatap kakaknya dengan iba yang tertahan. "Bahkan ini jauh lebih menyedihkan dibandingkan patah hati karena Clarissa dulu."​"Sudahlah, pergi sana. Aku ingin istirahat," potong Dama cepat. Ia menunduk, melepas sepatunya dengan gerakan kasar, berusaha mengusir rasa sesak yang mulai naik ke tenggorokan.​Willy belum beranjak. Senyumnya kini berubah menjadi

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Angkat   Rusa kutub

    Lembayung senja telah sepenuhnya tenggelam saat Hasa menginjakkan kaki di penginapan. Udara pegunungan yang menusuk tulang memaksanya merapatkan jaket tebal yang membungkus tubuh. Ia melangkah ke balkon, membiarkan uap napasnya menari di udara yang dingin sebelum akhirnya memutuskan turun ke ruang makan saat perutnya mulai menuntut janji."Silahkan Nona!" ucap seorang pelayan dengan ramah sembari meletakkan sepiring spageti yang masih mengepul di hadapannya.Hasa mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang lengang. "Sepi sekali, tidak banyak yang liburan?" Hasa menyempatkan diri untuk bertanya, mencoba memecah keheningan yang terasa sedikit ganjil."Cukup banyak," jawab pelayan itu singkat."Tapi tidak ada yang terlihat, apa mereka memilih di dalam kamar?" tanya Hasa lagi, penasaran."Ada banyak rusa di luar, mungkin mereka sedang memberinya makan," jawab sang pelayan sambil tersenyum tipis."Rusa?" Mata Hasa berbinar. Mendengar hal itu membuatnya segera menyantap spagetinya deng

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Angkat   Windham Mountain

    "Windham Mountain?" Rene membelalakkan matanya, menatap tak percaya pada keputusan yang baru saja diucapkan sahabatnya itu. Suaranya sedikit meninggi, memantul di dinding kamar yang mulai terasa sepi.Hasa hanya mengangguk antusias.Tangannya bergerak cekatan melipat baju-baju hangat dan memasukkannya ke dalam koper yang terbuka lebar di atas tempat tidur. Gerakannya mantap, seolah setiap lipatan kain adalah langkah pasti untuk meninggalkan beban di kepalanya."Hasa, apa memang harus ke sana?" Rene mendekat, raut keberatan jelas tergambar di wajahnya. Ada kecemasan yang tertahan dalam nada bicaranya."Sudah lama aku merencanakan liburan ke sana, kurasa ini saat yang tepat. Ada banyak salju dan aku ingin sekali mencoba bermain ski. Lagi pula, tabungan darurat ini harus segera dikeluarkan sebelum menguap begitu saja," sahut Hasa sambil terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana.Rene, yang sehari-harinya berhadapan dengan pasien sebagai perawat, mengamati sahabatnya dengan tatapan kagum

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Angkat   Dijodohkan lagi

    Dua hari berlalu seperti derap langkah yang dipaksakan. Dama tidak kunjung menghubungi Hasa, begitu pula sebaliknya. Lelaki itu seolah sengaja menenggelamkan diri dalam tumpukan berkas pekerjaan, sesekali mengalihkan atensi pada persiapan pertunjukan yang kian dekat. Baginya, urusan pernikahan sudah menjadi kotak usang yang tidak ingin ia buka lagi.Di sisi lain, keheningan menyelimuti hari-hari Hasa di rumah Rene. Ia hanya terpaku di depan layar, menyisir satu demi satu lowongan pekerjaan. Pikirannya mendesak untuk segera menghasilkan uang demi bertahan hidup, meski ada rasa tidak nyaman yang terus mengusik tentang tempat tinggalnya saat ini.Ketukan di pintu memecah lamunan Hasa. Ia bangkit dan membukanya dengan harapan melihat Rene yang datang, namun sosok di hadapannya justru sang ayah."Ayah! Ayo masuk!" seru Hasa. Ia bergegas menuju dapur untuk mengambilkan air minum, berusaha menutupi kegugupannya."Kenapa tidak pulang ke rumah ayah?" Harry bertanya setelah duduk, meski ia tahu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status