LOGINTiga hari menjelang pernikahannya, Adven Nathaneil sempat mengalami kecelakaan yang membuatnya koma. Dalam keadaan lumpuh, Adven memaksalan diri untuk menikah dengan pesta pernikahan yang sudah direncanakan. Namun saat hari pernikahan itu berlangsung, Arumy sang mempelai wanita menghilang begitu saja, meninggalkannya Adven sendirian di pelaminan dengan kursi roda. Setelah lima tahun berlalu.. Sebuah takdir mempertemukan mereka kembali.. Arumy telah berubah, begitu pun dengan Adven yang dulu sempat hampir gila mencari-cari keberadaan Arumy dalam keadaan sakit, menganggap pertemuan itu sebagai ajang balas dendam. Lantas, apa sebenarnya yang sudah membuat Arumy pergi dan apa yang sebenarnya terjadi, ketika Adven koma menjelang hari pernikahannya dengan Arumy? Dapatkah mereka kembali bersatu, atau justru Adven kehilangan Arumy untuk yang kedua kalinya.
View More“Adven, ada hal penting yang harus kita bicarakan,” ucap seorang perempuan dibalik telephone.
Adven menggenggam erat handponenya dengan senyuman cerah. Saat ini, ia tengah berdiri dikeramaian, menunggu rambu lalu lintas berubah agar bisa menyebrang. Seharian Adven sibuk bekerja, menyelesaikan segala sesuatu lebih cepat karena akan mengambil cuti selama sepekan. “Aku akan datang ke rumahmu sepulang bekerja,” jawab Adven. “Sekarang, Adven. Aku sudah ada di depan kantormu, jadi bisakah kau keluar sebentar? Ini sangat penting.” Seketika Adven melihat ke sebrang jalan yang berjarak tiga puluh meter dari keberadaannya. Diantara keramaian lalu lalang kendaraan, Adven lihat siluet tubuh calon isterinya tengah berdiri mengenakan gaun warna lilac. “Aku sudah ada di luar, lihatlah ke persimpangan jalan,” jawab Adven dengan tangan terangkat melambai, memberitahu Arumy akan keberadaannya sekarang dimana. “tunggu sebentar, aku akan segera kesana.” Adven segera memutuskan sambungan telephone dan melihat kepenjuru arah dengan tidak sabaran, ingin segera pergi menyebrang, agar bisa berjumpa dengan Arumy, wanita yang akan Adven nikahi tiga hari lagi. Sunny ibunya Arumy, dan Anna ibunya Adven, mereka berdua adalah teman yang sudah lama terpisah. Tiga tahun yang lalu, secara kebetulan Sunny menjadi guru privat adik Adven. Hubungan Sunny dan Anna yang kembali merekat, secara tidak langsung mempertemukan Adven dan Arumy. Semuanya berlangsung mengalir begitu saja, reuni pertemanan kedua ibu mereka membawa hubungan Adven dan Arumy berakhir di pelaminan. Ditengah kesibukan pusat ibu kota itu, lampu rambu lalu lintas yang telah lama dinanti akhirnya berubah. Satu-persatu kendaraan berhenti, memberi waktu para pejalan kaki untuk menyebrang. Dari berbagai arah, orang-orang langsung melangkah menuju tujuan. Jalanan itu ramai, dan Adven ada di antara salah satu mereka. Wajah Adven terangkat dengan mata berbinar, melihat keberadaan Arumy yang semakin jelas seiring dengan langkah kakinya yang mendekati sebrang jalan. Namun kebahagiaan itu tak bertahan lama. Kilau di mata Adven pecah oleh teriakan kencang yang mengoyak udara. Dalam sepersekian detik, sebuah mobil melesat tanpa kendali, menerobos rambu lalu lintas, lalu menghantam tubuh-tubuh pejalan kaki. Kendaraan itu berdecit tajam kehilangan kendali, berakhir menubruk Adven yang tidak sempat menghindar. Tubuh Adven menghantam kaca depan mobil, suara retak menggema bersamaan dengan benturan. Kendaraan yang tetap bergerak memutar tubuh Adven di atas kap sebelum akhirnya terlempar kembali dan berakhir tergeletak di atas aspal. Kerasnya hantaman itu, membuat Adven hanya merasakan dingin dari darah yang becucuran, sekujur tubuhnya lemah tidak berdaya sampai membuatnya tidak mampu menggerakan satu jari pun. Penglihatan Adven mulai berkabut putih, samar-samar ia melihat orang-orang berdiri terpaku ditempat masing-masing, kebisingan berubah hening begitu mereka semua menyaksikan kecelakaan hebat yang terjadi. Bibir Adven yang mendadak kering tercekat tidak mampu berbicara. Ditengah ketidak berdayaan itu, hatinya memanggil Arumy, berharap agar kekasihnya tidak melihat apa yang sudah terjadi padanya saat ini. Ini bukanlah pemandangan yang patut Arumy lihat.. Dibawah tatapan sayu dan air mata yang tergenang itu, perlahan mata Adven terpejam kehilangan kesadaran. *** Aroma obat-obatan yang tajam mengganggu indra penciuman. Saat sepasang mata itu akhirnya terbuka, suara rintihan lolos dari bibir pucatnya, mewakili seberapa menyiksanya sakit yang tengah ditanggung, sampai-sampai tenggorkannya perih saat menerima sapuan udara. Diambang kesadaran yang baru kembali, seorang dokter dan dua perawat datang memeriksanya, berkali-kali mengajak Adven berbicara untuk memastikan respon saraf-sarafnya. Butuh waktu yang cukup lama untuk Adven mulai memberi respon saat namanya dipanggil. Seiring dengan kesadaran yang telah pulih sepenuhnya, samar-samar Adven teringat apa yang telah terjadi, hingga membuatnya terbaring tidak berdaya di ranjang rumah sakit. Adven ditabrak oleh sebuah kendaraan saat akan menyebrang menemui Arumy. Jari-jari Adven bergerak lemah, ketidak mampuan tubuhnya untuk bangun dari tempat tidur menyadarkan dia bahwa kini kondisinya tidak sedang baik-baik saja. “Tanggal berapa sekarang?” bisik Adven dengan suara yang serak kering. “20 November. Anda, koma selama dua hari.” Napas Adven tertahan sesaat, dia tidak menyangka telah menghabiskan waktunya dua hari di rumah sakit menjelang hari pernikahan yang akan diselenggarakan esok. Wajah Adven bergerak pelan, menatap ke arah celah pintu ruangan yang memperlihatkan ada kedua orang tuanya dan sang adik yang tengah menanti kabar. Lalu Arumy? Hati Adven digelayuti oleh rasa bersalah, memikirkan keadaan Arumy yang mungkin tengah menangis dalam kebimbangan, karena pria yang akan menikahinya justru berada dalam keadaan koma menjelang hari bahagia mereka. Pandangan Adven berpindah pada dokter yang tengah menyuntikan sesuatu ke dalam infusannya. “Apa yang terjadi dengan tubuh saya, Dokter?” tanyanya ragu-ragu. Nalurinya merasakan, akan suatu hal buruk yang harus dia terima. “Anda mengalami gegar otak yang cukup serius. Sesungguhnya, melihat Anda bangun tanpa melupakan apapun adalah suatu keajaiban yang luar biasa, Tuan Adven,” jawab dokter itu menggantung dan tidak berapa lama kemudian kembali bicara, “Sayangnya, kedua kaki Anda mengalami cedera yang sangat serius, untuk sementara waktu Anda harus menggunakan kursi roda.” Adven meremas permukaan selimutnya menyalurkan ketakutan. “Apa saya akan lumpuh?” “Saya harap itu tidak terjadi, Tuan Adven. Saya yakin Anda pasti akan kembali seperti sedia kala meski harus melewati terapi panjang.” Mata Adven berkabut menahan sakit dipukul kenyataan, jika besok saat di altar, dia akan duduk di kursi roda. Hari-hari pernikahan mereka dimulai dengan Arumy merawatnya, dibandingkan berbahagia seperti pasangan pengantin baru lainnya.Suara gesekan lembut ujung pensil warna terdengar kala mencoret-coret permukaan kertas. Tangan kecil Donovan menggenggam kuat pensil itu, merangkai gambar sesuka hatinya. Donovan mengangkat wajah dan diam-diam mengintip ibunya dari balik permukaan ranjang yang tinggi, Donovan lihat Arumy tengah mengambil sebuah obat dari dalam kotak sepatu dan menelannya.Donovan tidak ingat, sejak kapan ibunya sudah minum obat, namun sepanjang yang dia ingat, Arumy mengkonsumsinya. Meski tidak tidak setiap hari, namun obat itu tidak pernah lepas dari beberapa kesempatan.Untuk anak seusianya, Donovan tidak memahami apa yang sebenarnya tengah terjadi, satu-satunya yang dia tahu adalah, obat diperuntukan untuk orang yang sakit. “Apa Ibu sakit lagi?” tanya Donovan perlahan bangkit, meninggalkan pensil warnanya di atas meja kecil.“Tidak, ini vitamin agar ibu kuat,” jawab Arumy tersenyum lebar, menjatuhkan tubuhnya ke ranjang untuk mengistirahatakan diri, dari lelah yang telah mendera.Donovan ikut mer
Jawaban menohok Tyler membuat Arumy terpaku beberapa detik. Ada begitu banyak kata yang bisa Tyler sampaikan jika dia menolak, tapi Tyler tetap memilih hinaan untuk Donovan.Tidak cukup untuk Tyler mencela Donovan tetap di depan mukanya, Tyler juga menghina Donovan di belakangnya.Demi Tuhan! Donovan masih berusia empat tahun, dia tidak berdosa, dia bahkan tidak tahu alasan dirinya dibenci. Tapi kenapa, orang-orang dewasa yang yang harusnya sudah dapat berpikir, justru menghinanya hanya sebatas untuk dijadikan pelampiasan amarah!Arumy ingin memberikan Donovan seekor anjing karena kini dia sudah cukup besar dan dapat bertanggung jawab dengan peliharaannya. Donovan kesepian, dia membutuhkan sesuatu yang bisa dia ajak bermain.Selama ini Arumy sudah cukup sering memberikan Donovan mainan, namun Charlie selalu merebutnya. Tidak ada yang pernah menghentikan keinginan Charlie meski dia serba berkecukupan, apapun yang Donovan miliki dianggap milik Charlie juga,Hewan peliharaan tidak mungki
Harumnya aroma makanan tercium begitu disajikan di meja kayu yang sudah lapuk. Donovan menopang dagunya dengan mulut terbuka menahan lapar, dengan sabar anak itu menanti ibunya yang tengah memindahkan banyak sayur dari piringnya ke piring Donovan, menarik beberapa duri yang masih tertinggal agar Donovan bisa langsung makan dengan nyaman. Tubuh Donovan menegak seketika begitu piring makanannya di berikan. “Terima kasih, Bu,” ucapnya terdengar riang dan terburu-buru mengambil alat makan. “Donovan, lain kali kau tidak boleh keluar rumah sendirian saat malam-malam, itu bahaya, bagaimana jika ada orang jahat dan tidak ada yang menolongmu? Jangan buat ibu cemas,” nasihat Arumy ditengah aktivitas makan mereka. Donovan tertunduk menyembunyikan sebaris kesedihan yang tidak ingin dia perlihatkan. “Aku sangat kesepian di rumah.” Arumy menelan makanannya dengan kesulitan, tenggorokannya seperti telah tersangkut sebuah duri yang menancap. Ada seberkas rasa bersalah yang hinggap di ha
Arumy membasuh wajahnya berkali-kali, membersihkan sisa-sisa air mata yang telah dia tumpahkan menghadapi beban yang kembali menghimpit dada. Entah sudah berapa lama waktu yang telah Arumy habiskan untuk diam-diam menangis di toilet. Pertemuannya dengan Adven membuka kembali, tragedy lama yang telah berusaha dia kubur dalam-dalam. Arumy tahu dia telah berbuat salah, karena dia tahu, Arumy sangat sadar bahwa pertemuan ini tidak akan pernah berjalan mudah baginya maupun Adven. Sangat menyakitkan hanya dengan membayangkan, jika mulai sekarang Arumy akan melihat pria yang telah ditinggalkannya menjelang pernikahan mereka, dan kurang ajarnya Arumy masih mencintai pria itu hingga saat ini. Mirisnya, karena cinta itulah, Arumy harus pergi meninggalkan Adven. Apa yang harus Arumy lakukan sekarang? Dia tidak mungkin mengundurkan diri begitu saja untuk menghindari segalanya, Arumy sangat membutuhkan uang dan tidak mudah untuknya menemukan pekerjaan yang layak dalam waktu cepat. Jujur sa






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews