Home / Urban / Pembalasan Menantu Terkuat / Bab 254. Jangan Diberi Harapan

Share

Bab 254. Jangan Diberi Harapan

Author: Hare Ra
last update Last Updated: 2025-08-15 20:15:58

"Ma," panggil Bara yang melihat bu Bira hanya terdiam sedari tadi.

"Iya," jawab bu Bira sambil melihat ke arah Bara.

"Mama sakit?" tanya Bara.

"Iya sakit hati," ingin rasanya bu Bira menjawab demikian namun hal itu hanya tertahan dalam hatinya kemudian bibirnya menyunggingkan senyum.

"Enggak kok, nak," jawabnya pelan.

"Kalau sakit tidak usah ke kantor, Ma," ujar Bara perhatian.

"Mama gapapa nak," ujar bu Bira kembali melanjutkan sarapannya.

"Boleh Bara minta pak Tigor untuk menyelesaikan yang kemarin?" tanya Bara.

"Gak usah nak, nanti aja," jawab bu Bira.

"Okelah kalau mau mama seperti itu," jawab Bara.

"Lo dirumah aja kan hari ini?" tanya Bara kepada Alin

"Gua mau ajak anak-anak main, boleh?" izin Alin kepada kakaknya.

"Kemana?" tanya Bara.

"Mall xxx," jawab Alin.

"Sama Rigo, ibu dan juga bik Sri ya?" saran Bara.

"Boleh, bik Rasi dan mbok Inah gak ikut?" tanya Alin.

"Kalau mereka mau ikut gapapa, tapi ajak Rido juga," ujar Bara.

"Kenapa pake pengawal semua, bang?" tanya Alin.

"Buat b
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pembalasan Menantu Terkuat   Bab 305. Dasar Licik!

    Kantor pusat Albara Kaizer mendadak kembali memenuhi lini masa, karena kecelakaan yang terjadi, hasil rekaman cctv di depan kantor sudah dibawa pihak kepolisian.Kasak kusuk bernada sumbang mulai terdengar. Apalagi komen warganet di kolom komentar sebuah berita online. Tidak sedikit dari mereka berpikir bahwa AK Group memiliki pesugihan dan kecelakaan tersebut adalah perantara mereka mengambil tumbal.Bara menghela nafas kasar saat membaca berbagai komentar negatif tersebut, sudah beberapa tahun Albara Kaizer berdiri ini adalah pertama kalinya terjadi kecelakaan di depan kantor, dan juga karyawan sendiri yang menjadi korban hingga tewas."Jangan terlalu dipikirkan, Pak," ujar Ari melihat Bara tidak fokus kepada layar laptop di depannya."Iya Ri, saya gak habis pikir loh netizen bahkan komen kalau kita pakai pesugihan, bukannya berbela sungkawa atau mendoakan korban ini malah komen negatif bahkan ditanggapi dengan lelucon oleh yang lainnya. Sedikit saja mereka tidak bersimpati kah? Wal

  • Pembalasan Menantu Terkuat   Bab 304. Hampir Mati

    “Siapa?” tanya Bara kepada Ari.“Nina anak IT yang kita pindahkan ke lantai satu, Pak,” jawab Ari pelan.Deggh.Bara hanya diam menyugar kasar rambutnya dan duduk disebelah Ari.“Gua belum minta maaf,” ujar Bara kepada Ari.“InsyaAllah sudah dimaafkan pak, kan bapak gak salah,” ujar Ari membesarkan hati Bara.“Iya sih, tapi kan merasa berdosa juga. Kita waktu itu main langsung pindah aja,” ujar Bara.“Udah pak gapapa, Pak.”Bara dan Ari meninggalkan lobby menuju ruangan mereka di lantai tujuh. Suasana kantor sangat mencekam karena semua ruangan kosong, bahkan suara Acil di pantry aja begitu jelas terdengar saking sepinya.“Wow, sepi banget ya,” gumam Ari bergidik ngeri. Karena Ari memang sangat penakut.“Di pantry ada Acil kan?” tanya Bara.“Ada pak,” jawab Acil yang memang letak pantry dekat dengan lift jadi Acil bisa mendengar ada yang menyebut namanya.“Kopi dua ya, Cil,” pesan Bara langsung.“Siap pak, beres,” jawab Acil.Bara dan Ari hanya melihat dari balkon suasana jalanan yang

  • Pembalasan Menantu Terkuat   Bab 303. Kecelakaan Di Depan Kantor

    Alin mengernyitkan keningnya melihat perubahan wajah Bara.“Bang, ada apa bang?” tanya Alina kepada Bara.“Pak? Bapak masih disana?” panggil Ari diujung telepon.“Ah iya Ri, baiklah kamu urus dulu ya. Saya akan segera ke kantor,” ujar Bara menutup panggilan telepon dan menyimpan kembali ponsel ke dalam saku celananya.“Bang,” panggil Alin lembut yang sudah menggendong Alma bersiap turun kebawah untuk sarapan bersama.“Di depan kantor salah satu karyawan mengalami kecelakaan tabrak lari dan meninggal dunia,” ujar Bara pelan.“Innalillahiwainnailaihirojiun,” ucap Alin.“Seperti sengaja ditabrak, karena posisi korban sudah berada diluar badan jalan,” lanjut Bara.“Mungkin mabuk atau gimana?” tanya Alin.“Gak tahu, didepan kantor ada cctv. Nanti akan di cek, mudah-mudahan pelakunya ditemukan,” ujar Bara.“Aamiin, abang harus tenang, Bang. Jangan gegabah, biarkan polisi yang akan menyelidikinya,” ujar Alin.Bara hanya mengangguk.Selama sarapan pikiran Bara tidak tenang, memikirkan kacauny

  • Pembalasan Menantu Terkuat   Bab 302. Wanginya Sampai Sini

    Bu Aisah dan Alin turun beriringan ke lantai satu, tampak Alma yang kacau sambil menangis. "Titi," panggil Alma.Alin dengan segera melewati bu Aisah dan memeluk Alma."Ada apa, Sayang?"Alma sesegukan di dalam gendongan Alin."Ibu lagi ngapain sih di atas, Alma di tinggal sendirian dan nangis jerit-jerit," ujar bu Bira ketus."Saya dari atas bu, Bara sakit!" jawab bu Aisah sengaja menekankan kata-kata sakit didepan muka bu Bira.Bu Bira mematung saat mendengar Bara sakit, karena setahunya tadi saat ditinggalkan Bara baik-baik saja.Mbok Inah, bik Rasi dan Bik Sri juga ikut keluar kamar mendengar ribut-ribut di depan. Karena ini sudah menunjukkan pukul sepuluh malam biasanya yang tidak ada kegiatan sudah masuk ke kamar masing-masing."Mbok Inah, boleh saya minta tolong?" tanya bu Aisah."Iya bu ada apa?" tanya mbok Inah."Tolong beresin balkon ya mbok, tadi Bara hampir pingsan dan gak sengaja menyenggol gelas kopi nya dan jatuh pecah," jelas bu Aisah kepada mbok Inah."Baik, Bu," jaw

  • Pembalasan Menantu Terkuat   Bab 301. Lupa Semuanya

    Degh.Bu Bira menghentikan langkahnya dan berbalik, mendapati Bara menunduk dengan memegang kepalanya dengan kedua tangannya.“Apa yang kamu katakan, Bara?” tanya bu Bira.“Benar kan, Ma?” tanya Bara yang telah berurai air mata.Bu Bira hanya menggeleng.“Maksud kamu mama hanya mengincar harta kamu?” tanya bu Bira tak terima.“Bukan. Bukan itu, Mama memang tidak kekurangan harta tapi Mama memiliki gengsi yang besar.”“Mama tidak akan mau mengakui Bara sebagai anak mama kalau Bara masih menjadi seorang cleaning service. Iya kan, Ma?” desak Bara.“Itu salah nak, siapapun kamu mama pasti akan mengakuinya. Tapi mama kan tidak tahu kamu ada dimana?” ujar bu Bira mencari alasan.“Benarkah mama gak tahu?” tanya Bara.“Benar Bara, mama tidak tahu kamu berada dimana?” ujar Bu Bira kembali duduk disamping Bara.“Apa Mama pikir panti itu berpindah? Berubah nama?” tanya Bara melihat mata bu Bira yang sudah memerah kemungkinan beliau juga menahan tangis atau menahan amarah.Tanpa mereka ketahui Al

  • Pembalasan Menantu Terkuat   Bab 300. Katakan Saja Dengan Jujur

    Ferdi tampak menggeleng melihat barang yang dia lihat di dalam kotak paket tersebut.Bara memandang Bizar dan Ferdi secara bergantian,mencari jawaban dari ekspresi yang mereka tampilkan. Namun, ekspresi keduanya tidak bisa dimengerti.“Ada apa, Pa? Pak Ferdi?” tanya Bara penasaran.“Paket pertama apa isinya?’ tanya Ferdi lagi.“Ini,” ujar Bara sambil menyodorkan gambar di ponselnya.Ferdi menghel nafas berat. “Bapak harus benar-benar berhati-hati,” ujar Ferdi sambil menyugar kasar rambutnya.“Sebenarnya apa arti semua barang yang dikirimkan nya?” tanya Bara.“Kalau artinya saya tidak tahu, Pak Bara, ini hanya seperti isyarat saja."“Terus maksud kamu tadi bilang saya harus berhati-hati apa?” tanya Bara penasaran.“Ini sepertinya di pengirim memberikan isyarat bahwa dia akan membunuh kamu, saya rasa paket berikutnya berupa tanah,” ujar Ferdi menebak.“Iya nak, sepertinya ini isyarat kalau target mereka kali ini adalah pembunuhan, bukan hanya sekedar seperti selama ini yang hanya membu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status