MasukMalam Semua ( ╹▽╹ ) Othor baru selesai nulis, jadi sedikit terlambat. Terima Kasih Kak Eny Rahayu, Kak Pengunjung5804, Kak Patricia Inge, Kak Alberth Abraham Parinussa, Kak Aday Wijaya, Kak Lola Ayu, dan Kak Ashoka atas hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima Kasih Kak Sendy Zen atas hadiah Kopi dan Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima Kasih juga kepada semua pembaca yang telah mendukung novel ini dengan Gem (◍•ᴗ•◍) Masih kurang 200 Koin lagi untuk bab bonus Hadiah. (≧▽≦) ini bab terakhir hari ini, Selamat beristirahat (◠‿・)—☆
Kabut darah menyembur dari permukaan lengannya dalam semburan tipis yang berkilauan di bawah cahaya formasi arena. Bukan luka dalam dari luar. Ini dari dalam, otot-otot yang melewati batas yang tidak seharusnya dilampaui. Otot-ototnya yang tadinya berlapis cahaya hitam-emas kini robek dari dalam oleh kekuatan yang ia paksakan melewati kapasitas normalnya.'Bahkan dengan Immortal Divine Body, ini masih terlalu berat untuk dikendalikan dengan sempurna.'Tanpa kilasan pemahaman hukum alam yang ia tangkap saat melawan Kraig Blazesky kemarin, tebasan ini tidak akan bisa diarahkan dengan presisi yang dibutuhkan. Kekuatan sebesar itu tanpa kendali yang cukup sama saja dengan ledakan yang tidak punya tujuan.Ia tidak mengeluarkan Pedang Iblis Darah. Bukan karena tidak mampu. Tapi senjata itu membawa terlalu banyak aura kuno yang akan menarik perhatian yang tidak ia inginkan di sini.Kecuali benar-benar tidak ada pilihan lain, simpan saja.**Cole Shadowmist merasakan tebasan itu bahkan s
"Hahahahaha!" Tawa Cole Shadowmist masih bergema keras di seluruh arena. "Jangan khawatir, kau tidak akan kulempar keluar dari panggung secepat itu. Kau harus membantu aku bersenang-senang dulu!"Ryan menatap Cole yang tertawa dengan mata yang setengah menggeleng, setengah geli.Lalu ia ikut tertawa. Ringan. Pendek."Kau tahu tidak," ucapnya santai sambil mengusap ujung bibirnya dengan punggung tangan, "orang-orang yang bicara padaku dengan cara seperti itu biasanya berakhir dengan sangat menyedihkan."Tawa Cole terhenti.Sesuatu dalam kalimat itu membuatnya diam. Bukan karena ancaman. Bukan karena takut. Lebih karena ada yang tidak pas, seperti kepingan puzzle yang dipaksa masuk tapi tidak benar-benar cocok di tempatnya.Matanya turun ke tombaknya sendiri.Dan kemudian ia mengerti.Tombak itu tidak menembus dada Ryan.Serangan Kilat Bayangan Ekstrem yang ia lepaskan tadi memang meluncur denga
Pemuda itu terdiam. Lalu matanya membulat sedikit. "Ketua Sekte, maksudnya... Kakak Senior Mervin yang akan masuk?"Eren menggeleng.Pemuda itu semakin bingung. "Kalau bukan Kakak Senior Mervin... Xavier?"Tidak ada jawaban yang datang. Hanya senyum yang tidak sepenuhnya menjawab pertanyaan itu.**"Pertandingan kelima belas!"Suara lelaki tua itu bergema dan Ryan bangkit dari duduknya."Ryan Pendragon dari Keluarga Blazesky! Cole Shadowmist dari Keluarga Shadowmist!"Sorak sorai di bangku penonton meledak kembali, namun kali ini dengan warna yang berbeda. Ada tawa di dalamnya."Hei, aku tidak salah lihat? Lawannya anggota Shadowmist? Dan itu murid sekte luar yang cuma Ranah Primordial Chaos tingkat tiga?""Hahahaha, nasib buruk sekali. Kalau ketemu orang lain mungkin masih bisa bertahan. Tapi melawan Keluarga Shadowmist dengan level seperti itu?""Kasihan. Ini bukan pertandingan, ini
Setelah pertandingan pertama yang ditutup dengan cara yang tidak terduga itu, suasana di bangku penonton tidak pernah benar-benar kembali seperti semula. Ribuan pasang mata masih sesekali melirik ke tempat di mana tubuh Drake Darkgold diangkat keluar, beberapa mulut masih terbuka setengah, seolah tidak yakin apa yang baru saja mereka saksikan memang nyata. Pertandingan kedua, ketiga, keempat datang dan pergi. Cukup menarik, namun tidak benar-benar menggetarkan. Hingga tiba giliran pertandingan ketujuh. Semacam pergeseran terjadi di tengah kerumunan. Bisik-bisik yang tadinya santai berubah menjadi tegangan yang berbeda, dan kepala-kepala yang tadinya menunduk malas kini tegak kembali. Ryan merasakan perubahan itu bahkan sebelum ia melihat alasannya. Di atas panggung, seorang pemuda dari Keluarga Shadowmist berdiri. Penampilannya tidak istimewa di pandangan pertama. Rambut gelap, postur sedang, ekspresi yang terlalu tenang untuk seseorang yang berdiri di tengah arena di baw
Di bangku peserta Keluarga Woodholt, wajah-wajah memerah satu per satu. Beberapa kepala tertunduk. Hanya kepala keluarganya yang memandang panggung dengan sorot yang berbeda dari yang lain. Tidak ada rasa malu di matanya. Hanya tatapan orang yang sedang menunggu sesuatu terjadi. Drake sendiri melongo melihat pemandangan itu. Ia tidak menyangka musuhnya akan "melarikan diri" semudah dan secepat itu. Matanya beralih ke pedang emas pucat yang masih melayang pelan ke arahnya. Senyumnya kembali. 'Kalau begini, barang ini jadi milikku.' "Kalau mau lari, silakan lari. Tapi pedangnya aku ambil dulu sebagai bayaran atas waktu yang sudah terbuang!" Mervin, yang sudah hampir di tepi panggung, menjawab tanpa menoleh. "Kalau bisa diambil, ambil saja." Drake mengulurkan tangannya dan menggenggam ke arah pedang itu. SRITTT! Suara yang nyaris tidak terdengar. Kerumunan yang tadi riuh mendadak bisu. Drake menatap tangannya. Empat jarinya terputus bersih, jatuh ke lantai panggung bersama
Pertandingan pertama dimulai.Arena utama di pusat venue adalah panggung batu biru yang lebar dan rata, dengan lapisan pelindung berbentuk kubah setengah lingkaran yang melayang di atasnya. Formasi cahaya itu berfungsi ganda: menahan kerusakan agar tidak menjalar ke penonton, sekaligus membuat setiap gerakan di atas panggung terlihat jelas dari segala sudut.Dua peserta sudah berdiri di atas panggung.Suara lelaki tua itu bergema di seluruh venue. "Mervin Lux dari Keluarga Woodholt! Drake Darkgold dari Keluarga Darkgold! Pertandingan dimulai!"Sorak sorai meledak dari bangku penonton. Namun arahnya jelas, dan bukan untuk Mervin."Drake Darkgold! Habisi bocah dari Sekte Moon Flower itu!""Itu genius nomor satu Keluarga Darkgold! Murid sekte luar itu sudah tamat!""Murid-murid Sekte Moon Flower semua sampah! Apa yang mereka andalkan selain senjata mahal pemberian guru mereka?"Ryan mengerutkan dahinya.
Bagaimana mungkin monster tua seperti Venerable Immortal Yuriel Leviathan tidak tahu karakter Ryan? Ryan bukanlah orang yang suka berkompromi, dia juga bukan pengecut.Semakin sombong dia, semakin Ryan akan menentangnya dan semakin kecil kemungkinan dia akan setuju!"Enyahlah!" Ryan menatap dengan
"Venerable Immortal Jason Klean, apa yang kau coba lakukan?" tanya leluhur Klan Aetheren dengan nada dingin. Dia menatap tajam Jason Klean dari kegelapan, mengabaikan delapan tetua Ranah Dao Integration yang masih terhuyung-huyung. "Myriad Sword Palace akan membawa pemuda ini pergi!" Jason Klean m
"Aku sudah memperhatikan anak ini. Sejak meteorit jatuh di Gunung Langit Biru, kakeknya telah merencanakan sesuatu yang besar, mengabaikan posisi kepala Keluarga Pendragon, dan juga menghabiskan umurnya untuk ini.""Aku hanya berharap tebakannya benar."Lelaki tua itu terdiam sejenak. "Aku sudah me
"Sialan! Aku tak peduli lagi!"Ryan melompat. Dia tak sanggup lagi berdiri di jembatan gelap itu. Kalau tidak, menghadapi aliran ikan hitam pemakan manusia yang tak berujung ini, dia pasti akan mati jika jatuh ke sungai!Dia baru mencapai seratus meter ketika puluhan ribu ikan hitam pemakan manusi







