로그인BLURB Menjadi penyintas waktu, bukanlah hal yang diinginkan Zhao Yichen. Dia yang berasal dari masa 250 tahun silam, sudah diramalkan ahli nujum keluarganya, akan melintasi lorong waktu ke masa modern. Zhao Yìchen yang dikejar para perampok dagangan keluarganya, kabur ke hutan. Namun, dia ternyata justru dikejar penunggu hutan terlarang, hingga terpaksa melanjutkan perjalanan melintasi sungai. Zhao Yìchen tidak mengetahui jika sungai itu merupakan batas antara dua dunia. Dia yang tengah terluka, berusaha menyelamatkan diri dari kejaran para penunggu hutan terlarang. Beruntung, Zhao Yìchen diselamatkan sekelompok orang yang tengah mencari rekan mereka di lorong waktu. Sebab lukanya parah, Zhao Yìchen akhirnya dibawa keluar dari lorong waktu. Bagaimanakah kisah perjuangan Zhao Yìchen, supaya bisa beradaptasi dengan dunia modern? Mampukah dia menciptakan identitas baru, dan menemukan jati diri? Akankah Zhao Yìchen mendapatkan pasangan pendamping hidup? Selengkapnya bisa dibaca di buku ini, Kelana Penyintas Waktu. Judul terbaru punya Emak OY yang tayang di Goodnovel. Baca juga banyak buku lainnya buatan Olivia Yoyet. Follow akun penulisnya, untuk mendapatkan informasi tentang karya terbaru Emak OY.
더 보기01
"Tuan Muda, lari!" titah Sun Qiang, ketua pengawal keluarga Zhao. "Selamatkan diri Anda!" pekiknya, sembari menendangi beberapa perampok yang hendak mengeroyok atasannya.
Zhao Yìchen berbalik dan lari menuju kereta pengangkut barang dagangan milik keluarganya. Zhao Yìchen melepaskan tali pengait kereta ke kuda, sebelum dia menaiki hewan cokelat bersurai hitam itu.
Zhao Yìchen memerhatikan sekeliling. Sesungguhnya dia tidak tega untuk meninggalkan belasan pengawalnya, yang masih berjuang melawan kelompok perampok. Namun, Zhao Yìchen akhirnya memutar kuda dan memacu hewan itu menjauhi arena pertempuran.
Zhao Yìchen memacu kuda kesayangannya tanpa menoleh ke belakang. Pria berbaju biru tersebut, terkejut saat mendengar derap langkah binatang lain dan dia spontan menoleh ke belakang.
"Sial!" umpat Zhao Yìchen.
Pria berambut panjang itu menekan tumitnya, supaya Niu bisa memacu keempat kakinya lebih cepat. Kuda berukuran tidak terlalu besar itu memahami perintah tuannya, dan Niu memaksakan kakinya untuk lebih lebar mengayun.
Satu panah melesat dari belakang. Zhao Yìchen merunduk untuk menghindari panah yang meluncur di samping kiri kepalanya, sebelum menancap ke pohon di tepi jalan.
Zhao Yìchen mengamati sekitar. Kala melihat jalan kecil di sisi kiri atea, dia nekat mengarahkan Niu ke sana. Ternyata jalan itu lebih kecil dari jalur utama, dan banyak rerimbunan tinggi yang menjadikan suasananya lebih sunyi.
Niu terus berlari sembari sekali-sekali melompati batang pohon yang melintang di jalan. Zhao Yìchen mengecek ke belakang, lalu dia menghepa napas lega, karena penguntitnya sudah tidak ada.
Sementara di ujung jalan itu, kedua perampok masih termangu. Mereka tidak berani mengejar target, karena tahu bila jalan itu mengarah ke hutan terlarang. Setelah berdiskusi sesaat, keduanya memutuskan untuk kembali ke dekat kelompoknya.
"Mana dia?" tanya Guo Deming, pemimpin kelompok penjahat.
"Dia kabur, Tuan," jawab Xue Kang.
Guo Deming berdecih. "Kenapa tidak dikejar?"
"Dia masuk ke hutan terlarang."
Guo Deming terhenyak. "Maksudmu, Hutan Hong?"
"Ya, Tuan."
Guo Deming kembali berdecih. Dia kesal, karena Tuan muda kedua keluarga Zhao itu berhasil meloloskan diri. Padahal dialah target utama untuk diculik dan dibunuh kelompok Guo Deming. Sesuai dengan perintah orang yang telah menyewa mereka.
Sekian menit berlalu, pasukan penjahat telah pergi dengan membawa satu kereta berisi barang dagangan. Sedangkan kereta yang tidak ada kudanya, dibiarkan di tempat itu.
Beberapa anggota pengawal keluarga Zhao, keluar dari tempat persembunyian masing-masing. Mereka mendekati tempat perkelahian, guna menyelamatkan apa pun yang masih tersisa.
"Kalian pulang dan laporkan tentang ini ke Tuan Zhao Mùsheng," tutur Sun Qiang, sambil membebat luka memanjang di lengan kirinya, dengan kain hitam.
"Tuan tidak ikut pulang dengan kami?" tanya Hu Guang.
"Tidak. Aku mau mencari Tuan muda kedua," jelas Sun Qiang.
"Ke mana?"
"Tadi aku dengar pembicaraan mereka. Katanya, Tuan muda lari ke Hutan Hong."
"Aku ikut dengan Tuan."
Sun Qiang menggeleng. "Sisa pasukan kita hanya sedikit, dan semuanya terluka. Kalian harus segera pulang. Supaya Tuan besar mengirimkan pasukan baru untuk mencari Tuan muda."
Hu Guang terpegun sesaat, lalu dia mengangguk paham. Hu Guang meminta seorang pengawal untuk menyiapkan makanan, minuman, dan pakaian, sebagai bekal Sun Qiang dalam mencari Zhao Yìchen.
***
Langit malam itu tampak gelap. Hampir tidak ada bintang yang bekerlipan, sedangkan rembulan hanya memunculkan seperempat bentukmya.
Zhao Yìchen mengarahkan kedua telapak tangannya ke api unggun kecil, yang dibuatnya sejak tadi. Zhao Yìchen menarik tangan ketika merasa sudah cukup hangat, lalu dia menyandarkan tubuh ke Niu, yang tengah duduk di samping kanan tuannya, sembari melipat keempat kaki.
"Niu, apakah rumput itu enak?" tanya Zhao Yìchen tanpa disahut sang kuda. "Aku lapar. Buahnya sedikit dan tidak mengenyangkan," keluhnya.
Zhao Yìchen meringis, kala mendengar bunyi perutnya. Pria itu menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Kemudian dia memejamkan mata dan bersiap-siap untuk tidur.
Puluhan menit terlewati. Bunyi gemerisik dedaunan menjadikan Niu bersikap siaga. Kuda itu menajamkan penglihatan, lalu dia menyurukkan hidungnya ke badan Zhao Yìchen, untuk membangunkan pria tersebut.
"Apa?" tanya Zhao Yìchen sembari membuka matanya yang memberat.
Dengusan Niu mengejutkan pria itu. Zhao Yìchen berpikir sejenak, lalu cepat-cepat memadamkan api. Zhao Yìchen mengamati sekeliling. Saat melihat kelebatan bayangan yang tengah menyambangi, Zhao Yìchen menggenggam tali kekang, kemudian membantu Niu berdiri.
Degup jantung Zhao Yìchen tidak beraturan. Menuruti intuisi, dia menuntun Niu menjauh sambil terus memerhatikan sekitar.
Bayangan itu terus mengikuti. Zhao Yìchen kaget, karena jumlah bayangan itu lebih dari satu. Bulu kuduk Zhao Yìchen berdiri dan itu menyebabkannya mengeluh dalam hati, karena meyakini bila makhluk yang membuntutinya bukanlah manusia.
Zhao Yìchen menaiki kuda dan meminta Niu untuk jalan santai. Namun, ketika hawa berat kian terasa, Zhao Yìchen memerintahkan Niu untuk lari sekencang mungkin menuju sungai, yang tidak terlalu jauh dari tempatnya beristirahat.
Zhao Yìchen menoleh ke belakang. Dia membulatkan mata, karena melihat tiga bayangan hitam tengah melayang ke arahnya. Zhao Yìchen mengamati area seberang sungai, lalu dia membelokkan tali kekang ke kanan.
Niu memperlambat langkah saat kakinya sudah menyentuh dasar sungai. Niu terus jalan sambil memerhatikan sekeliling, guna memastikan tidak ada hewan predator yang tengah bersembunyi.
Setibanya di tepi kanan, Zhao Yìchen turun dari kuda dan memegangi tali kekang. Dia menuntun Niu untuk mencari tempat beristirahat. Zhao Yìchen sempat menoleh ke seberang, sebelum dia menghela napas lega, karena ketiga makhluk tadi ternyata berhenti mengejar.
Akan tetapi, belum sempat Zhao Yìchen menemukan tempat aman, ketiga makhluk tak kasatmata itu muncul belasan meter di hadapannya. Zhao Yìchen dan Niu seketika berhenti melangkah, guna mengawasi ketiga makhluk hitam yang kian mendekat.
Satu makhluk melesat ke depan dan menyerang Zhao Yìchen. Namun, gerakan Niu lebih cepat dan dia berhasil menendang makhluk itu hingga terlempar ke sungai.
Kedua makhluk lainnya serentak menyerang dan Niu menjadikan badannya sebagai tameng untuk melindungi tuannya. Namun, satu sinar merah mengenai dada Zhao Yìchen yang sontak terhuyung- huyung ke belakang, sembari memegangi dadanya.
Niu menerjang makhluk kedua itu tanpa memedulikan nyawanya. Makhluk ketiga yang hendak menyerang Zhao Yìchen, diseruduk Niu yang telah terluka.
Satu sinar merah yang sempat dilepaskan makhluk astral ketiga, tiba-tiba menghilang sebelum berhasil menyentuh Zhao Yìchen. Beberapa sinar biru muncul dari balik pepohonan dan mengarah ke tiga makhluk itu.
Zhao Yìchen terjatuh dan terduduk. Pandangannya mulai menggelap dan Zhao Yìchen tidak bisa menggapai Niu yang telah terkapar di tanah.
Beberapa orang muncul dari balik pepohonan, sambil terus menembakkan sinar biru ke tiga makhluk gaib, yang akhirnya melarikan diri. Empat pria mengerumuni Zhao Yìchen yang sedang berusaha mempertahankan kesadarannya. Sementara ketiga orang lainnya mengecek kondisi Niu.
07Suasana haru memenuhi ruangan luas di kantor polisi Sydney. Puluhan orang menandangi adegan kedua pria yang tengah berangkulan lama. Jauhari terisak-isak dalam dekapan Wirya yang juga meneteskan air mata. Keduanya baru menjauh, setelah dipisahkan Alvaro. Zhao Yìchen menghela napas berat dan melepaskannya sekali waktu. Dia turut sedih dengan nasib yang menimpa Jauhari. Pria muda tersebut terbukti membunuh orang, meskipun itu dalam rangka melindungi diri, karena dia ditembak korban terlebih dahulu.Peristiwa bermula dari tertabraknya mobil kelompok Jauhari, oleh mobil anggota gangster pimpinan Rupert. Kelima ajudan itu terpaksa keluar, supaya Avreen dan kedua sahabatnya aman di dalam mobil.Pihak gangster memang mencari Jauhari, karena pria itu merupakan saksi mata utama pembunuhan yang melibatkan anggota mereka, di Port Stephens, salah satu kota terdekat dengan Sydney. Perdebatan itu memanas, hingga akhirnya perkelahian tidak terelakkan.Kelima pengawal bekerjasama dalam menghadapi
06Bunyi seruling terdengar syahdu dari gazebo di halaman belakang kediaman Dante. Seorang pria berkaus putih meniup alat musik itu dengan serius dan penuh penghayatan, sambil membayangkan orang-orang di masa silam. Lagu kuno Tiongkok mengalun silih berganti. Hingga Zhao Yìchen berhenti bermain musik, dan mengalihkan pandangan ke langit malam nan kelam. Dia berulang kali menarik napas dalam-dalam, lalu diembuskannya perlahan. Zhao Yìchen sangat merindukan keluarganya. Hati pria itu sakit, akibat rasa kangen yang mencuat dan menyesakkan dada. Zhao Yìchen mengerjapkan mata, sebelum menggeleng pelan sambil mendengkus. Panggilan seseorang menyebabkan Zhao Yìchen menoleh ke kanan. Dia tertegun menyaksikan raut wajah tegang yang ditampilkan Radeya, yang tengah menyambanginya."Ko, dipanggil Pak Dante," tutur Radeya. "Ada apa?" tanya Zhao Yìchen sambil berdiri. "Nanti beliau yang jelaskan," jelas Radeya. "Ada Bang Zulfi dan Bang Andri. Mereka nunggu Koko di ruang kerja," lanjutnya. Kedu
05Jalinan waktu terus bergulir. Tanpa terasa, sudah hampir sebulan Zhao Yìchen tinggal di rumah Dante. Setiap pagi dia akan menyapu halaman depan dan belakang, meskipun telah dicegah Dante dan istrinya. Menjelang siang, Zhao Yìchen akan belajar bahasa Indonesia pada Edelweiss, yang mengajari pria itu dengan sabar. Selain Edelweiss, Zhao Yìchen juga belajar pada Radeya dan Zakaria Ulhaq, ajudan kedua Dante, serta Naisha Istianti, ajudan Edelweiss. Kendatipun belum terlalu lancar, tetapi Zhao Yìchen memberanikan diri untuk berbicara menggunakan bahasa Indonesia, terutama jika berhadapan dengan kedua anak Dante, serta ketiga pegawai di rumah. Jika salah penyebutan, maka Zhao Yìchen akan langsung mengubahnya dengan kalimat yang benar. Pagi itu, Wirya mendatangi kediaman Dante guna mengajak Zhao Yìchen, menuju kantor PBK di kawasan Pancoran. Zhao Yìchen sangat senang dan segera berganti pakaian dengan setelan rapi. Zhao Yìchen menaiki mobil MPV hitam yang disopiri asisten 1 Wirya, yak
04 Sepanjang perjalanan menuju Jakarta, Zhao Yìchen mengamati sekitar. Dia terheran-heran dengan bentuk bangunan di tepi jalan, yang sangat berbeda dengan tempat tinggalnya. Selain itu dia takjub dengan berbagai jenis kendaraan yang melintas di jalan raya.Zhao Yìchen berulang kali bertanya dan Fritz serta Dante bergantian menjawabnya. Sedangkan Wirya berada di mobilnya di belakang, yang disopiri asistennya, Fikri.Mendekati Kota Jakarta, Zhao Yìchen makin terpana, karena banyak bangunan tinggi dengan berbagai bentuk. Zhao Yìchen penasaran dengan bagian dalam bangunan itu. Dia mengungkapkan keinginannya dan Dante berjanji akan mengajaknya ke kantor Adhitama, esok hari. "Ra, kita mampir ke mal. Aku mau beliin dia baju," cakap Dante, sambil memandangi ajudannya yang tengah menyetir. "Mal Pondok Indah?" tanya Radeya Pangestu."Bukan, Pejaten aja." "Siap." "Pak, kami manggil dia, apa?" sela Firman Bahiga, ajudan Fritz. "Kakek," kelakar Dante."Uyut," goda Fritz. "Tampilannya masih
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.