Se connecterIni Bab kedua pagi ini. Selamat beraktivitas (◠‿・)—☆ Bab Bonus: 0/3. Bab Reguler: 2/2
Ketiganya sempat tertegun mendengar ucapan Ryan Pendragon.Namun sesaat kemudian, bahu mereka melemas, dan senyum mengejek muncul di wajah masing-masing.Tadinya, mereka sempat curiga Ryan menyimpan kartu aneh yang tidak mereka ketahui. Bagaimanapun, menahan tepisan Magnus Terran bukan sesuatu yang bisa dilakukan sembarang orang. Setidaknya, untuk seorang murid tahun pertama Ranah Creation, hal itu terlalu tidak masuk akal.Akan tetapi, kecurigaan itu langsung buyar.Ternyata bocah ini hanya bersandar pada nama Departemen Penegak Hukum.Bagi mereka, kalimat seperti itu sama saja dengan pengakuan kalah. Kultivator kuat mana yang menyeret nama para pengajar dan Departemen Penegak Hukum untuk menekan lawan sebelum bertarung? Itu jelas kelakuan orang lemah yang tidak punya keyakinan pada tenaganya sendiri.Magnus mendengus dingin.Sejak tadi, ia masih memikirkan bagaimana tangannya bis
Namun belum sampai satu tarikan napas, keterkejutan di wajah Kellan Cook, Magnus Terran, dan Cedric Ember berubah menjadi ejekan. Bocah ini benar-benar tolol. Kecepatan Ryan Pendragon memang mengerikan. Saking cepatnya, Kellan sempat merasa bahwa penilaiannya terhadap murid tahun pertama itu mungkin keliru. Kecepatan seperti itu jarang terlihat, bahkan di antara Kultivator Ranah Star Seed. Sayangnya, tindakan Ryan berikutnya hampir membuat mereka tertawa. Pemuda itu tidak memakai keunggulan kecepatannya untuk memutari Magnus. Ia juga tidak memakainya untuk mundur dan menjaga jarak. Sebaliknya, Ryan justru mengangkat tangannya sendiri untuk menahan telapak Magnus Terran secara langsung. Sepasang mata segitiga Kellan langsung berkilat senang. Ia sudah tidak sabar melihat tangan Ryan remuk di bawah cengkeraman Magnus. 'Apakah hati Dao bocah itu juga akan hancur begitu ia sadar jurang kekuatan di antara kalian?' Membayangkannya saja membuat dada Kellan terasa hangat. Menghant
Ketiganya menatap punggung Ryan Pendragon yang semakin menjauh. Wajah mereka mengeras satu per satu. Tidak perlu diperdebatkan lagi. Sikap Ryan barusan sama sekali tidak menyisakan rasa hormat kepada mereka. Tiga murid tahun kedua Ranah Star Seed sudah menyapanya dengan cukup jelas, tetapi pemuda itu bahkan tidak mau mendengar isi pembicaraan mereka. Kapan mereka pernah diperlakukan seperti ini oleh seseorang yang tingkat kultivasinya jauh di bawah mereka? Mereka adalah murid Akademi Heavenly Flame. Di seluruh Benua Valorisia, nama mereka termasuk bersinar terang di antara para genius. Namun sekarang, mereka justru dipandang sebelah mata oleh murid tahun pertama Ranah Creation. Penghinaan seperti itu tidak bisa diterima. Di antara mereka bertiga, Magnus Terran adalah orang yang paling mudah tersulut. Dulu, tidak lama setelah masuk Akademi Heavenly Flame, Magnus pernah terlibat adu mulut dengan seorang murid. Perselisihan kecil itu berakhir dengan lawannya terkapar, tulang
“Api Naga Bumi Nine Origin?” Kultivator berbadan kekar itu langsung menoleh. Matanya membelalak, dan napasnya terasa lebih berat. “Bukankah itu benda yang sedang kita butuhkan? Poin kontribusi kita bertiga digabung pun belum cukup untuk menebus satu saja. Bagaimana mungkin bocah itu bisa mendapatkannya?” “Aku tidak tahu.” Kultivator berwajah pucat meliriknya sekilas, lalu menjawab dengan nada datar. “Tapi soal benda bersifat api, aku tidak pernah salah lihat.” “Aku percaya pada penilaian Kakak Ember,” ujar kultivator berjubah hijau sambil tersenyum. Saat mengatakan itu, pandangannya mengikuti arah kepergian Ryan Pendragon. Kilatan tipis melintas di mata segitiganya. “Sepertinya kita perlu mengajak adik seperguruan Ranah Creation itu berbincang sebentar. Siapa tahu dia bersedia meminjamkan Api Naga Bumi Nine Origin miliknya kepada kita lebih dulu.” Senyumnya tetap ramah, tetapi nada di baliknya tidak menyisakan banyak ruang untuk menolak. “Kalau tidak, urusan yang itu akan mer
Quinton Greaves tersenyum.“Benar sekali. Di antara murid-murid tahun kedua kita, tidak banyak yang benar-benar menonjol tahun ini. Jadi lebih masuk akal kalau tempat itu kuberikan kepada Ryan.”Ia berhenti sejenak. Senyumnya yang tadi santai perlahan memudar. “Lagi pula, aura anak itu terasa akrab sekaligus mengancam.”Nada suaranya menjadi lebih pelan. “Bahkan bagiku.”Mata sosok di dalam bayangan itu membelalak.Quinton Greaves adalah Kultivator Ranah Great Void. Sosok setingkat dirinya justru merasa terancam oleh seorang bocah Ranah Creation? Jika kalimat barusan tersebar keluar, bukan hanya Benua Valorisia yang akan gempar. Kerajaan Ilahi pun pasti ikut terguncang.‘Apakah karena garis darahnya?’ pikir sosok itu.Namun ia memilih tidak bertanya lebih jauh. Sebagai gantinya, ia menatap Quinton dengan sorot menyelidik.“Kepala Akademi, kau membawa Ryan ke Kerajaan Nine Nether bukan hanya untuk pamer
Ryan Pendragon menatap Quinton Greaves dengan heran. “Kepala Akademi, bukankah Akademi Heavenly Flame didirikan di bawah naungan Kerajaan Ilahi?” “Rasanya ucapan tadi kurang pantas diucapkan di tempat seperti ini.” Quinton justru tersenyum. Senyum itu terlihat seperti milik seseorang yang sudah lama menunggu pertanyaan tersebut. “Tidak ada yang salah dengan ucapanku,” katanya pelan. “Kerajaan Ilahi yang sekarang bukan lagi Kerajaan Ilahi yang dulu.” Ryan tidak menyela. “Memang benar akademi ini berdiri karena Kerajaan Ilahi. Namun hari ini, sebagian besar orang justru ingin menarik garis pemisah sejauh mungkin dari mereka.” Sorot mata Quinton menjadi lebih dalam. “Sejak Keluarga Pendragon dari Kerajaan Ilahi...” Kalimat itu berhenti begitu saja. Quinton menutup mulutnya, lalu menggeleng pelan, seolah baru sadar bahwa ia hampir mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya keluar. “Ada hal-hal yang lebih baik kau ketahui sesedikit mungkin.” Ryan menahan diri untuk tidak mengejar







