MasukMalam Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Eny Rahayu, Kak Sendy Zen, Kak Pengunjung5804, Kak Alberth Abraham Parinussa, Kak Aday Wijaya, Kak Patricia Inge, Kak Recky Roger, dan Kak Herman Muhammadamin atas hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima Kasih Kak Lola Ayu atas hadiah Coklat dan Koinnya (≧▽≦) Terima Kasih Kak Badrul Hisham Ahmad atas hadiah Coklatnya (≧▽≦) Terima kasih juga kepada seluruh pembaca yang telah mendukung novel ini dengan Gem (◍•ᴗ•◍) Karena jumlah koin telah mencapai Target, maka malam ini akan ada Bab Bonus Hadiah (≧▽≦) Seperti biasa, othor akan rilis di atas jam 8. Ditunggu (◠‿・)—☆ Akumulasi Hadiah: 265
"Jadi Pedang Iblis Darah benar-benar ada di tanganmu." Mata kultivator itu menyipit, amarahnya tersimpan rapat di balik nada yang dipaksakan tetap datar. "Berarti kau pewaris wilayah musim panas."Di antara para kultivator yang sudah masuk ke Alam Rahasia Demon Saint, soal pewaris bukan rahasia yang tersembunyi. Kabar itu sudah lama beredar, hanya pewaris sejati yang bisa membuka jalan menuju warisan tertinggi dari Demon Saint. Dan kini pedang itu ada di tangan bocah ini."Lalu?" Ryan menatapnya datar. Tidak ada kesan terancam di wajahnya, tidak ada rasa segan, tidak ada apapun yang bisa dimanfaatkan oleh lawan.Begitu jari-jari Ryan melingkar penuh di gagang Pedang Iblis Darah, sesuatu berubah di dalam kepalanya.Bisikan itu datang. Bukan perlahan, bukan bertahap, tapi langsung menyerbu seperti air bah yang membobol bendungan dalam sekali hentak: bunuh, bunuh, bunuh. Tidak ada suara lain yang bisa berdiri di sampingnya. Tidak ada ruang untuk pikiran lain.Mata Ryan berubah. Merah d
"Fernando Chester, kalian bertiga tangani yang satu itu." Ryan tidak menoleh, matanya tetap terkunci pada target di depannya."Siap, Ketua Sekte!" Fernando Chester, Kay Wellman, dan Terry Henox menjawab serentak, langsung bergerak mengepung kultivator Ranah Dao Integration tingkat kelima yang tersisa.Mereka tahu posisi mereka. Bertiga melawan satu tingkat kelima bukan pertarungan yang mudah, tapi bukan untuk menang pun tugasnya. Cukup tahan, cukup beli waktu sampai Ryan selesai dari urusannya. Itu saja. Dan soal Ryan menyelesaikan pertarungannya sendiri, mereka tidak punya keraguan sama sekali terhadap hal itu.Di hadapan Ryan, kultivator tingkat puncak dari Keluarga Beaster menatapnya dengan pandangan yang campuran antara hina dan waspada."Ranah Primordial Chaos tingkat ketiga." Ia mendengus pelan. "Dari mana datangnya nyali sebesar itu?"Ia tidak bodoh. Ia tahu Ryan bukan kultivator biasa, dan ia sudah mendengar cu
Kondisi mereka sudah tidak memungkinkan untuk bertahan lebih lama.Yue Lane dan Lina Jirk sama-sama sudah terluka. Menghadapi dua Kultivator Ranah Dao Integration tingkat kelima dalam kondisi seperti itu bukan lagi soal strategi, tapi soal berapa lama mereka bisa bertahan sebelum roboh.Jawabannya datang lebih cepat dari yang diharapkan.BOOM!Telapak tangan kultivator itu menghantam perut Yue Lane dengan penuh tenaga. Tidak ada ampun, tidak ada ragu-ragu.Pfft!Darah menyembur dari mulutnya. Wajahnya memucat seketika, bibir bergetar, lutut hampir tidak sanggup menahannya tetap berdiri."Kakak Yue Lane!" Lina Jirk berlari mendekat, air mata sudah mengalir tanpa ia sadari. "Kau baik-baik saja?""Aku masih bisa bertahan." Suara Yue Lane keluar lemah, tapi matanya masih fokus. "Tapi aku tidak bisa lagi melindungimu dalam kondisi seperti ini."Ia menggenggam lengan Lina Jirk, pandangannya serius m
Tanah berguncang tanpa peringatan. RUMBLE! RUMBLE! RUMBLE! Getarannya menjalar dari bawah kaki, naik ke lutut, ke dada, ke tulang. Keempat wilayah yang selama ini terpisah mulai bergerak, perlahan lalu semakin cepat, saling menekan dan menyatu seperti puzzle raksasa yang akhirnya menemukan tempatnya. "Tuan!" Terry Henox berlari mendekat dengan napas yang belum sempat ia atur. "Lihat di tengahnya!" Ryan sudah melihat sebelum Terry selesai bicara. Di titik pertemuan keempat wilayah yang kini menyatu, sebuah istana muncul dari balik cahaya yang menyilaukan. Megah. Besar. Seolah sudah menunggu di sana sejak ribuan tahun yang lalu, bersabar sampai saatnya tiba untuk menampakkan diri. Ryan mengerutkan kening. Unicorn Api Berkaki Naga pernah mengatakannya: keempat wilayah masing-masing menyimpan warisan dari Demon Saint. Ryan sendiri sudah mendapatkan Pedang Iblis Darah. Tiga yang lain, ia tidak tahu apakah sudah ada yang berhasil mengambilnya. Tapi istana itu berbeda. Istana
Ryan mencabut pedang tingkat Dao Integration dan melepaskan satu tebasan. SLASH! Tanpa jeda, kepalan tinjunya menghantam kultivator kedua. BOOM! BOOM! "Kalian bahkan tidak bisa menahan satu pukulan." Nada suaranya datar, hampir bosan. Sejak menerobos kemarin, kultivator Ranah Dao Integration tingkat keempat tidak lebih dari target bergerak baginya. Pedangnya melintas bersih di leher yang satu. Tinjunya menembus dada yang lain dari dalam, menghancurkan segalanya sebelum orang itu sempat menyadari apa yang menghantamnya. CRAT! BOOM! Belum genap satu menit sejak pertarungan dimulai, kedua pemimpin Mad Demon Palace sudah tergeletak di tanah tanpa nyawa. Anggota Mad Demon Palace yang tersisa membeku di tempatnya masing-masing. Tanpa komando, tanpa pemimpin yang bisa mereka lihat berdiri, semangat mereka runtuh lebih cepat dari tembok yang dirobohkan. Pertahanan mereka buyar. Yang satu berlari, yang lain menyusul, dan kurang dari satu jam kemudian medan pertempuran sudah be
Kata-kata Ryan belum selesai bergema di udara, tapi hati dua ratus orang di depannya sudah bergetar. Bukan tanpa alasan. Mereka adalah kultivator tanpa afiliasi, yang artinya miskin dalam artian paling harfiah di dunia kultivasi. Para kultivator Ranah Primordial Chaos di antara mereka masih menggunakan artefak kelas God King yang sudah usang dan retak di beberapa sisi. Yang Ranah Dao Integration pun tidak jauh lebih baik, terpaksa bertarung dengan artefak kelas Primordial Chaos yang tidak bisa memaksimalkan setengah pun dari kekuatan mereka yang sebenarnya. Dan sekarang, seseorang berdiri di depan mereka dan dengan tenang berkata bahwa mereka semua akan mendapat artefak sesuai level masing-masing. Mungkin memang hanya Ryan yang sanggup melakukan itu. Terhadap musuh, ia tidak pernah mengenal kata ampun. Tapi terhadap orang-orangnya sendiri, kemurahan itu datang tanpa harus diminta. "Kekuatan-kekuatan itu sudah menyatakan diri sebagai lawan kita." Ryan menatap barisan di depan
Pada saat yang sama, di kediaman Keluarga Xanders di Kota Season, suasananya sangat berat, dan ada genangan darah merah dan dua kepala dingin di tanah. Ini milik Cass Xanders dan Lunos Xanders! Karena keduanya gagal melindungi Nona Muda, mereka berdua dijatuhi hukuman mati! Terlebih lagi, karena
"Juga, Ryan sekarang telah menjadi incaran semua orang, jadi jangan pernah berhubungan dengannya di masa depan!" "Jangan sampai Keluarga Hodge mengatakan bahwa Keluarga Mouren terlibat," Warren Mouren menambahkan dengan nada tegas, memandang putrinya dengan sorot mata serius. Monica merasakan kema
Kemunculan Monica yang tiba-tiba membuat seluruh medan pertempuran berubah. Niat membunuh yang tadinya memenuhi udara seakan menghilang begitu saja. Dengan gerakan lincah, jari-jari lentiknya menari di udara, menciptakan pola rumit yang berpendar dengan cahaya keemasan. Rune-rune kuno muncul, b
Warren Mouren mengikuti pandangan Chester Fauss dan melihat deretan kandang yang terbuka. Alisnya berkerut melihat pemandangan yang janggal. Ada sesuatu yang sangat tidak beres dengan situasi ini. "Tetua Chester," tanyanya dengan nada penasaran namun hati-hati, "untuk apa kandang-kandang ini digu







