LOGINRio, seorang pengusaha muda yang awalnya bersih, terjebak dalam lingkaran mafia setelah tekanan brutal dari dua tokoh kriminal besar—Randu dan Axel. Dipaksa belajar dunia bisnis gelap, Rio pelan-pelan kehilangan sisi lamanya dan membangun kekuatan sendiri. Di tengah badai itu, Andini—wanita malam dengan masa lalu kelam bersama Axel—masuk lebih dalam ke hidupnya, membawa cinta, bahaya, dan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya. Sementara Rio tumbuh jadi pemain kuat di kota Velmora, dendam dan perebutan kekuasaan memuncak. Kayla, kekasihnya yang cemburu dan terbelah kesetiaan, mencoba menjauhkan Rio dari Andini, bahkan saat hubungan dengan ayahnya mulai runtuh. Di sisi lain, saudari Rio, Laudya, terseret dalam skandal yang mengguncang reputasi keluarganya. Musuh pun semakin banyak—dari Ivanko yang berkhianat, Axel yang merancang kekacauan, hingga Alinda, mata-mata dari organisasi rival yang perlahan masuk ke hati Rio. Dengan Damien sebagai sekutu terakhir yang rela mati demi dirinya, dan Reynold yang menyimpan rahasia besar dari masa lalu, Rio harus menghadapi pertarungan akhir. Siapa yang akan tetap setia, dan siapa yang akan menikam dari belakang? Di Kota Velmora, tak ada yang benar-benar bersih.
View MoreHUTAN PINUS — PERBATASAN VELMORA — MENJELANG MALAMAsap tipis mengepul di antara pepohonan. Bau damar terbakar menempel di udara, menutupi bau dingin tanah lembap. Kayla berjalan di belakang Damien, langkahnya berat, menembus kabut senja yang perlahan menutup jalan setapak.Di antara pepohonan rimbun, berdirilah sebuah pondok tua — bangunan kayu setengah rapuh, nyaris tersembunyi. Tapi di depan pondok, seorang pria berdiri membelakangi cahaya lampu gas. Jasnya hitam panjang, rambutnya perak, tubuhnya tegap. Seolah waktu tak berani menua di bahunya.Lucifer menoleh perlahan saat langkah kaki Kayla dan Damien berhenti di hadapannya. Tatapannya tajam, tapi bibirnya melengkung tipis — senyum yang selalu membuat orang ragu: ini senyum malaikat atau iblis?Kayla menunduk, seolah ragu menatapnya.Damien menepuk bahu Kayla, lalu mendekat ke samping Lucifer.“Kami di sini.” Suara Damien datar, menekan semua rasa takut yang sempat bangkit di tenggorokan Kayla.Lucifer mendekat selangkah — jarak
Kayla berdiri di balik tembok semen, hanya sebagian tubuhnya yang tersentuh cahaya. Angin menampar pipinya, menahan debur di dada yang tak mau tenang.Rio berdiri memunggunginya. Asap rokok mengepul, terurai ke langit. Tangannya gemetar menahan bara di ujung jemari. Dia tahu. Dia selalu tahu.Tanpa menoleh, Rio berucap pelan — hanya cukup terdengar oleh angin yang membawa namanya. “Keluar.”Ada jeda. Hembusan napas panjang. Lalu, suara langkah ragu — gesekan sol sepatu di lantai balkon.Kayla menampakkan diri. Matanya sembunyi di bawah bayangan poni. Bahunya naik-turun menahan kata-kata yang tak pernah sempat diucapkan.Rio masih tak berbalik. Hanya satu gerakan: ia buang puntung rokok ke lantai, menginjak bara merahnya sampai padam. Bau tembakau masih menempel di udara. “Kenapa?” Suaranya pecah, tapi datar.“Kenapa kau di sini, Kay?”Kayla menatap punggungnya. Jemari kurusnya meremas sisi dress hitam di pinggang. Tak ada jawaban. Hanya napas, bercampur isak yang ditahan paksa.Pelan
Hujan deras masih membasahi atap-atap besi Velmora. Api membakar di beberapa sudut distrik Tenebris — markas Vox pertama jatuh malam ini. Bau mesiu dan besi terbakar menyesakkan paru.Rio berjalan di depan pasukan intinya — Leon, Cole, dan puluhan aliansi bersenjata lengkap. Sepatu mereka menapaki genangan darah bercampur hujan.Di bawah panggung kumuh Teater Aurora — lubang persembunyian para penatua bayangan — kini tinggal puing. Tembakan senapan sunyi bergema sesekali, memastikan tak ada yang lolos.Rio menendang pintu baja terakhir, menyorot lampu senter ke dalam. Puluhan pria berjas hitam terkapar, beberapa masih bernafas. “Habisi semua. Tak ada simpa
Angin besi berputar. Pecahan logam berserakan. Di satu sisi, Rio berdiri tertatih, darah membasahi perutnya. Di depannya, Lucifer, berdiri tegak dengan dua belati perak. Di sisi seberang, Supreme Vox merentangkan tongkat naga — di belakangnya, empat penjaga bayangan bergerak membentuk formasi setengah lingkaran.Suara logam saling beradu saat kaki menggesek genangan darah.Suara nafas. Suara mesin. Sunyi yang menggertak.Lucifer menoleh separuh ke Rio. “Kau bisa berdiri?”Rio mengangguk, meski bibirnya sobek. “Aku masih bisa bertahan sampai naga sialan itu remuk ke tanah.”Supreme Vox mengetuk tongkatnya sekali. “Serang!!.”SEKETIKA.
RUANG PERSIAPAN – 06:10Zaria mengenakan rompi pelindung dan menyiapkan amunisi. Di sebelahnya, Sera mengecek dua granat EMP. Rio memandangi ponsel yang kini hanya menampilkan satu pesan dari Andini terakhir kali: “Jika aku hilang… jangan selamatkan aku karena marah. Tapi karena kau tahu aku akan t
MARKAS SEMENTARA — MERCUSUAR VLAMIERE — 04:30Langit belum sepenuhnya terang. Udara masih sarat bau mesiu dan arang. Tapi malam itu bukan lagi milik kegelapan. Itu malam untuk menyusun kematian bagi musuh terakhir: Randu.Rio berdiri di depan meja strategi, dikelilingi oleh para pemimpin fraksi. Di
Distrik Cestova bukan hanya miskin—ia nyaris dilupakan sejarah.Terletak di dataran rendah Sorena, dikelilingi rawa, dan terjepit di antara dua tembok industri yang dibangun oleh pemerintahan lama, distrik ini selama bertahun-tahun hanya dikenal sebagai "wilayah beku"—tak berdaya, tanpa sinyal, dan
Tubuh Penatua Hildra terikat di kursi besi, luka tembak menghiasi bahunya. Nafasnya berat, namun bibirnya tetap menyunggingkan senyuman kecil. Di hadapannya berdiri Rio, Zaria, dan Neya, dengan sorot mata menusuk dan penuh tekanan."Sudah cukup permainan ini," ucap Rio, nadanya datar namun tajam. "
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.