LOGINMalam Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Aday Wijaya, Kak Alberth Abraham Parinussa, Kak Pengunjung5804, Kal Sendy Zen, Kak Patricia Inge, Kak Lola Ayu, Kak Pengunjung0109, dan Kak Pengunjung1059 atas hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima Kasih juga Kakak-kakak pembaca yang telah mendukung Novel ini dengan Gem (◍•ᴗ•◍) Karena jumlah koin telah tercapai, maka hari ini akan ada bab bonus hadiah (≧▽≦) Bab Bonus akan rilis setelah bab ini. Selamat membaca (◠‿・)—☆
Wajah Ryan mengeras.Sepasang matanya yang merah darah tetap terpaku pada kultivator Kerajaan Ilahi di angkasa. Baru sekarang ia benar-benar menyaksikan sendiri betapa angkuhnya orang-orang dari Kerajaan Ilahi. Mereka memandang semua makhluk di bawah langit seperti debu, seolah hanya merekalah yang berhak berdiri di atas dunia dan menentukan hidup mati orang lain.Semangat tempur meluap dari tubuh Ryan.Memangnya kenapa jika lawannya adalah kultivator Kerajaan Ilahi?Apa hak orang itu menentukan takdirnya?‘Semut?’Tatapan Ryan semakin dingin.‘Kalian para kultivator Kerajaan Ilahi pun hanya semut yang sedikit lebih besar. Semua makhluk hidup setara. Tidak ada yang berhak menentukan hidup dan matiku!’Kultivator Kerajaan Ilahi itu mengernyit.Di balik sorot matanya yang dingin, muncul sedikit keterkejutan. Seekor semut di Ranah Creation tingkat satu ternyata masih berani menatapnya seperti itu. Dari mana bocah ini mendapat keberanian?Namun keterkejutan itu segera berubah menjadi c
Ryan yang sedang diselimuti energi iblis sama sekali tidak menyadari bahwa musuh dari Kerajaan Ilahi sudah bergerak menuju tempatnya.Saat ini, seluruh perhatiannya tertuju pada batu formasi di hadapan mata. Ia menggenggam Tombak Ilahi gungnir erat-erat, lalu terus mengalirkan energi iblis ke dalamnya tanpa henti.Energi hitam pekat membanjiri batang tombak.Ujung tombak itu perlahan memancarkan cahaya gelap yang tajam, seolah mampu menelan semua cahaya di sekitarnya.Ryan menarik napas dalam-dalam.Lalu ia menghantamkan tombaknya ke bawah.Boom!Begitu Tombak Ilahi gungnir menghantam batu formasi, segel pelindung yang menutupinya langsung bergetar hebat. Retakan-retakan menyebar cepat di permukaannya, lalu pecah berkeping-keping.Tanpa hambatan segel, ujung tombak Ryan menghunjam langsung ke batu formasi.Kraak!Suara retakan renyah terdengar.Batu formasi Kerajaan Ilahi akh
Wajah Ryan tampak pucat pasi. Tebasan barusan telah menguras sebagian besar energi di tubuhnya. Napasnya menjadi berat, dan telapak tangannya yang menggenggam Pedang Iblis Darah terasa bergetar. 'Kalau serangan ini gagal, aku yang akan mati.' Kecepatan pedang itu sudah mencapai batas ekstrem. Bahkan sebelum pria berjubah hitam sempat bereaksi penuh, sinar pedang Ryan telah tiba di hadapannya. Boom! Sebuah luka menganga langsung terbuka di perut pria berjubah hitam. Darah memercik, tetapi pria itu justru menyeringai keji. “Sudah kubilang, aku memiliki Garis Darah Abadi. Bagaimana mungkin kau bisa membunuhku?” Begitu ia selesai bicara, luka besar di perutnya mulai menutup dengan cepat. Daging yang koyak menyatu kembali, seolah tebasan Ryan tidak pernah terjadi. Namun kali ini, Ryan tidak panik. Ia hanya tersenyum tipis. “Oh ya? Coba lihat lagi tubuhmu sendiri.” Pria berjubah hitam mengernyit. Baru saat itulah ia merasakan sesuatu yang ganjil. Ia menunduk, lalu mengangka
Pria berjubah hitam itu mengangkat satu jari. Dari ujung jarinya, energi darah menyembur keluar dan memanjang menjadi seutas benang merah. Benang itu bergerak semakin cepat, lalu dalam sekejap menembus perut dan lengan Ryan sekaligus. Darah langsung mengalir. Sepasang mata merah milik pria itu berkilat aneh. Kilau itu tampak memikat, tetapi justru membuat bulu kuduk meremang. Detik berikutnya, cahaya merah meledak dari kedua matanya, membawa daya penghancur yang mengerikan. Ryan menggertakkan gigi. Pedang Iblis Darah berkelebat dan memutus benang darah yang menancap di tubuhnya. Setelah itu, ia menggeser tubuh dengan lincah, menghindari sorot merah yang menghantam tempatnya berdiri sesaat sebelumnya. Meski berhasil mengelak, luka di perut dan lengannya terasa panas seperti terbakar. Darah menetes ke lantai kota mati, meninggalkan jejak merah di antara pecahan tulang. Namun Ryan tidak mundur. Saat tubuhnya berkelit, ia sudah muncul di samping pria berjubah hitam. Celah i
Tap! Tap! Suara langkah kaki terdengar jelas di tengah kesunyian kota mati. Ryan menghentikan gerakannya. Tatapannya menajam ke arah sumber suara. Dari balik hawa kematian yang pekat, sebuah bayangan perlahan muncul. “Kau tidak punya kualifikasi untuk menghancurkan batu formasi Kerajaan Ilahi.” Suara itu dingin, datar, dan membawa tekanan yang membuat udara seolah membeku. Ryan mendongak. Sosok yang muncul adalah seorang pria berjubah hitam. Di tangannya tergenggam sebilah sabit besar dengan kilau dingin yang menusuk mata. Setiap kali sabit itu bergerak sedikit saja, hawa membunuh di sekelilingnya ikut bergetar. Pria itu berjalan maju perlahan. Tap! Satu langkahnya meninggalkan jejak dalam di tanah keras. Ia mengenakan caping bambu hitam, sehingga wajahnya hanya tampak samar di balik bayang-bayang. Di tengah kota mati yang sunyi, sosok itu benar-benar seperti malaikat pencabut nyawa yang datang menjemput korban. Ryan tidak bertanya siapa dia. Ia juga tidak berniat membuan
Semula, Ryan mengira Garis Darah Reinkarnasi cukup untuk membebaskan Eliot Lane. Namun kenyataan di depannya membuktikan sebaliknya. Ia memang bisa keluar-masuk pilar cahaya tanpa terluka. Akan tetapi, segel yang mengurung gurunya tetap tidak bergerak sedikit pun. Seolah segel itu mengakui hak Ryan untuk mendekat, tetapi menolak membiarkan tahanan di dalamnya pergi. Suara Quillon Wynn terdengar dari dalam Kuburan Pedang. “Ryan, kau memang punya hak untuk keluar dan masuk tempat ini. Namun jika ingin menyelamatkan gurumu, kau harus memakai saripati darahmu sebagai pemicu untuk menghancurkan batu formasi Kerajaan Ilahi di pusat kota mati ini.” Quillon berhenti sejenak. “Begitu batu formasi itu hancur, para kultivator Kerajaan Ilahi pasti akan langsung menyadarinya.” Ia tidak melanjutkan, tetapi Ryan sudah memahami maksudnya. Jika Kerajaan Ilahi mengetahui keberadaannya, meninggalkan tempat ini tidak akan mudah. Mungkin bahaya yang menantinya akan jauh lebih besar daripada sem







