MasukTerima Kasih Kak Yan dan Kak Ahmad atas dukungan Gem-nya (. ❛ ᴗ ❛.) Akumulasi Gem Bab Bonus: 26-10-2024 (pagi): 3 Gem. Yuk kurang 2 Gem lagi dapat bab Bonus nih (≧▽≦) Selamat Membaca (◠‿・)—☆
Namun bagaimanapun juga, Guru Jessica Neuro bukan orang yang akan dengan mudah mempercayakan sesuatu sepenting itu kepada orang asing, bahkan jika orang itu adalah murid sekte yang sama. Di Benua Valorisia, tidak ada yang diberikan secara cuma-cuma. Setiap hal berharga hanya bisa ditukar dengan sesuatu yang sepadan nilainya."Ketika kau tidak sadarkan diri, aku pergi menemui Guru." Jessica Neuro menggelengkan kepalanya dengan ekspresi yang menyiratkan penyesalan yang tulus. "Sayangnya, Guru sedang dalam pengasingan. Aku tidak bisa menyampaikan urusan Tablet Reinkarnasi secara langsung."Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan."Namun, Guru menyampaikan sesuatu melalui transmisi spiritual. Jika kau berhasil lulus ujian murid rahasia, Guru akan keluar dari pengasingan untuk menemuimu secara langsung."Matanya menatap Ryan dengan serius. "Urusan ini terlalu besar dan terlalu penting. Lebih baik kau membicarakannya sendiri dengan Guru daripada melalui perantara."Ryan mengangguk pelan.
"Hentikan!"Suara Pritha Zest meninggi, namun di balik amarah itu tersimpan sesuatu yang lebih jujur dari kemarahan.Kepanikan.Ia tidak pernah menyangka Ryan akan bisa bergerak melawan tekanannya. Itu sudah di luar kalkulasinya. Yang tersisa baginya hanyalah teriakan yang ia lemparkan bagai orang yang sudah kehabisan senjata."Dia sesama murid sepertimu! Apakah kau tidak punya hati nurani?!"DESSS!Eren Carster melepaskan auranya.Aura Ketua Sekte Moon Flower turun bagai langit yang tiba-tiba merendah. Bukan ledakan, bukan badai, melainkan sesuatu yang jauh lebih mengerikan dari itu. Sebuah tekanan yang tenang, merata, dan tak terbendung bagai samudra yang memutuskan untuk menelan segalanya tanpa terburu-buru.Bahkan udara di halaman itu terasa berubah, lebih berat, lebih padat, seolah setiap molekulnya memutuskan untuk berpihak pada pemilik aura tersebut.Ryan berhenti setengah langkah.Seluruh tubuhnya bergemuruh dengan perlawanan yang menguras segalanya. Namun ia memalingkan w
Pada saat itu, pintu aula utama terbuka.KRIIIET!Yang pertama keluar bukan suara, bukan perintah, melainkan sosok yang bergerak bagai arus air yang tidak bisa ditahan. Anggun. Cepat. Dan dalam sekejap, Jessica Neuro sudah berdiri tepat di antara Ryan dan ruang terbuka di hadapannya, auranya memancar membentuk tembok tak kasat mata yang membelah halaman itu menjadi dua sisi.Protektif. Tanpa ragu."BERANI SEKALI KAU!"BOOOM!Raungan amarah itu disertai gelombang aura yang meledak keluar bagai tsunami yang tidak mengenal belas kasihan, menghantam ke arah Ryan dari belakang sosok Jessica Neuro dengan kekuatan yang membuat udara bergetar dan batu-batu kecil di lantai halaman terlempar berhamburan!Ekspresi Ryan berubah. Aura itu saja sudah cukup untuk meremukkan seorang ahli Ranah Dao Integration biasa tanpa perlu satu pun serangan nyata.Jessica Neuro mendengus dingin.WUSHHH!
"Oh? Begitukah?"Ekspresi Jessica Neuro berubah. Kehangatannya padam seperti lilin yang ditiup, digantikan oleh kedinginan yang halus namun tajam bagai mata pedang yang baru diasah."Kalau begitu, bagaimana menurutmu kultivator Immortal Ascension yang kubawa ini dibandingkan dengan junior kebanggaanmu, Ferral Zest?"Ia tidak memberi Pritha Zest kesempatan untuk menjawab."Ferral Zest bahkan tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk menyelesaikan misi itu. Atau jangan-jangan kau takut kultivator Immortal Ascension ini akan jauh melampauinya?" Sudut bibirnya terangkat tipis, mengandung senyum yang lebih menusuk dari hinaan terbuka mana pun. "Ah, aku hampir lupa." "Mereka memang sudah melampauinya. Dalam ujian terakhir, Ferral Zest kalah dari seorang kultivator Immortal Ascension.""Jessica Neuro!" Pritha Zest meledak. Wajah montoknya memerah padam hingga ke telinga, amarahnya mendidih tak tertahankan. "Apa maksu
Di tengah keheningan yang tiba-tiba menggantung berat, Ryan tersenyum. "Karena sampah ini datang mencari urusannya sendiri, biar aku yang membereskannya." Ia menoleh sekilas ke arah Xavier Dragvine, matanya mengandung sesuatu yang ringan namun bermakna dalam. "Xavier, kita lanjutkan percakapan kita sambil melihat ini dari dekat." Senyumnya melebar sedikit. "Ini adalah esensi tinjuku." Kata-kata itu meluncur tenang bagai seseorang yang menawarkan untuk menunjukkan trik sulap sederhana. Namun detik berikutnya, seluruh udara di sekitar Ryan berubah. Ekspresinya padam. Bukan perlahan. Seketika, seperti nyala lilin yang ditiup oleh angin yang tidak terlihat. Yang tersisa di wajahnya hanyalah kedinginan yang dalam dan membeku, bagai permukaan danau di puncak musim dingin yang paling ganas. Ia memelototi Ferral Zest. Dan niat membunuh yang sesungguhnya meledak keluar dari tubuhnya bagai gelombang tsunami yang tidak memberi peringatan! ROAAARRR! Bayangan serigala raksasa mendesin
Ryan tidak menoleh. Ia melangkah dengan tenang, matanya lurus ke depan tanpa sedikit pun rasa terganggu. Di benaknya hanya ada satu tujuan. Bertemu dengan guru Jessica Neuro. Mendapatkan Tablet Reinkarnasi. Tidak ada urusan lain yang cukup penting untuk mengalihkannya dari itu. Badut di belakangnya? Tidak relevan. Satu per satu, percik harapan di mata Xavier Dragvine padam. 'Apakah ini wajah aslinya?' Senyum pahit mengembang tipis di bibirnya. 'Orang seperti ini... apakah benar-benar layak kusebut rival?' Xavier Dragvine mendengus pelan dan berbalik ke arah yang berlawanan. Ia tidak lagi tertarik dengan pertunjukan murahan ini. "Hei! Siapa yang mengizinkanmu pergi?!" Teriakan Ferral Zest membelah udara, tajam dan penuh amarah yang tidak bisa ditahan. Ia tidak berniat berhenti sampai di sini. Kultivator Ranah Dao Integration yang ikut bersama Ryan? Terlalu berbahaya untuk disentuh sembarangan. Tapi sampah Primordial Chaos tingkat pertama ini? Ini kesempatan yang tidak akan i







