LOGINTerima Kasih Kak Daniel dan Kak Usman atas dukungan Gem-nya (. ❛ ᴗ ❛.) Dengan ini, telah terkumpul 5 Gem, yang artinya ada 1 bab bonus lagi hari ini (◍•ᴗ•◍) Akumulasi Gem Bab Bonus: 03-11-2024 (siang): 0 Gem (reset) Bab Bonus Gem Hari ini: 0/3 Bab Bab Bonus View hari ini: 1/1 Bab (komplit) Selamat Membaca (◠‿・)—☆
Binatang buas itu terengah-engah.Dada lebarnya naik turun dengan berat, dan napas panas menyembur dari lubang hidungnya seperti asap. Serangan cahaya kelabu barusan jelas menguras banyak tenaga, bahkan bagi makhluk kuno sekuat dirinya.Namun ia tidak berhenti.Tidak mungkin berhenti.Selama Ryan masih bergerak, selama manusia itu belum benar-benar mati, kegelisahan di dalam hatinya tidak akan hilang.Tubuh raksasanya kembali melangkah maju.Boom!Setiap pijakan membuat tanah domain berguncang. Retakan menyebar di permukaan kelabu yang tandus, sementara kabut iblis di sekitarnya berputar semakin liar.Binatang itu mendekati Ryan, lalu mengayunkan cakarnya tanpa jeda.Satu sabetan.Dua sabetan.Tiga sabetan.Setiap serangan membawa gemuruh angin yang merobek udara. Bayangan cakar memenuhi pandangan, seolah ingin mencincang tubuh Ryan sampai tidak ada bagian utuh yang tersisa.Di sisi lain, keadaan Ryan jauh dari baik.Cahaya kelabu tadi menghantam tubuhnya secara telak. Tubuh yang b
Niat membunuh yang meledak dari tubuh Ryan langsung membanjiri seluruh domain.Tekanan itu menyapu ke segala arah seperti banjir besar yang menelan semua yang dilewatinya. Kabut iblis di dalam domain bergolak liar, seolah dipaksa tunduk oleh kekuatan yang tidak seharusnya ada di tempat ini.Binatang buas itu langsung menyadari ada yang salah.Wilayah ini adalah domainnya.Di dalam domain ini, ia seharusnya menjadi penguasa mutlak. Setiap jengkal ruang, setiap gumpal hawa iblis, bahkan tekanan yang menghimpit tubuh Ryan, semuanya seharusnya berada di bawah kendalinya.Namun sekarang, cengkeraman itu mulai longgar.Niat membunuh Ryan sedang mengganggu kendalinya atas domain.Bukan sekadar menahan.Bukan sekadar melawan tekanan.Niat membunuh itu benar-benar melemahkan hubungan binatang itu dengan domainnya sendiri.Keempat mata binatang buas itu membelalak.Bagaimana
Pria tua itu menyipitkan mata ketika melihat tubuh Ryan mulai pulih. Vitalitas macam apa itu? Tubuh yang tadi seharusnya sudah berada di ambang kehancuran masih memancarkan Energi Kehidupan yang begitu ganas. Darahnya kembali mengalir ke tubuhnya, luka-lukanya menutup, dan napasnya yang semula hampir putus perlahan menjadi stabil lagi. Itu bukan ketahanan biasa. Bahkan kultivator penempa tubuh yang telah mengasah raganya selama puluhan tahun belum tentu memiliki Energi Kehidupan sekuat ini. Namun pria tua itu tidak terlihat gelisah. Sebaliknya, sudut bibirnya justru terangkat. Ia tertawa pelan. Bukan tawa mengejek, melainkan tawa seseorang yang mulai benar-benar tertarik. Sejak awal, penilaiannya ternyata tidak salah. Pemuda bernama Ryan ini memang menarik. Sangat menarik. "Mati, bedebah!" Ryan meraung. Niat membunuh meledak dari tubuhnya. Hawa dingin yang menyertainya menyapu seluruh domain, begitu pekat hingga terasa seperti bisa dilihat oleh mata telanjang. Binatang
Teknik Pedang Pemenggal Langit bukan teknik yang diciptakan untuk mundur. Ia bukan teknik untuk menghindar. Ia lahir untuk satu tujuan. Membelah apa pun yang berdiri di depan. Prinsipnya sangat sederhana, tetapi juga sangat angkuh. Selama ada sesuatu yang menghalangi jalan, maka tebas sampai terbelah. Tidak peduli itu gunung, langit, domain, atau binatang kuno penjaga Tablet Reinkarnasi. Mata Ryan menyala oleh niat membunuh. Ia menolak percaya bahwa dirinya bahkan tidak sanggup menghadapi seekor binatang penjaga. Kalau pada tahap ini saja ia mundur, bagaimana mungkin ia bisa menaklukkan Tablet Reinkarnasi? Bagaimana mungkin ia bisa menyelamatkan orang-orang yang menunggunya di luar sana? 'Kalau aku menghindar sekarang, aku tidak akan pernah benar-benar memahami teknik ini.' Genggaman Ryan pada Pedang Feralrot semakin kuat. Bilah hitam itu bergetar hebat di tangannya, seolah ikut merasakan tekad yang sedang mendidih di dalam darahnya. Detik berikutnya, Pedang Feralrot me
Semakin lama Ryan diam, semakin besar pula kesenangan binatang kuno itu. Dalam pandangannya, jika untuk membalas hinaan saja Ryan sudah tidak mampu, maka pemuda itu tidak lebih dari seekor domba yang tinggal menunggu waktu disembelih. Kabut iblis di dalam domain bergolak. Dari balik hawa gelap yang tak berujung itu, binatang kuno perlahan melangkah keluar. Tubuhnya besar, auranya menekan, dan setiap langkahnya membuat tanah kelabu di bawah kaki Ryan bergetar pelan. Ia mendekati Ryan dengan tatapan mengejek. Lalu, kaki depannya yang besar terangkat dan menekan bahu Ryan. Boom! Tubuh Ryan terdorong ke bawah. Bahu pemuda itu ditekan keras ke tanah gersang, seolah binatang itu ingin memastikan bahwa mangsanya benar-benar tidak punya kekuatan untuk melawan. "Apakah kau masih berpikir bisa memurnikan Tablet Reinkarnasi?" Suara binatang itu menggema dari segala arah. Nada cemoohnya memenuhi seluruh domain, seolah langit dan bumi di tempat itu ikut menertawakan Ryan. Di kejauhan,
Detik berikutnya, binatang kuno itu menerjang. Tubuh besarnya melesat ke arah Ryan dengan kecepatan yang tidak sebanding dengan ukurannya. Setiap langkahnya membuat tanah kelabu yang tandus itu retak dan berguncang, seolah seluruh ruang di dalam Tablet Reinkarnasi ikut bergetar di bawah kakinya. Aura yang keluar dari tubuhnya sangat kuat. Jelas, ini bukan binatang biasa. Ia membawa tekanan dari zaman kuno, tekanan yang tidak dimiliki binatang iblis biasa di dunia luar. Untungnya, setelah Ryan mengamati lebih cermat, kekuatan binatang itu tampaknya hanya setara dengan binatang Ranah Star Seed tahap awal. Meski begitu, itu tetap bukan lawan yang bisa ia remehkan. Ryan tidak berniat menahan diri. Di tempat seperti ini, satu kelengahan saja bisa membuatnya mati. Apalagi lawan di depannya bukan manusia yang mungkin masih bisa diajak bicara, melainkan binatang kuno yang sejak awal sudah memandangnya sebagai santapan. Tepat ketika Ryan menggenggam Pedang Feralrot lebih erat, sebu
Ryan melangkah terhuyung menuju ibunya, kakinya terasa berat bagai timah. "Bu, aku punya kamar di apartemen Dosen Universitas Negeri Riversale. Ayo kita ke sana dulu untuk beristirahat." Eleanor Jorge mengangguk, segera menopang tubuh putranya dan berjalan mengikuti petunjuk arah yang diberikan.
Satu jam kemudian, taksi yang membawa Ryan dan Wendy telah tiba di kaki Gunung Agios Oros. Sepanjang perjalanan, sopir taksi berkali-kali memperingatkan bahwa mereka hanya bisa melihat gunung dari jauh. Pendakian dilarang keras! Begitu turun dari mobil, Ryan langsung merasakan aliran energi spi
Eleanor Jorge masih tampak khawatir. Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benaknya. Dari mana kekuatan bela diri Ryan berasal? Ke mana dia menghilang selama lima tahun? Apa ramuan ajaib yang digunakannya? Untuk pertama kalinya, ia merasa putranya tampak sedikit asing. Ryan yang sekarang sanga
"Ayah, Ibu... aku akan membawa kalian pergi dari sini sekarang juga!" tekad membara terpancar dari mata Ryan. Ia sadar efek jimat Peter Carter akan segera habis. Saat itu terjadi, ia tidak hanya akan menerima rasa sakit luar biasa, tapi juga kehilangan sebagian besar kekuatan bertarungnya. Untu







