MasukMalam Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Lola Ayu, Kak Eny Rahayu, dan Kak Alberth Abraham Parinussa atas hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima kasih Kakak-Kakak Pembaca atas dukungan Gem-nya (◍•ᴗ•◍) Karena jumlah koin belum mencapai targe, maka ini adalah bab terakhir hari ini Selamat Beristirahat (◠‿・)—☆
"Aku khawatir Ryan juga tidak bisa hidup tenang di tempat ini," ujar Adel pelan. "Lucas Ravenclaw sudah lama berada di Benua Valorisia. Kalau kita tidak segera menemukan Ryan, bisa jadi Lucas lebih dulu menyerangnya."Mendengar itu, tatapan Lancelot menjadi muram."Nona Adel, aku memang tidak berguna," katanya dengan suara berat. "Seandainya aku cukup kuat, kita tidak perlu bergerak sehati-hati ini."Adel menggeleng."Ini bukan salahmu. Akulah yang bersikeras datang ke Benua Valorisia. Sekarang kita hanya bisa melangkah perlahan dan berhati-hati."Lancelot tidak membantah.Ia menggenggam bulu beruang salju yang mereka tunggangi, lalu kembali menuntunnya ke depan. Salju membentang luas di sekitar mereka, putih dan dingin, membuat perjalanan terasa semakin panjang.Tak lama kemudian, sekelompok orang muncul di kejauhan.Bendera yang mereka bawa berkibar di tengah angin salju. Di atasnya tertulis jelas, Keluarga Northpalace Wilayah Barat.Lancelot segera menyipitkan mata.Di Benua Valor
Begitu suara Quillon Wynn bergema di benaknya, wajah Ryan langsung berubah.Tanpa menunda sedikit pun, ia segera mengaktifkan teknik penyembunyi aura. Jika sosok sekuat Quillon sampai terdengar segelisah itu, maka orang yang turun ke Death Domain Universe pasti bukan lawan biasa.Pada saat berikutnya, sebuah indra spiritual yang sangat kuat menyapu seluruh Death Domain Universe.Tekanan itu menembus gunung, lautan, kabut, bahkan masuk sampai ke dalam World Palace. Rasanya seperti langit runtuh dan menekan bahu semua orang sekaligus. Para kultivator yang berada di berbagai penjuru langsung merasa napas mereka tertahan.Di luar ruangan tempat Ryan berada, anggota Aliansi Kultivator Bebas berlutut satu demi satu. Wajah mereka pucat, tubuh mereka gemetar, dan keringat dingin membasahi dahi. Tak seorang pun berani mengangkat kepala.Ryan sendiri tidak merasakan tekanan apa pun.Namun justru karena itu, ia semakin waspada.'Kekuatan macam apa ini?'Hanya satu sapuan indra spiritual sudah
Suasana di depan gerbang World Palace mendadak buntu.Tidak ada lagi yang berani mencoba.Dua Kultivator Ranah Star Seed tingkat puncak saja sudah dipermalukan karena darah mereka ditolak. Setelah melihat itu, siapa yang masih punya keberanian untuk maju? Jika darah mereka juga terpental, harga diri mereka akan hancur di depan semua orang.Tiga Kultivator Ranah Star Seed tingkat puncak pun tidak bisa memaksa orang lain.Semua orang hanya saling memandang dalam diam."Biar aku yang coba."Tiba-tiba, sebuah suara serak terdengar dari belakang kerumunan.Semua mata langsung beralih.Seorang pria berjubah hitam melangkah keluar. Seluruh tubuhnya tertutup kain gelap, dan wajahnya tidak terlihat sama sekali. Yang lebih aneh, tak seorang pun bisa merasakan tingkat kultivasinya. Seolah aura pria itu benar-benar kosong, atau sengaja disembunyikan oleh sesuatu yang jauh lebih kuat.Pria berjubah hitam itu berjalan sampai ke depan pintu.Ia tidak banyak bicara.Jarinya tergores, lalu setetes
Ketiga Kultivator Ranah Star Seed tingkat puncak itu ikut terpaku.Mereka menyaksikan Ryan menyalip mereka dengan cepat. Yang lebih mengejutkan, wajah pemuda itu sama sekali tidak memerah. Napasnya pun tetap stabil, seolah tekanan Tangga Surgawi tidak menyentuhnya sedikit pun.Bagi mereka, setiap langkah membutuhkan tenaga dan ketahanan mental. Namun bagi Ryan, tangga itu tak ubahnya jalan biasa.Ryan tidak peduli pada tatapan orang lain.Ia terus bergerak sampai akhirnya tiba di puncak. Di hadapannya berdiri gerbang besar World Palace.Daun pintu itu terbuat dari bahan yang tidak ia kenali.Warnanya gelap, permukaannya halus, dan dari sana memancar tekanan samar yang membuat orang biasa enggan mendekat.Ryan melangkah maju dengan ringan.Namun begitu tubuhnya mendekati pintu, tekanan tak kasat mata langsung mendorongnya mundur.Ryan mengernyit.'Ada apa ini? Apa aku tidak bisa masuk?
"Saudara Ryan, apa kita naik sekarang?" tanya Bram sambil mendekat.Ryan menatap Tangga Surgawi yang menjulur dari World Palace, lalu menggeleng pelan."Tidak perlu terburu-buru."Ia ingin mengamati lebih dulu. World Palace memang menyimpan peluang besar, tetapi kemunculan tempat semacam ini mustahil tanpa bahaya. Harta karun dan maut sering berjalan berdampingan, apalagi di Death Domain Universe.Tak lama kemudian, beberapa kultivator mulai menaiki Tangga Surgawi.Begitu kaki mereka menginjak anak tangga pertama, ekspresi mereka berubah. Mereka mendadak merasa seperti sedang diawasi oleh sesuatu. Seolah ada sepasang mata tersembunyi di langit yang memandang semua orang tanpa suara.Para kultivator itu terus naik setapak demi setapak.Namun tak lama kemudian, hal aneh terjadi.Jarak di antara mereka mulai melebar. Beberapa kultivator Ranah Creation tertinggal, sementara ada kultivat
Saat itu, Bram Herstone berjalan menghampiri Ryan.Tatapannya sudah jauh berbeda dibanding sebelumnya. Bukan lagi menilai seorang anggota baru yang kebetulan ikut rombongan, melainkan memandang seorang sosok kuat yang pantas dihormati."Saudara," kata Bram dengan nada serius, "kau seharusnya menjadi pemimpin Aliansi Kultivator Bebas."Begitu ucapan itu terdengar, para anggota aliansi di sekitarnya tidak ada yang membantah.Siapa yang masih berani meremehkan Ryan?Mereka semua melihat sendiri apa yang baru saja terjadi. Sepuluh kultivator Ranah Creation tingkat puncak dari Keluarga Celestedragon dibantai begitu mudah olehnya. Di mata mereka, Ryan bukan lagi kultivator Ranah Dao Integration biasa. Ia adalah sosok yang mampu membunuh Ranah Creation semudah menebas rumput.Namun Ryan hanya menggeleng pelan."Aku tidak tertarik."Ia memang tidak punya niat menjadi Ketua Aliansi Kultivator Bebas. Tujuannya memasuki Death Domain Universe bukan untuk membangun pengaruh, melainkan mencari







