Konglomerat Desa Tak Terkalahkan

Konglomerat Desa Tak Terkalahkan

By:  Samudra ArdiUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
50Chapters
1.7Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Cakra Wirawan adalah seorang pemuda dari desa kecil. Dia dibuat pingsan dan didorong ke danau hanya karena mengacaukan rencana busuk si penguasa desa. Tak disangka, Cakra bukan hanya selamat, tetapi justru menerima warisan seorang dewa kultivator. Sejak saat itu, Cakra mengalami transformasi total. Kekuatan bela dirinya yang luar biasa membuat seluruh wilayah tunduk padanya. Ilmu pengobatannya yang ajaib mampu menghidupkan kembali orang mati, sementara ramuan saktinya mampu menyembuhkan segala penyakit. Cakra mulai membangun markasnya, mendirikan pabrik, membuka sekolah di desanya, hingga setiap keluarga memiliki rumah baru. Dalam waktu singkat, desanya menjadi desa nomor satu sejagat raya.

View More

Chapter 1

Bab 1

"Ah, Cakra, pelan-pelan saja, kamu bikin aku sakit."

Malam-malam musim kemarau di Desa Waru terasa gerah seperti di dalam panci kukusan.

Tyas Pangestu, janda tercantik di desa, berendam di danau sambil memejamkan mata karena nikmat.

Setelah menyusui putrinya dan bekerja seharian, tubuhnya dipenuhi sisa-sisa lengket. Jadi, saat semua orang di desa tertidur lelap, dia diam-diam pergi ke danau untuk mandi.

Dia bersandar pada sebuah batu besar di tepi danau. Permukaan air hanya sampai di dadanya, memantulkan separuh tubuhnya yang putih berkilau.

Usianya 25 tahun, masa-masa saat seorang wanita berada pada puncak pesonanya. Setelah melahirkan, bentuk tubuhnya tidak memburuk sama sekali, justru menjadi lebih berisi dan berlekuk dibandingkan saat masih gadis.

Terutama dadanya yang luar biasa besar. Karena masih dalam masa menyusui, buah dadanya tampak montok seperti dua buah melon yang sudah matang sempurna.

Tyas sedang menengadahkan kepala sambil memejamkan mata, menikmati kebebasan yang langka ini, ketika tiba-tiba terdengar suara percikan air dari tengah danau. Sebuah bayangan gelap muncul dari air dan menghantamnya.

Tyas ketakutan. Dia menjerit dan secara naluriah mundur ke belakang, tapi kakinya terpeleset dan membuatnya jatuh ke dalam air.

Sosok gelap itu juga tersentak, dan keduanya pun bertabrakan di dalam air. Kedua payudaranya yang montok itu menghantam dada orang itu dengan keras dan terasa sakit.

"Aduh!" Tyas memegangi dadanya, campuran antara kaget dan sakit. Saat menatap lebih dekat di bawah sinar rembulan, tampak wajah bergaris tegas seorang pria, siapa lagi kalau bukan Cakra si bodoh?

Cakra juga tercengang, berdiri di dalam air sambil menatapnya dengan tatapan kosong. Senyum konyol terukir di wajahnya, tangannya masih menggenggam seekor ikan mas seukuran telapak tangan. Ekor ikan itu mencipratkan air ke sana-sini.

"Cakra? Kenapa kamu di sini?" Tyas tersadar dari rasa terkejutnya, menepuk-nepuk dada sambil terengah-engah. Kedua gundukan yang putih dan montok bergoyang naik-turun mengikuti gerakannya. Tetesan air mengalir menuruni lekuk tubuhnya.

Cakra menyeringai, mengangkat ikan mas di tangannya ke hadapan Tyas sambil tertawa.

"Ikan ini ... ikan ini untukmu."

Tyas terkejut.

"Untukku?"

"Iya!" Cakra mengangguk dengan kuat, wajahnya dipenuhi senyum polos, tapi matanya menatap dengan sungguh-sungguh.

"Makan ikan ... untuk air susu."

Begitu kata-katanya terucap, Tyas terdiam.

Dia membuka mulutnya, hidungnya terasa perih, dan matanya mulai berkaca-kaca.

Beberapa hari yang lalu, dia pernah mengeluh di desa bahwa ASI-nya tidak cukup, dan putrinya menangis karena lapar. Tak disangka, si bodoh ini mendengarkannya, lalu larut malam datang ke danau untuk menangkap ikan untuknya.

Selama setahun terakhir, dia membesarkan putrinya seorang diri. Mertuanya membencinya karena melahirkan "anak perempuan beban", dan penduduk desa bergosip di belakangnya bahwa dia membawa sial bagi suaminya. Bahkan keluarganya sendiri jarang berkunjung lagi.

Selain si bodoh ini, siapa lagi yang akan peduli soal makan-minumnya sehari-hari dan ASI untuk putrinya?

"Si bodoh ini ...." Dia mengumpat pelan, tapi suaranya terdengar sangat lembut.

Setelah tersadar, barulah dia dengan terlambat menyadari keadaan sulitnya saat ini.

Dia tidak mengenakan pakaian, berdiri telanjang bulat di dalam air.

Cahaya bulan tanpa malu-malu menyinari tubuhnya, menerangi setiap detailnya dengan jelas.

Saat ini, Cakra menatapnya dengan tatapan fokus, tanpa berkedip sedikit pun.

Meski otaknya bermasalah, dia tetap seorang pria.

Tatapannya memang polos dan lugu, tanpa pikiran kotor seperti orang lain. Namun, tetap membawa panas membara naluriah seorang pria, yang ketika tertuju padanya, membuat pipinya tersipu merah.

Dia refleks mengangkat lengannya untuk menutupi, tapi bagaimana mungkin kedua lengannya bisa menutupi dua bukit montok itu?

Dia menggigit bibir bawahnya, mencoba menguatkan hatinya dengan berkata dalam hati, ‘Cakra itu bodoh, mengerti apa dia?’

Cakra bisa dianggap anak-anak, tidak mengerti apa-apa. Terlalu berusaha menutupi justru akan jadi kelihatan dibuat-buat.

Setelah memikirkannya dari sudut itu, dia menjadi lebih tenang.

"Cakra, kamu ...." Dia berhenti sejenak, lalu berbalik, memperlihatkan punggungnya yang mulus. Siluetnya yang berlekuk menghilang di bawah permukaan air.

Dia menoleh ke samping, suaranya terdengar malu. "Bisa tolong pijat punggungku? Tanganku nggak sampai."

Cakra mengiakan dengan polos dan berjalan menyeberangi air.

Airnya tidak terlalu dalam, hanya sebatas dadanya.

Dia bertubuh tinggi besar, bahu lebar, dan punggung tegap berotot. Dia melakukan banyak pekerjaan fisik di desa selama bertahun-tahun ini. Cahaya bulan menyinarinya, menonjolkan siluetnya yang sewarna perunggu dan menyoroti otot perutnya yang kencang.

Tyas hanya melirik sekilas, tapi seluruh tubuhnya langsung membeku seolah tersambar petir.

Meski permukaan air mengaburkan pandangannya, siluet samar itu terlihat melalui riak-riak air.

Barang milik si bodoh ini ... kenapa bisa begitu menakutkan?

Melihat pemandangan itu, pipi Tyas terasa panas seperti terbakar.

Dia segera memalingkan muka, tidak berani menatap lagi. Namun, pemandangan itu seolah terukir di otaknya, tidak bisa dihapus.

Dia menggigit bibir, kedua kakinya tanpa sadar sedikit merapat.

Sudah lebih dari setahun suaminya meninggal, dan selama lebih dari setahun ini dia membesarkan putrinya sendirian.

Dia kira, pikiran-pikiran semacam itu sudah lama mati. Nyatanya, sensasi menggelitik yang muncul dari dalam tubuhnya saat ini tidak bisa dibohongi.

"Kak Tyas, aku pijat?" Cakra berdiri dengan tatapan kosong di belakang Tyas, mengulurkan kedua telapak tangannya yang besar dan kasar.

"Mmm ...." Suara Tyas pelan seperti dengungan nyamuk.

Sesaat kemudian, dia merasakan telapak tangan besar Cakra mendarat di punggungnya.

Telapak tangan itu membara, seperti besi panas. Saat menyentuh kulitnya yang sedikit dingin, seluruh tubuhnya menggigil dan desahan pelan tak kuasa meluncur dari mulutnya. "Mmm."

Ini adalah kali pertama dalam lebih dari setahun dia bersentuhan sedekat ini dengan seorang pria.

"Sakit?" Mendengar suara itu, Cakra bertanya dengan tatapan polos, lalu menghentikan gerakannya.

"N-nggak, lanjutkan." Suara Tyas sedikit gemetar. Dia bisa merasakan hawa panas yang sudah lama tidak dirasakannya menyebar dari tubuhnya, membuat seluruh tubuhnya terasa terbakar.

Merasakan napas Cakra di punggungnya, Tyas merasakan getaran di hatinya.

Meski Cakra memiliki masalah mental, dia orang yang rajin dan dapat diandalkan. Dia tidak pernah menolak setiap kali Tyas meminta bantuannya.

Seandainya dia bisa hidup bersamanya ....

Pikiran itu tiba-tiba muncul, membuat Tyas terkejut.

Tepat pada saat itu, terdengar suara langkah kaki dari tepi danau, diikuti oleh teriakan serak.

"Tyas? Kamu di sana?"

Tyas tiba-tiba membelalakkan matanya, tubuhnya menggigil.

Itu adalah suara Adji Kusworo, ayah mertuanya.

"Gawat!" Wajah Tyas langsung pucat. Jantungnya seperti hendak meloncat keluar dari dadanya.

Di tengah malam yang gelap gulita, seorang janda seperti dia sedang berendam di danau bersama seorang pria. Sekalipun Cakra memiliki gangguan mental, jika Adji melihatnya, dia tidak akan bisa membersihkan namanya.

"Cakra, jangan bicara! Cepat jongkok!" Suaranya berubah karena panik, tangannya gemetar cemas sambil mendorong Cakra ke dalam air.

Cakra kebingungan karena tiba-tiba didorong paksa. Dia hendak membuka mulut untuk bicara, tapi air danau masuk ke mulutnya, membuatnya refleks meronta.

Badannya yang tinggi kekar membuat air danau langsung menciprat ke mana-mana begitu dia meronta. Keributan yang ditimbulkannya terlalu besar dan menakutkan.

"Jangan bergerak!" Tyas panik berat. Tanpa sempat berpikir panjang, dia mendesak kepala Cakra ke dalam air, lalu segera menguncinya dengan kedua kaki. Paha panjang dan montoknya menjepit kepala Cakra, menahannya dengan kuat di bawah permukaan air.

Setelah itu, dia membungkuk ke belakang, setengah bersandar di tepi sungai, pura-pura sedang mandi.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
50 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status