Se connecterSemua mata melebar.
Beberapa peserta yang tadi berbisik-bisik langsung menutup mulut mereka.Beberapa yang lain mengerjapkan mata sekali, dua kali, tiga kali, seperti orang yang mencoba meyakinkan diri bahwa apa yang baru saja mereka dengar bukan halusinasi.Ryan Pendragon baru saja bilang Cord Blazehart tidak akan menang.Bahwa Cord akan membayar harganya.'Dia... tidak sedang bercanda, kan?'Cord sendiri tidak bereaksi dengan marah.Suara tribun meledak.Xavier tidak menunggu. Begitu kata "dimulai" jatuh, jarinya bergerak membentuk segel tangan.Dari dalam tubuhnya, raungan naga bergema seperti petir yang meledak di balik dinding batu tebal, dalam dan berguncang, menembus sampai ke tulang. Aura darah naga berwarna kebiruan melingkupi seluruh tubuhnya dalam hitungan detik, memancarkan tekanan yang membuat udara di radius beberapa meter terasa seperti berdiri di dasar kolam yang dalam.'Drew Shadowmist kuat. Kondisiku tidak ideal. Tidak ada pilihan selain langsung bertarung penuh sejak awal.'Drew menatap transformasi itu dari tempatnya berdiri. Senyumnya tidak goyah."Menarik." Suaranya ringan, hampir seperti orang yang baru menemukan mainan baru. "Kau ini manusia atau binatang iblis?"Xavier mendengus. "Dan kau? Dengan senyum seperti itu... manusia atau anjing gila?"Drew terdiam satu detik.Lalu tawanya meledak, keras dan tiba-tiba, sampai beberapa penonton di baris depan tribun refleks menoleh.Kemudian tawa i
Tribun belum sempat mencerna apa yang baru saja terjadi ketika suara Tetua berbadan besar memecah keheningan. "Ryan Pendragon menang!" Satu dua kepala mulai menoleh. Lalu semua. Tavin Sanctum berlutut di atas bluestone dengan kedua tangan yang bukan lagi berbentuk tangan. Yang tersisa hanyalah kabut darah pekat dan remukan tulang yang hancur dari dalam, tanpa satu luka luar pun yang bisa dijadikan alasan untuk memprotes hasil ini. Tidak ada yang bicara. Tidak ada yang perlu bicara. Beberapa peserta yang belum bertanding menatap ke arah Tavin dengan ekspresi yang sama, bukan simpati, lebih ke perhitungan ulang soal lawan yang baru saja mereka lihat bertarung. Ryan berbalik dan menuruni arena. Langkahnya terukur. Tidak terburu-buru, tidak pula dibuat-buat lambat. Seperti seseorang yang baru selesai melipat kain setelah pekerjaan rumah beres. Tapi begitu tubuhnya melewati batas pandang tribun, rona di wajahnya turun tipis. 'Bahkan dengan menahan diri seperti ini, meridian yang
Tribun meledak.Keheningan yang tadi masih mengambang seketika digantikan oleh gelombang bisik-bisik dan teriakan yang saling tindih. Tidak ada yang memprediksi pertandingan ini akan terjadi di babak ini."Kenapa kau memilihku?" Tavin berdiri lima langkah dari Ryan, suaranya mengandung sesuatu di antara pertanyaan dan tuntutan."Apakah aku perlu alasan untuk memilihmu?" Ryan balik bertanya, santai.Tavin menghela napas pendek. "Kau tahu siapa kami? Dua keluarga di kawasan terpencil ini punya kedudukan istimewa yang tidak dimiliki siapa pun.""Keluarga Sanctum adalah keturunan para dewa. Apakah dengan memilihku, kau tidak merasa sedang meremehkan sesuatu yang tidak kau mengerti?"Ryan melirik Tavin dari ujung kepala sampai ujung kaki. Cara pandangnya singkat, sekilas, tapi cukup untuk membuat pemuda itu merasakan sesuatu berdiri di tengkuknya tanpa ia tahu alasannya."Keturunan para dewa?" Ryan mengula
"Tuan Rodick, sudah berapa lama aku tidur?" Ryan bertanya sambil meregangkan lehernya pelan. "Ada kabar apa dari kompetisi?"Rodick Blazesky menggeser posisi duduknya, lalu melempar sebuah gulungan ke arah Ryan. "Hari kedua kompetisi hampir selesai." "Dua belas besar sudah ditentukan tadi siang. Lihat sendiri."Ia menunggu sejenak."Dengan kondisimu sekarang, apakah kau yakin bisa bertanding besok?"Ryan menangkap gulungan itu tanpa membukanya dulu. Bibirnya membentuk senyum tipis. "Tidak ada masalah, Tuan Rodick. Tidak perlu khawatir."Rodick tidak menjawab. Ia mengangguk sekali, berdiri, lalu meninggalkan kamar tanpa menambahkan sepatah kata pun.Ryan membuka gulungan itu.Matanya menelusuri daftar nama yang tertulis di sana, satu per satu. Dari dua belas nama yang tersisa, Keluarga Shadowmist menyisakan empat orang. Keluarga Sanctum juga empat. Trev Sanctum sudah tersi
Ryan berjalan mendekatinya. Langkah demi langkah. Tidak cepat. Tidak perlu cepat. Dan dengan setiap langkah yang ia ambil, sesuatu dalam diri Yakou Zedd semakin hancur. Bukan tulang-tulangnya, tulang-tulangnya sudah habis. Yang retak sekarang adalah sesuatu di balik itu semua, napasnya yang mulai tidak beraturan, matanya yang tidak bisa memilih satu titik untuk dipandang, bibirnya yang bergerak tanpa menghasilkan suara apa pun. Tribun terdiam. Bahkan kepala-kepala keluarga yang sudah menyaksikan ratusan pertarungan sepanjang hidup mereka tidak berkedip. Yakou mengangkat wajahnya. Matanya memandang ke atas ke arah Ryan yang kini berdiri tepat di hadapannya. Matanya merah, tidak dari amarah, tapi dari seseorang yang sudah kehabisan segalanya dan masih dipaksa sadar untuk merasakannya. Tidak ada lagi kata-kata. Tidak ada rencana. Tidak ada kalkulasi. Dengan menggunakan setiap milimeter kekuatan yang tersisa, ia mendekatkan wajahnya ke tanah. Ke arah kaki Ryan. Tribun meledak
Hanya satu pikiran yang tersisa di kepala Yakou Zedd. Mundur. Mundur sekarang. Mundur sebelum terlambat. 'Selama aku menyerah, Tetua Agung pasti akan menyelamatkanku.' 'Setelah ini, aku akan meninggalkan Sekte Moon Flower selamanya.' 'Tidak akan pernah muncul di hadapan Ryan Pendragon lagi. Tidak pernah!' Tangannya bergerak secepat kilat. Mutiara Pelindung Laut Utara memancar dari telapaknya, melingkupi seluruh tubuhnya dalam kubah biru muda yang berkilauan. Ia menarik napas dalam-dalam, membuka mulutnya. "Aku meny..." BOOM! Cahaya emas meledak tepat di depan wajahnya. Kubah biru itu berguncang keras seperti lonceng yang dipukul palu raksasa. Retak-retak halus menjalar di permukaannya selama sepersekian detik sebelum perlahan menstabilkan diri. Yakou mundur setengah langkah, jantungnya hampir berhenti. 'Hampir.' Keringat mengalir deras di punggungnya. Tangannya mengepal di dalam kubah. Tapi kubah itu sudah stabil kembali. Mutiara Pelindung Laut Utara adalah artef
Pupil Lucas Ravenclaw mengecil. "Tuan, menurut penyelidikan saya, insiden itu berkaitan dengan pemuda bernama Ryan Pendragon. Tapi dia tak mungkin melakukannya sendiri. Apalagi ada gempa misterius hari itu." "Dan baru-baru ini ada petinggi Nexopolis yang diam-diam mengancam kita agar tidak menggang
Tepat saat tetua berjenggot putih itu hendak berdiri, tetua Sekte Hell Blood lainnya dengan sigap menekan bahunya.Chuck Denver sama sekali tidak gentar menghadapi reaksi tersebut. Pandangannya kembali tertuju pada Kepala Keluarga Ravenclaw yang duduk dengan tenang. "
Ryan melangkah terhuyung menuju ibunya, kakinya terasa berat bagai timah. "Bu, aku punya kamar di apartemen Dosen Universitas Negeri Riversale. Ayo kita ke sana dulu untuk beristirahat." Eleanor Jorge mengangguk, segera menopang tubuh putranya dan berjalan mengikuti petunjuk arah yang diberikan.
Satu jam kemudian, taksi yang membawa Ryan dan Wendy telah tiba di kaki Gunung Agios Oros. Sepanjang perjalanan, sopir taksi berkali-kali memperingatkan bahwa mereka hanya bisa melihat gunung dari jauh. Pendakian dilarang keras! Begitu turun dari mobil, Ryan langsung merasakan aliran energi spi







