로그인Dia dihina dan ditindas di keluarga istrinya. Tidak ada yang tahu tentang identitasnya yang tersembunyi. Dia adalah pewaris dari sebuah kekuatan terkuat yang pernah mengguncang dunia.
더 보기Toko perhiasan itu bersinar dari luar, etalase kacanya memantulkan cahaya lampu jalan sore hari dalam kilatan emas dan perak.
Ethan Linford berdiri sejenak di depan pintu masuk, menatap deretan cincin dan kalung di balik kaca dengan ekspresi tenang. Kemeja putihnya bersih meski sederhana, celananya tanpa merek, sepatunya sudah usang di ujung-ujungnya. Dia tidak peduli.
Yang dia pedulikan adalah Elena.
Adik iparnya menikah hari ini, dan dia ingin membawa sesuatu yang layak. Sesuatu yang bisa membuat Elena tersenyum, bukan karena kewajiban, tapi karena tulus.
Dia masuk.
Dua orang pelayan di dekat pintu mengangkat kepala sebentar, lalu kembali memandang ke arah lain seolah Ethan adalah angin yang lewat. Seorang pelayan wanita berbisik kepada rekannya, dan rekannya menutup mulut menahan tawa. Ethan tidak bereaksi. Dia berjalan menuju etalase tengah, menatap pilihan gelang dan bros dengan seksama.
Satu menit berlalu. Lima menit. Tidak ada yang mendekatinya.
Pelanggan lain masuk, seorang wanita paruh baya dengan tas bermerek dan jas berwarna krem. Dalam hitungan detik, dua pelayan langsung menghampirinya dengan senyum lebar dan brosur di tangan. Ethan mengamati dari sudut matanya, lalu kembali menatap etalase.
Sepuluh menit kemudian, seorang pria muda dengan arloji mahal masuk, dan sekali lagi para pelayan berlomba mendekat.
Ethan masih berdiri di tempat yang sama.
'Tidak apa-apa,' batinnya. 'Aku bisa pilih sendiri.'
Dia mencondongkan tubuh sedikit untuk melihat harga sebuah gelang berlian kecil di sudut etalase, ketika sebuah suara berat memecah ketenangan toko.
"Kenapa pelanggan itu tidak dilayani?"
Semua kepala menoleh.
Di dekat pintu masuk berdiri seorang pria tua, usianya sekitar enam puluh tahun, tubuhnya tegap meski rambut dan kumisnya sudah memutih seluruhnya. Di belakangnya berdiri tiga orang pria berpakaian hitam rapi, diam seperti patung. Pria tua itu tidak berteriak, tapi suaranya memiliki bobot yang membuat seluruh ruangan terasa lebih sunyi dari sebelumnya.
Matanya tertuju pada Ethan.
Seorang pelayan perempuan terbata, "Maksudnya..."
"Pelanggan itu," ulang pria tua itu, satu jarinya terangkat menunjuk ke arah Ethan, "sudah berdiri di sini lebih dari sepuluh menit. Sementara kalian berlari-lari melayani yang lain. Apakah dia tidak cukup berharga untuk dihampiri?"
Wajah para pelayan memerah. Manager toko, seorang pria berkacamata berusia empat puluhan, muncul dari balik pintu kantor dengan tergesa. Dia segera mengenal orang tua itu.
"Tuan Leonard, kami tidak bermaksud..."
"Toko ini milik Keluarga Quinn," potong pria tua itu dengan nada datar. "Dan aku tidak pernah memberikan instruksi untuk memilah pelanggan berdasarkan penampilan. Minta maaf kepada tuan muda itu. Sekarang."
Ada hening yang canggung. Lalu, satu per satu, para pelayan yang tadi mengabaikan Ethan berjalan mendekat dengan kepala tertunduk. Manager toko mengikuti di belakang, wajahnya tegang.
"Mohon maaf, Tuan. Kami berlaku tidak sopan tadi. Kami minta maaf."
Ethan menatap mereka bergantian. Tidak ada amarah di wajahnya, tidak ada kepuasan juga. Dia hanya mengangguk pelan.
"Tidak apa-apa. Aku tidak jadi membeli di sini" Lalu dia berbalik dan berjalan keluar.
Leonard memberikan tatapan tajam pada para pelayan toko.
---
Udara sore menyambutnya di trotoar. Ethan memasukkan kedua tangan ke saku celananya dan mulai berjalan, pikirannya sudah beralih ke hotel, ke acara pernikahan, ke bagaimana dia akan menemui Elena tanpa membawa hadiah.
"Tuan Quinn."
"Nama keluargaku bukan Quinn, tapi Linford." Ethan berjalan terus.
"Baik, tuan muda."
Suara itu menyusulnya dari belakang. Ethan berhenti.
Pria tua itu berdiri beberapa langkah di belakangnya, seorang pengawal di sisi kirinya. Wajahnya tidak keras seperti tadi di dalam toko, lebih seperti seseorang yang sudah lama mencari dan baru saja menemukannya.
"Izinkan aku berbicara sebentar," kata pria tua itu. "Aku Leonard, pelayanmu di masa kecil. Aku mohon."
Ethan menatapnya sebentar, lalu mengangguk.
---
Interior mobil itu berbau kulit mahal dan kayu cendana. Ethan duduk di kursi belakang, Leonard di sampingnya, sementara dua pengawal duduk di depan dengan kepala menghadap lurus ke depan seperti robot.
"Kau masih mengingat aku?" tanya Leonard.
"Ya."
"Aku sudah melayani Keluarga Quinn selama tiga puluh delapan tahun," kata Leonard. Suaranya tidak lagi keras seperti tadi, lebih lelah, lebih tua. "Aku mengenal ayahmu sejak dia masih bisa berlari-lari di halaman belakang rumah besar itu. Dan aku mengenal ibumu."
Ethan tidak bergerak.
"Aku mengenal kamu juga, Ethan. Meski kamu sudah dua belas tahun tidak ada di sana."
"Dua belas tahun," ulang Ethan pelan. "Aku berumur sepuluh waktu itu."
"Ya." Leonard menyatukan kedua tangannya di atas lutut. "Ketika ayahmu memutuskan untuk menikah lagi dengan wanita dari Keluarga Witford, ibumu memilih pergi. Dan dia membawa kamu."
Ethan memandang ke luar jendela. Kota berjalan seperti biasa di luar sana, kendaraan, pejalan kaki, lampu-lampu yang mulai menyala menjelang senja.
"Apa yang kamu inginkan, Leonard?"
Lelaki tua itu menghela napas panjang. "Patriark keluargamu, kakekmu, sedang sakit keras. Kondisinya tidak baik. Dan sejak kabar itu tersebar di dalam lingkaran dalam keluarga, ayahmu, kakak-kakakmu, para sepupu ayahmu—semuanya sudah mulai bergerak. Mereka berebut pengaruh, berebut posisi, berebut aset. Keluarga Quinn sedang memakan dirinya sendiri dari dalam."
"Dan?" tanya Ethan.
"Dan ayahmu ingin kamu kembali."
Keheningan bertahan beberapa detik.
"Kembali untuk apa?" kata Ethan akhirnya. "Untuk jadi alat tawar-menawarnya?"
Leonard tidak langsung menjawab. Itu sudah cukup sebagai jawaban.
"Aku hidup baik," kata Ethan. "Sederhana, tapi baik."
"Kamu diperlakukan buruk di rumah keluarga istrimu," kata Leonard, dan nada suaranya bukan menyerang, lebih seperti seseorang yang menyebut fakta yang menyakitkan. "Aku sudah mendengar beberapa hal. Kamu layak mendapat lebih dari itu."
"Itu urusanku."
"Ibumu sudah tidak ada lagi, Ethan." Leonard menatapnya langsung. Matanya berkaca-kaca tipis, meski dia menahan itu dengan keras. "Tidak ada lagi alasan untuk mempertahankan jarak itu. Keluarga Quinn adalah darahmu juga."
Ethan akhirnya menoleh. Dia menatap pria tua itu lama, cukup lama sampai Leonard hampir tidak nyaman.
"Darah ayahku yang sama yang juga mengusir ibuku," kata Ethan pelan. "Dan kamu tahu itu."
Leonard membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
"Terima kasih sudah menemaniku berbicara, Leonard," kata Ethan sambil membuka pintu mobil. "Dan terima kasih pembelaanmu tadi di dalam toko. Tapi jawabanku tidak. Aku tidak melihat kemungkinan untuk kembali ke Keluarga Quinn."
Ethan turun. Pintu mobil tertutup dengan klik halus.
Leonard menatap punggung pemuda itu melalui kaca jendela, hingga sosoknya menghilang di antara kerumunan pejalan kaki, dan pria tua itu hanya bisa duduk diam dengan dada yang berat.
Resepsionis berkedip. "Apakah Bapak sudah memiliki janji sebelumnya?""Belum.""Maaf, Pak, untuk bertemu dengan Direktur kami diperlukan perjanjian terlebih dahulu melalui sekretaris beliau, minimal dua hari sebelumnya, dan disertai dengan keperluan yang...""Bisa tolong sampaikan saja bahwa ada seseorang yang ingin bertemu.""Pak, prosedur kami...""Ada apa ini?" Suara itu datang dari samping, seorang pria berusia empat puluhan dalam jas biru tua yang sedang melintas dengan berkas di tangan. Manajer, dari gaya jalannya. Dia menatap Ethan dengan ekspresi yang sama dengan resepsionis tadi, sekilas, menilai, menyimpulkan. "Ada apa?""Tamu ini ingin menemui Pak Jacky tanpa janji, Pak."Rudi mendekati meja, menatap Ethan dari ujung kepala ke ujung kaki dengan cara yang tidak berusaha disembunyikan. Pakaian sederhana. Tidak ada dasi. Tidak ada jam tangan bermerk. Tiba dengan ojek online yang masih tercatat di notifikasi gedung."Maaf, Bapak," kata Rudi dengan nada yang sudah tidak lagi ber
Para pedagang yang mengintip dari balik lapak mereka tidak bersuara untuk beberapa saat yang cukup lama. Lalu Pak Hendra keluar pertama, berjalan pelan mendekati Ethan yang sudah duduk kembali di bangkunya dan mulai menyusun ulang ikan-ikannya di atas bara."Ethan," kata Pak Hendra dengan suara yang agak berat. "Selama dua tahun kamu di sini... kamu ini ternyata bisa beladiri?"Ethan tersenyum kecil."Aku cuma Penjual ikan bakar," jawabnya.Kepala plontos itu akhirnya duduk di tanah, menopang lengannya yang terkilir, dan menatap Ethan dengan ekspresi yang jauh berbeda dari sepuluh menit yang lalu."Siapa yang suruh kamu?" tanya Ethan.Kepala plontos itu diam.Ethan menatapnya dengan tenang, tidak mengancam, tidak pula memaksa dengan cara yang kasar. Hanya menunggu, seperti seseorang yang punya seluruh waktu di dunia."Markus," kata kepala plontos itu akhirnya. "Markus Zakaria. Dia bayar kami. Katanya suruh bikin masalah, terus kalau kamu melawan, hajar sampai kamu tidak bisa berdiri.
Matahari belum sepenuhnya naik ketika Ethan Linford keluar dari rumah dengan langkah yang lebih ringan dari biasanya.Pagi ini terasa berbeda. Bukan karena udaranya lebih segar atau jalanan lebih sepi, tapi karena ada sesuatu yang sudah selesai di dalam dirinya, sebuah keputusan yang sudah bulat sejak semalam, sejak alarm itu berbunyi dan waktu penyembunyian itu resmi berakhir. Dia berjalan menuju kios kecilnya di pasar dengan kedua tangan di saku, dan di dadanya ada perasaan yang aneh, semacam nostalgia untuk sesuatu yang belum benar-benar pergi.'Hari terakhir,' pikirnya. 'Nikmati saja.'Arang sudah menyala ketika dia tiba. Dia menyusun ikan-ikan dengan tangan terampil, memolesnya dengan bumbu yang sudah dia hafal tanpa perlu mengukur, dan membiarkan asapnya naik ke udara pagi dengan aroma yang sudah dua tahun menjadi bagian dari harinya. Para pedagang tetangga menyapanya seperti biasa, Pak Hendra dengan gerobak baksonya di sebelah kiri, Bu Santi dengan warung nasinya di kanan, dan
Hotel Grandview berdiri empat belas lantai di jantung kota Alfa, cukup besar untuk menampung pesta pernikahan dengan ratusan tamu undangan. Ethan berjalan masuk dengan langkah biasa, menyebutkan nama acara kepada resepsionis, dan diarahkan ke ruang ballroom di lantai dua.Elena sudah berdiri di depan pintu ruangan itu.Gaun malamnya berwarna hijau tua, rambutnya disanggul rapi, dan wajahnya yang selalu disebut orang sebagai wajah tercantik di kota Alfa itu terlihat sedikit lebih tegang dari biasanya. Tapi ketika melihat Ethan, ekspresinya melunak menjadi sesuatu yang sulit didefinisikan, bukan cinta yang menggebu, tapi juga bukan ketidakpedulian."Kamu telat," katanya."Macet," kata Ethan.Elena menatap tangannya yang kosong. "Kamu tidak membawa...""Tidak jadi beli di toko tadi," potong Ethan singkat.Elena mengangguk pelan, tidak bertanya lebih lanjut. Itu salah satu hal yang diam-diam dihargai Ethan darinya. Elena tahu kapan harus bertanya dan kapan tidak.Mereka berjalan masuk ber
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.